Hidup Tak Dimulai di Usia 40
Rabu, 12/03/2008
APA yang terjadi saat usia Anda mencapai 40 tahun? Banyak orang mengatakan, usia 40 adalah awal yang sempurna untuk mengawali hidup Anda. Benarkah demikian?
Ungkapan ”life begin at forty’’ sudah abadi di masyarakat.Diyakini, di usia kepala empat inilah seseorang tengah berada di puncak karier. Di usia ini pula seseorang tengah menikmati apa yang menjadi perjuangannya sejak usia 20 hingga 30-an.
Filsuf terkenal asal China, Confusius, bahkan punya ungkapan istimewa tentang angka 40 ini. Dia mengatakan, di usia 15 tahun, hatinya tengah mempelajari semua hal. Di usia ketiga puluh, dia baru bisa berdiri sendiri dan di usia keempat puluh,dia mulai bisa bebas dari semua keraguan.
Namun, tidak semua orang setuju dengan ungkapan tersebut. Malahan, banyak orang menganggap ungkapan itu hanya sebatas isapan jempol belaka. Itulah yang dipahami ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir,51.
Menurut pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini, hidup justru dimulai sejak manusia dilahirkan.Soetrisno berpandangan,setiap perjalanan hidupnya meninggalkan jejak keberhasilan atas segala usaha yang telah dilakukannya.
Makanya, dia menolak mentahmentah pernyataan hidup dimulai pada saat usia menginjak 40. ”Sejak remaja,saya sudah terbiasa hidupdengankerjakeras.Umur14saya sudah buka usaha batik dengan kakak saya.Di umur 28,saya sudah memimpin sekian perusahaan,semua tidak bisa saya dapatkan kalau dimulai dari usia 40,”kata pemilik perusahaan Ika Muda Group yang bergerak di bidang pergudangan dan properti.
Usia 40, lanjut Soetrisno, tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih dewasa menyikapi segala permasalahan hidup. Menurut pria yang pernah menjadi tokoh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini, tempaan dari pengalaman hidup serta kerasnya kondisi kehidupan yang dijalankanlah yang justru menjadi pemicu seseorang untuk bersikap lebih matang.
”Saya pikir usia tidak menentukan kedewasaan seseorang. Kalau saya pribadi, pengalaman jatuh bangun memimpin perusahaan justru yang membuat saya lebih mandiri dan kuat dalam menjalani kehidupan,” ujar pria yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga pedagang ini.
Pengakuan Soetrisno dibenarkan oleh pendiri Java Musikindo Adrie Subono,54.Adrie malah punya ungkapan sendiri dalam memandang hidup, ”life begin at anytime’’, jadi nikmati setiap setiap waktu yang berjalan dalam hidup kamu,” papar pria yang dijuluki promotor yang berhasil mendatangkan 1001 artis luar negeri ini.
Lebih lanjut Adrie mengatakan, di usia 40 tahun,dia beruntung sudah dapat mencapai kehidupan yang berkecukupan dengan keluarga yang harmonis. ”Hanya satu kekurangan yang belum saya miliki,yakni punya cucu,”katanya. Namun, dia merasa sudah cukup puas dengan kehidupan yang dimiliki. Pendapat yang sama dilontarkan Wimar Witoelar,63,dan anggota DPR, Effendi Choiri,45.
Keduanya mengaku hidup tidak dibatasi oleh relung usia. Namun,dalam memandang kehidupan, Wimar dan Effendy memiliki perspektif yang berbeda. Mantan juru bicara zaman Abdurahman Wahid,Wimar Witoelar,memandang hidupnya sebagai anugerah.
”Yang penting dari hidup adalah cara pandang kita melihat dunia sehingga hidup itu menjadi berarti,” papar pria kelahiran Padalarang, 63 tahun lalu ini. Pada usia 40-an,Wimar sudah aktif di beberapa media.Dia beranggapan bahwa kemapanan seseorang tidak dipengaruhi usia. Selain itu,Wimar benar-benar menikmati setiap pencapaian hidupnya walau tidak memiliki target khusus.
”Saya hidupsetiapharidengantidak memikirkan umur.Bagi saya,hal seperti itu akan memenjarakan kita dari ilusiilusi. Jadi jalani saja,”jelas Wimar Wimar sendiri mengaku hidupnya penuh dengan cerita yang saling bertolak belakang.Dia pernah merasakan duka yang mendalam setelah kehilangan sang istri,Suvatchara Leeapon, lima tahun lalu.Namun sekarang, dia mengaku merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
”Mungkin ini fase kehidupan yang harus saya jalani, setelah sedih saat istri tiada, sekarang saya merasa bahagia dengan umur saya ini,” ungkap Wimar. Lain Wimar,lain juga Effendi Choiri. Dia menilai hidupnya mengalir sesuai kehendak Tuhan. ”Saya merasa hidup saya bergerak ke arah yang lebih baik, mulai dari anak kampung sampai kini aktif di politik,”ungkap ketua fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Seperti Soetrisno Bachir, Effendi malah mengaku sebelum menginjak usia 40 tahun, dia sudah merasakan betul kesuksesan dan pengalaman hidup. Saat itu, kenang Effendi, dia berhasil terlibat aktif di dunia politik. Kariernya terus mengalami kemajuan dengan jabatan-jabatan yang diembannya.Mulai ketua fraksi PKB, ketua umum DPP PKB,hingga duduk di Komisi I DPR. (sri noviarni/MG-18)
Gaya Tak Boleh Berubah
USIA boleh bertambah, tapi gaya tak pernah mati. Wimar Witoelar sampai sekarang tidak pernah lepas dari gayanya berpakaian sangat santai. Hal senada dirasakan Adrie Subono.
Meski makin matang, untuk urusan bergaya dia sama sekali tidak pernah meninggalkan gayanya yang sangat kasual. Bagi Adrie, untuk urusan satu ini, ini dia tidak menjadikan usia sebagai batasan dalam berpenampilan. Celana berpotongan skinny dan sepatu boot, setia menemani harihari Adrie.
”Pokoknya be your self saja. Jangan jadikan usia jadi alasan untuk membohongi diri sendiri,” katanya bijak. Bagi Adrie, kebiasaan berpakaian kasual memang sulit diubah. Sebab, ini mencerminkan dirinya yang energik. Bahkan, gaya ini sudah jadi trademark-nya. Meski gaya tidak pernah berubah, Adrie justru mengaku banyak mengalami perubahan setelah usianya menua. Apa saja?
Pertama, hobi, menurutnya, setiap periode waktu yang telah dilakoni Adrie, dia selalu berganti-ganti kesukaan, termasuk soal hobinya berolahraga. Di usia 16 dulu, dia hobi olahraga angkat beban.
Menginjak usia 18, dia berganti kesukaan bergabung dalam klub bela diri selama hampir delapan tahun. ”Di umur sekarang saya sudah sadar diri, nonton di bioskop saja hanya kadang-kadang,”kata pria yang memiliki moto ‘’be your self’’ ini.(sri noviarni/MG-18)
Saatnya Petik Keberhasilan
PENOLAKAN kredo ‘’life begin at forty’’ dibenarkan Dr Rose Mini A P, MSi. Seperti mereka, psikolog Universitas Indonesia ini memang tidak pernah sependapat dengan pernyataan tersebut.
”Jika hidup orang mulai pada usia 40 tahun, lantas umur sebelumnya apa?,” papar psikolog Universitas Indonesia (UI) ini. Wanita yang berprofesi sebagai dosen FISIP UI ini menuturkan, ungkapan itu lebih tepat disandingkan bagi seseorang yang sudah tercukupi segala kebutuhan dasarnya. Sehingga di usia 40 tahun, dia tinggal mencapai kebutuhan yang lebih advance.
”Seperti mencari eksistensi diri dan menetapkan aktualitas diri,” kata psikolog yang akrab disapa Mbak Romy ini. Orang-orang yang berada pada level ini pada umumnya tinggal memetik buah keberhasilan yang diraihnya berkat kerja keras. Mbak Romy menilai, mereka akan menjalani hidup dengan lebih rileks.
Salah besar jika orang memandang pernyataan itu dengan mulai bekerja di usia tersebut dengan segiat mungkin. Karena usia tersebut orang sudah tidak seproduktif seperti usia sebelumnya. Sehingga kinerja menurun. Karenanya, Mbak Romy mengingatkan untuk memulai hidup sekarang juga. Menanggapi usia berpengaruh pada faktor kedewasaan, Mbak Romy menganggap hal itu justru tidak ada hubungannya.
”Kedewasaan seseorang bukan ditentukan dari umur, tetapi kemampuan mengelola emosi, perasaan, serta keinginan,” ujarnya. Menurut Mbak Romy, bertambahnya usia menandakan seseorang harus lebih waspada dengan penyakit yang mungkin akan diderita. (sri noviarni/MG-18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar