Gerbang Catwalk Friday, 02 May 2008
JANGAN mengira mudah jadi seorang model.Wajah tanpa cela dan jalan yang sempurna,bukan datang begitu saja.Mereka mempelajarinya di sekolah modeling. Banyak wanita bahkan pria bermimpi menjadi model terkenal. Asalkan memenuhi persyaratan dan bersikap profesional mengemban tugas,peluang menjadi model sukses semakin terbuka lebar. Apalagi dunia mode Indonesia semakin berkibar.
Permintaan akan para peragawati maupun peragawan oleh rumah mode ternama, maupun jadi model untuk sampul media cetak hingga membintangi iklan atau film, sudah semakin banyak. Namun, jangan kira semudah itu untuk menjadi model sukses.Wajah tanpa cela dan cara jalan yang sempurna para model tersebut, bukan datang begitu saja.
Mereka mempelajari berbagai teknik khusus seperti cara ber-make up dan berpose di depan kamera sehingga hasilnya tampak sempurna. Ayu Dewi salah seorang model profesional mengatakan, cara berpenampilan di depan umum, termasuk etiket, merupakan hal seumur hidup yang harus dipelajari dan dipraktikkan.
Wanita kelahiran 7 September 1984 ini mengaku sejak kecil memang gemar menjadi pusat perhatian. Ayu pun sering mendapat tawaran pemotretan dari berbagai majalah. Agar bakatnya semakin terasah, dia lantas memutuskan untuk mendalami ilmu modeling di John Casablanca (JC) milik Elite Model Look, di kawasan Barito.
”Saya tipe orang yang enggak bisa autodidak, makanya ikut sekolah modeling supaya lebih mantap berkarier di modeling,” tutur alumnus London School Jurusan Marketing Komunikasi ini. Ayu mengaku banyak hal yang dipelajarinya selama tiga bulan di JC tingkat basic.
Mulai make up, cara jalan,memilih dan mengenakan pakaian, cara berpose, bagaimana menonjolkan ekspresi yang kuat dan masih banyak lagi harus ia pelajari. Sayangnya, Ayu tidak meneruskan melanjutkan pendidikan modelingnya ke jenjang advance. ”Soalnya, advance fokusnya untuk menjadi runway model,sedangkan tinggi saya cuma 170 cm jadi enggak masuk kualifikasi.
Makanya saya milih menjadi model untuk pemotretan saja,”tutur Ayu. Kendati demikian,Ayu tidak berkecil hati. Pihak JC menyadari Ayu memiliki potensi tinggi, mereka pun menyalurkan Ayu agar bakatnya tidak sia-sia.Terbukti! Berkat kerja keras, loyalitas dan disiplin ketat, Ayu tinggal menuai jerih payahnya selama ini.
Banyak tawaran pemotretan, bintang iklan, hingga menjadi presenter berdatangan padanya. Dara yang kini berprofesi sebagai presenter tayangan olahraga ini mengaku, menimba ilmu di sekolah modeling membuka jalan untuk meraih impiannya. Senada dengan pendapat Laura Basuki, lulusan OQ Modelling School.
Menurut peraih gelar Shining Model of The Year versi majalah A+ ini, sekolah modeling yang ditujunya merupakan jembatan emas yang menghubungkan impiannya menjadi kenyataan. Bagaimana tidak, lewat agensi model milik OQ Modelling School, dia bisa berlenggak-lenggok di atas catwalk membawakan rancangan desainer kenamaan hingga melanglang buana ke luar negeri.
”Waktu itu, saya dapat tawaran kontrak 1 tahun dari OQ, dari situ baru banyak tawaran yang datang,” tutur mahasiswi Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Atma Jaya ini. Hal ini dibenarkan Marketing & Promosi OQ Modelling Nila.Menurut Nila, menyalurkan para model yang berpotensi ini memang menjadi komitmen OQ Modelling.
”Nantinya kalau mereka lulus dengan baik, peluang dilirik oleh agensi semakin besar,” papar Nila. Sama halnya di Lembaga Pendidikan Ratih Sanggarwati (LPRS) pimpinan Ratih Sang dan Look Models yang didirikan oleh model senior Lulu Dewayanti. Menurut manajer Look Models Ana Aka, menjadi model bukan perkara yang mudah.
Selain cantik,calon model pun harus memiliki style yang khas yang dapat mencirikan dirinya ketika beraksi di panggung. ”Bagi mereka, yang sudah memiliki itu, biasanya kamiakanmemolesnya agar lebih baik lagi,”katanya. Nah di sinilah letak sekolah modeling berperan.
Baik Ratih, Nila maupun Anna menilai, sekolah modeling dapat dijadikan bekal bagi seseorang yang benar-benar ingin menggeluti dunia model. Bahkan, Ratih Sang menyarankan para model untuk mengikuti sekolah model sebelum ia berlenggak-lenggok di catwalk. ”Biasanya,mereka yang sekolah lebih berkualitas dibandingkan yang tidak sekolah,” ujar wanita berjilbab kelahiran 8 Desember, 45 tahun silam ini. (sri noviarni/MG-18)