Sabtu, 26 April 2008

Tulisan_24 @ Sindo

Keajaiban Sekolah Alam
Sabtu, 26/04/2008

Alam adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah.Beberapa penemu terkenal di dunia mampu menghasilkan karya-karya fenomenal lantaran memanfaatkan alam. Lihat saja Isaac Newton yang berhasil menemukan ide tentang teori gravitasi hanya karena duduk di bawah pohon apel yang buahnya terjatuh di dekatnya.
Berkaca dari hal tersebut, kini banyak sekolah mempunyai konsep kembali dan pemanfaatan alam sebagai bagian dari metode pembelajaran. Salah satu sekolah yang mengadopsi konsep belajar seperti ini adalah Sekolah Alam Jakarta (SAJ) yang ada di Jalan Anda 7 X Ciganjur,Jakarta Selatan.
Begitu memasuki sekolah ini, jangan heran karena Anda tidak akan menemukan bangunan permanen layaknya gedung sekolah pada umumnya. Sebagai gantinya, berbagai ruangan yang ada seperti ruang guru dan kepala sekolah hanya menempati rumah kayu yang dibangun berlantai dua.Tidak ada bangku atau meja di ruangan-ruangan tersebut.
Ruang kelasnya juga tak kalah natural, alih-alih belajar di ruang berdinding dan berkaca, para murid malah semakin menyatu dengan alam dalamsaungkelas. Samadenganruangan lain,di kelas juga tidak ada bangku dan meja. Semua serbalesehan, untuk keperluan menulis setiap anak m e m i l i k i meja lipat sendiri.
Perpustakaan juga sama, di sini berbagai buku disusun dengan rapi di rak atau lemari kaca.Para siswa yang ingin membaca buku di perpustakaan harus melepas alas kaki dan duduk dengan manis di sehelai tikar rotan. Sekolah yang memiliki jargon learning is fun for us ini bukan hanya mencoba mengajak murid lebih dekat dengan alam.
Lebih dari itu, sekolah yang turut menyukseskan program wajib belajar sembilan tahun ini berusaha memanfaatkan alam sebagai media murah untuk mentransfer ilmu kepada para murid secara optimal. ”Alam memberi banyak inspirasi dan mengajak berpikir realistis.Kami percaya semakin dekat anak dengan alam, ia akan tumbuh menjadi seorang yang bijaksana.
Di sekolah ini kami menggunakan alam sebagai fasilitas belajar,” kata kepala Sekolah Alam Jakarta Novi Hardian. Menurut Novi, selama ini orang sering salah kaprah dalam memaknai kualitas pendidikan. Banyak orang menganggap kualitas pendidikan berjalan linier dengan fasilitas yang memadai.Padahal, hal tersebut tidak selamanya benar.
”Ada tiga hal yang menentukan kualitas sekolah, yakni sumber belajar, guru, dan metodologi yang berkualitas,” tutur Novi. SAJ berusaha menghadirkan ketiga aspek tersebut demi menjaga mutu sekolah serta menjamin lulusan sekolah yang potensial. Sebagian besar buku-buku yang digunakan sebagai panduan belajar merupakan buku dari luar negeri.
Adapun guru sebagai tenaga pengajar di SAJ, dipilih lewat seleksi yang ketat dan harus berani mengedepankan kreativitas dalam memberikan pelajaran. Karena konsepnya sekolah alam, rata-rata guru berlatar belakang pendidikan pertanian. Namun, tidak sedikit lulusan dari universitas ternama seperti UI atau Unpad.
Yang menjadi pembeda antara sekolah alam dan sekolah konvensional lainnya adalah metodologi pembelajaran.Metode ini berprinsip, guru bukanlah pusat belajar justru murid yang memegang peran itu.Jadi, lewat pendekatan experiental learning, guru hanya sebagai media yang bertugas memfasilitasi.
Hal ini dibenarkan Ani Rahmawati, guru kelas satu SAJ.Menurutnya, metode experiental learning, mengasah murid didikannya lebih peka kepada persoalan dan mampu berpikir kritis. Berbekal metode itu, Ani justru mengaku kerap kesulitan melayani pertanyaan muridnya yang terkadang membuatnya berdecak kagum.
”Lewat metode ini, anak tidak dijejalkan berbagai rumus, tetapi anak dibawa agar mereka sendirilah yang akan menemukan rumus itu,” beber Ani. l itu memang terbukti ketika SINDO datang ke SAJ. Waktu itu murid kelas tiga sedang sibuk melakukan presentasi di saung kelas mengenai negara-negara di dunia.
”Setiap murid, saya beri tugas mengulas soal suatu negara, boleh sejarah, iklim, penduduknya dan sebagainya. Nanti mereka akan menjelaskan temuan tersebut di depan kelas,” ungkap Aditia Mulyadi, guru kelas tiga. Cara ini cukup efektif mengajak murid aktif dalam mencari informasi melalui berbagai sumber pengetahuan, baik buku maupun internet.
Alhasil anak-anaklah yang mencari, mengolah, dan mendapatkan ilmu tersebut. Bukan tidak mungkin dengan metode ini anak akhirnya mampu berpikir sistematis dan mengembangkan kemampuan kritisnya untuk bertanya maupun melihat persoalan.
Karena kurikulumnya khusus SAJ, tidak heran sebanyak 75% kegiatan belajar-mengajar dilakukan di luar ruang alias outdoor, sedangkan sisanya dilakukan di dalam kelas. ”Sejatinya hakikat belajar bisa dilakukan di mana saja, makanya tidak masalah belajar di lingkungan outdoor,”ujar Novi.


Sekolah Tanpa Rasa Lelah

HAKIKATsekolah alam berbeda dengan sekolah konvensional pada umumnya. Termasuk dalam soal materi yang diterapkan.
Muatan lokal yang biasanya berupa kesenian atau bahasa daerah seperti di sekolah lain, tidak akan ditemukan di Sekolah Alam Jakarta (SAJ). Pilihan yang tersedia cukup menarik dan bagi anak-anak dijamin jauh dari kata bosan.
Bagaimana tidak, bahasa Arab, berkebun, dan beternak serta kegiatan outbondlainnya selalu menemani mereka selama perjalanan semester. Setidaknya, dua minggu sekali murid SAJ melakukan outbond di dalam atau luar sekolah.
Kegiatan ini pun sangat menyenangkan dan cukup menantang, seperti rafting, yang biasanya mengambil tempat di Danau Setu Babakan yang berada di daerah Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Untuk menghindari kejenuhan, pihak sekolah cukup pintar dalam mengemas kegiatan.
Sekali waktu acara rafting diganti dengan wall climbing, khusus untuk murid SMP. Adapun satu bulan sekali murid diajak pergi berenang. Outbondmemang bertujuan menyenangkan para murid, tapi di balik itu ada makna yang lebih mendalam yakni pendidikan leadershipdengan dynamic group sebagai metode utama.
Tidak heran bersekolah di SAJ bagaikan bermain bersama teman dan tidak terasa belajar. Seperti pengakuan Zalna, Alif Mahardika, dan Ajra Ibrahim. Ketiganya mengaku senang bersekolah di SAJ karena tidak membosankan.
”Di sini seru, enak, udaranya segar, kelasnya terbuka, gurunya baik, dan yang penting ada outbond-nya,” kata mereka. Alif yang tinggal di Tanah Baru, Depok, ini tak pernah sekalipun merasa bosan dengan kegiatan belajar di sekolah alam. ”Alif sih senang-senang aja, setiap hari rasanya kayak bermain, waktu belajar juga enggak bosan, apalagi di sini teman-temannya baik,” ucap Alif polos.


Buku Pelajaran Tidak dibawa ke Rumah

DEMI memperoleh nilai memuaskan, di sekolah konvensional, murid lebih banyak dituntut memahami setiap mata pelajaran.
Keadaannya berbeda dengan SAJ yang lebih menekankan paradigma murid mendapatkan ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai hasil belajar, guru tidak memberi nilai berupa angka. Namun, gambaranprestasi murid tecermin dalam kurva dengan indikator di antaranya attitude, worked independent, ketelitian, kerapihan dan lain-lain.
Semuanya dinilai dengan ukuran enough,good, dan excellent. Yang menarik, sejak kelas satu murid SAJ sudah dibiasakan menulis. Setiap hari Senin ada daily writing. Setiap murid akan diberi worksheet untuk mengarang indah tentang kegiatan yang mereka lakukan di akhir pekan, lengkap dengan kotak yang disediakan sebagai tempat menggambar kegiatan mereka itu.
”Karena sudah terbiasa menulis, mereka tidak akan mengalami kesulitan menulis dan menuangkan ide di kemudian hari,”kata Ani. Kemampuan menulis menjadi suatu keharusan di SAJ, untuk kegiatan presentasi atau yang lain. Terlebih lagi di kelas enam dan SMP nanti ada semacam tugas akhir yang diberikan sebagai salah satu syarat kelulusan.
Layaknya penulisan tugas akhir kecil-kecilan setara tingkat diplomat, murid SAJ diajak untuk melakukan suatu penelitian dan menyusunnya secara sistematis dalam kerangka penulisan ilmiah lalu mempresentasikannya di hadapan guru dan murid yang lain.
Berbagai keunggulan inilah yang membuat Widayati tertarik menyekolahkan keempat anaknya di SAJ. Ibu rumah tangga ini mengaku sejak Aldi, putranya yang kelas tiga SD, disekolahkan di SAJ, dirinya melihat kemajuan yang pesat pada sang anak.
”Dia punya karakter memimpin dibanding sepupunya yang lain, bakatnya kelihatan dan sangat kritis melihat suatu masalah,”kata Widayati. Menurutnya, ini adalah sekolah yang tidak membendung kreativitas anak. Yang menarik, di sekolah ini banyak kegiatan yang akhirnya menuntut orangtua untuk ikut belajar pula.
Seperti ketika Aldi diminta untuk melakukan presentasi tentang negara China, Wida juga turut membantu menyiapkan materi presentasi dengan membuatkan program power point. Lain lagi dengan pengakuan Afianti yang mempunyai putri bernama Annisa yang juga duduk di kelas tiga.
”Belajar di sekolah sudah cukup menguras tenaga dan pikiran, makanya di sekolah ini buku-buku tidak dibawa pulang dan jarang sekali ada PR,”beber wanita yang tinggal di Cinere ini. (sri noviarni/MG-18)

Tidak ada komentar: