Senin, 10 Maret 2008

Tulisan_6 @ Sindo

Makan Siang Istimewa
Selasa, 11/03/2008

MAKAN siang biasanya menjadi waktu yang ditunggu-tunggu bagi para pekerja kantor, termasuk pengusaha sukses dan para jutawan. Seperti apa sih kebiasaan makan siang mereka?
Waktu tepat menunjukkan pukul 12.00 siang,suasana Bogor Cafe di Hotel Borobudur Jakarta telah ramai terisi. Bagi para eksekutif yang bekerja di kawasan Jakarta Pusat, kafe ini merupakan tempat yang nyaman untuk disambangi. Di kafe ini, ada satu menu favorit pilihan para eksekutif, yakni sup buntut sapi.
Public Relation Hotel Borobudur Evi Rumondang menyebutkan, menu ini merupakan menu favorit para eksekutif dan orang terkenal yang sering datang ke sini. Salah satunya adalah motivator terkenal Tung Desem Waringin.Tak jarang, ketika makan siang,Tung menyempatkan waktu dan mentraktir teman-temannya makan siang di kafe ini.
”Sup buntut sapinya enak, saya sengaja memilih oxtail yang asli dari Kobe,Jepang,”kata Tung. Selain Bogor Cafe,tempat lain yang wajib disambangi orang-orang istimewa adalah Restoran Bunga Rampai yang ada di kawasan Menteng,Jakarta Pusat. Di restoran ini menu yang jadi buruan adalah nasib buketan.
”Semuanya yang datang pasti minta nasi buketan. Jadi menu wajib,” kata Public Relation Bunga Rampai J Williams. Menurut pengakuan Williams, penggemar nasi buketan ini bukan orang sembarangan.
Menurut dia, sudah banyak orang-orang penting, pengusaha sampai menteri yang bertandang ke restoran ini mencari nasi buketan untuk makan siang. Williams mengatakan, para petinggi sering datang karena mereka merupakan pelanggan yang loyal.
Selain itu, mereka sering mendapatkan pelayanan yang istimewa selama di sini. Pelayanan itu tak lain adalah suasana yang nyaman dan kemampuan restoran memenuhi keinginan mereka. Agar suasana lebih nyaman,Williams menuturkan, ada meja khusus yang disiapkan untuk tamu-tamu istimewa tersebut. ”Sebenarnya kami memberikan pelayan yang sama bagi setiap pengunjung, tapi khusus bagi tamu VIP, setting meja akan lebih dipercantik,” ucapnya.
Untuk memenuhi keinginan tamu, William mengaku sering menemui keinginan yang sama sekali tidak ada di restoran mereka.Namun, demi pelanggan, mereka siap memenuhi permintaan itu. Hal yang sama juga sering terjadi di restoran Rosso di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat.
Menurut Public Relation Shangri-La Yuska Tuannakota, tak jarang tamu mempunyai permintaan yang aneh-aneh. Untungnya, selama ini pihak restoran masih bisa melayani dan memuaskan keinginan mereka. ”Macam-macam permintaannya, ada yang minta spageti tanpa daging, padahal yang kami sediakan pakai daging semua, tinggal chef-nya saja yang bingung,”tutur Yuska.
Selera Mahal Tamu Istimewa?
Perbedaan perlakuan yang diterima tamu-tamu istimewa ketika makan siang, memang jadi pertanyaan. Sebenarnya, apakah tamu-tamu istimewa itu rewel dengan makan siang mereka? Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sandiaga Unojustru mengaku tidak.Hingga saat ini, dia lebih memilih tinggal di kantor untuk makan siang.
”Soalnya di kantor disediakan makan, jadi tidak perlu repot keluar cari makan.Menunya juga enggak masalah,”katanya. Hal yang sama juga diutarakan oleh pengacara kenamaan Henry Yosodiningrat dan Presiden Direktur PT Merril Lynch Indonesia Lily Widjaja. Henry malah mengaku hampir tidak memiliki waktu untuk memilih restoran- restoran khusus untuk makan siang.
”Kadang biar mudah saya pesan delivery service saja,” ujar pria kelahiran Lampung ini. Setali tiga uang dengan Henry,Lily mengaku hanya makan siang jika ada waktu luang. Dia bahkan enggan datang ke restoran dan mencoba menumenu khusus yang disediakan. Bagi Lily,yang paling penting adalah lokasi restorannya dekat dengan kantor.Soal menu, itu nomor sekian.
”Pokoknya, sekadar mengganjal perut dengan makanan yang tidak terlalu berat serta dekatdari kantor,”sebutnya. Meski sebenarnya tidak terlalu selektif soal menu dan tempat, Sandiaga mengaku sering datang ke restoran- restoran khusus untuk makan siang. Selain karena sering diundang, dia datang ke restoran tersebut karena ingin mengajak rekan-rekannya makan siang bersama.
”Tapi tempat yang saya pilih buat makan siang itu harus relatif dekat dengan kantor dan membuat saya nyaman,” kata penyuka sayur dan ikan ini. Untuk urusan nyaman, Tung Desem Waringin malah mengaku sering merasa nyaman makan siang meski di pinggir jalan. ”Sering kalau untuk makan siang dengan teman kantor, biasanya saya memilih tempat makan yang enak tapi murah meriah,” papar penulis buku Marketing Revolution ini. (sri noviarni/MG-18)

Bisnis di Meja Makan

TAHUKAH Anda, YouTube ke Google di atas sebuah meja makan. Waktu itu kedua pemimpin di YouTube dan Google bertemu ketika makan siang di restoran Denny’s, California.
Setelah makan siang, YouTube terjual dengan harga USD1,5 miliar Berkaca dari pengalaman itu, makan siang memang bukan hanya sekadar waktu untuk mengisi perut. Makan siang bagi hampir seluruh eksekutif justru untuk membicarakan urusan bisnis maupun menjalin hubungan dengan relasi. Hal ini akrab disebut lunch meeting.
Menurut pakar motivator Tung Desem Waringin, ada dua macam manfaat lunch meeting. Pertama, adalah sebagai teknik pendekatan bagi orang-orang yang akan terlibat dalam suatu hubungan bisnis. Biasanya dalam lunch meetingjenis ini, masing-masing orang belum terlalu mengenal dengan yang lain.
Di sinilah lunch meeting bertujuan untuk mengakrabkan diri. Pada pertemuan saat makan siang ini yang dibicarakan baru seputar masalah pribadi dan belum menyentuh bisnis. Kemudian jika hubungan pertemanan tersebut sudah lumayan akrab, maka pertemuan makan siang selanjutnya baru membicarakan hubungan bisnis.
”Manfaat kedua dari lunch meeting ini bahkan bisa menggolkan beberapa deal bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak,” kata Tung. Tung sendiri belajar mengenai bisnis di meja makan ini dari pengusaha terkaya di Asia, Lika Shing.
”Menurutnya, jangan pernah Anda ditraktir orang lain karena Anda akan berutang budi, sebaliknya biarkan Anda mentraktir orang walau belum sekelas mereka, dan Anda akan merasakan manfaatnya,” paparnya. Saking berpedoman pada prinsip tersebut, Tung rela mentraktir Komisaris Asuransi Bintang Amir Abadi Jusuf di restoran mahal Samudera di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, sekitar 10 tahun lalu.
Padahal waktu itu Tung mengaku hanya berpenghasilan sekitar Rp2 juta. “Saya masih ingat waktu itu menghabiskan Rp780.000, bayangkan separuh gaji sebulan saya. Akhirnya, sebulan ke depan saya enggak makan siang di luar, tapi setelah itu bisnis saya jadi lancar,” kenang Tung.
Jika berhubungan dengan kemajuan usahanya, Tung memang tidak segan mengeluarkan biaya selangit. Menurut Tung, banyak hal yang bisa dia dapatkan dengan mentraktir pengusaha kenalannya.
Selain memiliki nilai tambah di depan orang tersebut, dia juga berkesempatan bergaul dengan orang-orang kelas atas. “Dari makan siang itu, saya bisa mempelajari dan mengerti kunci sukses mereka,” kata Tung. Senada dengan Tung, Sandiaga Uno menyebutkan, pembicaraan bisnis di meja makan justru akan mencairkan suasana dan terbilang efektif. (sri noviarni/MG-18)

Tidak ada komentar: