Saatnya Robot Masuk Sekolah
Sabtu, 15/03/2008
ROBOT adalah tren pendidikan di masa depan. Meminjam perkataan Bill Gates,”Di masa mendatang, manusia akan tumbuh dan hidup bersama robot”. Jadi,mengenal robot sejak dini sangat diperlukan.
Bill Gates bukan orang pertama yang meramalkan hal ini. Sebelum dia, banyak sutradara film Hollywood menggambarkan masa depan dengan robot dan manusia hidup bersama-sama. Ramalan ini memang makin jadi kenyataan. Sejak 2000, sekolah-sekolah membuat robot mulai bermunculan.
Bahkan, per tahunnya, jumlah penggemar kursus membuat robot terus meningkat.Saat ini saja di Jakarta Convention Center (JCC) digelar kompetisi membuat robot Imagine 08 Klub Robotik tingkat SD,SMP,SMA, dan SMK. Saking digemari, jumlah peserta kompetisi ini mencapai ratusan.Pertanyaannya, kenapa robot sangat digemari dan banyak orang berlombalomba mengenal robot?
Menurut Yudi Mintoro Sumaik, pemilik Robotics Education Centre (REC) di Ruko Gading Bukit Indah, Kelapa Gading,Jakarta Utara,pendidikan membuat robot mempunyai banyak kelebihan. ”Kursus robotik mengajarkan kepada anak pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan imajinasi dan kreativitas, serta berpikir secara sistematis dan logis,” ujarnya.
Bukan hanya itu,belajar membuat robot juga melatih siswa untuk bekerja sama secara kompak dalam sebuah tim. Sebab, setiap membuat robot, mereka akan dikelompokkan menjadi suatu tim yang beranggotakan minimal dua orang, ”Hal ini berfungsi melatih manajemen team work-nya, kalau mereka tidak kompak akan terlihat pada hasil karyanya.Kegiatan ini juga mengandalkan kemampuan berkomunikasi, apakah mereka mampu menyampaikan ide untuk menyelesaikan masalah,”ujarYudi.
Hal ini dibenarkan juga oleh pemilik kursus robotik Creative Kids, Gunawan Tunas.Menurut dia, proses belajar dengan membuat atau learning by making berpeluang menjadikan kegiatan belajar menjadi lebih efektif. Selain itu, juga merangsang perkembangan otak dan mengasah kemampuan motorik halus anak.
”Terlebih lagi kalau mereka melakukannya dengan enjoy, cara ini sekaligus berfungsi mengeksplorasi potensi yang dia miliki secara optimal,” ujar lulusan Manajemen Informatika Bina Nusantara ini.
Gunawan meyakini bahwa kursus membuat robot ini merupakan tren pendidikan pada masa depan. Menyetujui pendapat Bill Gates, dia mengungkap bahwa pada masa yang akan datang manusia akan tumbuh dan hidup bersama robot. ”Karenanya, sedini mungkin kami mencoba memperkenalkan robot kepada anakanak,” ujar Gunawan.
Tertinggal dari Tetangga
Meski animo cukup tinggi, sampai saat ini pelatihan membuat robot justru masih tidak tersentuh di sekolah- sekolah formal. Padahal, di negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Eropa, kegiatan merakit robot tidak lagi kegiatan di luar sekolah. Mereka bahkan telah memasukkan membuat robot dalam kurikulum pengajaran.
Sedari kecil, anak-anak sudah diminta bereksperimen dengan mengotak-atik robot Keadaannya jauh berbeda dengan di Indonesia.Di sini robot merupakan kata asing yang masih sangat berjarak dengan masyarakat, khususnya bagi para pelajar. Bahkan, ada anggapan belajar membuat robot cenderung mahal. Akibat anggapan ini, Indonesia cenderung tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya.
”Anggapan itulah yang ingin kami hilangkan.Padahal kursus robotik ini relatif murah dan tidak perlu beli peralatan karena sudah disediakan di tempat kursus,” kata pemilik Robo Club Sony Sumaryo. Robo Club, contohnya, hanya memungut biaya Rp42.500 untuk setiap pertemuan dengan beberapa orang siswa.
Sementara itu, klub Robotik menarik biaya sebesar Rp100.000 untuk empat kali pertemuan secara privat. Lain lagi dengan REC yang mematok harga Rp300.000 per bulan bagi setiap siswa Pentingnya robot masuk sekolah justru sudah disadari oleh kursuskursus membuat robot yang ada di Indonesia. Klub Robotik misalnya, telah menjalin kerja sama dengan beberapa sekolah dari tingkat SD hingga SMA untuk mengadakan kegiatan ekskul robotik di sekolah.
”Ketika datang ke sekolah, kami menerangkan manfaat yang didapat lewat kursus ini seperti pengenalan teknologi. Sejauh ini sudah ada 250 siswa dari berbagai tingkat sekolah yang ikut kegiatan ini,” ujar pemilik Klub Robotik Lucas C Gee.
Untuk lebih menyosialisasikan dan memantapkan metode pengajaran, beberapa tempat kursus robotic bahkan menjalin kerja sama dengan berbagai universitas ternama. Sebut saja UI, Trisakti, Gunadarma, Politeknik UI dan lain-lainnya.Jadi,saat ini waktunya bagi “Robot Masuk Sekolah”.(sri noviarni)
Paling Sulit Memprogram Gerakan
SIAPAyang tidak suka menciptakan robot. Kursus-kursus membuat robot ternyata digemari karena memang kursus ini memberikan fantasi indah bagi orang yang ingin menguasainya.
Jerrell, 8, siswa kelas dua SD Lab School Rawamangun sangat antusias setiap kali mengikuti kursus robotik di Robotics Education Centre (REC), yang sudah dijalaninya selama setahun terakhir. Di tempat kursus ini, Jerrel sama sekali tidak berpikir sedang belajar.
Dia malah seperti sedang memuaskan hobinya bermain robot. ”Saya suka robot, di rumah punya banyak koleksinya. saya juga sering mencari berbagai hal tentang robot di internet,” ungkap bocah yang duduk di tingkat basic mechanical ini. Berlatih merakit robot membuat dirinya menjadi lebih kreatif dan mengetahui teknik pemrograman melalui program Labview.
”Yang paling sulit saat memprogram gerak-gerak robot sesuai kemauan kita,” akunya. Dari kesukaannya mengutak-atik robot, Jerrell berhasil mengantongi juara 2 Jakarta Junior Robotic Competition. Lainnya itu, ada Jerry, 9, yang mengaku sejak mengikuti kursus robotik, dia jadi lebih kreatif. ”Saya senang ikut kursus ini soalnya bisa bikin robot sesuai keinginan,” ujarnya.
Senada dengan pengakuan Shannon,12. ”Belajar robot itu menarik. Saya bisa merancangnya sesuai keinginan saya biar jadi keren,” kata siswa kursus robot Creative Kids ini. Manfaat mempelajari robot pun dirasakan siswa yang bersekolah di SD Santa Laurensia ini. Dia mengaku terbiasa dengan teknologi modern setelah empat bulan kursus robot.
”Belajar robot juga melatih logika saya,” tambah Shannon. Usianya memang masih belia, tapi tekad Shannon untuk mendalami robot sangat tinggi. ”Mengikuti kursus robot saya anggap sebagai latihan dan cara untuk berpikir lebih maju,” ungkap gadis kecil yang bercita-cita jadi ilmuwan ini. Siswa yang telah memasuki tahapan intermediate ini mengaku mengalami kesulitan mendapatkan ide merancang robot.
”Setelah melewati tahap basic, yaitu pengenalan alat dan fungsi, di tahap intermediate saya harus memikirkan sebuah ide untuk merancangnya,” ujar Shannon.(sri noviarni/MG-18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar