Eksplosi Tubuh Perempuan
Minggu, 23/03/2008
Minggu, 23/03/2008
SEBAGIAN besar karya I Nyoman Polenk Rediasa berobjek tubuh perempuan . Namun,makna lukisan-lukisannya justru menempatkan perempuan sebagai subjek.
”Perempuan itu berhak menunjukkan keindahan tubuhnya. Dia juga boleh bangga terhadap segala yang dimiliki,” terang seniman asal Bali ini. Lebih dari 40 karya Polenk, sapaan akrabnya, dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.Mengusung tajuk Eksplo[ra]si Tubuh, pamerannya berlangsung 12–23 Maret 2008. Menurut Polenk,pemberian tanda kurung pada kata ”ekplorasi” diartikan sebagai ledakan (eksplosi) akan tubuh perempuan.
”Tubuh wanita itu memang meledakledak. Namun, saya sama sekali tidak bermaksud menonjolkan unsur sensualitas,”papar pria kelahiran 18 Maret, 29 tahun silam ini. Dalam membingkai sebuah gambar,Polenk mengaku memberi kebebasan utuh kepada para modelnya untuk menunjukkan kelebihan tubuh mereka. ”Saya biarkan para model menyadari kecantikan tubuh yang mereka miliki.
Kemudian saya memaknainya sesuai dengan pose yang mereka tunjukkan itu,” ungkap Polenk. Menggelar pameran di Ibu Kota, bagi Polenk, adalah debut pertamanya. ”Selama ini karya lukis saya tidak dipamerkan di Jakarta. Saya berharap pameran ini bisa memberikan kemajuan bagi diri saya dan mendapatkan kritik dari masyarakat yang melihatnya,” harap pelukis yang cukup banyak berpameran ini.
Pembukaan pameran yang dihadiri rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sardono W Kusumo ini tidak hanya memamerkan hasil lukisan cat minyak di atas kanvas, sebagian karya Polenk juga berupa guratan pensil di atas kertas. Dalam esainya di website polenkrediasa.com, pengamat seni/kurator Hardiman menjelaskan tujuan pameran ini adalah untuk menghadirkan makna tubuh sebagaimana yang disusun si pemiliknya.
Ia lantas menyebut pameran ini adalah sebuah realitas, di mana tubuh diposisikan sebagai alat, kendaraan, atau bahkan representasi tentang diri si pemilik tubuh. Kurator lainnya,Eddy Soetriyono, menilai karya Polenk adalah objek-objek realistis yang berubah menjadi bahasa, metafora, dan vetorika yang menebarkan makna tersembunyi dari sesuatu yang tadinya seolah tak berkaitan.
Pesan yang ingin disampaikan oleh Polenk tersirat dari judul-judul yang ia berikan pada karya lukisnya. Simak saja tajuk seperti Muara Kehidupan, Dipacu Waktu, Turn Your Life Around, Pisau, Dialog Rural, Geliat, Detik Menuju Terang,Fragmen Tangan, Obsesi Sunyi, Modis, Dialog, Warisan Eksotik,Hasil Malam Ini, Don’t Cry Bali, Ini Tubuhku, Menunggu Giliran dan Lihat Bokongku.
Polenk menilai,hasil karya yang ia buat memiliki makna tersendiri bagi dirinya.”Selama ini perempuan sering dijadikan pemuas nafsu dan pesakitan. Dalam karya saya ini, tergambar bahwa perempuan adalah sumber kehidupan,” ungkap pelukis yang telah menyelesaikan studi S2-nya di Universitas Udayana, Bali, jurusan Kajian Budaya ini. (MG-18)
”Perempuan itu berhak menunjukkan keindahan tubuhnya. Dia juga boleh bangga terhadap segala yang dimiliki,” terang seniman asal Bali ini. Lebih dari 40 karya Polenk, sapaan akrabnya, dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.Mengusung tajuk Eksplo[ra]si Tubuh, pamerannya berlangsung 12–23 Maret 2008. Menurut Polenk,pemberian tanda kurung pada kata ”ekplorasi” diartikan sebagai ledakan (eksplosi) akan tubuh perempuan.
”Tubuh wanita itu memang meledakledak. Namun, saya sama sekali tidak bermaksud menonjolkan unsur sensualitas,”papar pria kelahiran 18 Maret, 29 tahun silam ini. Dalam membingkai sebuah gambar,Polenk mengaku memberi kebebasan utuh kepada para modelnya untuk menunjukkan kelebihan tubuh mereka. ”Saya biarkan para model menyadari kecantikan tubuh yang mereka miliki.
Kemudian saya memaknainya sesuai dengan pose yang mereka tunjukkan itu,” ungkap Polenk. Menggelar pameran di Ibu Kota, bagi Polenk, adalah debut pertamanya. ”Selama ini karya lukis saya tidak dipamerkan di Jakarta. Saya berharap pameran ini bisa memberikan kemajuan bagi diri saya dan mendapatkan kritik dari masyarakat yang melihatnya,” harap pelukis yang cukup banyak berpameran ini.
Pembukaan pameran yang dihadiri rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sardono W Kusumo ini tidak hanya memamerkan hasil lukisan cat minyak di atas kanvas, sebagian karya Polenk juga berupa guratan pensil di atas kertas. Dalam esainya di website polenkrediasa.com, pengamat seni/kurator Hardiman menjelaskan tujuan pameran ini adalah untuk menghadirkan makna tubuh sebagaimana yang disusun si pemiliknya.
Ia lantas menyebut pameran ini adalah sebuah realitas, di mana tubuh diposisikan sebagai alat, kendaraan, atau bahkan representasi tentang diri si pemilik tubuh. Kurator lainnya,Eddy Soetriyono, menilai karya Polenk adalah objek-objek realistis yang berubah menjadi bahasa, metafora, dan vetorika yang menebarkan makna tersembunyi dari sesuatu yang tadinya seolah tak berkaitan.
Pesan yang ingin disampaikan oleh Polenk tersirat dari judul-judul yang ia berikan pada karya lukisnya. Simak saja tajuk seperti Muara Kehidupan, Dipacu Waktu, Turn Your Life Around, Pisau, Dialog Rural, Geliat, Detik Menuju Terang,Fragmen Tangan, Obsesi Sunyi, Modis, Dialog, Warisan Eksotik,Hasil Malam Ini, Don’t Cry Bali, Ini Tubuhku, Menunggu Giliran dan Lihat Bokongku.
Polenk menilai,hasil karya yang ia buat memiliki makna tersendiri bagi dirinya.”Selama ini perempuan sering dijadikan pemuas nafsu dan pesakitan. Dalam karya saya ini, tergambar bahwa perempuan adalah sumber kehidupan,” ungkap pelukis yang telah menyelesaikan studi S2-nya di Universitas Udayana, Bali, jurusan Kajian Budaya ini. (MG-18)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar