Sensasi Cokelat Premium
Kamis, 06/03/2008
PERNAH mencoba cokelat seharga Rp2juta? Gerai Patchi menjual cokelat dengan harga fantastis itu.Ada beragam cokelat berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Uniknya, meski harganya selangit, para penggemar cokelat justru tidak mempermasalahkan harga sebesar itu.Buktinya,ketika dibuka di Pacific Place, Sudirman SCBD, Selasa (4/3) sore lalu,toko cokelat ini langsung diserbu para sosialita. Bahkan, selebriti terkenal seperti Wulan Guritno pun ikut menyambangi toko cokelat ini. Annie Massewa, termasuk salah satu sosialita yang terlihat sibuk memilih cokelat Patchi. Kepada SINDO, Annie mengatakan, pertama kali perkenalannya dengan gerai cokelat yang berdiri sejak tahun 1974 di Hamra-Beirut ini ketika bepergian ke luar negeri.
Saat mencoba,dia pun langsung menyukai rasa cokelat yang menurutnya pas, tidak terlalu manis,juga tidak terlalu pahit.Akhirnya, setiap pergi ke luar negeri misalnya ke Eropa dan Timur Tengah, Annie tidak pernah lupa membawa cokelat Patchi sebagai buah tangan bagi kerabatnya. “Soalnya, cokelat itu merupakan oleh-oleh yang tidak pernah ditolak, apalagi cokelatnya mahal,” kata wanita yang bekerja di bidang ritel ini. Makanya, ketika dia tahu Patchi memperluas ekspansinya hingga ke Indonesia, yang berlokasi di Pondok Indah Mall dan Pacific Place, frekuensi Annie menyambangi gerai toko cokelat ini makin intens.
“Setiap ke mal, pasti pulang tidak pernah dengan tangan kosong, selalu beli cokelat,” tutur wanita ramah ini. Pendapat yang dilontarkan Annie diakui pula oleh Errina Widajaja, 32, dan Joy Roesma, 29. Kedua wanita ini mengaku menjadi penggemar berat Patchi sejak gerainya buka pertama kali di Pondok Indah. Mereka tidak pernah lupa membeli cokelat untuk keluarga di rumah. Berbeda dengan mereka, chocoholic Jessica Nathalie, 27, justru mengenal Patchi sewaktu berada di negeri jiran, Malaysia.
Menurut Jessica,yang membuat istimewa gerai cokelat yang telah memiliki 31 cabang yang tersebar di hampir seluruh negara ini adalah rasa cokelatnya tidak menimbulkan enek.“Beda dengan cokelat lain yang pernah saya makan,”kata wanita lajang yang doyan cokelat berisi kacang ini.
Menurut Jok, cokelat yang disediakan di Patchi memiliki rasa yang beraneka ragam sehingga pembeli bebas memilih sesuai seleranya.”Apalagi di sini ada cokelat yang bebas gula (sugar free), cocok bagi orang yang lagi diet dan enggak suka gula,” ujar Joy yang gemar traveling ini. Pendapat Jessica diamini Tya, 25, yang menganggap kualitas rasa cokelat yang ditawarkan Patchi berbeda dengan cokelat lain. Soal harga yang mahal? Annie,Joy, Jessica,Errina,dan Tya mengaku tidak mempermasalahkan.
Menurut mereka, yang penting cokelat dengan kemasan indah itu bisa dibawa pulang. Annie sendiri tidak main-main dalam membeli cokelat Patchi. Dia malah mengaku untuk kegiatan seharihari sering mengeluarkan uang sebesar Rp300.000-Rp500.000 hanya untuk membeli cokelat. Sementara itu Joy, Errina, dan Tya mematok pengeluaran untuk membeli cokelat berkisar antara Rp150.000- Rp200.000.
Lain lagi dengan Jessica yang biasa membeli cokelat Patchi di KualaLumpur denganharga1.000Ringgit atau senilai hampir Rp3 juta.“Dulu sengaja saya beli banyak supaya enggak bolak-balik ke KL, bisa repot kalau kehabisan stok. Jadi enggak masalah ngabisin uangsebanyak itu,”tandasnya.
Kenapa Bisa Mahal?
Regional Franchise Manager Patchi for East & Asia Sihan Mitri mengatakan, gerai ini punya alasan khusus kenapa Patchi membuka gerai di Indonesia. Menurut dia,masyarakat Indonesia sudah seperti masyarakat dunia lainnya yang menjadikan cokelat sebagai camilan favorit mereka.
”Cokelat kami berbeda karena kami menyediakan beraneka rasa, ada milk dan dark chocolate dengan isi kacang, hazelnut, karamel, dan lainlain, dengan harga yang beragam,” katanya. Selain berbeda rasa, tentu harganya juga berbeda. Lalu, kenapa bisa sangat mahal? Koleksi cokelat Patchi memang bukan sembarang cokelat. Patchi merupakan cokelat premium yang bahkan bisa disejajarkan dengan merek kenamaan semacam Sevres, Baccarat,Bvlgari,Dior,dan Rosenthal. Menurut Sihan,bahan-bahan cokelat Patchi semuanya berasal dari segenap penjuru dunia.
Seperti kacang yang berasal dari Turki, sedangkan cokelatnya sendiri didatangkan dari Afrika.“Bahan-bahan dengan kualitas nomor satu itu, lalu diramu di pabrik PatchiyangberadadiBeirut,Lebanon,” kata Sihan. Sihan menuturkan, cokelat Patchi merupakan buatan tangan sehingga dikerjakan dengan penuh detail dan dengan cita rasa yang tinggi.Tidak heran cokelat yang dijual di Patchi dibanderol mencapai jutaan rupiah.
Selain bahan,yang bisa dianggap istimewa dari Patchi adalah kemasannya yang istimewa. Di Patchi, cokelat bisa dihiasi dengan taburan kristal swarovski, perak,dan keramik eklektik yang ditata secara apik dalam wadah pecah belah yang unik dari merek ternama. Sebut saja Murano, Sevres, Rosenthal, Baccarat, dan Christofle.
“Kami membungkusnya dengan kemasan yang unik yang bisa disesuaikan dengan budget pelanggan dan sesuai dengan keinginan mereka. Jadi, benar-benar customer oriented,” kata Sihan. Di samping aksesori tersebut, Patchi juga mengemas cokelatnya dengan dekorasi unik yang bisa disesuaikan dengan event-nya. Jadi, yang membuat mahal memang kemasannya. (sri noviarni/MG-18)
Cokelat untuk Semua Kegiatan
KINI cokelat bukan lagi merupakan camilan istimewa yang dimakan atau diberikan kepada seseorang pada saat-saat tertentu.
Sekarang cokelat bagaikan sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak dipisahkan dari gaya hidup para chocoholic. “Bagi saya, cokelat sangat spesial dan menjadi must have item yang ada di rumah karena saya makan cokelat hampir setiap hari,” kata Jessica. Bagi Jessica, kudapan ini sama sekali tidak pernah absen di rumahnya.
Menurut wanita yang tinggal di apartemen yang berada di bilangan Sudirman ini, sebelum Patchi ada di Jakarta, dia selalu membeli cokelat tersebut dengan jumlah banyak di luar negeri seperti di Malaysia dan Australia. Jessica membeli banyak bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk teman-temannya yang kerap berkunjung ke apartemennya. ”Tamu yang datang saya suguhin cokelat itu, dan ternyata mereka senang juga dengan rasa cokelatnya,” ujar wanita yang hobi fitness ini.
Senada dengan Annie yang kerap mengadakan arisan di rumahnya. Terkadang dia bingung kudapan seperti apa yang sesuai disediakan bagi para tamu. ”Akhirnya saya berikan cokelat, untungnya mereka doyan. Makanya, saya selalu sedia cokelat setiap arisan,” kata Annie. Kegunaan cokelat tidak hanya di situ. Errina malah selalu menjadikan cokelat sebagai hadiah yang pas untuk special event yang dirayakan bersama keluarga. ”Cokelat itu kado yang pas untuk ulang tahun dan sebagai bingkisan Natal.
Pada hari Natal saya sering memberi cokelat yang saya bungkus rapi untuk keluarga dan teman,” papar wanita yang suka almond dan hazelnut chocolate ini. Lain lagi dengan Errina yang acap kali mencari cokelat sebagai penawar rasa pedas sehabis makan. Errina yang memfavoritkan cokeat yang mengandung sampanye ini juga selalu mengonsumsi cokelat sebelum mengalami siklus bulanan wanita.
“Kalau mau datang bulan, mood suka enggak stabil, makan cokelat bisa membuat mood menjadi enak dan menjadi rileks,” tutur wanita yang berdomisili di Pasar Minggu ini. Berbeda dengan Joy yang tidak akan menyentuh cokelat pada hari kerja. Dia hanya bisa tersenyum pada milk chocolate kesukaannya pada akhir pekan. Pada waktu tersebut dia dapat makan cokelat kegemaran sepuasnya. ”Kalau makan cokelat setiap hari, pasti akan berpengaruh pada berat badan saya,” ujarnya.(sri noviarni/MG-18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar