Minggu, 27 April 2008

Tulisan_26 @ Sindo

Citra Mewah & Elegan Jas
Senin, 28/04/2008

SETELAN yang bagus tak hanya krusial sebagai aksesori bisnis,tapi juga mencerminkan kepribadian,selera,dan citra mewah pemakainya.
Presenter Charles Bonar Sirait paham betul pentingnya jas dalam menunjang penampilannya. Peraih Panasonic Award kategori pembawa acara musik pria terfavorit ini mengakui jas dapat memuluskan pekerjaan yang digelutinya. ”Tak sekadar melindungi tubuh dari dinginnya AC,jas bisa menambah kepercayaan diri dan mengangkat prestise,” papar Direktur PT Saji Indonesia ini.
Dia juga mengungkap betapa penampilan dapat menunjang kelancaran bisnis. ”Ketika diri merasa nyaman, bisnis pun lancar,”beber pria yang pernah bekerja di bidang perbankan, properti, dan periklanan ini. Dengan prinsip demikian, tidak heran Charles memiliki lebih dari 50 setel jas.

Penulis buku The Power of Public Speaking: Kiat Sukses Berbicara di Depan Publik ini juga menyimpan jas yang tak lagi dikenakan dalam sebuah lemari khusus. Jumlahnya puluhan. Biasanya karena modelnya sudah out of dateataupun kondisi jas yang sudah tidak bagus.

Model yang dia suka adalah rancangan Hugo Boss,Gianni Versace, dan Valentino. Uniknya, Charles selalu membeli jas di luar negeri. Tidak pernah sekalipun pria kelahiran 19 Maret 1971 ini, hunting jas keluaran terbaru di butik-butik yang ada di Jakarta. Apa sebabnya? ”Soalnya banyak model jas yang bagus tidak masuk ke Indonesia,” ucap pria yang selalu mempercayakan urusan perawatan jasnya pada jasa laundry ini.

Jadilah saban ada pekerjaan di luar negeri atau sekadar liburan,Charles berusaha menyempatkan diri untuk hunting koleksi jas terbaru di ketiga butik brand favoritnya tersebut. Singapura, Australia, maupun Amerika adalah lokasi favoritnya untuk urusan membeli jas. Koleksi jas dari label ternama, menurut Charles,cutting-nya lebih pas di tubuh. Dikenakannya nyaman, bahannya pun halus.Semua aspek tersebut akan berbanding lurus dengan harga yang ditawarkan. Charles mengaku semua koleksi setelan jasnya rata-rata berharga Rp10 juta. Namun, tidak semua jas yang tergantung rapi di lemarinya merupakan jahitan teliti penjahit luar negeri.Ada pula beberapa koleksi jasnya yang dijahit oleh butik lokal.

Kendati demikian,materialnya tetap ia beli di Singapura. ”Materialnya saya beli sekitar Rp2 juta. Sementara ongkos menjahitnya Rp5 juta,” kata bapak dua anak yang dalam setahun bisa membeli 4-5 setelan jas ini. Berbeda dengan Marketing Director Senayan City Veri Y Setiady. Pria modis ini lebih sering menambah koleksinya dengan berbelanja di gerai elite Jakarta.
Menurut Veri yang memiliki 25 setelan jas ini, berbelanja di dalam negeri memiliki keuntungan tersendiri. Dia merasa lebih bebas dalam melakukan fittingjas beserta celana di tubuhnya.Maklum,proses fitting untuk mendapat jas yang jatuhnya pas di tubuh memakan waktu cukup lama. ”Kan sayang kalau sudah beli mahal-mahal ternyata enggak pas di badan.

Karenanya,saya teliti benar sebelum membeli,” ungkap pria yang gemar olahraga, membaca, dan mendengar musik ini. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian Veri sebelum akhirnya memutus kan membeli satu setelan jas.Mulai panjang celana,panjang tangan, dan tentu potongan yang pas di badan. Setiap akan mengepas sebuah jas beserta bawahannya, Veri selalu mengena kan kemeja,dasi, barulah memadukannya dengan sepatu.
”Celana yang jatuh di sepatu juga harus bagus,” paparnya. Label yang menjadi langganan Veri adalah Hugo Boss,Armani,Ermenegildo Zegna, dan Ted Baker. Merek Hugo Boss mungkin yang paling termurah di antara koleksi jas Veri,harganya sekitar Rp8 juta. Adapun Zegna berkisar Rp12 juta hingga Rp15 juta.Nah yang paling menyedot tagihan kartu kredit adalah untuk mendapat satu setelan jas Armani yang harganya lebih dari Rp20 juta.
Meski harga selangit, tampaknya Veri maupun Charles merasa uang sebesar itu setara dengan citra mewah dan elegan yang mereka dapatkan ketika mengenakan jas tersebut.

Tak terkecuali bagi figur publik seperti Helmi Yahya dan Surya Saputra. Sebagai seorang master of ceremony, Helmi berkewajiban untuk tampil rapi dan terlihat formal dalam jas. ”Saya memakai jas karena tuntutan pekerjaan,” kata ayah tiga anak ini.

Jas di mata pria Palembang ini bukan hanya sebagai pelengkap busana formalnya.Lebih jauh Helmi menilai jika mengenakan jas adalah bagian dari penghormatan si pemakai terhadap acara orang lain.”Memakai jas juga bagian dari prestise dan menambah percaya diri,”ucap Helmi. Dia juga mengaku selalu mengikuti tren jas, termasuk memperhatikan hal-hal mendetail seperti motif atau kancing.

Tak heran koleksinya mencapai lebih dari 20-an.Label favoritnya adalah Ermenegildo Zegna, Prada, Gucci, dan Hugo Boss yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pria kelahiran 6 Maret 1963 ini lebih memilih warna-warna yang gelap. ”Koleksi saya kebanyakan berwarna hitam,” tuturnya. Jika bepergian ke luar negeri, Helmi tak pernah melewatkan untuk membeli jas sebagai buah tangannya.

Sementara itu, aktor tampan Surya Saputra lebih memilih menjahit sendiri jasnya di rumah mode terkenal. ”Dari beberapa koleksi jas yang saya punya,hanya dua yang beli, lainnya saya jahit sendiri,” kata kekasih Cyntia Lamusu ini. Postur tubuh yang dimiliki Surya pun kadang menyulitkan dirinya untuk membeli jas.Untuk itu, dia lebih memilih untuk menjahit. ”Selain lebih murah, kalau jahit sendiri ukurannya akan pas,” kata pemeran film Arisan! ini.
Surya mengaku semua koleksi jasnya berwarna hitam bermodel klasik. Rumah mode Brutus dan Wong-Hang adalah favoritnya. ”Saya menyukai model jas dengan dua kancing,”papar pria kelahiran 5 Juli, 32 tahun silam ini. Baik Helmi Yahya maupun Surya Saputra menganggap memakai jas akan memunculkan citra positif bagi yang melihatnya. (sri noviarni/MG-18)


Beda Acara, Beda Perlakuan

BEDA acara,berbeda pula pakaian yang dikenakan. Termasuk urusan pemilihan jas.Salah mengenakan jas untuk menghadiri suatu acara bukannya mengatrol prestis, bisa-bisa malah sindiran yang didapat.

Rumah mode seperti Gucci, Prada,Yves Saint-Laurent, misalnya, sudah sejak lama memisahkan desain setelan yang digunakan untuk pergi ke nightclubdan ke ruang rapat. Hal ini juga diakui perancang busana Samuel Wattimena.Jas untuk keperluan seharihari seperti ke kantor dan untuk menghadiri jamuan formal,menuntut perlakuan berbeda.

Samuel mencontohkan untuk pemilihan jas kerja yang mengacu pada standar internasional, maka cutting-nya sesuai dengan bentuk tubuh. ”Yang sedang hip saat ini adalah warna navy blue untuk jas kerja,” ucap pria yang akrab disapa Samy ini.Adapun jas untuk pesta modelnya lebih fashionabledan lebih pas di tubuh.

Tidak longgar seperti umumnya jas kerja. Untuk jas pesta,warna yang dominan menurut Sammy adalah khaki dengan bahan wrinkle sehingga berefek seperti tidak disetrika. Bagi Charles yang sudah sekian lama terjun di panggung hiburan, pemilihan jas yang tepat untuk berbagai acara sudah berada di luar kepalanya. Untuk jas kerja hanya satu warna yang dipilihnya yakni hitam dan bermotif polos.

Sementara untuk jas pesta atau keperluan MC barulah Charles bisa lebih bereksperimen dengan model yang stylish. ”Kalau untuk pertunjukkan yang heboh dan ada efek lightingnya, saya pakai jas yang lebih nyentrik dan mengkilat,” katanya. Yang paling tepat untuk keperluan panggung, menurut Charles adalah jas dari rumah mode Gianni Versace.
Charles menilai,koleksi Versace memiliki warna lebih menyolok.”Cocok sebagai pusat perhatian saat kita berada di atas panggung,” paparnya. Sementara untuk show yang tidak terlalu berat atau spektakuler,biasanya Charles akan mengenakan rancangan Hugo Boss atau Valentino yang dapat menimbulkan kesan elegan dan kharismatik.

Veri Y.Setiady sendiri lebih berani memilih warna untuk busana kerja. Jas kerja yang dimilikinya tidak terbatas warna hitam,namun juga biru. Coraknya pun ada yang polos atau bergaris. Sedangkan untuk jamuan formal, justru warna hitam dianggapnya yang paling aman.Terlebih lagi jika dress code-nya black tie.

Lain lagi untuk coktail party atau acara lain yang bertemakan kasual.Veri memilih setelan tanpa dasi dengan model yang lebih stylish. Warnanya pun lebih bebas untuk dipadupadankan. ”Untuk acara kasual saya biasanya pakai jas abu-abu dengan celana hitam. Beda dengan acara formal dimana atas bawah harus sama,”katanya.

Menurut Samy,musim di Indonesia yang hanya ada dua, cenderung membatasi pemilihan jas yang dapat dikenakan.Apalagi Indonesia beriklim tropis. Sehingga kebanyakan orang lebih nyaman memakai batik ketimbang jas. Namun bukan berarti jas adalah dominasi budaya barat.
”Kalau diperhatikan dari zaman kerajaan jaman dulu,raja-rajanya sudah pakai jas.Di Jawa misalnya petinggi kerajaan memakai beskap,”tutur Samy. Ia menilai,jas memang belum begitu membudaya di Indonesia.Tetapi bagi para eksekutif yang bekerja di perusahaan internasional, mematuhi aturan berpakaian internasional adalah suatu kewajiban.(sri noviarni)


Dasi dan Sepatu Penunjang Aksesori

PEMILIHAN sepatu yang tepat sebagai padu padan jas yang dikenakan dapat mewakilkan citra mewah yang ingin ditampilkan.
Ketika ingin menghadiri acara formal, misalnya, sepatu hitam mengkilatlah yang paling sesuai. Marketing Director Senayan City Veri Y Setiady bahkan memiliki lebih dari 10 pasang koleksi sepatu formal untuk melengkapi cara berpenampilan elegannya. Merek Prada menjadi favoritnya untuk berkantor karena modelnya yang sederhana.
Adapun untuk jamuan formal, Veri akan berjalan di bawah topangan sepatu bermerek Christian Dior atau Gucci. Sepatu label Gucci dan Prada dibelinya seharga Rp4 juta hingga Rp5 jutaan. Yang relatif mahal adalah Dior yang bisa mencapai Rp6 juta dan dibelinya di luar negeri. Itu baru sepatu, Belum aksesori yang amat penting sebagai teman jas yaitu dasi.
Veri cenderung menyukai model yang agak konservatif dan tidak terlalu ramai. Bukan tanpa alasan, dia memilih dasi jenis ini, dipakai berapa kali pun orang lain tidak akan menyadari karena warnanya yang polos tanpa motif. Jumlah dasi mencapai 40-an. Harganya pun cukup mahal.
Sebuah dasi bisa berharga Rp2 juta. Lain lagi dengan Charles Bonar Sirait. Dia juga memiliki koleksi dasi yang jumlahnya sama dengan Veri. Dasi yang dimiliknya rata-rata seharga di atas Rp300.000. Namun, bagi Charles, dasi saja belum cukup. Bagian tangan akan terasa belum komplet kalau tidak memakai cufflink atau lebih dikenal dengan manset.
Cufflink tersedia dalam berbagai bentuk, ada yang berbentuk alat musik, mobil, dan sebagainya. Charles sendiri bukan tipe pria yang menyenangi ragam bentuk cufflink yang unik. Kebanyakan koleksi mansetnya yang berkisar 10 buah ini, modelnya konservatif dan formal. (sri noviarni)

Tidak ada komentar: