Kecanduan ”Retail Therapy”
Rabu, 30/04/2008
MAL sudah mendapatkan tempat yang khusus bagi wanita.Tidak perlu berbelanja,wanita sudah merasa bahagia jika berada di dalam mal.
Kecanduan terapi belanja (retail therapy)?
Meja kerja Lastri Marselina, 24, tampak berantakan. Di hadapannya ada tumpukan file yang harus diperiksa. Di sebelah kiri meja sudah menunggu beberapa laporan yang harus ia kerjakan. Alih-alih mulai mengerjakan salah satu laporan, wanita yang akrab dipanggil Aci ini malah mengenakan sepatu hak tingginya,kemudian meraih tasnya dan meninggalkan ruang kerja.
Dia menuju salah satu mal di bilangan Pondok Indah,Jakarta Selatan. ”Ini (ke mal) benar-benar pelepas stres yang ampuh, berapa kali pun ke mal rasanya enggak akan pernah bosan deh,”papar wanita yang tinggal di daerah Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini. Bagi Aci, tidak ada cara jitu untuk mengusir penyakit psikologis yang sering melanda masyarakat yang ada di daerah perkotaan selain bertandang ke mal.
Bahkan, Aci mengaku hanya dengan melihat suasana pertokoan yang dipenuhi banyak orang, apalagi melihat tulisan “Sale” atau diskon, sudah mampu membangkitkan adrenalin dan mengubah moodnya seketika.
Buat Aci, jejeran tas, baju, dan sepatu yang ditata rapi sudah mampu membuat senyumnya terkembang lagi. ”Enggak beli sekalipun enggak masalah, hati gue sudah cukup senang, abisitu palingangue ngafe,”ujar Aci yang hobi menonton ini.
Hal senada juga dirasakan pemeran Si Manis Jembatan Ancol, Diah Permatasari, 37. Ia mengaku, hanya jalan-jalan di pusat perbelanjaan saja, sudah merasa senang.“Enggak harus belanja sih, cuma sekadar windows shopping juga sudah bikin hati senang,”ungkapnya.
Efek Terapi Belanja
Orang lain mungkin memandang belanja ke mal adalah kegiatan biasa yang tidak berdampak apa pun, kecuali hanya mendapatkan kebutuhan yang diinginkan.Namun, tidak bagi sebagian orang terutama wanita, datang ke mal saja bisa dijadikan ajang untuk meningkatkan mood.
Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh harian Chicago Tribune pada tahun 1986. Disebutkan, masyarakat Amerika lebih memilih mengusir stres dan kejenuhan mereka dengan berbelanja.
Kegiatan yang dikenal dengan sebutan retail therapy ini memang berdampak luar biasa bagi para shopaholic, termasuk presenter Meisya Siregar,29. Istri vokalis grup musik Romeo,Bebi ini percaya terapi semacam ini bisa memengaruhi mood-nya. “Disadari atau tidak, saya rasa belanja bisa menjadi obat di saat kita sedang bad mood,”ungkap Meisya.
Perempuan cantik yang mengaku senang belanja ini memang merasakan kebahagiaan yang tiada tara tatkala barang impiannya dapat terbeli.
“ Setelah mendapat barang yang saya inginkan, saya merasa puas dan bangga,”ucap presenter kelahiran 13 April ini. Tak jarang Meisya selalu menghadiahi dirinya sendiri dengan berbelanja atau sekadar window shopping ke mal. Kelelahan bekerja, diakui Meisya, sebagai alasan mengapa dirinya sering menghabiskan waktu untuk belanja.(sri noviarni/MG-18)
Normal jika Hanya Pembangkit Mood
ADA banyak cara untuk membangkitkan mood. Ada yang berusaha relaksasi hingga melakukan hobi yang disenangi. Khusus bagi orang-orang yang berkantong tebal, cara yang dipercaya ampuh untuk mengatrol mood adalah dengan berbelanja di mal.
Cara unik untuk menghidupkan mood kembali ini dikenal dengan sebutan retail therapy. Menurut psikolog dan coach keluarga Dra Clara Kriswanto, shopping bagi sebagian orang memang bisa menjadi obat mujarab untuk keluar dari rutinitas dan tekanan psikologis yang dirasakan.
Terlebih lagi bagi kaum metropolitan. ”Sebagai variasi pembangkitmood masih normal, tapi kalau sudah menjadi dependensi seperti obat yang rasanya kalau enggak minum belum sembuh, ini yang harus diawasi dan menjadi kelainan namanya,” kata psikolog dari Jagadnita Consulting ini.
Pendapat Clara bukan sekadar isapan jempol. Pada tahun 2001 Uni Eropa mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa 33% orang yang gemar berbelanja mempunyai ketergantungan yang tinggi untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan.
Dampaknya apalagi kalau bukan masalah tagihan yang menunggak.
Peneliti di Universitas Melbourne mengklasifikasikan kelainan psikologis tersebut sebagai oniomaniaatau compulsive shopping disorder. Clara menilai, daripada menghabiskan uang untuk membeli barang yang sebetulnya tidak diperlukan, ada baiknya orang tersebut berbicara dengan diri sendiri. ”Eksplorasi diri sendiri sebenarnya apa potensi saya, lalu pergunakan minat itu untuk mengalihkan kesenangan berbelanja,” sebutnya. (sri noviarni)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar