Citra Mapan Dasi
Selasa, 18/03/2008
OSCAR Wilde,sastrawan masyhur dari Irlandia pada abad pertengahan pernah menulis,”Dasi yang dipasang dengan rapi adalah awal langkah serius menghadapi hidup hari ini.”Dari ungkapan itu tergambar betapa dahsyatnya dasi bagi seorang pria.
Begitu pula bagi Mathieu Duballet, konsultan finansial terkenal di Prancis. Dia setiap pagi sebelum bekerja, selalu sibuk memilih koleksi dasi kepunyaannya. Setelah menemukan warna yang cocok dengan setelan yang dia kenakan saat itu, dia pun langsung mengikat dasi tersebut dengan cekatan. Seperti biasa, dia mengikat dasi tersebut bergaya windsor dengan cepat. Setelah semuanya beres, dia pun langsung berangkat kerja. ”Saya penggemar dasi.
Bahkan, saya paling tidak mau kalau saya dibelikan dasi oleh teman saya,” kata Duballet. Bagi Duballet,kemampuan mengikat dasi sudah dia kuasai sejak umur 14 tahun.Waktu itu ayahnya mengatakan bahwa seorang pria sejati harus mampu mengikat dasi sendiri. Namun, saat ini orang-orang seperti Duballet justru banyak berkurang. Akibat perubahan gaya hidup, kini penggunaan dasi justru lebih terkesan kasual ketimbang formal dan mapan. Salah perubahan gaya hidup yang paling signifikan menurunkan citra dasi adalah dunia musik.
Saat ini banyak vokalis dan grup musik yang sering mengenakan dasi. Contohnya, vokalis GIGI,Armand Maulana,penyanyi asal Kanada,Avril Lavigne, grup musik My Chemical Romance, dan grup musik asal Inggris, Franz Ferdinand.Aksi itu justru membuat penggemar mereka ikutikutan mengenakan dasi. Padahal,jangankan esensi mengenakan dasi.
Mereka bahkan belum bisa mengikat dasi sendiri. Selain dari musik, gangguan lainnya terjadi karena perubahan etika berkantor.Saat ini, banyak kantor yang memperbolehkan karyawannya mengenakan baju kasual. ”Akibatnya, banyak orang ketika membeli baju kantor sudah merasa tidak perlu lagi membeli dasi,”kata Helene Pasteur, pemilik Galeries Lafayette. Helene malah menambahkan, sangat sulit bagi dasi untuk kembali jadi pakaian rutin ke kantor.”Hanya akan jadi aksesori saja,”katanya sedih. Akibat perubahan ini, tidak heran jika saat ini penjualan dasi tengah melesu.
”Penjualan dasi memang tidak mati total, tapi memang ada penurunan yang signifikan,” kata Franck Nauerz, pemilik department store, Printemps di Paris,Prancis. Hal yang sama dirasakan Helene Pasteur, pemilik Galeries Lafayette. Menurut dia, dasi saat ini berusaha memulihkan diri dari perubahan gaya hidup tersebut. ”Intinya, dasi tengah mengalami perubahan gaya, tapi perlahan- lahan sedang berusaha memulihkan diri,”kata Helene.
Uniknya, ketika penjualan dasidasi formal tengah lesu,dasi-dasi gaul justru tengah naik.Charvet di Prancis terkenal sebagai toko yang paling sering menjual dasi-dasi gaul lengkap dengan baju yang serbagaul. ”Kami dengar ada penurunan penjualan dasi formal.Tapi,kami di sini tidak pernah melihatnya,” kata Anne-Marie Colban, manajer Charvet.
Farid Chenoune, ahli sejarah gaya hidup dan penulis buku Men’s Fashion Through the Ages,mengatakan saat ini usaha untuk mengangkat kembali citra mapan dasi memang tengah giatgiatnya dilakukan. Dia mencontohkan, di tengah ramainya kantor mengubah etika berpakaian dari formal dan kasual,justru saat ini sudah mulai banyak kantor yang kembali ke etika semula.”Berpakaian dengan formal justru menunjukkan bahwa kantor Anda adalah tempat yang sangat mapan,”katanya.
Hanya,usaha tersebut sedikit mendapatkan hambatan karena memang dasi saat ini diibaratkan bukan milik kaum mapan. Bahkan, perubahan ini menurut dia merupakan respons dari generasi saat ini yang menolak segala sesuatu berbentuk kemapanan dan keformalan.
Respons ini,menurut dia,sama dengan peristiwa ketika t-shirt berhasil meminggirkan kemeja pada tahun 1980-an. ”Ini merupakan pernyataan dari generasi mereka. Jadi, biarkan saja,”katanya. Apa yang dikatakan Chenoune disetujui pengamat mode dan gaya hidup, Muara Bagdja. Dia mengatakan perubahan ini justru sangat positif. ”Perubahan itu akan memberikan alternatif untuk gaya berbusana dan akan memasyarakatkan dasi ke kalangan yang lebih luas walaupun cara pakainya lebih bervariasi,” ujar Muara.(wahyu sibarani/MG-18)
Lebih Demokratis Lebih Baik
ANGGAPAN penggunaan dasi oleh sebagian masyarakat, saat ini dapat dikatakan berubah 90 derajat. Dasi yang identik dengan bos-bos yang bekerja di kantor, kini beralih fungsi menjadi pelengkap gaya berpakaian oleh kaum remaja.
Dasi bukan lagi aksesori pelengkap baju formal, tapi lebih dari itu, sebagian remaja menggunakannya untuk pergi ke acara pesta dan hanging out dengan teman-temannya. Perubahan gaya berpakaian ini pun dirasakan oleh pengamat mode, Muara Bagdja. Pada awalnya, ujar Muara, dasi digunakan oleh para bangsawan untuk menunjukkan status sosialnya, kemudian dikembangkan menjadi aksesori pelengkap baju kerja bagi kalangan executive.
Tak hanya fungsinya, dasi pun mengalami perubahan bentuk. ”Awalnya bentuk dasi itu lebih melebar, namun memasuki abad ke-20, bentuk dasi lebih ramping dan memanjang,îterang pria yang juga berprofesi sebagai pengarah gaya ini. Meski citra formal bergeser, menurut Muara, unsur kemapanan ketika menggunakan dasi akan tetap ada.
Hal ini dikarenakan penggunaan dasi akan tetap melekat pada baju-baju formal. Namun, soal perubahan gaya berpakaian yang menggeser fungsi awal dasi, Muara menilainya sebagai bentuk perkembangan yang positif. ”Saya mengamati penggunaan dasi saat ini lebih demokratis, banyak kalangan yang pakai, tidak terbatas pada jenis pekerjaan tertentu,î ungkap pria kelahiran Jakarta, 19 Januari 1957, ini Sementara itu, menurut desainer Widhi Budi Mulia, penggunaan dasi sebenarnya tidak terkait dengan tren fashion.
Dia menganggap dasi adalah sesuatu yang wajib dikenakan para pekerja kantoran dan executivemuda. Widhi juga mengatakan bahwa penggunaan dasi akan memberikan kesan positif untuk penampilan dan membantu menimbulkan rasa percaya diri bagi si pemakainya. ”Saya rasa memakai dasi adalah keharusan yang bisa menunjukkan personality untuk meyakinkan orang lain,” ungkap desainer kelahiran 23 Juli ini.
Melihat perkembangan fashion, Widhi tak mengelak jika penggunaan dasi sebagai pelengkap pakaian formal berubah menjadi lebih casual. ”Saat ini memakai dasi tidak hanya dipadupadankan dengan jas dan kemeja lengan panjang saja, sebagian orang yang aktivitasnya padat akan lebih memilih tidak mengenakan dasi,” ujar pria yang hobi jalan-jalan ini.
Di Indonesia sendiri, kata Widhi, penggunaan dasi tidak akan berkurang. Mengingat masih pentingnya dasi sebagai aksesori kelengkapan berbusana formal. Walaupun saat ini banyak anak muda yang menggunakannya, Widhi menganggap hal itu adalah tren. ”Untuk mereka yang menggunakan dasi hanya sebagai tren, cenderung akan memilih warna-warna yang soft dan motif yang bervariasi,”kata desainer yang berkantor di wilayah Meruya, Jakarta Barat, ini. (wahyu/MG-18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar