Senin, 31 Maret 2008

Tulisan_18 @ Sindo

Mengintip Wisata Laut Indonesia
Selasa, 01/04/2008

SUKA menyelam? Anda beruntung berada di Indonesia.Negara ini kaya akan keindahan alam termasuk wisata bawah laut. Pameran internasional Selam,Wisata PetualanganBaharidanOlahraga Air,di Hall A Jakarta Convention Center,baru saja berakhir tanggal 30 Maret lalu.
Hebatnya, dari pameran tersebut terungkap fakta bahwa masyarakat Indonesia makin menggemari olahraga selam. Selain itu,yang paling penting,pameran ini semakin menunjukkan Indonesia adalah negara yang kaya akan wisata bawah laut.Indonesia mempunyai ”Bunaken-Bunaken”lain yang bisa dibanggakan.
Contohnya, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,ada wisata air Iboih, yangadadiPulau Weh.Lalu,SangHyang di Anyer hingga kawasan Pulau Seribu. Di bagian Timur, ada Raja Ampat dan Kabupaten Biak di Papua Barat. Bagi pencinta olahraga air dan traveling,pameran ini memang bagaikan oase di tengah padang pasir yang tandus.
Sebab, mereka berkesempatan ”mengintip” informasi lebih lengkap mengenai tempat-tempat wisata yang unik dan eksotis di seluruh penjuru Tanah Air, sebagai alternatif tempat menyelam. Yildes, 41,wanita yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta ini mengaku hampir telah mengunjungi seluruh objek wisata laut yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.
Namun, ada beberapa lokasi wisata yang menarik tapi belum sempat ia kunjungi lantaran tidak memiliki informasi memadai. ”Seperti Pulau Komodo, tempatnya bagus untuk diving, masalahnya saya enggak tahu sarana transportasinya. Di pameran ini, saya jaditahuharusnaikapadanservis apa yang diberikan pada turis lengkap dengan penginapannya,” ujar wanita yang tinggal di daerah Cirendeu ini.
Syariif Pontoh,23,bahkan sengajadatang dari Bandung untuk mengunjungi pameran tersebut. Dia datang bersama saudara-saudaranya yang memiliki hobi menyelam. ”Saya mengetahui acara ini dari UKM kampus karena saya hobi diving, saya rela ke Jakarta untuk melihat pameran ini.Untuk lihat lokasi mana saja yang bisa kami datangi,”sebut mahasiswa ITB jurusan matematika ini.
Sementara itu, menurut President Director Creative Networking selaku event organizer Deep Indonesia Dharmawan Sutanto, pameran ini bermaksud mempromosikan industri wisata bahari khususnya wisata selam. ”Di samping itu, kami mengajak masyarakat agar lebih mencintai laut dan meningkatkan kesadaran atas pemeliharaan lingkungan hidup, terutama kelautan,”paparnya.
Lebih lanjut Dharmawan mengatakan, jumlah peminat menyelam memang sangat tinggi.Salah satu indikatornya adalah tingginya angka penjualan peralatan menyelam di pameran. Yildes contohnya, selain mencari informasi lokasi-lokasi wisata, ibu rumah tangga ini juga memanfaatkan pameran untuk hunting berbagai macam peralatan selam.
Dia membeli dive computer, sarung tangan, wetsuit dan aksesori lain, sampai menghabiskan uang hampir Rp5 juta. Kendati demikian,Yildes mengaku cukup senang mendapat barang berkualitas dengan harga sedikit miring di pameran tersebut.
Bahaya Serius bagi Terumbu Karang
Meski dilingkupi berita positif, wisata bawah air Indonesia justru tengah menghadapi bahaya serius. Saat ini, sedikitnya 85% terumbu karang tengah di ambang kerusakan.
Padahal, terumbu karang Indonesia memberikan keuntungan.Terumbu karang ini bermanfaat sebagai sumber obat-obatan dan kosmetik. Terlebih lagi banyak obat-obatan khusus kanker yang menggunakan bahan baku terumbu karang. Rupanya hal ini menggelitik duta WWF Nadine Chandrawinata untuk tidak tinggal diam.
Nadine mempunyai cara unik agar orang melirik pariwisata satu ini sekaligus menjaga ekosistem bawah laut. Penggemar olahraga laut ini melakukan pemotretan dengan berbagai busana dari dress hingga kebaya di bawah laut. ”Aku pikir kalau hanya memajang posterbergambarbiotalautrasanya kurang menarik,tapi kalau ada modelnya mungkin orang akan lebih tertarik melihat poster itu dan ikut menjaga kelestarian kelautan,”ungkap Nadine yang menyukai laut sejak kecil ini.
Pemotretan yang bertempat di Bunaken, Manado, serta Tulamben, Bali ini memakan waktu hingga empat bulan. Hasil foto-foto tersebut dipublikasikan dalam buku berjudul Labour of Love, yang memajang 100 foto Nadine dalam berbagai pose.Ada pose yang sangat menarik di mana dirinya berdiri menempel dengan batu karang.

Menantang tapi Mahal

UNTUK sekadar menjadi hobi, menyelam memang terbilang kegiatan yang menguras keuangan. Selain perlengkapan selam yang mahal, olahraga di dasar laut ini memakan biaya hingga jutaan untuk sekadar memuaskan diri bercanda ria dengan makhluk-makhluk laut. Namun, peminat selam di Indonesia tidak sedikit. Hal ini terbukti dari antusias masyarakat yang mengunjungi pameran bertajuk ”Deep Indonesia 2008” di Jakarta Convention Center, beberapa waktu lalu.
Memiliki hobi diving memang sudah dipikirkan oleh Syariif. Mengingat peralatan selam membutuhkan dana yang tidak sedikit, ia rela menyisihkan uangnya untuk ditabung. ”Dari tiga tahun yang lalu, saya sudah nabung untuk membeli peralatan ini,” ujar Syariif sambil menunjukkan tas belanjaannya.
Tak berbeda dengan Syariif, Lenny Kurnia, setahun terakhir ini melirik dunia selam sebagai hobinya. Ia pun mengaku sejak kecil sudah akrab dengan laut. ”Saya lahir di Ambon, jadi saya sudah cinta sama laut sejak dulu. Itu juga yang mendorong saya untuk belajar menyelam,” papar mahasiswi tingkat akhir Fakultas Kedokteran UKI ini.
Tak hanya ingin menikmati keindahan bawah laut, diving bagi Lenny adalah olahraga menantang yang wajib dicobanya. Meskipun peralatan seperti tabung udara, snorkel, regulator, dan fins cukup menguras koceknya. Namun, tak mematahkan semangatnya untuk tetap belajar selam di Scuba School. ”Saya akan menabung untuk memiliki semua peralatan yang dibutuhkan untuk menyelam,” kata Lenny.
Diajuga menampik anggapan orang yang melihat diving sebagai olahraga yang mahal. Padahal, olahraga ini cukup terjangkau bila bergabung dengan penyelam lain. ”Saya bergabung dengan komunitas penyelam yang berjumlah 15 orang, kita bisa saling sharingbayar perahu, pemandu, penginapan dan lain-lain jadi lebih murah,” paparnya. (sri noviarni/MG-18)

Minggu, 30 Maret 2008

Tulisan_17 @ Sindo

Hilang Akal Karena Sepatu
Senin, 31/03/2008

BERAPA uang yang dihabiskan wanita untuk membeli sepatu? Jawabannya,mungkin semaunya.Sebab,wanita memang terlahir untuk membeli dan mengenakan sepatu. Dalam satu episode Sex and The City, Carrie Bradshaw, yang diperankan Sarah Jessica Parker menyadari dirinya telah menghabiskan uang USD40 ribu untuk membeli sepatu.
Uniknya, dengan pengeluaran sebesar itu, ia sama sekali tidak mampu membeli apartemen. Bagi wanita, tidak bisa membeli sepatu memang tidak menyenangkan. Sebab, dari dulu hingga sekarang, wanita memang sangat mencintai sepatu. Sosok pencinta sepatu seperti Carrie Bradshaw memang hanya bukanlah sosok khayal. Di dunia nyata, ada jutaan wanita seperti Carrie salah satunya Imelda Marcos.
Mantan first lady Filipina ini disebut-sebut mempunyai 1.200 pasang sepatu. Pada tahun 2005,menurut laporan The NPD Group, perusahaan ritel di New York, wanita-wanita Amerika telah menghabiskan uang hampir USD17 miliar hanya untuk membeli sepatu. Jumlah itu meningkat 10 persen dibandingkan tahun 2003. Namun, inti pertanyaannya, kenapa wanita rela mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk sepasang sepatu?
Menurut presenter terkenal Novita Angie,pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sulit. Sebab, ia mengaku tidak pernah punya alasan logis kenapa gemar membeli sepatu. Ia hanya merasa kebiasaan itu makin menjadi-jadi setelah punya uang sendiri. ”Aku menargetkan pokoknya dalam sebulan harus beli sepasang, tapi sering juga lebih dari itu,” ungkap pemilik ukuran kaki 36 ini. Saking seringnya Angie membeli sepatu, sang suami,Sapto Haryo Rajasa, mengaku sudah pasrah dengan kebiasaan istrinya tersebut.
Padahal, Angie sering mengeluh kepada Sapto, sepatu yang ia beli hanya sekali dikenakan atau bahkan tidak pernah dipakai. ”Sebenarnya aku lapar mata, jadi enggak bisa lihat sepatu lucu.Bawaannya mau langsung dibeli.Biasanya teman- temanku yang ingetinkebiasaanku ini,” ujar Angie yang menggemari brandZara dan Linea ini. Dalam pandangannya, Angie berpendapat sepatu adalah benda eye catching yang sanggup menarik perhatian orang yang melihat.
Jadi,wajar saja jika wanita merasa lebih percaya diri jika mempunyai banyak sepatu yang bisa menunjang penampilan. Hal yang sama dikatakan bintang sinetron Meisya Siregar. Ia mengaku tidak punya jawaban kenapa senang membeli sepatu. Sebab, baginya perasaan ingin membeli itu tiba-tiba muncul sendiri. ”Saya membeli sepatu itu spontanitas, kalau saya cocok dengan warna dan modelnya pasti saya beli,walau kadang-kadang saya suka kalap,” katanya.
Satu suara dengan Angie dan Meisya, brand manager retail kenamaan, Annie Massewa,mengatakan membeli sepatu memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan membeli aksesori lainnya seperti tas ataupun perhiasan. Saking gemarnya membeli sepatu, Annie mengaku telah mengeluarkan uang ratusan juta. Uniknya, ia masih mengaku pengeluaran itu masih dalam batas kewajaran. ”Lagian tidak sampai menyerap banyak pendapatan saya,”kata Annie.
Hal yang sama dikemukakan Angie. Menurut ibu dari Jeremy Cornelius dan Jemima Jasmine,dirinya tidak pernah merasa sayang dengan besar uang yang dikeluarkannya demi membeli koleksi sepatunya. ”Aku enggak suka dugem atau ngikutin kehidupan malam, tapi sebagai gantinya aku hobi belanja sepatu, tapi kan ini nanti bisa dipakai anakku atau dikasih ke kerabat,”aku aktris yang sempat bermain di sinetron Lupusini.
Angie mengaku sering memperhatikan sepatu-sepatu yang dikenakan orang. Jika ia menganggap sepatu yang dikenakan seseorang memikat hatinya, ia pun tidak ragu untuk mendekati orang tersebut dan menanyakan di mana membeli sepatu itu. ”Kalau masih beli di sini saya datangin tempatnya, tapi kadang ada yang beli di luar.Kalau ada waktu dan keperluan, biasanya saya cari ke negara itu,” kata wanita kelahiran 30 November 1975 ini.
Saking tergila-gilanya dengan sepatu, setiap pergi ke luar negeri,Angie pasti akan membelikan teman-temannya buah tangan berupa sepasang sepatu. Ia sudah hafal di luar kepala ukuran sepatu teman-temannya itu. Angie juga sudah paham tokotoko sepatu di luar negeri yang menjual sepatu berkualitas dengan harga miring. Dapat dipastikan kopernya akan dipenuhi oleh berpasang- pasang sepatu setibanya di Tanah Air.
Bagi orang-orang yang mempunyai penghasilan besar memang sangat wajar jika membeli sepatu berharga mahal.Namun,apa jadinya jika orang yang membeli sepatu itu masih berumur 17 tahun. Seperti halnya Christina memiliki koleksi beragam sepatu. Namun,koleksi sepatu dara berdarah Indo Inggris ini boleh diadu dengan koleksi Annie dan Angie.Warga Pondok Kelapa ini memiliki lebih dari 100 pasang sepatu yang disimpan rapi dalam sebuah lemari khusus. (sri noviarni/MG-18)

Selasa, 25 Maret 2008

Tulisan_16 @ Sindo

Jodohku Ada di Negeri Orang
Rabu, 26/03/2008

DUNIA tak selebar daun kelor.Tak perlu lagi pusing mencari jodoh di negara sendiri. Karena sekarang banyak orang yang justru berusaha mencari jodoh di negara lain.
Cinta memang tidak terikat usia, tempat, bahkan suku bangsa. Jika memang sudah tidak ada lagi yang cocok di negara sendiri, apa salahnya mencari di negara lain. Mendapatkan pasangan dari luar negeri saat ini sudah jamak.
Beberapa selebriti di Indonesia malah berhasil menemukan calon pasangannya di negeri orang.Salah satunya penyanyi/aktris Bunga Citra Lestari. Sekarang, Bunga tengah menjalin tali asmara dengan aktor Malaysia,Ashraaf Sinclair. Hubungan ini sendiri diakui oleh ibunda Bunga,Emi Muchlis.
Pada awalnya, Emi mengaku kaget ketika mengetahui sang calon menantu justru datang dari luar negeri.Ia sendiri tidak bisa memaksa anaknya untuk mencari jodoh di negara sendiri.
”Ya mau bagaimana lagi, Bunga sudah kecantol dengan dia (Ashraaf,red),”ungkap Emi tergelak. Risiko memiliki calon menantu berbeda bangsa pun telah disiapkan oleh ibunda pelantun tembang Aku dan Dirimuini.Emi berharap jika nanti keduanya resmi menikah, Ashraaf bisa jadi warga negara Indonesia (WNI).
”Kalaupun tidak begitu, kami akan mengikuti saja hukum dan peraturannya, ya.. cari cara yang baik-baik saja,” ujarnya. Dewi tidak membuang waktu percuma untuk menggapai impiannya dalam mencari jodoh di negeri orang. Ia sempatmelamarberbagaibeasiswa untuk bisa berkuliah di Inggris.
Alasan bersusah payah bersekolah di negara tempat Pangeran Charles tinggal itu sebenarnya simpel, ia kecantol dengan aksen Inggris yang seksi itu. Tapi, apa mau dikata, cintanya bertepuk sebelah tangan. Berkali-kali Dewi mencoba melamar beasiswa itu, berkali-kali pula ia gagal lolos tes saringan. Gagal meraih pria Inggris, Dewi sempat memadu kasih dengan pria asal Amerika yang ditemuinya di Tanah Air.
Dengan pria tersebut, Dewi sempat berpacaran selama satu tahun. Pengalaman serupa dilakoni Eny, 26, yang berupaya mati-matian untuk mencari pasangan pria asing. Kalau gue nikah sama orang bule, anak gue kulitnya bisa putih kayak bapaknya,” ujar jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi UI ini. Ia mengaku banyak menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya untuk chattingdengan pria bule.
Jika sudah memegang keyboard dan menatap layar monitor,ia bisa ngobrol berjam-jam. Selain itu, Eny juga aktif mencari beasiswa ke negaranegara Eropa seperti Belanda atau Inggris, melanjutkan pendidikan dengan jurusan yang sama,komunikasi. ”Harapannya bisa kuliah sembari cari jodoh, kalau orang Eropa kan badannya tinggi-tinggi dan ganteng, mata mereka juga bermacam- macam ada hijau atau biru.Oke banget”kata Eny.
Meski beasiswa belum direngkuh, ia pernah mendapat tawaran untuk bekerja di restoran cepat saji di Kanada. Namun, rencana tinggal rencana, begitu ia ingin menindaklanjuti tawaran tersebut, ternyata dirinya bertemu seorang pria lokal yang untungnya memiliki kulit putih seperti keinginan Eny. (sri noviarni/MG-18)


Terjadi karena Kebutuhan dan Kepribadian

JODOH adalah rahasia Tuhan. Siapa pun tidak ada yang bisa mengungkap misteri ini. Berbagai kriteria yang dimiliki oleh seseorang adalah bagian usaha untuk mencari jodohnya.
Kalaupun ada yang mengidamkan pasangan dari luar negeri, niscaya menjadi upaya seseorang untuk melengkapi kebutuhannya. Hal ini diungkapkan psikolog Dra Rose Mini, M Psi. Ia menilai, seseorang akan mencari jodoh yang sesuai dengan kebutuhannya.
”Misalnya saja dia merasa butuh dengan pasangan yang memiliki toleransi yang lebih tinggi. Nah, pastinya dia akan memilih pasangan yang seperti itu,” ungkap wanita yang biasa disapa Romi ini. Seperti halnya memilih pasangan yang berbeda negara, Romi mengungkapkan kecenderungan orang Indonesia memilih orang ”bule” sebagai pendampingnya dikarenakan faktor kepribadian.
”Walaupun berbeda bangsa kalau kepribadian, mereka sama-sama cocok, kenapa tidak,” ungkap psikolog yang mengajar di Universitas Indonesia ini. Masalah kemapanan, kata Romi, mungkin menjadi faktor lain bagi seseorang yang menginginkan orang asing sebagai jodohnya.
”Banyak wanita memandang bule memiliki income lebih besar. Karenanya, mereka tergiur untuk memperbaiki masalah finansial mereka,” jelas Romi. Faktor lain yang memicu seseorang mencari jodoh orang luar negeri, lanjut Romi, adalah kecenderungan pria bule yang memberikan kebebasan bagi pasangannya untuk tetap berkarier.
”Para wanita akan merasa lebih didukung untuk tetap bekerja sehingga terkesan bisa mandiri,” tambahnya. Selain itu, keuntungan lain yang akan didapat adalah mereka memiliki kesempatan untuk bisa berkunjung ke negeri pasangannya. Kendati akan ada perbedaan budaya yang dapat memberikan masalah yang cukup berarti.
Mengingat budaya sebuah negara tidak mudah dipelajari jika tidak berkunjung langsung ke negara tersebut. ”Selain perbedaan bahasa, mereka akan beradaptasi lebih banyak mengenai budaya negara pasangannya,” ungkap Romi. (wahyu/MG-18)

Senin, 24 Maret 2008

Tulisan_15 @ Sindo

Berburu Manajer & CEO
Selasa, 25/03/2008

BISNIS pencari kerja tak terbatas pada calon karyawan atau pegawai rendahan semata.Tapi juga orangorang dengan jabatan penting di perusahaan besar. Bagi sebuah perusahaan, mencari karyawan bukanlah pekerjaan gampang. Maklum, meski jumlah pencari kerja sangat banyak, tidak semua tenaga yang tersedia itu cocok untuk mereka.
Mencari karyawan yang bagus dan cocok sama repotnya dengan memilih pasangan hidup. Kalau pilihan tepat, hubungan pun bakal langgeng abadi. Namun, kalau sampai salah pilih, ujung-ujungnya,terpaksa cari lagi. Nah, kalau untuk berburu karyawan di level bawah saja sudah sedemikian repot.Apalagi kalau berburu pekerja yang sudah di level manajer ke atas.Pastinya lebih memusingkan.
Oleh karena itu,para pemilik perusahaan biasanya menggunakan jasa head hunteruntuk mencarikan manajer, direktur,sampai presiden direktur. Siapa sangka,banyak sekali perusahaan yang membutuhkan jasa head hunter.Posisi seperti finance manager, engineering manager,sales manager,dan marketing manager menjadi incaran para head hunter untuk membantu perusahaan yang menjadi kliennya.
Menurut pemilik Orly Consulting, Windy Poerwono,cara kerja head hunter berburu manajer memang cukup unik. Untuk diketahui, beberapa klien yang pernah bekerja sama dengan Orly adalah Phillip Morris International, Microsoft, Dell, dan Trimegah Securities.
”Kami melakukan pendekatan dengan perusahaan yang akan menjadi klien kami. Satu per satu kami hubungi via telepon untuk memahami industri mereka. Maka dari itu, kami memiliki divisi research yang kuat,”papar Windy.
Namun,Windy menilai banyak perusahaan yang memanfaatkan jasanya sebagai pilihan terakhir dalam melakukanprosesperekrutan. Sebab,jasa ini ibarat jalan pintas untuk mencari seseorang yang memenuhi kualifikasi dengan kepribadian yang tepat.
”Kami membagi tugas dengan klien kami untuk mencari seseorang yang berkompeten di bidangnya.Kami melakukan wawancara dengan para kandidat mengenai data diri mereka,”sebut wanita kelahiran 15 April 1978 ini.
Windy yang mengaku baru menjalani bisnis head hunter sejak 2005 mengatakan bahwa pertumbuhan bisnis ini mencapai 200%.Pasalnya, saat ini tidak sedikit perusahaan head hunteryang berkembang dan membesar. Meski, dia sendiri tidak melihatnya sebagai persaingan bisnis.
”Hubungan antarperusahaan head hunter sangat baik. Siapa cepat yang menawar ke perusahaan, dia yang mendapat bayaran,”katanya. Sama halnya dengan perusahaan head hunterWhite House yang juga baru menginjak usia tiga tahun. Menurut Managing Director White House Bahari Antono, bisnis search executive ini berpeluang memiliki prospek yang cerah ke depannya.
Terlebih lagi permintaan perusahaan- perusahaan besar, yang biasa disebut user,akan pencarian kandidat eksekutif setingkat manajer dan chief executive officer (CEO) dari waktu ke waktu semakin meningkat tajam. Sedianya tugas utama head hunter adalah sebagai agen jasa tenaga kerja yang mencari orang yang tepat untuk menduduki posisi yang tepat.
Tugas ini tidak bisa diakomodasi dengan baik oleh tenaga personalia di suatu perusahaan, mengingat divisi ini memiliki tugas rutin yang harus dikerjakan setiap harinya. ”Selain itu melakukan perekrutan untuk menduduki level atas bukan hal yang mudah, perlu waktu, pe ngalaman dan biaya yang tidak sedikit. Harus benar- benar teliti dan cenderung riskan, makanya jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung,” tandas Bahari.
Bahari menilai, menyewa jasa search executive akan jauh lebih efektif dan efisien bagi perusahaan. Perusahaan pun tidak perlu dipusingkan dengan proses perekrutan level manajerial tersebut. Mereka cukup memberikan kualifikasi yang diminta dengan jelas, selebihnya search executive tinggal menjalankan proses head hunting. Headhunter juga dapat meladeni keinginan user yang menginginkan calon kandidat yang sedang bekerja di luar negeri.
Memenuhi permintaan khusus ini, para head hunter akan menggunakan jasa relasi yang berdomisili di negara itu, dari referensi yang didapatkan. Setiap pekerjaan pasti memiliki tantangan tersendiri, demikian pula dengan bisnis ini.
Kesulitan yang dialami pada umumnya adalah ketika perusahaan terlalu menerapkan banyak standar pada calon kandidat yang dicari,sementara mereka menyediakan waktu sangat terbatas. ”Banyak permintaan seperti ini yang kami tolak, ” ujar Bahari.

Bisnis Nama Baik

PROSES mencari manajer tidak semudah yang dibayangkan. Selain memenuhi berbagai persyaratan rumit, para manajer itu dituntut mampu meningkatkan kualitas yang mereka punyai.
Bagaimana cara head hunter mencari orang-orang yang sesuai? Menurut Bahari Antono, pemilihan kandidat sepenuhnya diserahkan kepada para head hunter. Selain mencari sendiri, mereka juga beriklan di media massa.
Setelah ditemukan, barulah serangkaian tes dijalankan. User atau klien baru akan ambil alih dalam wawancara final. Untuk urusan satu ini, lazimnya akan diperhatikan chemistry yang dimiliki kandidat, apakah sudah sesuai dengan keinginan user atau sebaliknya. Jika chemistry sudah ditemukan, apakah lantas manajer tersebut sudah memenuhi persyaratan kualitas yang diminta oleh perusahaan?
Menurut Windy Poernomo, memiliki kualitas adalah satu hal, mempertahankannya adalah hal lainnya. Keduanya samasama penting. Setiap kali memilih nama calon manajer, Windy harus memastikan bahwa kandidat yang terpilih adalah figur yang benar-benar berkualitas.
Karena itu, Windy menyebut head hunter sebagai bisnis nama baik. Bahkan perusahaan tempatnya bekerja, Orly Consulting, memberikan garansi kepada kliennya.
”Bagi saya ini bisnis yang mengandalkan working dan knowledge, jika klien menilai kinerja manajer yang kami berikan tidak bagus, maka kami berkewajiban untuk menggantinya. Kalau tidak begitu, klien tidak akan percaya lagi dengan jasa kami,” tambah Windy.
Semakin ketatnya persaingan antara head hunter memaksa masing-masing perusahaan untuk mencari kandidat potensial yang memiliki banyak kelebihan. Hal itu diakui juga oleh Bahari. Saat ini hampir semua level manajerial dicari oleh user. Mulai manajer HRD hingga produksi. Sebab, user umumnya tidak hanya meminta memenuhi persyaratan akademik saja.
”Mereka ingin manajer produksi, misalnya, yang juga mengerti bisnis atau faktor eksternal perusahaan,” kata Bahari. Lantas seperti apa keuntungan yang diraup oleh head hunter? Sepertihalnya perusahaan outsourcing, mereka akan mendapatkan fee yang dipotong dari penghasilan kandidat di perusahaan itu dalam kurun waktu satu tahun.
Masing-masing search executive memiliki standar sendiri. Yakni sekitar 10%-30% dari gaji yang didapat oleh kandidat yang mereka calonkan. Semakin besar gaji yang ditawarkan kepada kandidat, head hunter pun akan mendulang penghasilan yang semakin tinggi. (sri noviarni/MG-18)

Minggu, 23 Maret 2008

Tulisan_14 @ Sindo

Nonton Bioskop bak Raja
Senin, 24/03/2008


EKSKLUSIF: Suasana Velvet Auditorium Blitz Megaplex menonjolkan kesan ekslusif. Selain terbatasnya jumlah penonton, juga tersedia fasilitas mewah yang sangat memanjakan.
NONTON bioskop tak hanya terbatas menikmati tontonan di layar lebar.Lebih dari itu,privasi dan eksklusivitas sangat penting ketika menonton bioskop.
Wakil Presiden Jusuf Kalla meluangkan waktu menonton film Ayat-Ayat Cinta,Sabtu (22/3) malam lalu.Ketika itu, suasana bioskop jauh berbeda dibandingkan bioskop biasanya. Kursi yang diduduki Jusuf Kalla ini jauh lebih nyaman.Rombongan Wakil Presiden bias duduknya Mandan menonton film sambil menikmati soft drink. Menonton bioskop seperti ini bukan hanya milik Wakil Presiden saja.
Semua orang lainnya, yang rela membayar lebih, justru bisa menonton bioskop layaknya Wakil Presiden. Bahkan, kalau uang masih banyak, bisa seperti raja. Menonton bioskop memang tidak hanya terbatas pada menikmati tontonan di layar lebar.Lebih dari itu, sekarang banyak orang merasa privasi dan eksklusivitas sangat penting ketika menonton film layar lebar. Merespons kebutuhan itu, beberapa pengelola bioskop mulai berlomba- lomba memenuhi keinginan tersebut.
Hasilnya, sekarang banyak bioskop yang mengeksklusifkan diri. Caranya dengan mulai menyediakan fasilitas lux, hingga jumlah penonton yang sangat terbatas. Beberapa bioskop ini adalah Premiere, Velvet Auditorium Blitz Megaplex, hingga yang sudah lama ada MPX Grande.Fasilitas di bioskop ini memang berbeda dengan bioskop biasanya. Contohnya,di studio ini disediakan kursi berbahan kulit layaknya kelas bisnis dalam sebuah pesawat.Penonton dengan bebas dapat mengatur sandaran kursi dan pijakan kaki.Bahkan, bisa sampai pada posisi tidur.
Tidak hanya itu, studio ini juga menyediakan selimut bagi penonton. “Studio ini cocok bagi orang yang menginginkan kenyamanan yang lebih personal,” sebut Public Relation 21 Cineplex Noorca M Masardi. Binaragawan Ade Rai menyebut bioskop Premiere bagaikan berada di rumah sendiri. Sejak munculnya bioskop Premiere, pemilik klub Ade Rai ini lebih memilih untuk menikmati film terbaru di bioskop ini. Kenyamanan duduk dan bias mengatur sandaran kursi merupakan alasan Ade memfavoritkan bioskop model ini.
“Karena ruangan lebih kecil, mau duduk di belakang,depan,atau pojok sekalipun enggak masalah karena masih bisa melihat dengan jelas,”ujar Ade. Senada dengan Ade, model sekaligus presenter terkenal Aline Tumbuan,mengaku bisa mendapatkan kelebihan tersendiri sewaktu menonton di studio Premiere yang tidak akan didapatkannya di studio lain. Menurut dia,pelayanan yang diberikan benar-benar kelas satu dan sangat berorientasi pada kepuasan pelanggan.
”Saya biasa datang ke Premiere dua kali dalam satu bulan. Rata-rata biasanya setiap malam Minggu.Asal tidak sibuk aja,”katanya. Sementara itu,Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Priyo Budi Santoso mengaku di waktu luang memanfaatkannya untuk mengajak menonton keluarga di bioskop.
Pria yang gemar menikmati panorama alam di daerah Puncak ini biasa menonton di bioskop 21 Cineplex. ”Tapi kalau lagi ingin menonton dengan nyaman dan lebih privasi, saya mengajak keluarga nonton di studio Premiere,”ucap pria penyuka film bertema detektif ini.

Harga Mahal Rasa Nyaman

SEBELUM mengenal studio Premiere, Ade Rai punya cerita sedih setiap menonton film di bioskop umum. Dia mengaku selalu tidak berdaya ketika mendapat tempat di pojok kanan atau kiri studio atau bahkan di deretan paling depan. Dia pun mengeluh tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada film yang ditontonnya lantaran banyak penonton lain yang berbicara dengan suara keras. Namun, untuk mendapatkan kenyamanan dan kemewahan itu semua, tentu ada harga setimpal yang harus dibayar.
Namun, tampaknya Ade tidak mempermasalahkan uang Rp100.000 yang harus dikeluarkan untuk sekali menonton di studio Premiere. “Cuma membayar 40% lebih mahal tidak masalah, selama saya bisa menonton bisa lebih tenang dan mendapatkan fasilitas itu,” kata Ade. Aline juga mengaku tidak pusing memikirkan biaya yang mahal setiap menonton. Baginya, rasa nyaman itu sangat penting apalagi jika untuk urusan menonton film.
Saking merasa amat nyaman dengan kursi yang diduduki dan sambil berselimut,pernah dirinya tertidur di studio sewaktu dia memilih menonton pada midnight. “Habis sudah kaya di kamar sendiri, sejak saat itu saya kapok enggak mau nonton midnight lagi, takut ketiduran,” kenang Aline tergelak. Perasaan menonton layaknya berada di kamar sendiri juga dialami aktris Lola Amaria.
Bagi sutradara film Betina ini, kegiatan menonton harus dibuat senyaman mungkin sehingga film yang ditonton bisa dirasakan lebih berkesan. Dia pun memilih menonton di MPX Grande yang menurutnya lebih eksklusif karena hanya menyediakan 10 kursi dalam satu studio. “Saya jadi merasa bebas melakukan apa saja, penontonnya juga terbatas,” kata wanita yang namanya melejit lewat film Ca Bau Kan ini.
Para penggemar kenyaman ini memang tidak akan pernah kehabisan tempat. Saat ini bukan hanya Cinema XXI saja yang menyediakan studio Premiere. Blitz Megaplex yang berada di Grand Indonesia dan Pacific Place, Sudirman, juga melengkapi bioskopnya dengan fasilitas ini. Bioskop berlabel Velvet Auditorium akan memanjakan para penikmat film dengan fasilitas serbanyaman. Bioskop eksklusif itu berkapasitas 34 orang dengan jumlah sofa bed17 buah.
“Satu tempat tidur untuk dua orang. Penonton akan merasa lebih privat dan nyaman dengan kaca sebagai pembatasnya,” ujar Manajer Marketing Blitz Megaplex Dian Sunardi. Selain itu, ruangan ini dilengkapi dengan service buttonyang fungsinya untuk memanggil staf khusus untuk membantu penonton tanpa merasa kehilangan alur cerita dalam film. “Bioskop seperti ini baru pertama kalinya ada di Indonesia, tidak hanya bioskopnya yang unik, kami juga menyediakan ruang tunggu yang khusus dan tidak bercampur dengan penonton bioskop reguler,” papar wanita kelahiran 6 Juli, 32 tahun silam. (sri noviarni/MG-18)

Sabtu, 22 Maret 2008

Tulisan_13 @ Sindo

Eksplosi Tubuh Perempuan
Minggu, 23/03/2008

SEBAGIAN besar karya I Nyoman Polenk Rediasa berobjek tubuh perempuan . Namun,makna lukisan-lukisannya justru menempatkan perempuan sebagai subjek.
”Perempuan itu berhak menunjukkan keindahan tubuhnya. Dia juga boleh bangga terhadap segala yang dimiliki,” terang seniman asal Bali ini. Lebih dari 40 karya Polenk, sapaan akrabnya, dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.Mengusung tajuk Eksplo[ra]si Tubuh, pamerannya berlangsung 12–23 Maret 2008. Menurut Polenk,pemberian tanda kurung pada kata ”ekplorasi” diartikan sebagai ledakan (eksplosi) akan tubuh perempuan.
”Tubuh wanita itu memang meledakledak. Namun, saya sama sekali tidak bermaksud menonjolkan unsur sensualitas,”papar pria kelahiran 18 Maret, 29 tahun silam ini. Dalam membingkai sebuah gambar,Polenk mengaku memberi kebebasan utuh kepada para modelnya untuk menunjukkan kelebihan tubuh mereka. ”Saya biarkan para model menyadari kecantikan tubuh yang mereka miliki.
Kemudian saya memaknainya sesuai dengan pose yang mereka tunjukkan itu,” ungkap Polenk. Menggelar pameran di Ibu Kota, bagi Polenk, adalah debut pertamanya. ”Selama ini karya lukis saya tidak dipamerkan di Jakarta. Saya berharap pameran ini bisa memberikan kemajuan bagi diri saya dan mendapatkan kritik dari masyarakat yang melihatnya,” harap pelukis yang cukup banyak berpameran ini.
Pembukaan pameran yang dihadiri rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sardono W Kusumo ini tidak hanya memamerkan hasil lukisan cat minyak di atas kanvas, sebagian karya Polenk juga berupa guratan pensil di atas kertas. Dalam esainya di website polenkrediasa.com, pengamat seni/kurator Hardiman menjelaskan tujuan pameran ini adalah untuk menghadirkan makna tubuh sebagaimana yang disusun si pemiliknya.
Ia lantas menyebut pameran ini adalah sebuah realitas, di mana tubuh diposisikan sebagai alat, kendaraan, atau bahkan representasi tentang diri si pemilik tubuh. Kurator lainnya,Eddy Soetriyono, menilai karya Polenk adalah objek-objek realistis yang berubah menjadi bahasa, metafora, dan vetorika yang menebarkan makna tersembunyi dari sesuatu yang tadinya seolah tak berkaitan.
Pesan yang ingin disampaikan oleh Polenk tersirat dari judul-judul yang ia berikan pada karya lukisnya. Simak saja tajuk seperti Muara Kehidupan, Dipacu Waktu, Turn Your Life Around, Pisau, Dialog Rural, Geliat, Detik Menuju Terang,Fragmen Tangan, Obsesi Sunyi, Modis, Dialog, Warisan Eksotik,Hasil Malam Ini, Don’t Cry Bali, Ini Tubuhku, Menunggu Giliran dan Lihat Bokongku.
Polenk menilai,hasil karya yang ia buat memiliki makna tersendiri bagi dirinya.”Selama ini perempuan sering dijadikan pemuas nafsu dan pesakitan. Dalam karya saya ini, tergambar bahwa perempuan adalah sumber kehidupan,” ungkap pelukis yang telah menyelesaikan studi S2-nya di Universitas Udayana, Bali, jurusan Kajian Budaya ini. (MG-18)

Kamis, 20 Maret 2008

Tulisan_12 @ Sindo

Gaya Selebriti lewat Parfum
Kamis, 20/03/2008


PARFUM selebriti tengah diminati. Tidak sekadar pewangi,tapi juga jadi cara lain untuk meniru gaya sang idola. Hany Amalia, 23, sehari-hari bekerja sebagai public relation di salah satu hotel terkenal di kawasan Jakarta Selatan. Selain itu, ia masih berusaha menyelesaikan kuliahnya di London School Public Relation (LSPR). Ketika kuliah,Hany selalu tampil dengan busana kasual.
Untuk menegaskan citra tersebut, ia menyemprotkan parfum Curious, milik Britney Spears. Sebaliknya, ketika berada di Hotel,Hany langsung bertransformasi total. Ia menanggalkan pakaian kasualnya dengan baju formal. Setelah itu, parfumnya pun ia ganti dengan parfum Lovely, milik pemeran serial televisi Sex and The City,Sarah Jessica Parker. Selain karena wangi,Hany merasa figur Sarah Jessica Parker (SJP) identik dengan sosok yang anggun dan dewasa.
Untuk mendapatkan kesan seperti itu,makanya ia memilih Lovely. ”Dari awal keluar saya langsung suka, soalnya wangi SJP itu enak banget.Manis tapi menyegarkan,”tutur Hany. Kendati sudah cocok dengan Lovely,iamasihinginmencoba parfum selebriti lainnya. Ia mengaku penasaran dengan kesan yang ditimbulkan oleh berbagai parfum seleb itu. Seperti halnya Hany,Windyanti Loekito,28,pun penggemar Lovely.
Ia tertarik mencoba parfum seharga Rp500.000 itu setelah menonton tayangan Oprah Winfrey di televisi. Sekali menyemprot parfum yang terdiri atas campuran precious oils, lavender, orchid, amber, apple martini, paper,whitesdan musk ini,kata Windy,akan tercipta kesan casual glamour seperti yang dimiliki Sarah Jessica Parker. ”Wanginya yang lembut dan ’manis’ membuat perasaan happy sepanjang hari. Saya juga merasa semakin percaya diri dan bersemangat.
Seperti juga figur SJP,” aku wanita kelahiran 28 tahun silam ini tertawa. Berbeda dengan Hany dan Windy yang memuji wangi parfum SJP, Marina Ariesty, 20,justru jadi penggemar setia parfum Paris Hilton.Hampir tiga tahun ia menggunakan parfum tersebut sebagai pengharum tubuhnya.Marina juga mengatakan, wangi parfum Paris lebih remaja dibanding dengan parfum SJP.
Mahalnya Wangi Britney
Wangi selebriti memang tidak murah. Parfum Lovely, Sarah Jessica Parker saja dijual dengan harga Rp500.000. Meski mahal, tetap saja parfum ini sangat diminati kaum hawa.Bahkan,parfum selebriti ini lebih digemari ketimbang parfum nonselebriti. Hany, contohnya, mengaku sudah mempunyai banyak koleksi parfum.
Ia mengaku tidak perlu banyak memikirkan masalah harga jika ingin membeli parfum ini. ”Kalau habis, ya saya beli. Biasanya saya beli sebulan sekali,” ujarnya. Dari pengakuan Hany,saat ini merek-merek parfum berlabel nama artis memang mulai menggeser pasar parfum nonselebriti.Kaum hawa saat ini lebih terpikat dengan nama-nama artis ketimbang parfum-parfum lainnya seperti Chanel No 5.
Hal ini diakui oleh dua pemilik toko parfum online,Catur Ujianto,25,dan Sebastian, 28. Keduanya bahkan mengatakan saat ini jumlah pemesan parfum Paris Hilton, For Women,sangat diminati. Catur, pemilik toko online Parfum Shop menilai, Paris Hilton cukup digemari lantaran harganya yang terjangkau. Dari website-nya, Catur memberi harga Rp260.000 untuk 100 ml parfum Paris Hilton.
Sementara parfum SJP dipatok Rp350.000.Perbedaan harga ini yang menyebabkan Paris Hilton lebih diminati para wanita karier yang menjadi pelanggannya. Sebastian yang memiliki toko onlineRumah Parfum,juga mengungkapkan banyak pemesan dari kalangan pekerja kantoran yang memesan parfum Paris Hilton.Parfum lain yang banyak peminatnya, tambahSebastian,adalahJ-lo.
Menanggapi soal kualitas, baik Catur maupun Sebastian mengatakan tidak ada perbedaan dengan parfum bermerek Bvlgari,Hugo boss,atau Kenzo. ”Kualitasnya sama, mereka membeli karena mereknya nama artis saja atau ngefans dengan artis tersebut,” ujar Sebastian. Catur juga mengungkapkan merek-merek parfum dengan nama artis memudahkan bagi masyarakat untuk mengingatnya. ”Nama selebritis itu tidak susah untuk diingat. Setelah tahu,mereka pasti ingin mencobanya,” kata pria yang bekerja juga sebagai staf Teknik LKBN Antara ini. (wahyu sibarani/MG-18)

Rabu, 19 Maret 2008

Tulisan_11 @ Sindo

Beda Negara,Beda Sensasi
Rabu, 19/03/2008

SEMUA orang pasti suka wisata kuliner hingga ke luar negeri. Sebab, setiap pengalaman memberikan sensasi yag berbeda.
Seperti halnya Agus Wisman, 43, yang setiap menjalankan ”tugas”-nya sebagai penyanyi di luar negeri selalu menyempatkan waktu menikmati makanan yang ada di negara tersebut. Dua puluh tahun melanglang buana di dunia seni membuat Agus memiliki pengalaman yang banyak soal tempat-tempat makan enak di luar negeri. Jadi, wajar saja jika semua makanan ala Eropa dan Asia sudah dicicipi oleh lidah bapak dari Daffa dan Rafi ini.
”Delapan tahun yang lalu, saya dan Yana rela tinggal satu minggu disana demi menyantap masakan Italia khas Peruzzia. Mulai dari breakfast sampai dinner, makanannya enak sekali,” kenang personel Elfa’s Singers ini. Agus pun mengaku gamar makanan yang mentah dan asing bagi dirinya. Seperti di Busan, Korea Selatan, Agus rela menantang lidahnya dengan gurita dan udang yang masih mentah.
”Waktu itu kumis udang yang saya makan masih gerakgerak, tapi saya langsung melahapnya. Saya rasa makanan yang mentah itu masih fresh dan tidak amis,” papar suami Enda Dwi Lestari ini. Pengalaman menarik lainnya Agus rasakan saat berkunjung ke Norwegia. Berdekatan dengan kutub, membuat makanan disana menjadi dingin. Hal itu tidak membuat Agus kehilangan nafsu makan.
”Saya coba menikmatinya, kalau belum kenyang ya saya akan makan roti saja,”ungkap pria kelahiran Bandung ini. Dari beberapa negara yang telah dikunjunginya, Agus merasa makanan khas Italia dan Jepang adalah makanan yang paling istimewa. ”Saya suka pasta, sushi dan sashimi. Dan makan di tempat asalnya, sensasinya beda sekali,” ujar pengajar vokal pada ajang Idola Cilik ini. Soal harga, bagi Agus tak menjadi masalah.
Walaupun sudah ditanggung oleh penyelenggara, Agus tak segan mengeluarkan kocek lebih untuk menikmati makanan favoritnya. Perbedaan makan di luar negeri tidak hanya dilihat dari keaslian rasa. Ia juga menilai cara penyajian suatu hidangan di masing-masing negara sangat berbeda. ”Saya mengikuti saja aturan tata hidang disana. Selama ini tidak ada masalah dan saya selalu menikmatinya,” tutur Agus yang mengaku dirinya sebagai gourmand, penikmat makanan bercita rasa khas.
Tak berbeda dengan Agus, publisher PT Indomultimedia, Alistair G. Speirs mengaku telah berkeliling dunia untuk mencicipi makanan. Bagi Speirs, makan di Perancis adalah pengalaman yang membuatnya terkesan. ”Makan disana sangat berbeda, ada aturan penyajian yang khusus,” kata Speirs. Makan di beberapa negara, lanjut Speirs, adalah hal yang menyenangkan bagi dirinya. Soal rasa dan harga, Speirs pun merasakan perbedaannya.
”Di Indonesia, uang Rp10 ribu saja sudah bisa makan yang enak, tapi kalau di luar negeri tidak bisa,” kata pembicara talkshow yang acap membahas soal kuliner ini. Walaupun memiliki banyak pengalaman makan di luar negeri, Speirs mengaku sangat mencintai masakan Indonesia. ”Karena proses pengolahan masakan langsung dari petani, saya rasa masakan Indonesia lebih bergizi dibanding masakan di luar negeri,” katanya. (wahyu/MG-18)

Senin, 17 Maret 2008

Tulisan_10 @ Sindo

Citra Mapan Dasi
Selasa, 18/03/2008

OSCAR Wilde,sastrawan masyhur dari Irlandia pada abad pertengahan pernah menulis,”Dasi yang dipasang dengan rapi adalah awal langkah serius menghadapi hidup hari ini.”Dari ungkapan itu tergambar betapa dahsyatnya dasi bagi seorang pria.
Begitu pula bagi Mathieu Duballet, konsultan finansial terkenal di Prancis. Dia setiap pagi sebelum bekerja, selalu sibuk memilih koleksi dasi kepunyaannya. Setelah menemukan warna yang cocok dengan setelan yang dia kenakan saat itu, dia pun langsung mengikat dasi tersebut dengan cekatan. Seperti biasa, dia mengikat dasi tersebut bergaya windsor dengan cepat. Setelah semuanya beres, dia pun langsung berangkat kerja. ”Saya penggemar dasi.
Bahkan, saya paling tidak mau kalau saya dibelikan dasi oleh teman saya,” kata Duballet. Bagi Duballet,kemampuan mengikat dasi sudah dia kuasai sejak umur 14 tahun.Waktu itu ayahnya mengatakan bahwa seorang pria sejati harus mampu mengikat dasi sendiri. Namun, saat ini orang-orang seperti Duballet justru banyak berkurang. Akibat perubahan gaya hidup, kini penggunaan dasi justru lebih terkesan kasual ketimbang formal dan mapan. Salah perubahan gaya hidup yang paling signifikan menurunkan citra dasi adalah dunia musik.
Saat ini banyak vokalis dan grup musik yang sering mengenakan dasi. Contohnya, vokalis GIGI,Armand Maulana,penyanyi asal Kanada,Avril Lavigne, grup musik My Chemical Romance, dan grup musik asal Inggris, Franz Ferdinand.Aksi itu justru membuat penggemar mereka ikutikutan mengenakan dasi. Padahal,jangankan esensi mengenakan dasi.
Mereka bahkan belum bisa mengikat dasi sendiri. Selain dari musik, gangguan lainnya terjadi karena perubahan etika berkantor.Saat ini, banyak kantor yang memperbolehkan karyawannya mengenakan baju kasual. ”Akibatnya, banyak orang ketika membeli baju kantor sudah merasa tidak perlu lagi membeli dasi,”kata Helene Pasteur, pemilik Galeries Lafayette. Helene malah menambahkan, sangat sulit bagi dasi untuk kembali jadi pakaian rutin ke kantor.”Hanya akan jadi aksesori saja,”katanya sedih. Akibat perubahan ini, tidak heran jika saat ini penjualan dasi tengah melesu.
”Penjualan dasi memang tidak mati total, tapi memang ada penurunan yang signifikan,” kata Franck Nauerz, pemilik department store, Printemps di Paris,Prancis. Hal yang sama dirasakan Helene Pasteur, pemilik Galeries Lafayette. Menurut dia, dasi saat ini berusaha memulihkan diri dari perubahan gaya hidup tersebut. ”Intinya, dasi tengah mengalami perubahan gaya, tapi perlahan- lahan sedang berusaha memulihkan diri,”kata Helene.
Uniknya, ketika penjualan dasidasi formal tengah lesu,dasi-dasi gaul justru tengah naik.Charvet di Prancis terkenal sebagai toko yang paling sering menjual dasi-dasi gaul lengkap dengan baju yang serbagaul. ”Kami dengar ada penurunan penjualan dasi formal.Tapi,kami di sini tidak pernah melihatnya,” kata Anne-Marie Colban, manajer Charvet.
Farid Chenoune, ahli sejarah gaya hidup dan penulis buku Men’s Fashion Through the Ages,mengatakan saat ini usaha untuk mengangkat kembali citra mapan dasi memang tengah giatgiatnya dilakukan. Dia mencontohkan, di tengah ramainya kantor mengubah etika berpakaian dari formal dan kasual,justru saat ini sudah mulai banyak kantor yang kembali ke etika semula.”Berpakaian dengan formal justru menunjukkan bahwa kantor Anda adalah tempat yang sangat mapan,”katanya.
Hanya,usaha tersebut sedikit mendapatkan hambatan karena memang dasi saat ini diibaratkan bukan milik kaum mapan. Bahkan, perubahan ini menurut dia merupakan respons dari generasi saat ini yang menolak segala sesuatu berbentuk kemapanan dan keformalan.
Respons ini,menurut dia,sama dengan peristiwa ketika t-shirt berhasil meminggirkan kemeja pada tahun 1980-an. ”Ini merupakan pernyataan dari generasi mereka. Jadi, biarkan saja,”katanya. Apa yang dikatakan Chenoune disetujui pengamat mode dan gaya hidup, Muara Bagdja. Dia mengatakan perubahan ini justru sangat positif. ”Perubahan itu akan memberikan alternatif untuk gaya berbusana dan akan memasyarakatkan dasi ke kalangan yang lebih luas walaupun cara pakainya lebih bervariasi,” ujar Muara.(wahyu sibarani/MG-18)


Lebih Demokratis Lebih Baik

ANGGAPAN penggunaan dasi oleh sebagian masyarakat, saat ini dapat dikatakan berubah 90 derajat. Dasi yang identik dengan bos-bos yang bekerja di kantor, kini beralih fungsi menjadi pelengkap gaya berpakaian oleh kaum remaja.
Dasi bukan lagi aksesori pelengkap baju formal, tapi lebih dari itu, sebagian remaja menggunakannya untuk pergi ke acara pesta dan hanging out dengan teman-temannya. Perubahan gaya berpakaian ini pun dirasakan oleh pengamat mode, Muara Bagdja. Pada awalnya, ujar Muara, dasi digunakan oleh para bangsawan untuk menunjukkan status sosialnya, kemudian dikembangkan menjadi aksesori pelengkap baju kerja bagi kalangan executive.
Tak hanya fungsinya, dasi pun mengalami perubahan bentuk. ”Awalnya bentuk dasi itu lebih melebar, namun memasuki abad ke-20, bentuk dasi lebih ramping dan memanjang,îterang pria yang juga berprofesi sebagai pengarah gaya ini. Meski citra formal bergeser, menurut Muara, unsur kemapanan ketika menggunakan dasi akan tetap ada.
Hal ini dikarenakan penggunaan dasi akan tetap melekat pada baju-baju formal. Namun, soal perubahan gaya berpakaian yang menggeser fungsi awal dasi, Muara menilainya sebagai bentuk perkembangan yang positif. ”Saya mengamati penggunaan dasi saat ini lebih demokratis, banyak kalangan yang pakai, tidak terbatas pada jenis pekerjaan tertentu,î ungkap pria kelahiran Jakarta, 19 Januari 1957, ini Sementara itu, menurut desainer Widhi Budi Mulia, penggunaan dasi sebenarnya tidak terkait dengan tren fashion.
Dia menganggap dasi adalah sesuatu yang wajib dikenakan para pekerja kantoran dan executivemuda. Widhi juga mengatakan bahwa penggunaan dasi akan memberikan kesan positif untuk penampilan dan membantu menimbulkan rasa percaya diri bagi si pemakainya. ”Saya rasa memakai dasi adalah keharusan yang bisa menunjukkan personality untuk meyakinkan orang lain,” ungkap desainer kelahiran 23 Juli ini.
Melihat perkembangan fashion, Widhi tak mengelak jika penggunaan dasi sebagai pelengkap pakaian formal berubah menjadi lebih casual. ”Saat ini memakai dasi tidak hanya dipadupadankan dengan jas dan kemeja lengan panjang saja, sebagian orang yang aktivitasnya padat akan lebih memilih tidak mengenakan dasi,” ujar pria yang hobi jalan-jalan ini.
Di Indonesia sendiri, kata Widhi, penggunaan dasi tidak akan berkurang. Mengingat masih pentingnya dasi sebagai aksesori kelengkapan berbusana formal. Walaupun saat ini banyak anak muda yang menggunakannya, Widhi menganggap hal itu adalah tren. ”Untuk mereka yang menggunakan dasi hanya sebagai tren, cenderung akan memilih warna-warna yang soft dan motif yang bervariasi,”kata desainer yang berkantor di wilayah Meruya, Jakarta Barat, ini. (wahyu/MG-18)

Minggu, 16 Maret 2008

Tulisan_9 @ Sindo

Pusat Gaya Hidup
Senin, 17/03/2008

SIAPA yang menyangka,tepat tanggal 1 Maret 2008 lalu,Plaza Indonesia Shopping Center (PISC) telah berumur 18 tahun.
DI usia yang matang ini,PISC semakin mantap memosisikan diri sebagai jaminan mutu bagi para shopaholic. Berbelanja sudah masuk bagian dari gaya hidup.Namun,tidak sembarangan tempat berbelanja yang bisa dikategorikan pusat gaya hidup.
Menurut Poag dan McEwen, grup developer terkenal asal Amerika, tempat berbelanja yang bisa dikategorikan pusat gaya hidup adalah tidak membutuhkan lahan yang sangat luas,dekat dengan pusat kota,dan mudah diakses oleh para pekerja. Selain itu,yang paling penting adalah tempat tersebut adalah melting pot bagi kalangan yang concern terhadap masalah gaya hidup. Lalu, pada usia ke-18 ini, sudahkah Plaza Indonesia berhasil menjadikan dirinya pusat gaya hidup? Dari lokasinya, PISC memang telah berhasil memenuhi syarat tersebut.
Citra itu semakin kukuh karena para tenant yang ada di PISC telah lekat dengan citra kelas atas. Hal itu terjadi karena setiap tenant menjaga kualitasnya dengan baik. Sebut saja salon Peter F Saerang yang sudah menjalin kerja sama dengan PISC selama tidak kurang dari 18 tahun. Peter sebagai pemilik salon mengatakan, kunci kesuksesan salon yang dimotorinya ini terletak pada pengutamaan kualitas dan pelayanan bagi para pelanggan.
Tidak heran meski jarang mengumbar diskon, tapi salon yang namanya sudah terkenal hingga ke mancanegara ini selalu padat dipenuhi pengunjung.Para selebriti pun menjadikan salon yang berlokasi di PISC ini menjadi tempat andalan mereka untuk merias diri.Nama-nama seperti Agnes Monica, Bella Saphira, Indra L Brugman, Bertrand Antolin, dan sederet artis papan atas lainnya merupakan pelanggan setia salon yang mempunyai 12 cabang ini.
Penempatan lokasi yang strategis di jantung kota Jakarta menjadi alasan bagi Peter untuk memilih PISC sebagai pusat salonnya. ”Bukan hanya itu,PISC juga ditunjang dengan manajemen yang bagus, desain ruang yang inovatif. Dan yang terpenting,tenant denganlabelternama, turut ambil bagian di sini. Itulah yang membuat PISC bisa mempertahankan citrakelasatasnya,”paparDirectorSalon Peter F Saerang Steve Loho. Kesolidan manajemen PISC dalam membangun shopping center tersebut menjadi surga belanja termegah dan terlengkap.
Menurut Steve,bukan hanya di atas kertas. Manajemen PISC selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi para tenant-nya. ”Manajemen sangat membantu tenant untuk maju,setiap ada promosi kami dan manajemen akan saling bersinergi,”ujar Steve. Kepedulian manajemen PISC, lanjut Steve, bukan hanya sampai di situ. Jika tenant sedang mengalami resesi, pihak manajemen tidak segan untuk memberikan diskon penyewaan tempat.Jika tenant mengalami kerusakan pada fasilitas, manajemen dengan sigap mengatasi persoalan tersebut.
Segala hal tersebut menjadi nilai tambah bagi kedua belah pihak khususnya tenant. Steve bahkan menyebutkan jumlah pelanggan salonnya meningkat pesat sejak membuka gerai di PISC. Untuk memanjakan para pelanggan, setidaknya 2-3 kali dalam setahun,salon ini memberikan diskon khusus sebanyak 25%. Keidentikan PISC dengan pelayanan maksimal dan berbagai label memang sudah diakui.Hal itu bahkan diakui oleh Store Manager Club Monaco Andrew Manoppo.
Untuk urusan pemilihan lokasi, ritel pakaiannya yang berdiri di Kanada 23 tahun silam ini,percaya pada nama besar PISC yang sudah berhasil membawa citranya menjadi high class shopping mall. ”Walau sudah banyak mal yang buka di Jakarta, kami yakin PISC tetap the best,”kata Andrew. Menurut Andrew, selain mempunyai kekuatan dari segi lokasi yang tidak pernah sepi akan traffic customer, atmosfer belanja yang nyaman dan serbateratur membuat Club Monaco yakin untuk mengembangkan usahanya di sini,sejak Oktober tahun lalu.
Andrew menilai kerja samanya dengan pihak Plaza Indonesia Shopping Centre (PISC) selama 5 bulan ini sangat memuaskan. ”Manajemen PISC sangat membantu tenant sehingga menghasilkan kerja sama yang baik,” tutur Andrew. Andrew mencontohkan jika Club Monaco mengadakan suatu event, pihak manajemen selalu siap membantu terutama dalam penyediaan database.
Menyambut ulang tahun PISC yang ke-18, Club Monaco akan memberikan kejutan khusus bagi pelanggannya sebesar 10%-20%, tepat pada tanggal 27 Maret mendatang. Kebanyakan koleksi pakaian ritel yang mempunyai 65 cabang di Amerika Utara serta beberapa negara ini, didominasi oleh koleksi pakaian bagi kaum hawa.(sri noviarni/MG-18)

Sabtu, 15 Maret 2008

Tulisan_8 @ Sindo

Saatnya Robot Masuk Sekolah
Sabtu, 15/03/2008

ROBOT adalah tren pendidikan di masa depan. Meminjam perkataan Bill Gates,”Di masa mendatang, manusia akan tumbuh dan hidup bersama robot”. Jadi,mengenal robot sejak dini sangat diperlukan.
Bill Gates bukan orang pertama yang meramalkan hal ini. Sebelum dia, banyak sutradara film Hollywood menggambarkan masa depan dengan robot dan manusia hidup bersama-sama. Ramalan ini memang makin jadi kenyataan. Sejak 2000, sekolah-sekolah membuat robot mulai bermunculan.
Bahkan, per tahunnya, jumlah penggemar kursus membuat robot terus meningkat.Saat ini saja di Jakarta Convention Center (JCC) digelar kompetisi membuat robot Imagine 08 Klub Robotik tingkat SD,SMP,SMA, dan SMK. Saking digemari, jumlah peserta kompetisi ini mencapai ratusan.Pertanyaannya, kenapa robot sangat digemari dan banyak orang berlombalomba mengenal robot?
Menurut Yudi Mintoro Sumaik, pemilik Robotics Education Centre (REC) di Ruko Gading Bukit Indah, Kelapa Gading,Jakarta Utara,pendidikan membuat robot mempunyai banyak kelebihan. ”Kursus robotik mengajarkan kepada anak pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan imajinasi dan kreativitas, serta berpikir secara sistematis dan logis,” ujarnya.
Bukan hanya itu,belajar membuat robot juga melatih siswa untuk bekerja sama secara kompak dalam sebuah tim. Sebab, setiap membuat robot, mereka akan dikelompokkan menjadi suatu tim yang beranggotakan minimal dua orang, ”Hal ini berfungsi melatih manajemen team work-nya, kalau mereka tidak kompak akan terlihat pada hasil karyanya.Kegiatan ini juga mengandalkan kemampuan berkomunikasi, apakah mereka mampu menyampaikan ide untuk menyelesaikan masalah,”ujarYudi.
Hal ini dibenarkan juga oleh pemilik kursus robotik Creative Kids, Gunawan Tunas.Menurut dia, proses belajar dengan membuat atau learning by making berpeluang menjadikan kegiatan belajar menjadi lebih efektif. Selain itu, juga merangsang perkembangan otak dan mengasah kemampuan motorik halus anak.
”Terlebih lagi kalau mereka melakukannya dengan enjoy, cara ini sekaligus berfungsi mengeksplorasi potensi yang dia miliki secara optimal,” ujar lulusan Manajemen Informatika Bina Nusantara ini.
Gunawan meyakini bahwa kursus membuat robot ini merupakan tren pendidikan pada masa depan. Menyetujui pendapat Bill Gates, dia mengungkap bahwa pada masa yang akan datang manusia akan tumbuh dan hidup bersama robot. ”Karenanya, sedini mungkin kami mencoba memperkenalkan robot kepada anakanak,” ujar Gunawan.
Tertinggal dari Tetangga
Meski animo cukup tinggi, sampai saat ini pelatihan membuat robot justru masih tidak tersentuh di sekolah- sekolah formal. Padahal, di negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Eropa, kegiatan merakit robot tidak lagi kegiatan di luar sekolah. Mereka bahkan telah memasukkan membuat robot dalam kurikulum pengajaran.
Sedari kecil, anak-anak sudah diminta bereksperimen dengan mengotak-atik robot Keadaannya jauh berbeda dengan di Indonesia.Di sini robot merupakan kata asing yang masih sangat berjarak dengan masyarakat, khususnya bagi para pelajar. Bahkan, ada anggapan belajar membuat robot cenderung mahal. Akibat anggapan ini, Indonesia cenderung tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya.
”Anggapan itulah yang ingin kami hilangkan.Padahal kursus robotik ini relatif murah dan tidak perlu beli peralatan karena sudah disediakan di tempat kursus,” kata pemilik Robo Club Sony Sumaryo. Robo Club, contohnya, hanya memungut biaya Rp42.500 untuk setiap pertemuan dengan beberapa orang siswa.
Sementara itu, klub Robotik menarik biaya sebesar Rp100.000 untuk empat kali pertemuan secara privat. Lain lagi dengan REC yang mematok harga Rp300.000 per bulan bagi setiap siswa Pentingnya robot masuk sekolah justru sudah disadari oleh kursuskursus membuat robot yang ada di Indonesia. Klub Robotik misalnya, telah menjalin kerja sama dengan beberapa sekolah dari tingkat SD hingga SMA untuk mengadakan kegiatan ekskul robotik di sekolah.
”Ketika datang ke sekolah, kami menerangkan manfaat yang didapat lewat kursus ini seperti pengenalan teknologi. Sejauh ini sudah ada 250 siswa dari berbagai tingkat sekolah yang ikut kegiatan ini,” ujar pemilik Klub Robotik Lucas C Gee.
Untuk lebih menyosialisasikan dan memantapkan metode pengajaran, beberapa tempat kursus robotic bahkan menjalin kerja sama dengan berbagai universitas ternama. Sebut saja UI, Trisakti, Gunadarma, Politeknik UI dan lain-lainnya.Jadi,saat ini waktunya bagi “Robot Masuk Sekolah”.(sri noviarni)

Paling Sulit Memprogram Gerakan

SIAPAyang tidak suka menciptakan robot. Kursus-kursus membuat robot ternyata digemari karena memang kursus ini memberikan fantasi indah bagi orang yang ingin menguasainya.
Jerrell, 8, siswa kelas dua SD Lab School Rawamangun sangat antusias setiap kali mengikuti kursus robotik di Robotics Education Centre (REC), yang sudah dijalaninya selama setahun terakhir. Di tempat kursus ini, Jerrel sama sekali tidak berpikir sedang belajar.
Dia malah seperti sedang memuaskan hobinya bermain robot. ”Saya suka robot, di rumah punya banyak koleksinya. saya juga sering mencari berbagai hal tentang robot di internet,” ungkap bocah yang duduk di tingkat basic mechanical ini. Berlatih merakit robot membuat dirinya menjadi lebih kreatif dan mengetahui teknik pemrograman melalui program Labview.
”Yang paling sulit saat memprogram gerak-gerak robot sesuai kemauan kita,” akunya. Dari kesukaannya mengutak-atik robot, Jerrell berhasil mengantongi juara 2 Jakarta Junior Robotic Competition. Lainnya itu, ada Jerry, 9, yang mengaku sejak mengikuti kursus robotik, dia jadi lebih kreatif. ”Saya senang ikut kursus ini soalnya bisa bikin robot sesuai keinginan,” ujarnya.
Senada dengan pengakuan Shannon,12. ”Belajar robot itu menarik. Saya bisa merancangnya sesuai keinginan saya biar jadi keren,” kata siswa kursus robot Creative Kids ini. Manfaat mempelajari robot pun dirasakan siswa yang bersekolah di SD Santa Laurensia ini. Dia mengaku terbiasa dengan teknologi modern setelah empat bulan kursus robot.
”Belajar robot juga melatih logika saya,” tambah Shannon. Usianya memang masih belia, tapi tekad Shannon untuk mendalami robot sangat tinggi. ”Mengikuti kursus robot saya anggap sebagai latihan dan cara untuk berpikir lebih maju,” ungkap gadis kecil yang bercita-cita jadi ilmuwan ini. Siswa yang telah memasuki tahapan intermediate ini mengaku mengalami kesulitan mendapatkan ide merancang robot.
”Setelah melewati tahap basic, yaitu pengenalan alat dan fungsi, di tahap intermediate saya harus memikirkan sebuah ide untuk merancangnya,” ujar Shannon.(sri noviarni/MG-18)

Selasa, 11 Maret 2008

Tulisan_7 @ Sindo

Hidup Tak Dimulai di Usia 40
Rabu, 12/03/2008

APA yang terjadi saat usia Anda mencapai 40 tahun? Banyak orang mengatakan, usia 40 adalah awal yang sempurna untuk mengawali hidup Anda. Benarkah demikian?
Ungkapan ”life begin at forty’’ sudah abadi di masyarakat.Diyakini, di usia kepala empat inilah seseorang tengah berada di puncak karier. Di usia ini pula seseorang tengah menikmati apa yang menjadi perjuangannya sejak usia 20 hingga 30-an.
Filsuf terkenal asal China, Confusius, bahkan punya ungkapan istimewa tentang angka 40 ini. Dia mengatakan, di usia 15 tahun, hatinya tengah mempelajari semua hal. Di usia ketiga puluh, dia baru bisa berdiri sendiri dan di usia keempat puluh,dia mulai bisa bebas dari semua keraguan.
Namun, tidak semua orang setuju dengan ungkapan tersebut. Malahan, banyak orang menganggap ungkapan itu hanya sebatas isapan jempol belaka. Itulah yang dipahami ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir,51.
Menurut pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini, hidup justru dimulai sejak manusia dilahirkan.Soetrisno berpandangan,setiap perjalanan hidupnya meninggalkan jejak keberhasilan atas segala usaha yang telah dilakukannya.
Makanya, dia menolak mentahmentah pernyataan hidup dimulai pada saat usia menginjak 40. ”Sejak remaja,saya sudah terbiasa hidupdengankerjakeras.Umur14saya sudah buka usaha batik dengan kakak saya.Di umur 28,saya sudah memimpin sekian perusahaan,semua tidak bisa saya dapatkan kalau dimulai dari usia 40,”kata pemilik perusahaan Ika Muda Group yang bergerak di bidang pergudangan dan properti.
Usia 40, lanjut Soetrisno, tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih dewasa menyikapi segala permasalahan hidup. Menurut pria yang pernah menjadi tokoh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini, tempaan dari pengalaman hidup serta kerasnya kondisi kehidupan yang dijalankanlah yang justru menjadi pemicu seseorang untuk bersikap lebih matang.
”Saya pikir usia tidak menentukan kedewasaan seseorang. Kalau saya pribadi, pengalaman jatuh bangun memimpin perusahaan justru yang membuat saya lebih mandiri dan kuat dalam menjalani kehidupan,” ujar pria yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga pedagang ini.
Pengakuan Soetrisno dibenarkan oleh pendiri Java Musikindo Adrie Subono,54.Adrie malah punya ungkapan sendiri dalam memandang hidup, ”life begin at anytime’’, jadi nikmati setiap setiap waktu yang berjalan dalam hidup kamu,” papar pria yang dijuluki promotor yang berhasil mendatangkan 1001 artis luar negeri ini.
Lebih lanjut Adrie mengatakan, di usia 40 tahun,dia beruntung sudah dapat mencapai kehidupan yang berkecukupan dengan keluarga yang harmonis. ”Hanya satu kekurangan yang belum saya miliki,yakni punya cucu,”katanya. Namun, dia merasa sudah cukup puas dengan kehidupan yang dimiliki. Pendapat yang sama dilontarkan Wimar Witoelar,63,dan anggota DPR, Effendi Choiri,45.
Keduanya mengaku hidup tidak dibatasi oleh relung usia. Namun,dalam memandang kehidupan, Wimar dan Effendy memiliki perspektif yang berbeda. Mantan juru bicara zaman Abdurahman Wahid,Wimar Witoelar,memandang hidupnya sebagai anugerah.
”Yang penting dari hidup adalah cara pandang kita melihat dunia sehingga hidup itu menjadi berarti,” papar pria kelahiran Padalarang, 63 tahun lalu ini. Pada usia 40-an,Wimar sudah aktif di beberapa media.Dia beranggapan bahwa kemapanan seseorang tidak dipengaruhi usia. Selain itu,Wimar benar-benar menikmati setiap pencapaian hidupnya walau tidak memiliki target khusus.
”Saya hidupsetiapharidengantidak memikirkan umur.Bagi saya,hal seperti itu akan memenjarakan kita dari ilusiilusi. Jadi jalani saja,”jelas Wimar Wimar sendiri mengaku hidupnya penuh dengan cerita yang saling bertolak belakang.Dia pernah merasakan duka yang mendalam setelah kehilangan sang istri,Suvatchara Leeapon, lima tahun lalu.Namun sekarang, dia mengaku merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
”Mungkin ini fase kehidupan yang harus saya jalani, setelah sedih saat istri tiada, sekarang saya merasa bahagia dengan umur saya ini,” ungkap Wimar. Lain Wimar,lain juga Effendi Choiri. Dia menilai hidupnya mengalir sesuai kehendak Tuhan. ”Saya merasa hidup saya bergerak ke arah yang lebih baik, mulai dari anak kampung sampai kini aktif di politik,”ungkap ketua fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Seperti Soetrisno Bachir, Effendi malah mengaku sebelum menginjak usia 40 tahun, dia sudah merasakan betul kesuksesan dan pengalaman hidup. Saat itu, kenang Effendi, dia berhasil terlibat aktif di dunia politik. Kariernya terus mengalami kemajuan dengan jabatan-jabatan yang diembannya.Mulai ketua fraksi PKB, ketua umum DPP PKB,hingga duduk di Komisi I DPR. (sri noviarni/MG-18)

Gaya Tak Boleh Berubah

USIA boleh bertambah, tapi gaya tak pernah mati. Wimar Witoelar sampai sekarang tidak pernah lepas dari gayanya berpakaian sangat santai. Hal senada dirasakan Adrie Subono.
Meski makin matang, untuk urusan bergaya dia sama sekali tidak pernah meninggalkan gayanya yang sangat kasual. Bagi Adrie, untuk urusan satu ini, ini dia tidak menjadikan usia sebagai batasan dalam berpenampilan. Celana berpotongan skinny dan sepatu boot, setia menemani harihari Adrie.
”Pokoknya be your self saja. Jangan jadikan usia jadi alasan untuk membohongi diri sendiri,” katanya bijak. Bagi Adrie, kebiasaan berpakaian kasual memang sulit diubah. Sebab, ini mencerminkan dirinya yang energik. Bahkan, gaya ini sudah jadi trademark-nya. Meski gaya tidak pernah berubah, Adrie justru mengaku banyak mengalami perubahan setelah usianya menua. Apa saja?
Pertama, hobi, menurutnya, setiap periode waktu yang telah dilakoni Adrie, dia selalu berganti-ganti kesukaan, termasuk soal hobinya berolahraga. Di usia 16 dulu, dia hobi olahraga angkat beban.
Menginjak usia 18, dia berganti kesukaan bergabung dalam klub bela diri selama hampir delapan tahun. ”Di umur sekarang saya sudah sadar diri, nonton di bioskop saja hanya kadang-kadang,”kata pria yang memiliki moto ‘’be your self’’ ini.(sri noviarni/MG-18)

Saatnya Petik Keberhasilan

PENOLAKAN kredo ‘’life begin at forty’’ dibenarkan Dr Rose Mini A P, MSi. Seperti mereka, psikolog Universitas Indonesia ini memang tidak pernah sependapat dengan pernyataan tersebut.
”Jika hidup orang mulai pada usia 40 tahun, lantas umur sebelumnya apa?,” papar psikolog Universitas Indonesia (UI) ini. Wanita yang berprofesi sebagai dosen FISIP UI ini menuturkan, ungkapan itu lebih tepat disandingkan bagi seseorang yang sudah tercukupi segala kebutuhan dasarnya. Sehingga di usia 40 tahun, dia tinggal mencapai kebutuhan yang lebih advance.
”Seperti mencari eksistensi diri dan menetapkan aktualitas diri,” kata psikolog yang akrab disapa Mbak Romy ini. Orang-orang yang berada pada level ini pada umumnya tinggal memetik buah keberhasilan yang diraihnya berkat kerja keras. Mbak Romy menilai, mereka akan menjalani hidup dengan lebih rileks.
Salah besar jika orang memandang pernyataan itu dengan mulai bekerja di usia tersebut dengan segiat mungkin. Karena usia tersebut orang sudah tidak seproduktif seperti usia sebelumnya. Sehingga kinerja menurun. Karenanya, Mbak Romy mengingatkan untuk memulai hidup sekarang juga. Menanggapi usia berpengaruh pada faktor kedewasaan, Mbak Romy menganggap hal itu justru tidak ada hubungannya.
”Kedewasaan seseorang bukan ditentukan dari umur, tetapi kemampuan mengelola emosi, perasaan, serta keinginan,” ujarnya. Menurut Mbak Romy, bertambahnya usia menandakan seseorang harus lebih waspada dengan penyakit yang mungkin akan diderita. (sri noviarni/MG-18)

Senin, 10 Maret 2008

Tulisan_6 @ Sindo

Makan Siang Istimewa
Selasa, 11/03/2008

MAKAN siang biasanya menjadi waktu yang ditunggu-tunggu bagi para pekerja kantor, termasuk pengusaha sukses dan para jutawan. Seperti apa sih kebiasaan makan siang mereka?
Waktu tepat menunjukkan pukul 12.00 siang,suasana Bogor Cafe di Hotel Borobudur Jakarta telah ramai terisi. Bagi para eksekutif yang bekerja di kawasan Jakarta Pusat, kafe ini merupakan tempat yang nyaman untuk disambangi. Di kafe ini, ada satu menu favorit pilihan para eksekutif, yakni sup buntut sapi.
Public Relation Hotel Borobudur Evi Rumondang menyebutkan, menu ini merupakan menu favorit para eksekutif dan orang terkenal yang sering datang ke sini. Salah satunya adalah motivator terkenal Tung Desem Waringin.Tak jarang, ketika makan siang,Tung menyempatkan waktu dan mentraktir teman-temannya makan siang di kafe ini.
”Sup buntut sapinya enak, saya sengaja memilih oxtail yang asli dari Kobe,Jepang,”kata Tung. Selain Bogor Cafe,tempat lain yang wajib disambangi orang-orang istimewa adalah Restoran Bunga Rampai yang ada di kawasan Menteng,Jakarta Pusat. Di restoran ini menu yang jadi buruan adalah nasib buketan.
”Semuanya yang datang pasti minta nasi buketan. Jadi menu wajib,” kata Public Relation Bunga Rampai J Williams. Menurut pengakuan Williams, penggemar nasi buketan ini bukan orang sembarangan.
Menurut dia, sudah banyak orang-orang penting, pengusaha sampai menteri yang bertandang ke restoran ini mencari nasi buketan untuk makan siang. Williams mengatakan, para petinggi sering datang karena mereka merupakan pelanggan yang loyal.
Selain itu, mereka sering mendapatkan pelayanan yang istimewa selama di sini. Pelayanan itu tak lain adalah suasana yang nyaman dan kemampuan restoran memenuhi keinginan mereka. Agar suasana lebih nyaman,Williams menuturkan, ada meja khusus yang disiapkan untuk tamu-tamu istimewa tersebut. ”Sebenarnya kami memberikan pelayan yang sama bagi setiap pengunjung, tapi khusus bagi tamu VIP, setting meja akan lebih dipercantik,” ucapnya.
Untuk memenuhi keinginan tamu, William mengaku sering menemui keinginan yang sama sekali tidak ada di restoran mereka.Namun, demi pelanggan, mereka siap memenuhi permintaan itu. Hal yang sama juga sering terjadi di restoran Rosso di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat.
Menurut Public Relation Shangri-La Yuska Tuannakota, tak jarang tamu mempunyai permintaan yang aneh-aneh. Untungnya, selama ini pihak restoran masih bisa melayani dan memuaskan keinginan mereka. ”Macam-macam permintaannya, ada yang minta spageti tanpa daging, padahal yang kami sediakan pakai daging semua, tinggal chef-nya saja yang bingung,”tutur Yuska.
Selera Mahal Tamu Istimewa?
Perbedaan perlakuan yang diterima tamu-tamu istimewa ketika makan siang, memang jadi pertanyaan. Sebenarnya, apakah tamu-tamu istimewa itu rewel dengan makan siang mereka? Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sandiaga Unojustru mengaku tidak.Hingga saat ini, dia lebih memilih tinggal di kantor untuk makan siang.
”Soalnya di kantor disediakan makan, jadi tidak perlu repot keluar cari makan.Menunya juga enggak masalah,”katanya. Hal yang sama juga diutarakan oleh pengacara kenamaan Henry Yosodiningrat dan Presiden Direktur PT Merril Lynch Indonesia Lily Widjaja. Henry malah mengaku hampir tidak memiliki waktu untuk memilih restoran- restoran khusus untuk makan siang.
”Kadang biar mudah saya pesan delivery service saja,” ujar pria kelahiran Lampung ini. Setali tiga uang dengan Henry,Lily mengaku hanya makan siang jika ada waktu luang. Dia bahkan enggan datang ke restoran dan mencoba menumenu khusus yang disediakan. Bagi Lily,yang paling penting adalah lokasi restorannya dekat dengan kantor.Soal menu, itu nomor sekian.
”Pokoknya, sekadar mengganjal perut dengan makanan yang tidak terlalu berat serta dekatdari kantor,”sebutnya. Meski sebenarnya tidak terlalu selektif soal menu dan tempat, Sandiaga mengaku sering datang ke restoran- restoran khusus untuk makan siang. Selain karena sering diundang, dia datang ke restoran tersebut karena ingin mengajak rekan-rekannya makan siang bersama.
”Tapi tempat yang saya pilih buat makan siang itu harus relatif dekat dengan kantor dan membuat saya nyaman,” kata penyuka sayur dan ikan ini. Untuk urusan nyaman, Tung Desem Waringin malah mengaku sering merasa nyaman makan siang meski di pinggir jalan. ”Sering kalau untuk makan siang dengan teman kantor, biasanya saya memilih tempat makan yang enak tapi murah meriah,” papar penulis buku Marketing Revolution ini. (sri noviarni/MG-18)

Bisnis di Meja Makan

TAHUKAH Anda, YouTube ke Google di atas sebuah meja makan. Waktu itu kedua pemimpin di YouTube dan Google bertemu ketika makan siang di restoran Denny’s, California.
Setelah makan siang, YouTube terjual dengan harga USD1,5 miliar Berkaca dari pengalaman itu, makan siang memang bukan hanya sekadar waktu untuk mengisi perut. Makan siang bagi hampir seluruh eksekutif justru untuk membicarakan urusan bisnis maupun menjalin hubungan dengan relasi. Hal ini akrab disebut lunch meeting.
Menurut pakar motivator Tung Desem Waringin, ada dua macam manfaat lunch meeting. Pertama, adalah sebagai teknik pendekatan bagi orang-orang yang akan terlibat dalam suatu hubungan bisnis. Biasanya dalam lunch meetingjenis ini, masing-masing orang belum terlalu mengenal dengan yang lain.
Di sinilah lunch meeting bertujuan untuk mengakrabkan diri. Pada pertemuan saat makan siang ini yang dibicarakan baru seputar masalah pribadi dan belum menyentuh bisnis. Kemudian jika hubungan pertemanan tersebut sudah lumayan akrab, maka pertemuan makan siang selanjutnya baru membicarakan hubungan bisnis.
”Manfaat kedua dari lunch meeting ini bahkan bisa menggolkan beberapa deal bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak,” kata Tung. Tung sendiri belajar mengenai bisnis di meja makan ini dari pengusaha terkaya di Asia, Lika Shing.
”Menurutnya, jangan pernah Anda ditraktir orang lain karena Anda akan berutang budi, sebaliknya biarkan Anda mentraktir orang walau belum sekelas mereka, dan Anda akan merasakan manfaatnya,” paparnya. Saking berpedoman pada prinsip tersebut, Tung rela mentraktir Komisaris Asuransi Bintang Amir Abadi Jusuf di restoran mahal Samudera di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, sekitar 10 tahun lalu.
Padahal waktu itu Tung mengaku hanya berpenghasilan sekitar Rp2 juta. “Saya masih ingat waktu itu menghabiskan Rp780.000, bayangkan separuh gaji sebulan saya. Akhirnya, sebulan ke depan saya enggak makan siang di luar, tapi setelah itu bisnis saya jadi lancar,” kenang Tung.
Jika berhubungan dengan kemajuan usahanya, Tung memang tidak segan mengeluarkan biaya selangit. Menurut Tung, banyak hal yang bisa dia dapatkan dengan mentraktir pengusaha kenalannya.
Selain memiliki nilai tambah di depan orang tersebut, dia juga berkesempatan bergaul dengan orang-orang kelas atas. “Dari makan siang itu, saya bisa mempelajari dan mengerti kunci sukses mereka,” kata Tung. Senada dengan Tung, Sandiaga Uno menyebutkan, pembicaraan bisnis di meja makan justru akan mencairkan suasana dan terbilang efektif. (sri noviarni/MG-18)

Tulisan_5 @ Sindo

Ayat-Ayat Cinta
Senin, 10/03/2008

FILM Ayat-Ayat Cinta jadi fenomena tersendiri di film layar lebar. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini berhasil mencapai angka 1,5 juta penonton hanya dalam waktu kurang dari 10 hari.
Menurut Public Relation MD Entertainment, Ciria,jumlah ini akan semakin bertambah. Sebab, jumlah data 1,5 juta penonton itu mereka terima per tanggal 28 Februari. ”Jumlahnya pasti bertambah karena responsnya masih tinggi hingga saat ini.Apalagi,target kami memang lebih dari angka 1,5 juta,” kata Ciria bersemangat. Meski terus bertambah, jumlah angka 1,5 juta memang sangat fenomenal. Saking fenomenalnya,Ketua MPR Hidayat Nur Wahid sengaja mengundang seluruh kru film Ayat- Ayat Cinta untuk bertemu. Namun,Hidayat menilai,keistimewaan itu bukan datang dari jumlah penonton, tapi datang dari semangat Ayat-Ayat Cinta yang kental dengan napas toleransi dan pesan moral.
”Film yang diangkat dari novel ini, pada dasarnya berpijak pada suatu nilai yang memaparkan keberanian untuk bertemu dengan beragam pluralitas,baik di bidang agama maupun bangsa, tanpa menanggalkan jati dirinya,”kata mantan presiden dari Partai Keadilan Sejahtera ini kepada SINDO,kemarin. Hal itu diakui juga oleh sutradara Ayat-Ayat Cinta,Hanung Bramantyo, film ini memang mengajak seluruh masyarakat untuk lebih bertoleransi terhadap sesamanya. Demi mengedepankan sisi toleransi, Hanung memang mencoba menghilangkan beberapa adegan yang sekiranya dapat memicu polemik.
”Adegan seperti wartawan Amerika bernama Alice dan Maria seorang Kristen Koptik yang akhirnya masuk Islam, itu saya hilangkan, karena saya tidak ingin film ini men-judge orang untuk masuk Islam,”katanya. Sementara itu, aktor utama film ini,Fedi Nuril mengatakan,film Ayat- Ayat Cinta adalah film yang mencontohkan dengan cara menyikapi perbedaan agama yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. ”Di sini ada gambaran toleransi agama yang baik, misalnya saja tokoh Maria yang beragama Kristen Koptik mampu menghafal ayat Alquran.
Jadi,tidak ada batasan jika ada orang yang mau belajar agama lain, selama orang itu mau menghargai,”tutur Fedi. Semangat toleransi dan pluralisme memang tidak hanya terasa di film ini. Penonton Ayat-Ayat Cinta justru datang dari latar belakang agama hingga status sosial yang berbeda.Tidak hanya orang-orang beragama Islam yang menggemari film ini. Orangorang nonmuslim juga rela mengantre hanya untuk menonton film hasil adaptasi buku Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy ini. Bahkan, beberapa kalangan Islam yang jarang menonton film layar lebar pun tergerak menonton film yang diperani Fedi Nuril.
”Nyatanya,banyak bapak-bapak dan ibu pengajian yang nonton film ini,”kata Hanung bangga. Hasan Junaidi,mahasiswa Jurusan Fisika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS),mengaku tak menyesal harus keluar-masuk bioskop di Surabaya hanya untuk mendapatkan tiket nontonfilm tersebut.Dia mengaku ketika hendak menonton,harus rela antre sejak siang hari hingga malam hari hanya untuk menonton film ini.
”Antrenya panjang,tapi saya tetap bela-belain ngantre yang penting bisa nonton film itu. Soalnya, dialog ini pesan moralnya bagus banget,” kata pria kelahiran 8 Juli 22 tahun silam ini. Hal ini disetujui pula oleh Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.Meski belum menonton Ayat-Ayat Cinta,Hidayat merasakanbahwafilminitakjauhberbeda dengan buku karangan Kak Abik,panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy, yang kental dengan pesan moral.
Ketua Forum Dakwah Indonesia ini menilai,film Ayat-Ayat Cinta menawarkan hal baru bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda yang telah terbiasa dengan film-film horor dan kekerasan. ”Selama ini generasi muda dicekoki oleh film-film berbau horor,kekerasan dan pornografi,tetapi lewat film ini saya kira mereka bisa menemukan wawasan dan paradigma baru yang tidak setiap hari mereka temui,” ujar Hidayat yang berencana menonton film ini hari Senin ini.
Menurut Hidayat,film ini sekaligus mengajak masyarakat untuk keluar dari hegemonisasi kapital dan hedonisme. Hal terpenting,film ini menunjukkan wajah Islam sesungguhnya yang santun dan jauh dari radikalisme.
Jauh dari Buku Aslinya
Meski banyak yang memuji, pada saat yang bersamaan ada beberapa pembaca novel Ayat-Ayat Cinta yang merasakan film ini sangat jauh berbeda dengan novel asli. Hasan contohnya mengaku kecewa dengan perbedaan besar antara film dan novel yang ia baca. Kejanggalan tersebut bahkan diungkapkannya dengan detail lewat blog-nya,hasanjunaidi.wordpress.com.
Menurut dia, ada beberapa karakter dan adegan yang sama sekali berbeda dengan novel aslinya. Suara-suara kekecewaan ini tidak hanya datang dari Hasan. Beberapa blogger pun telah menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Hanung menyayangkan sikap sebagian orang yang membanding-bandingkan ini. ”Harus dipisahkan antara novel dengan film,keduanya merupakan medium yang berbeda,” tutur Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2007. (sri noviarni/MG-18)

Pembajakan lewat Internet

KESUKSESAN Ayat-Ayat Cinta memang patut diacungi jempol. Namun, apresiasi kesuksesan ini justru sudah mulai salah kaprah.
Saat ini mulai beredar film-film bajakan Ayat-Ayat Cinta. Tidak hanya beredar di luar, di internet pembajakan film ini juga sudah terjadi dengan cepat. Hanung sendiri menyadari adanya pembajakan ini. Dia mengatakan bahwa film Ayat-Ayat Cinta yang dibajak adalah film versi editing yang belum selesai. Dia bahkan menguraikan beberapa kelemahan film bajakan ini di blog-nya, hanung bramantyo.multiply.com.
Meski kecewa, Hanung dan pihak MD entertainment tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya pasrah melihat aksi pembajakan yang semakin marak. “Lagi pula masalah pembajakan bukan tanggung jawab production house, tapi sepenuhnya urusan hukum,” tandas Hanung. Hanung mengatakan, pembajakan di Indonesia sudah seperti narkoba yang bersifat murah meriah dan adiktif. Menurut dia, aksi pembajakan tersebut tidak lantas membuatnya berpikir orang lain tidak menghargai karyanya.
”Tapi yang membuat saya prihatin jadinya orang malas nonton ke bioskop, lagi pula film bajakan yang keluar di internet atau DVD itu belum sempurna,” katanya. Meski cuma aktor, Fedi justru mengaku sakit hati. Dia mengaku kaget karena film Ayat-Ayat Cinta bajakan justru sudah keluar sebelum film ini beredar di bioskop. “Walau saya tidak dirugikan secara materi, tapi saya tetap enggak terima, produksi film itu dibuat susah, menyita waktu dan tenaga, tapi dinodai sama orang yang tidak bertanggung jawab,” ujar aktor yang selalu selektif memilih peran ini.
Fedi juga merasakan kesedihan ketika melihat filmnya dibajak. Dia merasa film-film yang beredar di internet itu belum rampung. “Yang saya tahu, film bajakan itu belum sempurna, masih ada time code-nya, suara-suara dubbing, saya jadi sedih saja,” papar gitaris grup band Garasi ini. Fedi mengaku, keuntungan materi memang bukan hal utama yang ia cari. Menurut dia, apresiasi dan pengalaman yang ia raih selama proses syuting adalah hal yang sangat berharga. Ia tidak kuasa menahan kegembiraan ketika melihat antrean penonton yang memenuhi bioskop-bioskop di seluruh Indonesia.
“Saya senang sekali, saya merasa kerja keras saya selama pembuatan film ini terbayar,” kata pemeran tokoh Fahri ini. Selain kegembiraan melihat animo penonton, Fedi mengaku mendapatkan banyak pengalaman dari film ini. Setelah memerani tokoh Fahri, dia kini mengalami perubahan yang lebih baik. Secara pribadi, Fedi mengatakan jika pesan yang ingin disampaikan oleh film Ayat-Ayat Cinta mempunyai makna yang dalam.
“Film ini mengajarkan kita untuk selalu ikhlas dan sabar dalam menghadapi ujian dari Tuhan karena ujian itu dapat kita jadikan sebagai tempat belajar,” kata aktor tampan yang bermain di film Mengejar Matahari ini.(sri noviarni/MG-18)

Minggu, 09 Maret 2008

Tulisan_4 @ Sindo

Bersekolah di ”Hotel”Mewah
Sabtu, 08/03/2008

Sekolah kejuruan dinilai memberikan solusi di tengah meningkatnya jumlah pengangguran.Peminat sekolah perhotelan terus meningkat karena peluang kerjanya lebih terbuka. Selain itu siswa memperoleh keterampilan dan mendapat pengalaman laiknya di hotel berbintang. Kepala Sekolah SMKN 57 Ragunan Jakarta Selatan Armedi mengatakan bahwa tingginya minat terjadi karena industri pariwisata Indonesia sedang maju pesat.”Semakin banyak hotel baru, tentu semakin banyak pula pihak yang akan terlibat di dalamnya,” ujarnya.
Pendapat serupa diungkapkan oleh Kepala Sekolah SMK Jaya Wisata Kurnia Afrianto Prakoso, Head of Training Department STP Trisakti Dea Prasetyawati, dan Rektor Universitas Sahid Hidayat Syarief. Ketiganya sepakat bahwa lulusan SMK dan universitas perhotelan mempunyai kesempatan lebih luas untuk bekerja.”Saya pikir SMK justru lebih menjanjikan daripada SMA.Terlebih lulusan SMK yang sudah magang di hotel, berkesempatan besar untuk direkrut oleh hotel itu sendiri,” kata Kurnia.
Apa sebenarnya keunggulan SMK dan universitas perhotelan dibandingkan sekolah umum lainnya? Pertama adalah materi pengajaran yang lebih mengarah ke keterampilan praktik (practical skill). Setiap siswa atau mahasiswa diajarkan materi pelajaran seperti house keeping,food & beverage, kitchen, table manner, beauty class, dan sebagainya.Semua pelajaran ini disebut pelajaran produktif. Selain itu,mereka juga dituntut untuk menguasai bahasa asing. Untuk menguasai kemampuan ini,bobot materi pengajaran bahasa asing khususnya Inggris memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan sekolah menengah kebanyakan.
”Sebagai seseorang yang akan terjun ke dunia pariwisata, tentu mereka akan banyak bertemu tamu dari berbagai negara. Karenanya, bahasa merupakan aspek vital bagi para praktisi hotel ini,” kata Kepala Sekolah Kurnia Afrianto Prakoso. Faktor kedua yang membuat gengsi sekolah perhotelan tinggi adalah fasilitas sekolah layaknya hotel mewah. SMK Jaya Wisata,yang juga pusat ICT Center untuk wilayah Jakarta Timur ini,bahkan mempunyai fasilitas yang lengkap.
Ada laboratorium komputer, ruang lobi hotel atau front office, ruang dapur, restoran, serta ruang housekeeping. ”Ini semua bertujuan agar siswa terbiasa dengan suasana hotel dan mengetahui bagaimana mengoperasikan peralatan di dalamnya. Seperti simulasi,”kata Kurnia. SMK Jawis yang memiliki luas 4,3 hektare ini dilengkapi pula dengan penginapan, restoran, dan jasa travel sendiri di lingkungan sekolahnya. ”Tingkat okupansi penginapan di sekolah kami sekitar 80%.Yang menjadi pekerja tentu siswa kami sendiri.
Jadi selama masih sekolah,mereka sudah terjun langsung ke dunia perhotelan yang sebenarnya,”tutur Armedi. Kedua SMK tersebut juga melengkapi fasilitasnya dengan sistem komputerisasi perhotelan yang digunakan oleh hotel-hotel berbintang di kota besar,yakni Micros-Fidelio. Sementara itu di tingkat D-3 dan D-4,mahasiswa diberikan modal pengetahuan dan keterampilan yang siap berkembang dan mengarah pada kemampuan manajerial.
Hal ini dibenarkan oleh rektor Universitas Sahid Jakarta Hidayat Syarief. Menurutnya, lulusan STP Sahid Jurusan Perhotelan yang berlokasi diarahkan untuk menjadi pekerja eksekutif di lingkungan perhotelan.” Mereka dididik untuk menjadi tenaga profesional sebagai manajer atau supervisor yang mengetahui dan paham standard operating procedure (SOP) perhotelan,”kata Hidayat. Menurut Dea Prasetyawati, STP memang merupakan penerusan dari SMK perhotelan.
Materi yang diberikan pada tingkat pertama tidak jauh berbeda dengan materi yang diajarkan di SMK.Namun, tingkat tersebut difokuskan untuk pengajaran full operational. Fasilitas yang tersedia juga sama dengan di SMK, yakni ruang praktik lengkap dari berbagai submata kuliah yang meliputi ruang di seluruh bagian hotel.Pengajarnya pun datang dari kalangan praktisi perhotelan dan akademisi.
Untuk program D-4 STP Trisakti menawarkan program kelas internasional, bekerja sama dengan universitas di luar negeri,yakni universitas di Swiss dan Kanada. ”Jadi tiga tahun di STP dan setahun di Swiss, nantinya lulusan memperoleh tiga gelar, yakni gelar sarjana sains terapan dari STP dan bachelor’s degree dari kedua universitas itu,” papar Dea.(sri noviarni/MG-18)


Biaya Mahal Dampak Setimpal
Sabtu, 08/03/2008

Biaya kuliah perhotelan termasuk tidak murah.Namun,minat para siswa melanjutkan kuliah perhotelan justru sangat tinggi.Mengapa? Martina Rizki,17,yang akrab disapa Kiki, saat ini sekolah kelas XII SMK Jaya Wisata (Jawis) 2.
Meski telah mengeluarkan banyak uang,Kiki mengaku pilihannya bersekolah di Jawis bukan suatu hal yang salah. ”Sekolah di Jawis beda sama di SMA yang enggak dapat skill apa-apa, lagian kalau sekolah di SMA harus kuliah lagi,” tutur Kiki, panggilan akrabnya. Kiki sendiri mengaku belajar di sekolah pariwisata memang membutuhkan biaya. Untungnya,keluarga Kiki sangat mendukung pilihan ini. Sebab, apa yang dia terima selama sekolah di Jawis justru bisa membantu perekonomian keluarganya.
”Sewaktu menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di Shangri-La Rasa Sayang Resort & Spa,Malaysia,saya bisa mendapatkan gaji yang lumayan,” kata Kiki sumringah. Senada dengan Kiki, Kartika Rusmiyati, 17, mengaku uang saku yang dia terima dan b a h a s a Inggris yang lancar sangat sepadan dengan biaya pendidikan. ”Jadinya, kalau ketemu orang asing, saya tidak ragu atau merasa takut untuk memulai percakapan lagi. Saya juga dapat uang saku sebesar Rp800.000 setiap bulan,”katanya.
Memilih jurusan perhotelan memang telah direncanakan bagi sebagian mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (NHI). Sebut saja Bisma Argia Nugraha Nasution, 20, dan Adji Pratama,22. Mereka tak merasa keberatan dengan biaya pendidikan pada awal masuk sekitar Rp7 juta.Mereka beranggapan mungkin itulah yang harus d i ke l u - a rkan j i k a menginginkan kualitas pendidikan yang baik.
”Yang pentingkan hasilnya setelah lulus karena lulusan NHI sangat dicari oleh hotel-hotel berbintang lima di seluruh Indonesia,” kata Bisma. Menurut Bisma, lulusan NHI memang lebih cepat mendapat pekerjaan dibandingkan lulusan sekolah tinggi perhotelan lainnya. ”Bidang pekerjaannya jelas, jadi gampang mau kerja di mana,” kata Bisma yang setahun lalu telah menyelesaikan PKL di Berjaya Hills Hotel & Resort,Malaysia. Bisma mengatakan, keunggulan NHI salah satunya terletak pada food & beverage management.Dia sendiri sangat berharap setelah lulus bisa menjadi seorang general manager (GM) di salah satu hotel berbintang lima.
”Inginnya sih langsung dapat kerja, ya kalau bisa setingkat manajerlah,” harap alumnus SMA 1 Cibinong ini. Tak beda dengan Bisma, Adji mengakui kelebihan NHI dari sekolah tinggi pariwisata lainnya. ”Kuliah di NHI tuh disiplin, satu kelas hanya 20 mahasiswa, fasilitas untuk praktikum memadai, linkuntuk kerja di luar negeri pun banyak,” tuturnya. Tak hanya itu, Adji pun merasakan kebanggaan tersendiri saat menggunakan seragam NHI.”Saya merasa penampilan saya jadi beda saja saat memakai jas kuning gading dan celana krem muda,”tutur Adji yang sangat berminat pada room division management.
Adji yang tahun lalu menyelesaikan PKL di Hotel Shangri-La Jakarta ini mengaku sangat didukung orangtua untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi yang berada di daerah Setiabudi,Bandung ini. ”Masuk ke NHI juga karena orangtua yang menekuni bisnis perhotelan,” kata mahasiswa asal Jakarta ini. Selain menyukai bidang jurusan yang ditekuninya, Adji mengaku bekerja di bidang perhotelan adalah cita-citanya. ”Di NHI, saya belajar banyak hal tentang perhotelan, pergaulan, dan ilmu saya semakin luas.
Nantinya peluang kerja di dunia ini lebih banyak daripada bidang lainnya,” kata Adji. Pengajaran bersistem paket selama tiga tahun di NHI, menurut Adji, sangat memudahkan. ”Saya merasa nyamannyaman saja dengan sistem paket walaupun enggak bisa ngulang kalau nilai mata kuliah turun.Namun,kami bisa melakukan her saat itu juga, di sini juga enggak ada SP (semester pendek),”katanya. (sri noviarni/MG-18)


Kesempatan”Terbang”ke Luar Negeri
Sabtu, 08/03/2008

SELAIN fasilitas layaknya hotel dan proses belajar mengajar yang mengarah pada keterampilan, ada satu hal yang sulit ditolak jika bersekolah di perhotelan, yakni magang di luar negeri.
Program ini dikenal dengan sebutan On the Job Training. Tujuan program ini adalah melatih kemandirian siswa di negeri orang. Biasanya, praktik kerja lapangan ini dilakukan saat siswa berada di kelas dua. Biasanya negara yang dituju bagi para siswa SMK adalah Malaysia dan Singapura. Di sana mereka akan menjalani magang selama kurang lebih enam bulan.
”Program ini bekerja sama dengan hotel-hotel berbintang seperti Hotel Century Malaka, Pan Pacific, dan Shangri-La di Malaysia dan Singapura,” kata kepala sekolah SMK Jaya Wisata (Jawis) Kurnia Afrianto Prakoso. Hal yang sama dilakukan SMKN 57 yang selalu memberangkatkan para siswanya setiap tahun. ”Waktu magang itu siswa kami akan ditempatkan pada posisi yang berbeda. Ada di front office, laundry, waitress, dan sebagainya,” kata kepala sekolah SMKN 57 Armedi.
Hanya dengan membayar biaya tidak sampai Rp3 juta, para siswa kedua SMK ini sudah bisa bekerja dengan tenang di kedua negara tersebut. Nantinya di sana masalah penginapan, makan, serta kebutuhan lainnya akan ditanggung hotel yang bersangkutan. ”Mereka juga akan menerima uang saku dari pihak hotel sebesar 300 ringgit,” kata Armedi. Berbeda dengan SMK, STP justru mempunyai pilihan negara magang yang lebih variatif. Tidak hanya Asia, mereka juga bisa sampai ke Eropa.
Setiap tahun STP Trisakti juga memberangkatkan mahasiswanya ke Belanda, bekerja sama dengan Hotel Golden Tulip di negeri kincir angin tersebut. Program On the Job Training memakan waktu selama satu tahun dengan biaya sekitar Rp11 juta. Sedangkan untuk magang di hotel kawasan Asia, pihak sekolah mengenakan biaya sebesar Rp7 juta. Di hotel tersebut, mereka juga akan diberi fasilitas penginapan dan lainnya. ”Ditambah uang saku sebesar 500 ringgit bagi mahasiswa yang magang di Malaysia dan 400 euro bagi yang magang di Belanda,” kata Head of Training Department STP Trisakti Dea Prasetyawati.
Tidak sembarang siswa yang bisa berangkat ke Belanda. Mereka terlebih dahulu harus menjalani tes. Di antaranya tes bahasa Inggris yang berupa percakapan juga interview. Biasanya para siswa SMK ataupun STP yang magang di luar negeri ini banyak dilirik oleh pihak pengelola hotel untuk diangkat menjadi pegawai tetap. (sri noviarni/MG-18)

Jumat, 07 Maret 2008

Tulisan_3 @ SINDO

Sensasi Cokelat Premium
Kamis, 06/03/2008

PERNAH mencoba cokelat seharga Rp2juta? Gerai Patchi menjual cokelat dengan harga fantastis itu.Ada beragam cokelat berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Uniknya, meski harganya selangit, para penggemar cokelat justru tidak mempermasalahkan harga sebesar itu.Buktinya,ketika dibuka di Pacific Place, Sudirman SCBD, Selasa (4/3) sore lalu,toko cokelat ini langsung diserbu para sosialita. Bahkan, selebriti terkenal seperti Wulan Guritno pun ikut menyambangi toko cokelat ini. Annie Massewa, termasuk salah satu sosialita yang terlihat sibuk memilih cokelat Patchi. Kepada SINDO, Annie mengatakan, pertama kali perkenalannya dengan gerai cokelat yang berdiri sejak tahun 1974 di Hamra-Beirut ini ketika bepergian ke luar negeri.
Saat mencoba,dia pun langsung menyukai rasa cokelat yang menurutnya pas, tidak terlalu manis,juga tidak terlalu pahit.Akhirnya, setiap pergi ke luar negeri misalnya ke Eropa dan Timur Tengah, Annie tidak pernah lupa membawa cokelat Patchi sebagai buah tangan bagi kerabatnya. “Soalnya, cokelat itu merupakan oleh-oleh yang tidak pernah ditolak, apalagi cokelatnya mahal,” kata wanita yang bekerja di bidang ritel ini. Makanya, ketika dia tahu Patchi memperluas ekspansinya hingga ke Indonesia, yang berlokasi di Pondok Indah Mall dan Pacific Place, frekuensi Annie menyambangi gerai toko cokelat ini makin intens.
“Setiap ke mal, pasti pulang tidak pernah dengan tangan kosong, selalu beli cokelat,” tutur wanita ramah ini. Pendapat yang dilontarkan Annie diakui pula oleh Errina Widajaja, 32, dan Joy Roesma, 29. Kedua wanita ini mengaku menjadi penggemar berat Patchi sejak gerainya buka pertama kali di Pondok Indah. Mereka tidak pernah lupa membeli cokelat untuk keluarga di rumah. Berbeda dengan mereka, chocoholic Jessica Nathalie, 27, justru mengenal Patchi sewaktu berada di negeri jiran, Malaysia.
Menurut Jessica,yang membuat istimewa gerai cokelat yang telah memiliki 31 cabang yang tersebar di hampir seluruh negara ini adalah rasa cokelatnya tidak menimbulkan enek.“Beda dengan cokelat lain yang pernah saya makan,”kata wanita lajang yang doyan cokelat berisi kacang ini.
Menurut Jok, cokelat yang disediakan di Patchi memiliki rasa yang beraneka ragam sehingga pembeli bebas memilih sesuai seleranya.”Apalagi di sini ada cokelat yang bebas gula (sugar free), cocok bagi orang yang lagi diet dan enggak suka gula,” ujar Joy yang gemar traveling ini. Pendapat Jessica diamini Tya, 25, yang menganggap kualitas rasa cokelat yang ditawarkan Patchi berbeda dengan cokelat lain. Soal harga yang mahal? Annie,Joy, Jessica,Errina,dan Tya mengaku tidak mempermasalahkan.
Menurut mereka, yang penting cokelat dengan kemasan indah itu bisa dibawa pulang. Annie sendiri tidak main-main dalam membeli cokelat Patchi. Dia malah mengaku untuk kegiatan seharihari sering mengeluarkan uang sebesar Rp300.000-Rp500.000 hanya untuk membeli cokelat. Sementara itu Joy, Errina, dan Tya mematok pengeluaran untuk membeli cokelat berkisar antara Rp150.000- Rp200.000.
Lain lagi dengan Jessica yang biasa membeli cokelat Patchi di KualaLumpur denganharga1.000Ringgit atau senilai hampir Rp3 juta.“Dulu sengaja saya beli banyak supaya enggak bolak-balik ke KL, bisa repot kalau kehabisan stok. Jadi enggak masalah ngabisin uangsebanyak itu,”tandasnya.
Kenapa Bisa Mahal?
Regional Franchise Manager Patchi for East & Asia Sihan Mitri mengatakan, gerai ini punya alasan khusus kenapa Patchi membuka gerai di Indonesia. Menurut dia,masyarakat Indonesia sudah seperti masyarakat dunia lainnya yang menjadikan cokelat sebagai camilan favorit mereka.
”Cokelat kami berbeda karena kami menyediakan beraneka rasa, ada milk dan dark chocolate dengan isi kacang, hazelnut, karamel, dan lainlain, dengan harga yang beragam,” katanya. Selain berbeda rasa, tentu harganya juga berbeda. Lalu, kenapa bisa sangat mahal? Koleksi cokelat Patchi memang bukan sembarang cokelat. Patchi merupakan cokelat premium yang bahkan bisa disejajarkan dengan merek kenamaan semacam Sevres, Baccarat,Bvlgari,Dior,dan Rosenthal. Menurut Sihan,bahan-bahan cokelat Patchi semuanya berasal dari segenap penjuru dunia.
Seperti kacang yang berasal dari Turki, sedangkan cokelatnya sendiri didatangkan dari Afrika.“Bahan-bahan dengan kualitas nomor satu itu, lalu diramu di pabrik PatchiyangberadadiBeirut,Lebanon,” kata Sihan. Sihan menuturkan, cokelat Patchi merupakan buatan tangan sehingga dikerjakan dengan penuh detail dan dengan cita rasa yang tinggi.Tidak heran cokelat yang dijual di Patchi dibanderol mencapai jutaan rupiah.
Selain bahan,yang bisa dianggap istimewa dari Patchi adalah kemasannya yang istimewa. Di Patchi, cokelat bisa dihiasi dengan taburan kristal swarovski, perak,dan keramik eklektik yang ditata secara apik dalam wadah pecah belah yang unik dari merek ternama. Sebut saja Murano, Sevres, Rosenthal, Baccarat, dan Christofle.
“Kami membungkusnya dengan kemasan yang unik yang bisa disesuaikan dengan budget pelanggan dan sesuai dengan keinginan mereka. Jadi, benar-benar customer oriented,” kata Sihan. Di samping aksesori tersebut, Patchi juga mengemas cokelatnya dengan dekorasi unik yang bisa disesuaikan dengan event-nya. Jadi, yang membuat mahal memang kemasannya. (sri noviarni/MG-18)

Cokelat untuk Semua Kegiatan
KINI cokelat bukan lagi merupakan camilan istimewa yang dimakan atau diberikan kepada seseorang pada saat-saat tertentu.
Sekarang cokelat bagaikan sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak dipisahkan dari gaya hidup para chocoholic. “Bagi saya, cokelat sangat spesial dan menjadi must have item yang ada di rumah karena saya makan cokelat hampir setiap hari,” kata Jessica. Bagi Jessica, kudapan ini sama sekali tidak pernah absen di rumahnya.
Menurut wanita yang tinggal di apartemen yang berada di bilangan Sudirman ini, sebelum Patchi ada di Jakarta, dia selalu membeli cokelat tersebut dengan jumlah banyak di luar negeri seperti di Malaysia dan Australia. Jessica membeli banyak bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk teman-temannya yang kerap berkunjung ke apartemennya. ”Tamu yang datang saya suguhin cokelat itu, dan ternyata mereka senang juga dengan rasa cokelatnya,” ujar wanita yang hobi fitness ini.
Senada dengan Annie yang kerap mengadakan arisan di rumahnya. Terkadang dia bingung kudapan seperti apa yang sesuai disediakan bagi para tamu. ”Akhirnya saya berikan cokelat, untungnya mereka doyan. Makanya, saya selalu sedia cokelat setiap arisan,” kata Annie. Kegunaan cokelat tidak hanya di situ. Errina malah selalu menjadikan cokelat sebagai hadiah yang pas untuk special event yang dirayakan bersama keluarga. ”Cokelat itu kado yang pas untuk ulang tahun dan sebagai bingkisan Natal.
Pada hari Natal saya sering memberi cokelat yang saya bungkus rapi untuk keluarga dan teman,” papar wanita yang suka almond dan hazelnut chocolate ini. Lain lagi dengan Errina yang acap kali mencari cokelat sebagai penawar rasa pedas sehabis makan. Errina yang memfavoritkan cokeat yang mengandung sampanye ini juga selalu mengonsumsi cokelat sebelum mengalami siklus bulanan wanita.
“Kalau mau datang bulan, mood suka enggak stabil, makan cokelat bisa membuat mood menjadi enak dan menjadi rileks,” tutur wanita yang berdomisili di Pasar Minggu ini. Berbeda dengan Joy yang tidak akan menyentuh cokelat pada hari kerja. Dia hanya bisa tersenyum pada milk chocolate kesukaannya pada akhir pekan. Pada waktu tersebut dia dapat makan cokelat kegemaran sepuasnya. ”Kalau makan cokelat setiap hari, pasti akan berpengaruh pada berat badan saya,” ujarnya.(sri noviarni/MG-18)

Selasa, 04 Maret 2008

Tulisan_2 @ Sindo

Bekerja demi Adrenalin
Rabu, 05/03/2008

SEMUA orang bisa bekerja dalam tekanan.Namun, tidak semua bisa bekerja dalam kondisi yang membahayakan. Nyatanya,sebagian orang menyukai,bahkan ketagihan dengan pekerjaan yang berisiko tinggi. Bekerja dalam kondisi aman dan nyaman adalah pilihan hampir setiap orang.Namun, hal itu tidak berlaku bagi Capt Indra Septiadi, pilot pesawat terbang komersial.
Pria kelahiran 6 September 1974 ini mengaku sangat menikmati profesinya sebagai penerbang. Pengalaman terbang selama 15 tahun, bagi Adi—sapaan akrabnya—, menjadi sebuah cerita hidup yang sangat berarti. Tak sekadar menikmati perjalanan,dia harus selalu siap dengan bahaya yang mengancam. Tidak untuk dirinya sendiri, juga keselamatan para penumpang. ”Jadi, pilot memang harus siap dengan kejutan-kejutan. Anehnya, saya merasa adrenalin ini memuncak ketika menemui masalah di tengahtengah perjalanan,”kata sang kapten yang tergabung di maskapai Trigana Air Service.
Adi melanjutkan, kondisi kerja di dalam pesawat memang berbeda dengan pekerjaan lainnya.Menurut dia, setiap waktu situasi yang dihadapi pilot selalu berbeda. ”Every second is changing, setiap detik dalam perjalanan situasinya berbeda. Karena itu, saya harus siap mencegah segala kemungkinan buruk. Jadi, seorang pilot itu harus profesional, punya disiplin,dan awareness yang tinggi saat bekerja,”katanya. Salah satu peristiwa yang tidak pernah dilupakan Adi yakni saat gagal melakukan take off di Papua. ”Pesawat saya tergelincir. Untung bisa segera distabilkan.Maklum,landasan di Papua sangat minim dengan standar keselamatan,”ucap Adi.
Adi bukan satu-satunya orang yang sering menghadapi risiko kehilangan nyawa ketika bekerja. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid juga merasakan hal sama. Sibuk sebagai aktivis, pria kelahiran 6 Mei 1972 ini mengaku sering mengalami banyak peristiwa yang tidak mengenakkan.Ancaman teror, baik yang langsung maupun tidak langsung sudah sering dia terima.
”Saya pernah dibuntuti mobil yang ingin menabrak saya. Untungnya, saya berhasil menghindar. Semua ancaman itu sudah jadi makanan seharihari. Saya anggap angin lalu saja,” papar pria yang menjadi aktivis sejak peristiwa penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti) pada insiden berdarah 12 Mei 1998 ini Bukannya tidak sadar dengan bahaya yang dihadapi setiap hari, tapi Usman memang sudah telanjur cinta dengan pekerjaannya.Dia malah merasa tidak berguna jika hanya diam menyaksikan segala ketidakadilan yang terjadi di depan matanya.
”Setidaknya jika pun saya nanti mati dalam bekerja,saya mati dengan membela sesuatu yang saya yakini kebenarannya,”tandas mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Usakti ini mantap. Menghadapi berbagai ancaman yang ditujukan kepadanya, Usman mencoba menyikapinya dengan kepala dingin dan kesabaran.Menurut dia, dalam menjalani profesinya ini, hatilah yang paling berperan. Sebab, setiap hari dia selalu bersentuhan dengan penderitaan orang-orang yang anggota keluarganya hilang.
Walau sudah menganggap marabahaya sebagai sesuatu hal yang biasa, bukan lantas Usman hanya berdiam diri.Dia mengaku lebih waspada dalam setiap aktivitas yang dilakukan. ”Saya menajamkan insting ke mana pun pergi, terlebih lagi di tempat sepi. Jadi lebih ekstrahati-hati,” ungkap mantan sekretaris Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM Trisakti dan Semanggi ini.
Risiko tinggi bukan hanya terjadi di kancah perpolitikan,dunia hiburan dan olahraga juga tak lepas dari risiko semacam ini.San Moon,stuntmandan praktisi ninjutsu, mengaku ancaman bahaya juga sering terjadi di depan kamera. San Moon mengatakan, dalam pembuatan klip video dan iklan, dia selalu diminta memperlihatkan keahlian ninja beraksi menggunakan senjata khas ninja. Namun, siapa sangka dalam pembuatan klip video maupun iklan tersebut, San Moon kerap mengalami luka-luka, bahkan dapat mengancam keselamatannya.
Misalnya ketika dia terlibat dalam pembuatan klip video suatu grup band. Pihak produser menginginkan San Moon dan muridnya beraksi dengan menggunakan senjata asli. Namanya syuting tentu dilalui dengan proses yang melelahkan dan terus dilakukan berulang-ulang. Karena kelelahan,San Moon tidak lagi fokus berkonsentrasi. Alhasil kening dan tapak tangannya terluka karena tergores mata pedang samurai yang terbuat dari baja. Darah pun mengucur.
”Saya tutup luka dengan ikat kepala, begitu juga pada tangan, dan kami lanjutkan syuting meski masih darah masih mengalir,” kenangnya. Meski demikian, San Moon justru mengaku tidak pernah mau meninggalkan profesinya itu.Alasannya, sudah kadung cinta. Alasan yang sama juga dikatakan pembalap Moreno Soeprapto. Kekasih bintang film Julie Estelle ini malah mengaku baru mundur dari balapan jika sudah tidak cepat lagi. ”Jadi pembalap memang berdekatan dengan bahaya, tapi itu komitmen yang sudah saya pegang.
Selama saya masih cepat dan membuktikan saya bisa menang, saya tetap di dunia ini,”katanya. Meski sudah makan asam garam di dunia balapan, Moreno yang mengawali kariernya sejak 14 tahun lalu, mengaku tetap merasa deg-degan tiap kali memulai balapan. ”Saya merasa waswas aja, takut terjadi sesuatu, misalnya mesin rusak atau takut nanti ditabrak dari belakang,” cerita adik kandung Ananda Mikola ini. (sri noviarni/MG-18)

Risk Taker Harus Sadar Kemampuan

MORENO pernah mengalami kecelakaan ketika balapan di Sirkuit Sentul, Jawa Barat. Kecelakaan itu menyebabkan mobilnya terbalik dan kebakaran. “Waktu itu menegangkan banget. Keluarga juga banyak yang kaget dengan peristiwa itu.
Tapi, saya sendiri tidak terlalu kaget karena ini sudah pasti akan terjadi,” katanya. Saking seringnya mengalami kecelakaan Moreno mengaku banyak orang yang mengajak dirinya mencoba profesi lain. Bagi Moreno, menjadi pembalap memang bukan semata-mata profesi turun-temurun dari keluarganya. Pria kelahiran 14 November, 25 tahun lalu, ini mengaku setiap balapan adalah hal yang menyenangkan.
Menurut psikolog Dra Clara Istiwidarum Kriswanto, orangorang yang menyukai adrenalin saat bekerja adalah hal yang wajar. Menurut dia, setiap orang mempunyai tipe dan kepribadian yang berbeda. Ada orang yang tidak menyukai tantangan dan cenderung menghindari tantangan serta sedapat mungkin bekerja dalam posisi yang membuatnya merasa nyaman. Namun, tidak sedikit pula orang yang berani mengambil dan menerima risiko pekerjaan yang dilakoninya. Tipe orang yang menyenangi segala hal yang menyerempet bahaya dan penuh tantangan cenderung menyalurkannya lewat profesi pekerjaan.
”Ini merupakan hal yang wajar. Selama dia mengetahui dengan pasti risiko yang dihadapi, serta konsekuensi yang mungkin terjadi. Baik pada diri maupun keluarganya sewaktuwaktu jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” kata Managing Partner Jagadnita Consulting ini. Clara memaparkan bahwa seseorang yang berani mengambil risiko ini atau akrab disebut risk taker harusnya sudah paham benar sejauh mana kemampuan yang dimiliki serta seluk beluk pekerjaan yang diembannya. Clara menilai, seorang risk taker juga sebaiknya bertanggung jawab pada keselamatan dirinya sendiri. (sri noviarni/MG-18)