Selasa, 04 Maret 2008

Tulisan_1 @ Sindo

Stress,Sahabat Sukses
Selasa, 04/03/2008

PERAN yang besar tidak hanya menuntut tanggung jawab besar.Mereka yang memiliki peran-peran penting,justru sering menghadapi risiko besar dalam masalah kesehatan.
Memiliki jabatan tinggi,baik di kantor maupun di politik memang terlihat sangat prestisius. Namun, jabatan yang penting justru memaksa seseorang untuk bekerja di luar batas. Mau tak mau, beban kerja yang berat harus dipikul. Risiko pekerjaan pun jadi semakin tinggi, mengingat keputusan dalam menentukan kebijaksanaan ada pada pundak seorang pemimpin.
Dr Manny Alvarez, penulis buku The Checklist: What You and Your Family Need to Know to Prevent Disease and Live a Long and Healthy Life mengatakan, kegiatan sehari-hari orang penting seperti itu justru sangat rawan karena dekat dengan stres. ”Menghadiri rapat,menyiapkan agenda kerja, dan harus menyiapkan pertemuan dengan klien di luar kantor itu akan menghasilkan tekanan yang sangat luar biasa. Tekanan dan stres ini mudah memakan usia mereka,”kata Alvarez. Alvarez mengingatkan, beberapa profesi yang rentan dengan tekanan dan stres di antaranya adalah CEO,pengusaha,politisi, polisi,dan ibu rumah tangga.
Menurut dia,berbagai profesi ini wajar menerima tekanan karena memikul banyak tanggung jawab. Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk Dwi Soetjibto mengakui bahwa jadi pemimpin memang harus selalu siap berteman dekat dengan stres.Namun anehnya, bukan berusaha menghindari stres, pria yang mempunyai semboyan hidup don’t let yourself into the comfort zone ini mengatakan, dirinya malah terkadang membutuhkan stres untuk memompa terus semangatnya.
”Stres itu perlu juga supaya hidup ada tantangannya. Ini akan terus memicu adrenalin sehingga pekerjaan tetap produktif,” papar Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Surabaya ini. Dwi mengungkap bahwa yang terpenting dalam bekerja adalah bagaimana mengatur stres tersebut agar tetap berada dalam kadar yang rendah dan tidak mengganggu pekerjaan.
Sehari-hari, Dwi memang selalu disibukkan dengan urusan pekerjaan. Bayangkan, sejak pukul lima pagi,dia sudah berangkat ke kantor. Pulang dari kantor sekitar pukul tujuh malam.Sampai menjelang dini hari, dia mengerjakan laporan yang masih tertunda, ataupun menyelesaikan tugas kuliah S3-nya. Jadilah waktu istirahat Dwi hanya berkisar 4-5 jam.Belum cukup dengan hari kerja,tidak jarang Dwi juga memanfaatkan jatah akhir pekannya berlibur untuk urusan kantor.
”Sabtu dan Minggu biasanya saya harus ketemu customer, rapat atau menyelesaikan laporan, lalu dilanjutkan kuliah,” tandas pria yang sedang sibuk mengambil studi Strategi Manajemen di Universitas Indonesia ini. Lantas kapan waktu untuk istirahat? Ketua Pengprov Pelti Jawa Timur ini menuturkan, istirahat baginya bukanlah waktu untuk tidur, tetapi waktu untuk stress release.
Bagi orang sesibuk dirinya,menurut Dwi,yang menjadi perhatian adalah pentingnya mencintai dan berusaha enjoydengan pekerjaan. Adapun untuk tidur, Dwi meyakini yang penting bukan kuantitas tetapi kualitas. Berhubung waktu istirahat malamnya amat singkat, dia pun memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan mengeset kamarnya menjadi nyaman. Misalnya dengan mematikan lampu setiap akan tidur, yang akan membuatnya terasa segar pada pagi hari. Kesibukan yang sama juga dirasakan oleh calon wakil gubernur Jawa Barat Dede Yusuf.
Jadwal sehari- hari mantan anggota DPR dan aktor terkenal ini mulai sangat padat dengan aktivitas pemilihan kepala daerah. Dia mencontohkan, dulu ketika masih jadi anggota DPR, dia masih bisa menyapa keluarga sekitar pukul 22.00 malam.Namun,sejak dirinya dicalonkan menjadi cawagub, dia baru sampai di rumah sekitar pukul 02.00 dini hari.Waktu tidurnya pun berkurang yang semula 7 jam, jadi 4-5 jam sehari.
Tidak heran jika Dede mengaku stres sering datang tiba-tiba. Namun, ketika stres datang, Dede mengaku tidak mau ikut-ikutan takut. Dia memilih memanjakan diri ke salon langganannya di Senayan City, Jakarta. Selain salon,menyempatkan diri untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga diyakini jadi solusi yang tepat.
”Kebetulan waktu masih main film saya sudah terbiasa waktu istirahat kurang,tapi jika ingin menjadi pemimpin, harus siap kerja keras dan menunjukkan kepedulian lebih pada orang lain,”katanya. Menurut psikolog Tika Bisono, enjoy dalam bekerja memang salah satu cara untuk mengusir stres.Menurutnya, stres tidak perlu dianggap serius. Untuk itu dibutuhkan penyeimbang. ”Nomor satu sampai seribu yang paling penting itu enjoy.Kalau enggak bisa lebih baik tinggalkan pekerjaan itu,”ucapnya.(sri noviarni/MG-18)

Tidak ada komentar: