Ironi BACK to the CITY
Rabu, 23/04/2008
TINGGI Jumlah apartemen di Jakarta meningkat. Harga apartemen di Jakarta menurut ICE International masuk dalam peringkat ke-16 termahal di Asia.
JARGONBack to the City atau kembali ke pusat kota tengah ramai dibicarakan.Masalahnya,tidak semua orang justru bisa kembali ke Jakarta. Ironisnya,banyak warga Jakarta justru terpaksa memilih ke pinggir kota. Developer perumahan dan apartemen, saat ini tengah berusaha menggalakan jargon back to the city.
Slogan ini berusaha menggoda masyarakat yang ada di daerah pinggiran untuk kembali ke pusat kota.Banyak alasan yang dibuat.Mulai dari lokasi apartemen dan rumah yang strategis, kemudahan akses transportasi dan fasilitas yang lengkap. Selain itu, rata-rata orang yang bekerja di Jakarta adalah komuter. Jadi, daripada tua di jalan, justru sangat menguntungkan tinggal di pusat kota.
”Tinggal di apartemen lebih efisien, dan lokasinya strategis dan keamanannya terjamin. Berangkat kerja juga enggak butuh perjuangan,” kata Prieta Perthantri,23,warga apartemen Taman Rasuna, Kuningan,Jakarta Selatan ini Masalahnya tidak semudah itu untuk tinggal di Jakarta.
Memang banyak properti yang bisa jadi pilihan seperti dari mulai apartemen hingga tempat kos yang tersebar di wilayah DKI. Sayangnya, di Jakarta semuanya serba mahal, apalagi urusan perumahan. Harga yang membubung tinggi memang membuat masyarakat kesulitan mencoba jargon Back to the City.
Bayangkan saja,untuk sebuah rumah sederhana saja, harganya bisa mencapai Rp200 juta. Harga sewa kontrakan pun sudah mulai menanjak naik.Untuk apartemen, banyak warga kota di pinggiran hanya menjadikan apartemen sebagai mimpi. Tidak jarang malah, akhirnya banyak warga Jakarta yang memilih pindah ke pinggir kota.
Contohnya, Herry Setiawan, warga Kampung Sumur, Jakarta Selatan, baru-baru ini telah menjual rumahnya. Pria yang sehariharinya bekerja di perusahaan finansial ini sudah pindah rumah ke kawasan Bekasi,Jawa Barat. Herry menjual rumah dengan luas 100 meter per segi itu dijual dengan harga Rp200 juta.
Dengan harga yang sama, ia justru bisa membeli rumah yang lebih luas. “Pengennya sih beli lagi di pusat Kota.Tapi, kayaknya justru lebih mahal dibandingkan di pinggiran,” katanya. Sebenarnya, Herry punya keinginan untuk membeli rumah yang ada di kawasan Kelapa Gading.
Sebab, kantor ia tempat bekerja memang berada di kawasan tersebut. Sayangnya, rumah yang ada di kawasan itu justru mempunyai harga yang sangat sulit ia jangkau. “Kalau tinggal di situ (Kelapa Gading) kan lebih enak. Enggak capek di jalan.Tapi apa daya, enggak mampu back to the city,” katanya serius.
Dini Martyaningsih,juga punya keinginan yang sama untuk tinggal di pusat kota. Jika mempunyai cukup uang, ia ingin menetap di daerah Kuningan, Jakarta Pusat. Alasannya agar dekat dengan kantornya yang berada di Gatot Subroto. Dini yang sudah 20 tahun tinggal di Bintaro ini, rupanya tidak puas dengan tempat tinggalnya sekarang. Maklum daerah Bintaro memang terkenal dengan kemacetannya.
Untungnya Dini membawa motor sendiri, bukannya naik kendaraan umum.Yang repot, justru sewaktu pulang kerja. Dini, harus bermacet-macet ria. Tak jarang untuk menghindari macet, Dini lebih memilih untuk menunggu waktu di kantor hingga pukul 19.00-19.30.
”Padahal badan rasanya sudah capek,mana harus bawa motor lagi. Tapi mau gimana lagi daripada kejebak macet,”kata wanita yang bekerja sebagai staf di PT. Direct Vision ini. Back to the City memang diyakini jadi solusi untuk menghindari kelelahan. Guna memaksimalkan kerja, tinggal di pusat kota memang jadi jawaban pasti.
Salah satu alasan ini bahkan sering dijadikan alasan utama para developer perumahan dan apartemen. Mudahnya tinggal di Jakarta memang mebuat iri semua orang. Amara,24, merupakan salah seorang yang iri dengan teman-temannya yang penduduk Jakarta. Bagaimana tidak,wanita yang menetap di bilangan perumahan Galaksi di Bekasi Timur, harus rela bangun pagi setiap hari agar tidak terjebak macet.
Ia teringat ketika dirinya masih duduk di bangku perkuliahan. Lulusan universitas Prof.DR.Moestopo(Beragama) ini harus membuka mata pukul empat dan menyiapkan diri untuk berangkat kuliah di kampusnya yang berada di daerah Hang Lekir Senayan. ”Pokoknya jam5.15harus keluar dari rumah, kayanya kalau sudah lewat semenit aja udah macet banget,”ungkap Amara.
Bukan hanya itu, tinggal di Bekasi membuatnya jauh untuk menjangkau lokasi lain. Aktivitas sehari-hari ini cukup menguras isi kantongnya. Menurut wanita berkacamata ini, untuk naik kendaraan umum menuju Jakarta, ia biasa mengeluarkan yang diatas Rp5ribu.
Untuk pulang pergi praktis Amara harus merogoh kocek hingga Rp25ribu. ”Makanya pengen tinggal di Jakarta, selain lebih irit, juga mendongkrak prestise. Kalau boleh milih pengennya sih tinggal di daerah Jakarta Selatan,”tuturnya.
Tinggal di Kota Memperluas Pergaulan
BACK to the Citymemang memberikan banyak keuntungan. Wajar saja, jika saat ini banyak orang yang berkantong tebal memilih untuk mengikuti program ini. Harga mahal tidak akan jadi masalah.
Contohnya, Prietha Perthantri harus mengeluarkan uang sebesar Rp275 juta untuk mendapatkan satu buah unit apartemen Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta Pusat, dengan tiga kamar dan satu kamar kecil. Saat ini, Prietha sudah tujuh tahun menetap di apartemen tersebut.
Sementara itu, setiap bulannya Prieta harus menyisihkan pendapatannya sebesar Rp1,2juta, untuk biaya listrik, air, keamanan dan lain-lain. Kendati demikian dirinya tidak ambil pusing dengan masalah tagihan setiap bulan untuk apartemen seluas 92 meter miliknya tersebut.
“Tinggal di apartemen lebih efisien, dan lokasinya strategis”kata wanita yang bekerja sebagai event organizer ini. Selain ketersediaan berbagai fasilitas, tinggal di apartemen bagi Prieta akan memperluas jaringan pergaulannya. “Orang-orang yang tinggal disini memiliki profesi yang beragam dan bukan orang dari Indonesia saja.
Jadi, bisa nambah networking,”tutur wanita kelahiran 20 Juli ini Tidak cocok dengan apartemen, program Back to the City mempunyai banyak alternatif lain. Hanya saja masalahnya tetap sama. Semuanya hanya bisa dimilii oleh orang berkantong tebal. Contohnya, membeli rumah di Jakarta Timur rumah berlantai dua, dengan dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi membutuhkan uang sekitar Rp450juta. (sri noviarni/MG-18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar