TV Edukasi Bukan Tinggal Sejarah
Sabtu, 26/04/2008
SIAPA bilang tayangan televisi tidak bermutu dan hanya banyak memuat unsur hiburan.Tidak demikian dengan Televisi Edukasi(TV E).
Program televisi ini merupakan produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Pernah dengar belajar lewat televisi? Belajar melalui media televisi mempunyai atmosfer lain dibandingkan belajar di ruang kelas. Materi pelajaran yang ditayangkan beragam dan terbagi dalam tiga jenis, yakni pelajaran formal berbasis kurikulum, nonformal, dan pelajaran di luar sekolah atau kursus.
Dulu, TPI identik dengan program ini. Setiap hari, program yang ditayangkan TPIwaktu itu tidak jauh-jauh dari mata pelajaran. Namun, ketika era milenium datang, semuanya pun berubah.TPIperlahan-lahan mengurangi jatah siaran pendidikan. Namun jangan kaget, ternyata sampai saat ini,Anda masih bisa belajar lewat televisi.
Salah satu stasiun TV yang siaran pendidikan adalah Televisi Edukasi (TV E), program televisi produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Di Jakarta,rangkaian program TV E hanya bisa disaksikan lewat TVRIdan stasiun televisi swasta (Space Toon) dengan waktu tertentu. Di TVRI misalnya, tayangan ini hanya bisa disaksikan setiap hari Senin-Kamis pukul 07.15–09.30 dan 14.15–16.30 WIB.
Yang berisi materimateri siaran untuk siswa/i SMP,yang bermateri bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Waktu mengudara untuk menikmati siaran TV E di Space Toon malah lebih singkat lagi, yakni pukul 12.00- 13.00 setiap hari. ”Soalnya TV E memang dikhususkan bagi para siswa yang berada di luar kota terlebih lagi di pelosok daerah,”kata kepala Subbidang Teknologi dan Komunikasi TV E Kusdianto Hilman.
DI TV E, pelajaran yang ditayangkan adalah pendidikan formal berbasis kurikulum sesuai mata pelajaran, sedangkan program tayangan luar sekolah, yakni materi tata boga, tata rias, serta Paket A, B, dan C. TV E juga cukup pintar dalam meramu acara. Program yang ditayangkan tidak melulu berisi pendidikan.
Sebagai selingan, disiarkan tayangan sinetron seperti Laskar Anak Bawangdan Geng Lima. Kenapa hanya dikhususkan untuk daerah? Menurut Kusdianto, tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan, terutama siswa di daerah terpencil seperti di Indonesia bagian timur.
”Karenanya, TV E hadir untuk menjawab permasalahan tersebut, ini hanya salah satu solusi, kami mengudara selama 24 jam penuh yang dapat ditangkap dengan parabola,” kata Kusdianto. Bagi mereka yang berada di daerah untuk mendapatkan siaran TV E ini terbilang mudah. Karena biasanya di daerah untuk menangkap siaran televisi memang harus menggunakan parabola.
Masih adanya televisi edukasi disambut positif oleh Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi. ”Televisi edukasi mungkin bisa menjadi angin segar di tengah maraknya isu pendidikan.Terlebih lagi semenjak pemerintah memberlakukanstandarkelulusan ujian nasional merata di seluruh Indonesia.
Padahal, mutu pendidikan tidaklah sama di berbagai penjuru Nusantara, terutama di Indonesia bagian timur. Pria yang akrab disapa Kak Seto ini memaparkan selain cocok bagi pelajar yang berada di pelosok daerah, model pembelajaran melalui pesawat televisi ini dapat juga menjadi acuan bagi peserta home school maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di berbagai wilayah. (sri noviarni)
Efektif dan Tepat Sasaran
MENJADI presenter dengan konsep pendidikan merupakan pengalaman menarik bagi Indra Herlambang, 32.
Setelah melewati proses casting, pria kelahiran 16 Maret ini berhasil menjadi pemandu acara pelajaran bahasa Inggris di Televisi Edukasimilik Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) yang ada dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
Awalnya Indra mengaku kesulitan, tapi setelah dijalankan, dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar saat membawakan acara yang mengulas pelajaran untuk siswa SMP tersebut. ”Bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu, saya perlu persiapan yang baik sebelum syuting,” kata presenter Insert ini.
Namun, pria yang mengawali karier sebagai penyiar radio di Bandung ini, juga tidak menampik jika peran di acara tersebut banyak membantunya. ”Acara ini bukan sekadar tontonan, juga memberikan pelajaran yang akan diingat banyak orang.
Jadi kalau salah, repot juga,” tutur Indra yang sering berperan dalam acara komedi ini. Meski mengaku mendapat naskah dari Pustekom, Indra tak jarang memberikan tambahan soal materi yang akan disampaikannya.
Dalam acara tersebut, Indra mengupas berbagai teori bahasa Inggris berupa grammar, vocabulary, tenses yangdiselingi dengan games. Agar ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik, Indra tidak saja memperhatikan intonasi ketika berbicara.
Gaya santai pun dia tunjukkan dengan body language, ekspresi, dan wardrobeyang ia kenakan. ”Acara ini konsepnya belajar, tapi menyenangkan agar tidak terlihat seperti mengajar. Saya punya trik seperti itu,” tutur pria lulusan Desain Komunikasi Visual ITB ini.
Kemasan acara, menurut Indra, menjadi faktor penentu keefektifan acara tersebut. ”Saat ini banyak program pendidikan disiarkan di televisi, tapi saya melihat kemasannya kurang maksimal, jadi acara tersebut kurang mendapatkan perhatian,” kata Indra.(sri noviarni/MG-18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar