Minggu, 23 November 2008
21 Tahun Gue
Hari itu perasaan gue seperti pelangi. Berwarna, mejikuhibiniu. Perasaan yang hanya gue rasakan satu tahun sekali. Harap2 cemas menunggu berapa banyak perhatian dari teman2 gue di tanggal 26 Oktober itu. Nyatanya, doa dan harapan yang tercipta di hari itu mampu menyihir perasaan galau yang gue rasakan sejak 2 hari sebelumnya.
Alhamdulillah, orang2 yang gue harapkan memberikan perhatian yang nilainya tak terhingga, melebihi hadiah apapun yang pernah gue terima. Ucapan hari bahagia dari keluarga, sahabat, teman dan orang yang masih gue sayang memenuhi inbox hape gue, testi FS gue dan ruang hati yang seminggu sebelumnya telah gue kosongkan.
Bait2 doa yang mereka persembahan menjadi bukti bahwa gue layak menganugerahi diri gue sendiri sebagai teman yang baik. Ternyata puluhan orang yang melantunkan doa untuk gue memang menginginkan gue hidup lebih sempurna. Terima kasih tak terhingga!!!!
Pagi hari, di hari Minggu itu, nyokap mewujudkan keinginan gue. Nasi uduk yang ditaburi ikan teri (yang kecil2 bgt, kata nyokap namanya teri nasi,hehe..) menjadi kado yang mengenyangkan untuk sarapan gue. Dan detik2 selanjutnya gue jalani dengan kehidupan apa adanya.
Di jam2 terakhir menuju 27 Oktober, gue dapet satu momen yang membahagiakan sekaligus membuat gue bertanya2, teman (cowok pastinya) yang udah hampir 2 tahun gue kenal meminta gue untuk jadi ceweknya???
Nah lho!!!!
21 tahun gue lebih spesial karena di malam berikutnya, ibu2 pengajian Al Barokah memanjatkan doa dan harapannya (khusus) untuk gue. Di tengah acara yang mengagungkan asma Allah dan Rasulullah plus penyejuk kalbu dari seorang ustadzah, gue berkeliling, berjabat tangan, mendapat ciuman pipi, mendengarkan doa dan harapan serta mengucapkan terima kasih.
Semua momen yang indah.
Akhirnya sederetan ucapan terima kasih harus tersampaikan pada Allah Swt. (Gue bersyukur atas nikmat dan kehidupan), keluarga gue (atas cinta dan kasih sayang), saudara2 gue: keluarga di Tuban, keluarga om gue yang udah membawakan gue 100 roti goreng, hehe.., sahabat gue: dshe, ayu, ika, nenk, erna, bagus, aril, ridho, ikhsan, vio, inna, sally, dan indra. Teman2 gue: andini, bang adi,dian, femmy, rizal, dmz, egi, romanisti, rizal, eki, a fadly, irda, a zq, erma, setiaji, susi, emi, erma, frantau dan semuanya (maaf ya klo gak kesebut, jangan marah!!!)
Alhamdulillah, orang2 yang gue harapkan memberikan perhatian yang nilainya tak terhingga, melebihi hadiah apapun yang pernah gue terima. Ucapan hari bahagia dari keluarga, sahabat, teman dan orang yang masih gue sayang memenuhi inbox hape gue, testi FS gue dan ruang hati yang seminggu sebelumnya telah gue kosongkan.
Bait2 doa yang mereka persembahan menjadi bukti bahwa gue layak menganugerahi diri gue sendiri sebagai teman yang baik. Ternyata puluhan orang yang melantunkan doa untuk gue memang menginginkan gue hidup lebih sempurna. Terima kasih tak terhingga!!!!
Pagi hari, di hari Minggu itu, nyokap mewujudkan keinginan gue. Nasi uduk yang ditaburi ikan teri (yang kecil2 bgt, kata nyokap namanya teri nasi,hehe..) menjadi kado yang mengenyangkan untuk sarapan gue. Dan detik2 selanjutnya gue jalani dengan kehidupan apa adanya.
Di jam2 terakhir menuju 27 Oktober, gue dapet satu momen yang membahagiakan sekaligus membuat gue bertanya2, teman (cowok pastinya) yang udah hampir 2 tahun gue kenal meminta gue untuk jadi ceweknya???
Nah lho!!!!
21 tahun gue lebih spesial karena di malam berikutnya, ibu2 pengajian Al Barokah memanjatkan doa dan harapannya (khusus) untuk gue. Di tengah acara yang mengagungkan asma Allah dan Rasulullah plus penyejuk kalbu dari seorang ustadzah, gue berkeliling, berjabat tangan, mendapat ciuman pipi, mendengarkan doa dan harapan serta mengucapkan terima kasih.
Semua momen yang indah.
Akhirnya sederetan ucapan terima kasih harus tersampaikan pada Allah Swt. (Gue bersyukur atas nikmat dan kehidupan), keluarga gue (atas cinta dan kasih sayang), saudara2 gue: keluarga di Tuban, keluarga om gue yang udah membawakan gue 100 roti goreng, hehe.., sahabat gue: dshe, ayu, ika, nenk, erna, bagus, aril, ridho, ikhsan, vio, inna, sally, dan indra. Teman2 gue: andini, bang adi,dian, femmy, rizal, dmz, egi, romanisti, rizal, eki, a fadly, irda, a zq, erma, setiaji, susi, emi, erma, frantau dan semuanya (maaf ya klo gak kesebut, jangan marah!!!)
Senin, 20 Oktober 2008
“Kado Terindah”

Inilah akhir dari episode cinta satelit gue. Sebuah akhir yang nggak pernah terduga. Nggak nyangka gue akan dapet kado yang paling indah di 9 hari sebelum ultah gue yang ke-21 tahun. Perasaan dari 3 tahun lalu itu harus runtuh seketika, waktu gue tau ada pihak yang merasa gak nyaman dengan keberadaan seorang Fadlya El’arsya. Gue pikir selama ini fine2 aza, gue ngerasa gak ada masalah yang bisa memaksa hubungan gue hancur berkeping2, gak ada perasaan yang tersisa, kecuali perasaan dilecehkan sebagai seorang perempuan. Ternyata selama 1 tahun terakhir ini gue cuma jadi pemuas nafsu seorang budak setan.
Anjriiiiiiittttt!!!!
Gue emang bego dalam urusan hati.
Gue emang tolol untuk masalah perasaan.
Sebelum hal ini terjadi, 1 bulan sebelumnya gue emang udah menyiapkan perasaan patah hati. Tapi di hari itu, bom waktu benar2 meledakkan sebuah realita pahit yang justru menjadi ‘kado terindah’ untuk gue. Indah, karena jika diteruskan nantinya bisa menyebabkan dua hati terluka terlalu dalam.
Indah, kerena gak ada kata2 lain yang bisa menggambarkan betapa kado itu indah di hari yang indah dari orang yang sudah melantunkan doa2 indah. Akhirnya seseorang yang sudah merangkaikan hal2 indah dalam hidup gue itu harus menjadi kenangan paling indah sepanjang nafas gue.
Indah, karena tanpa seseorang itu, gue gak bisa membuktikan kepada dunia kalo gue seorang perempuan yang bisa dicintai. Bersama seseorang itu gue juga bisa membebaskan perasaan gue dari belenggu kasih tak sampai.
Gak seharusnya gue nangis dengan perasaan sedih berlarut2. Dan itu terbukti saat gue mendapatkan energi positif dari keluarga dan sahabat2 gue. Terlalu banyak orang yang kecewa kalo sampai gue menepikan logika karena putus cinta. Gak sedikit orang yang menyayangkan keadaan gue kalo gue sampai hancur dan gak punya semangat hidup lebih baik.
Kado terindah itu menjadi satu momen kebangkitan seorang Fadlya El’Arsya. Gue lahir sebagai seseorang yang lebih selektif dalam memilih tujuan hidup. Gue harus tegar, setidaknya untuk tetap menguatkan hati agar gue bisa hidup lebih sempurna, hari ini, besok, lusa, dan hari2 seterusnya dimana nafas gue masih mengalir dalam peredaran darah gue.
It’s over.
Rabu, 09 Juli 2008
Juli oh Juli!!!
MARAH, KESEL, KECEWA tapi TETAP DIAM!!!
KAdang gue ngerasa kalo dunia itu gak pernah berpihak sama gue, banyak hal yang bikin gue marah, kesel n kecewa tapi gue tetep diem..Tapi kata orang bijak, menahan amarah berarti orang hebat..Yee..berari gue hebat dunk!!! Semoga semua yang gue pendam di hati nggak jadi penyakit hati. Amin.
Tetep ngerasa JOBLESS
Kalo TA gue blom selesai gue gak akan memikirkan kerja. Sekarang gue cuma berharap gue yang ngerasa pengangguran ini ngerasa berarti buat orang2 yang ada di sekitar gue, keluarga gue, temen2 gue n siapa pun!!!
diPUTUSIN
Ini dia nih, hal yang paling bikin gue ngerasa LEGA, akhirnya dia yang mutusin gue. Gue gak sedih, cuma sedikit bingung harus bersikap apa sama mantan pacar gue itu, soalnya klo pake perasaan gue masih sayang tapi gue pengen ngasih dia pelajaran. gue juga bingung klo dia udah natap gue dt tatapan yg gak biasa, saat dia bilang "kita jadian lagi yuk??, saat dia cium kepala gue, saat dia....ahhhhhh!!!!!
KAdang gue ngerasa kalo dunia itu gak pernah berpihak sama gue, banyak hal yang bikin gue marah, kesel n kecewa tapi gue tetep diem..Tapi kata orang bijak, menahan amarah berarti orang hebat..Yee..berari gue hebat dunk!!! Semoga semua yang gue pendam di hati nggak jadi penyakit hati. Amin.
Tetep ngerasa JOBLESS
Kalo TA gue blom selesai gue gak akan memikirkan kerja. Sekarang gue cuma berharap gue yang ngerasa pengangguran ini ngerasa berarti buat orang2 yang ada di sekitar gue, keluarga gue, temen2 gue n siapa pun!!!
diPUTUSIN
Ini dia nih, hal yang paling bikin gue ngerasa LEGA, akhirnya dia yang mutusin gue. Gue gak sedih, cuma sedikit bingung harus bersikap apa sama mantan pacar gue itu, soalnya klo pake perasaan gue masih sayang tapi gue pengen ngasih dia pelajaran. gue juga bingung klo dia udah natap gue dt tatapan yg gak biasa, saat dia bilang "kita jadian lagi yuk??, saat dia cium kepala gue, saat dia....ahhhhhh!!!!!
Sabtu, 24 Mei 2008
Curhat Ahh...

Uhhhhh...sebel!!!! benci bgt sama hari2 after magang di Sindo...
gue ngerasa hidup gue gak jelaz...
gue ngerasa rencana2 gue gatot alias gagal total.
I'm jobless...
Jadi penggangguran tanpa banyak acara...
Coba lo pikir dunk. 4 orang tmn gue yg sepembimbingan
pada di coret2 draft laporannya, sementara gue, (mungkin) dibaca juga nggak...
dibilang baik2 aja n harus ngasih draft yg bnr2 jadi hari selasa....
GUE SEMAKIN MEMBENCI BULAN MEI!!!!!!
Sabtu, 03 Mei 2008
Gerbang Catwalk
Friday, 02 May 2008
JANGAN mengira mudah jadi seorang model.Wajah tanpa cela dan jalan yang sempurna,bukan datang begitu saja.Mereka mempelajarinya di sekolah modeling. Banyak wanita bahkan pria bermimpi menjadi model terkenal. Asalkan memenuhi persyaratan dan bersikap profesional mengemban tugas,peluang menjadi model sukses semakin terbuka lebar. Apalagi dunia mode Indonesia semakin berkibar.
Permintaan akan para peragawati maupun peragawan oleh rumah mode ternama, maupun jadi model untuk sampul media cetak hingga membintangi iklan atau film, sudah semakin banyak. Namun, jangan kira semudah itu untuk menjadi model sukses.Wajah tanpa cela dan cara jalan yang sempurna para model tersebut, bukan datang begitu saja.
Mereka mempelajari berbagai teknik khusus seperti cara ber-make up dan berpose di depan kamera sehingga hasilnya tampak sempurna. Ayu Dewi salah seorang model profesional mengatakan, cara berpenampilan di depan umum, termasuk etiket, merupakan hal seumur hidup yang harus dipelajari dan dipraktikkan.
Wanita kelahiran 7 September 1984 ini mengaku sejak kecil memang gemar menjadi pusat perhatian. Ayu pun sering mendapat tawaran pemotretan dari berbagai majalah. Agar bakatnya semakin terasah, dia lantas memutuskan untuk mendalami ilmu modeling di John Casablanca (JC) milik Elite Model Look, di kawasan Barito.
”Saya tipe orang yang enggak bisa autodidak, makanya ikut sekolah modeling supaya lebih mantap berkarier di modeling,” tutur alumnus London School Jurusan Marketing Komunikasi ini. Ayu mengaku banyak hal yang dipelajarinya selama tiga bulan di JC tingkat basic.
Mulai make up, cara jalan,memilih dan mengenakan pakaian, cara berpose, bagaimana menonjolkan ekspresi yang kuat dan masih banyak lagi harus ia pelajari. Sayangnya, Ayu tidak meneruskan melanjutkan pendidikan modelingnya ke jenjang advance. ”Soalnya, advance fokusnya untuk menjadi runway model,sedangkan tinggi saya cuma 170 cm jadi enggak masuk kualifikasi.
Makanya saya milih menjadi model untuk pemotretan saja,”tutur Ayu. Kendati demikian,Ayu tidak berkecil hati. Pihak JC menyadari Ayu memiliki potensi tinggi, mereka pun menyalurkan Ayu agar bakatnya tidak sia-sia.Terbukti! Berkat kerja keras, loyalitas dan disiplin ketat, Ayu tinggal menuai jerih payahnya selama ini.
Banyak tawaran pemotretan, bintang iklan, hingga menjadi presenter berdatangan padanya. Dara yang kini berprofesi sebagai presenter tayangan olahraga ini mengaku, menimba ilmu di sekolah modeling membuka jalan untuk meraih impiannya. Senada dengan pendapat Laura Basuki, lulusan OQ Modelling School.
Menurut peraih gelar Shining Model of The Year versi majalah A+ ini, sekolah modeling yang ditujunya merupakan jembatan emas yang menghubungkan impiannya menjadi kenyataan. Bagaimana tidak, lewat agensi model milik OQ Modelling School, dia bisa berlenggak-lenggok di atas catwalk membawakan rancangan desainer kenamaan hingga melanglang buana ke luar negeri.
”Waktu itu, saya dapat tawaran kontrak 1 tahun dari OQ, dari situ baru banyak tawaran yang datang,” tutur mahasiswi Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Atma Jaya ini. Hal ini dibenarkan Marketing & Promosi OQ Modelling Nila.Menurut Nila, menyalurkan para model yang berpotensi ini memang menjadi komitmen OQ Modelling.
”Nantinya kalau mereka lulus dengan baik, peluang dilirik oleh agensi semakin besar,” papar Nila. Sama halnya di Lembaga Pendidikan Ratih Sanggarwati (LPRS) pimpinan Ratih Sang dan Look Models yang didirikan oleh model senior Lulu Dewayanti. Menurut manajer Look Models Ana Aka, menjadi model bukan perkara yang mudah.
Selain cantik,calon model pun harus memiliki style yang khas yang dapat mencirikan dirinya ketika beraksi di panggung. ”Bagi mereka, yang sudah memiliki itu, biasanya kamiakanmemolesnya agar lebih baik lagi,”katanya. Nah di sinilah letak sekolah modeling berperan.
Baik Ratih, Nila maupun Anna menilai, sekolah modeling dapat dijadikan bekal bagi seseorang yang benar-benar ingin menggeluti dunia model. Bahkan, Ratih Sang menyarankan para model untuk mengikuti sekolah model sebelum ia berlenggak-lenggok di catwalk. ”Biasanya,mereka yang sekolah lebih berkualitas dibandingkan yang tidak sekolah,” ujar wanita berjilbab kelahiran 8 Desember, 45 tahun silam ini. (sri noviarni/MG-18)
Friday, 02 May 2008
JANGAN mengira mudah jadi seorang model.Wajah tanpa cela dan jalan yang sempurna,bukan datang begitu saja.Mereka mempelajarinya di sekolah modeling. Banyak wanita bahkan pria bermimpi menjadi model terkenal. Asalkan memenuhi persyaratan dan bersikap profesional mengemban tugas,peluang menjadi model sukses semakin terbuka lebar. Apalagi dunia mode Indonesia semakin berkibar.
Permintaan akan para peragawati maupun peragawan oleh rumah mode ternama, maupun jadi model untuk sampul media cetak hingga membintangi iklan atau film, sudah semakin banyak. Namun, jangan kira semudah itu untuk menjadi model sukses.Wajah tanpa cela dan cara jalan yang sempurna para model tersebut, bukan datang begitu saja.
Mereka mempelajari berbagai teknik khusus seperti cara ber-make up dan berpose di depan kamera sehingga hasilnya tampak sempurna. Ayu Dewi salah seorang model profesional mengatakan, cara berpenampilan di depan umum, termasuk etiket, merupakan hal seumur hidup yang harus dipelajari dan dipraktikkan.
Wanita kelahiran 7 September 1984 ini mengaku sejak kecil memang gemar menjadi pusat perhatian. Ayu pun sering mendapat tawaran pemotretan dari berbagai majalah. Agar bakatnya semakin terasah, dia lantas memutuskan untuk mendalami ilmu modeling di John Casablanca (JC) milik Elite Model Look, di kawasan Barito.
”Saya tipe orang yang enggak bisa autodidak, makanya ikut sekolah modeling supaya lebih mantap berkarier di modeling,” tutur alumnus London School Jurusan Marketing Komunikasi ini. Ayu mengaku banyak hal yang dipelajarinya selama tiga bulan di JC tingkat basic.
Mulai make up, cara jalan,memilih dan mengenakan pakaian, cara berpose, bagaimana menonjolkan ekspresi yang kuat dan masih banyak lagi harus ia pelajari. Sayangnya, Ayu tidak meneruskan melanjutkan pendidikan modelingnya ke jenjang advance. ”Soalnya, advance fokusnya untuk menjadi runway model,sedangkan tinggi saya cuma 170 cm jadi enggak masuk kualifikasi.
Makanya saya milih menjadi model untuk pemotretan saja,”tutur Ayu. Kendati demikian,Ayu tidak berkecil hati. Pihak JC menyadari Ayu memiliki potensi tinggi, mereka pun menyalurkan Ayu agar bakatnya tidak sia-sia.Terbukti! Berkat kerja keras, loyalitas dan disiplin ketat, Ayu tinggal menuai jerih payahnya selama ini.
Banyak tawaran pemotretan, bintang iklan, hingga menjadi presenter berdatangan padanya. Dara yang kini berprofesi sebagai presenter tayangan olahraga ini mengaku, menimba ilmu di sekolah modeling membuka jalan untuk meraih impiannya. Senada dengan pendapat Laura Basuki, lulusan OQ Modelling School.
Menurut peraih gelar Shining Model of The Year versi majalah A+ ini, sekolah modeling yang ditujunya merupakan jembatan emas yang menghubungkan impiannya menjadi kenyataan. Bagaimana tidak, lewat agensi model milik OQ Modelling School, dia bisa berlenggak-lenggok di atas catwalk membawakan rancangan desainer kenamaan hingga melanglang buana ke luar negeri.
”Waktu itu, saya dapat tawaran kontrak 1 tahun dari OQ, dari situ baru banyak tawaran yang datang,” tutur mahasiswi Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Atma Jaya ini. Hal ini dibenarkan Marketing & Promosi OQ Modelling Nila.Menurut Nila, menyalurkan para model yang berpotensi ini memang menjadi komitmen OQ Modelling.
”Nantinya kalau mereka lulus dengan baik, peluang dilirik oleh agensi semakin besar,” papar Nila. Sama halnya di Lembaga Pendidikan Ratih Sanggarwati (LPRS) pimpinan Ratih Sang dan Look Models yang didirikan oleh model senior Lulu Dewayanti. Menurut manajer Look Models Ana Aka, menjadi model bukan perkara yang mudah.
Selain cantik,calon model pun harus memiliki style yang khas yang dapat mencirikan dirinya ketika beraksi di panggung. ”Bagi mereka, yang sudah memiliki itu, biasanya kamiakanmemolesnya agar lebih baik lagi,”katanya. Nah di sinilah letak sekolah modeling berperan.
Baik Ratih, Nila maupun Anna menilai, sekolah modeling dapat dijadikan bekal bagi seseorang yang benar-benar ingin menggeluti dunia model. Bahkan, Ratih Sang menyarankan para model untuk mengikuti sekolah model sebelum ia berlenggak-lenggok di catwalk. ”Biasanya,mereka yang sekolah lebih berkualitas dibandingkan yang tidak sekolah,” ujar wanita berjilbab kelahiran 8 Desember, 45 tahun silam ini. (sri noviarni/MG-18)
Jumat, 02 Mei 2008
Ah, rasanya begini toh!!!
Selama memasuki ruang redaksi Sindo, gue pun mengenal sosok2 pribadi yang lucu2 dan menyenangkan dan pasti gue rindukan...
They're..
Mas Wahyu
Orangnya baik bgt, kaya orang Jawa, padahal dia bernama belakang Sibarani. Dia yang 'secara gak langsung' ngajarin gue jadi wartawan. Tiap hari dia yang membubuhkan tanda tangan di absen gue. Baiikkk buanget!!!
Dia paling gak bisa marah. Kalo ada yang salah, paling cuma ketawa2 penuh arti gitu sambil sesekali bergumam meledek!!! Orangnya juga care n selalu bls sms gue. Klo gue pamitan, pasti ada kata2, "Hati2 ya...terimakasih atas kerjasamanya". Baiiikkk kan???
Thank buat Mas Wahyu...
Mbak Novi
Ini dia wartawan tandem gue. Orangnya baik tapi kadang2 ngeBTin n suka garing gitu.. (maaf ya mbak...jujur itu kan gak dosa, hehehe)Dari dialah gue belajar ttg teknis wawancara n berkelana di lapangan. Sabar bgt ngadepin gue yang moody.
Mbak novi tuh suka bgt ma kucing, sampe2 pacarnya ya kucing itu, hehehe...
Mbak novi suka ledekin gue ttg gaya pacaran gue ma dmz, katanya lucu!!! Walau, pada akhirnya dia keberatan coz cuma gue aja yg cerita ttg cowo, hihihi.. gue doain deh biar mbak novi jadi sm itu tuh...
Mbak novi kadang suka garing, ngasih tebak2an yg (maaf) basi ampe gue kadang ampe lupa jawabannya apa... contohnya, daun apa yang bisa dipegang, dg gampang gue pun menjawab daun touch me!!!
Ada cerita lucu deh ttg tebak2an antara gue n mbak novi...
Mbak Novi : La, pintu apa yang gak bisa didorong?
Gue : Pintu yang ada tulisannya "tarik"
Mbak Novi : Salah. pintu apa yg gak bisa ditarik?
Gue : Pintu yang didorong.
Mbak Novi : Bukan. pintu apa yg gak bisa ditarik ataupun didorong??
Gue : Apa ya Mbak???
Mbak Novi :Pintu yang digeser.
Gue : ???!!!!
Mbak novi2, lucu bgt deh... gue bakal kangen deh suasana begini.
Dibilang udah klop, gak juga sih, kadang kita bisa diem2an dlm jangka waktu yg lama..
Gue cuma belajar memahami dia, apa adanya, kurang lebihnya gue terima..
Dan, thank bgt ya Mbak Novi atas ilmu dan berbagai petuahnya..
Maaf klo diriku mengecewakanmu!!!
lagi, lagi, tu bi kontinyu yupz!!!
They're..
Mas Wahyu
Orangnya baik bgt, kaya orang Jawa, padahal dia bernama belakang Sibarani. Dia yang 'secara gak langsung' ngajarin gue jadi wartawan. Tiap hari dia yang membubuhkan tanda tangan di absen gue. Baiikkk buanget!!!
Dia paling gak bisa marah. Kalo ada yang salah, paling cuma ketawa2 penuh arti gitu sambil sesekali bergumam meledek!!! Orangnya juga care n selalu bls sms gue. Klo gue pamitan, pasti ada kata2, "Hati2 ya...terimakasih atas kerjasamanya". Baiiikkk kan???
Thank buat Mas Wahyu...
Mbak Novi
Ini dia wartawan tandem gue. Orangnya baik tapi kadang2 ngeBTin n suka garing gitu.. (maaf ya mbak...jujur itu kan gak dosa, hehehe)Dari dialah gue belajar ttg teknis wawancara n berkelana di lapangan. Sabar bgt ngadepin gue yang moody.
Mbak novi tuh suka bgt ma kucing, sampe2 pacarnya ya kucing itu, hehehe...
Mbak novi suka ledekin gue ttg gaya pacaran gue ma dmz, katanya lucu!!! Walau, pada akhirnya dia keberatan coz cuma gue aja yg cerita ttg cowo, hihihi.. gue doain deh biar mbak novi jadi sm itu tuh...
Mbak novi kadang suka garing, ngasih tebak2an yg (maaf) basi ampe gue kadang ampe lupa jawabannya apa... contohnya, daun apa yang bisa dipegang, dg gampang gue pun menjawab daun touch me!!!
Ada cerita lucu deh ttg tebak2an antara gue n mbak novi...
Mbak Novi : La, pintu apa yang gak bisa didorong?
Gue : Pintu yang ada tulisannya "tarik"
Mbak Novi : Salah. pintu apa yg gak bisa ditarik?
Gue : Pintu yang didorong.
Mbak Novi : Bukan. pintu apa yg gak bisa ditarik ataupun didorong??
Gue : Apa ya Mbak???
Mbak Novi :Pintu yang digeser.
Gue : ???!!!!
Mbak novi2, lucu bgt deh... gue bakal kangen deh suasana begini.
Dibilang udah klop, gak juga sih, kadang kita bisa diem2an dlm jangka waktu yg lama..
Gue cuma belajar memahami dia, apa adanya, kurang lebihnya gue terima..
Dan, thank bgt ya Mbak Novi atas ilmu dan berbagai petuahnya..
Maaf klo diriku mengecewakanmu!!!
lagi, lagi, tu bi kontinyu yupz!!!
Kamis, 01 Mei 2008
Rabu, 30 April 2008
Kenapa Gue Membenci Mei???
1 Mei, buruh2 diluar sana turun ke jalan...
Sementara, hati gue seperti diiris2, sakit banget..
Padahal, hari ini Nug2 tersayang, tepat berumur 1 tahun...
Sejak empat tahun yang lalu, gue membenci bulan ini...
Bulan ke-5 di kalender Masehi...
Tapi kenapa banyak "pesta" di bulan ini...
Seperti pagi ini, gue liat ribuan buruh pawai berpacu dengan waktu karena memang sekarang hari buruh...
Sebelumnya, gue ngasih ucapan ultah ke temen SMP gue...
Dan, nanti..16, 24, 28 gue harus berbuat yang sama...
Egi ultah, tepat 20 tahun...
Inna juga...
27 hari mendatang, Dimaz juga bernasib sama..
21 tahun n katanya buat cowo gue itu penting bgt...
Sementara, orang2 di sekitar gue gak pernah mau tau apa yang sebenarnya gue rasain ketika bangun tidur n ngeliat tanggal di hape...
"oh my Allah...udah bulan Mei lagi..."
Mei..mei..mei..
kenapa gue harus membenci kamu!!!
kalau saja Allah kasih,
"gue pengen tidur panjang n bangun lagi tepat di tanggal 1 Juni.."
seandainya bisa..
seandainya bisa...
Kenapa gue harus segitu PARNOnya dengan bulan setelah April, kenapa??
Adakah yang bisa menjelaskan???
Dan, tanpa ada yang tau, lagi2 gue mengawali bulan ini dengan derai airmata..
Orang yang paling gue peduliin, terlambat berkata JUJUR
Dan gue semakin terlihat TOLOL...
Sementara, hati gue seperti diiris2, sakit banget..
Padahal, hari ini Nug2 tersayang, tepat berumur 1 tahun...
Sejak empat tahun yang lalu, gue membenci bulan ini...
Bulan ke-5 di kalender Masehi...
Tapi kenapa banyak "pesta" di bulan ini...
Seperti pagi ini, gue liat ribuan buruh pawai berpacu dengan waktu karena memang sekarang hari buruh...
Sebelumnya, gue ngasih ucapan ultah ke temen SMP gue...
Dan, nanti..16, 24, 28 gue harus berbuat yang sama...
Egi ultah, tepat 20 tahun...
Inna juga...
27 hari mendatang, Dimaz juga bernasib sama..
21 tahun n katanya buat cowo gue itu penting bgt...
Sementara, orang2 di sekitar gue gak pernah mau tau apa yang sebenarnya gue rasain ketika bangun tidur n ngeliat tanggal di hape...
"oh my Allah...udah bulan Mei lagi..."
Mei..mei..mei..
kenapa gue harus membenci kamu!!!
kalau saja Allah kasih,
"gue pengen tidur panjang n bangun lagi tepat di tanggal 1 Juni.."
seandainya bisa..
seandainya bisa...
Kenapa gue harus segitu PARNOnya dengan bulan setelah April, kenapa??
Adakah yang bisa menjelaskan???
Dan, tanpa ada yang tau, lagi2 gue mengawali bulan ini dengan derai airmata..
Orang yang paling gue peduliin, terlambat berkata JUJUR
Dan gue semakin terlihat TOLOL...
Selasa, 29 April 2008
Tulisan_28 @ Sindo
Kecanduan ”Retail Therapy”
Rabu, 30/04/2008
MAL sudah mendapatkan tempat yang khusus bagi wanita.Tidak perlu berbelanja,wanita sudah merasa bahagia jika berada di dalam mal.
Kecanduan terapi belanja (retail therapy)?
Meja kerja Lastri Marselina, 24, tampak berantakan. Di hadapannya ada tumpukan file yang harus diperiksa. Di sebelah kiri meja sudah menunggu beberapa laporan yang harus ia kerjakan. Alih-alih mulai mengerjakan salah satu laporan, wanita yang akrab dipanggil Aci ini malah mengenakan sepatu hak tingginya,kemudian meraih tasnya dan meninggalkan ruang kerja.
Dia menuju salah satu mal di bilangan Pondok Indah,Jakarta Selatan. ”Ini (ke mal) benar-benar pelepas stres yang ampuh, berapa kali pun ke mal rasanya enggak akan pernah bosan deh,”papar wanita yang tinggal di daerah Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini. Bagi Aci, tidak ada cara jitu untuk mengusir penyakit psikologis yang sering melanda masyarakat yang ada di daerah perkotaan selain bertandang ke mal.
Bahkan, Aci mengaku hanya dengan melihat suasana pertokoan yang dipenuhi banyak orang, apalagi melihat tulisan “Sale” atau diskon, sudah mampu membangkitkan adrenalin dan mengubah moodnya seketika.
Buat Aci, jejeran tas, baju, dan sepatu yang ditata rapi sudah mampu membuat senyumnya terkembang lagi. ”Enggak beli sekalipun enggak masalah, hati gue sudah cukup senang, abisitu palingangue ngafe,”ujar Aci yang hobi menonton ini.
Hal senada juga dirasakan pemeran Si Manis Jembatan Ancol, Diah Permatasari, 37. Ia mengaku, hanya jalan-jalan di pusat perbelanjaan saja, sudah merasa senang.“Enggak harus belanja sih, cuma sekadar windows shopping juga sudah bikin hati senang,”ungkapnya.
Efek Terapi Belanja
Orang lain mungkin memandang belanja ke mal adalah kegiatan biasa yang tidak berdampak apa pun, kecuali hanya mendapatkan kebutuhan yang diinginkan.Namun, tidak bagi sebagian orang terutama wanita, datang ke mal saja bisa dijadikan ajang untuk meningkatkan mood.
Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh harian Chicago Tribune pada tahun 1986. Disebutkan, masyarakat Amerika lebih memilih mengusir stres dan kejenuhan mereka dengan berbelanja.
Kegiatan yang dikenal dengan sebutan retail therapy ini memang berdampak luar biasa bagi para shopaholic, termasuk presenter Meisya Siregar,29. Istri vokalis grup musik Romeo,Bebi ini percaya terapi semacam ini bisa memengaruhi mood-nya. “Disadari atau tidak, saya rasa belanja bisa menjadi obat di saat kita sedang bad mood,”ungkap Meisya.
Perempuan cantik yang mengaku senang belanja ini memang merasakan kebahagiaan yang tiada tara tatkala barang impiannya dapat terbeli.
“ Setelah mendapat barang yang saya inginkan, saya merasa puas dan bangga,”ucap presenter kelahiran 13 April ini. Tak jarang Meisya selalu menghadiahi dirinya sendiri dengan berbelanja atau sekadar window shopping ke mal. Kelelahan bekerja, diakui Meisya, sebagai alasan mengapa dirinya sering menghabiskan waktu untuk belanja.(sri noviarni/MG-18)
Normal jika Hanya Pembangkit Mood
ADA banyak cara untuk membangkitkan mood. Ada yang berusaha relaksasi hingga melakukan hobi yang disenangi. Khusus bagi orang-orang yang berkantong tebal, cara yang dipercaya ampuh untuk mengatrol mood adalah dengan berbelanja di mal.
Cara unik untuk menghidupkan mood kembali ini dikenal dengan sebutan retail therapy. Menurut psikolog dan coach keluarga Dra Clara Kriswanto, shopping bagi sebagian orang memang bisa menjadi obat mujarab untuk keluar dari rutinitas dan tekanan psikologis yang dirasakan.
Terlebih lagi bagi kaum metropolitan. ”Sebagai variasi pembangkitmood masih normal, tapi kalau sudah menjadi dependensi seperti obat yang rasanya kalau enggak minum belum sembuh, ini yang harus diawasi dan menjadi kelainan namanya,” kata psikolog dari Jagadnita Consulting ini.
Pendapat Clara bukan sekadar isapan jempol. Pada tahun 2001 Uni Eropa mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa 33% orang yang gemar berbelanja mempunyai ketergantungan yang tinggi untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan.
Dampaknya apalagi kalau bukan masalah tagihan yang menunggak.
Peneliti di Universitas Melbourne mengklasifikasikan kelainan psikologis tersebut sebagai oniomaniaatau compulsive shopping disorder. Clara menilai, daripada menghabiskan uang untuk membeli barang yang sebetulnya tidak diperlukan, ada baiknya orang tersebut berbicara dengan diri sendiri. ”Eksplorasi diri sendiri sebenarnya apa potensi saya, lalu pergunakan minat itu untuk mengalihkan kesenangan berbelanja,” sebutnya. (sri noviarni)
Rabu, 30/04/2008
MAL sudah mendapatkan tempat yang khusus bagi wanita.Tidak perlu berbelanja,wanita sudah merasa bahagia jika berada di dalam mal.
Kecanduan terapi belanja (retail therapy)?
Meja kerja Lastri Marselina, 24, tampak berantakan. Di hadapannya ada tumpukan file yang harus diperiksa. Di sebelah kiri meja sudah menunggu beberapa laporan yang harus ia kerjakan. Alih-alih mulai mengerjakan salah satu laporan, wanita yang akrab dipanggil Aci ini malah mengenakan sepatu hak tingginya,kemudian meraih tasnya dan meninggalkan ruang kerja.
Dia menuju salah satu mal di bilangan Pondok Indah,Jakarta Selatan. ”Ini (ke mal) benar-benar pelepas stres yang ampuh, berapa kali pun ke mal rasanya enggak akan pernah bosan deh,”papar wanita yang tinggal di daerah Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini. Bagi Aci, tidak ada cara jitu untuk mengusir penyakit psikologis yang sering melanda masyarakat yang ada di daerah perkotaan selain bertandang ke mal.
Bahkan, Aci mengaku hanya dengan melihat suasana pertokoan yang dipenuhi banyak orang, apalagi melihat tulisan “Sale” atau diskon, sudah mampu membangkitkan adrenalin dan mengubah moodnya seketika.
Buat Aci, jejeran tas, baju, dan sepatu yang ditata rapi sudah mampu membuat senyumnya terkembang lagi. ”Enggak beli sekalipun enggak masalah, hati gue sudah cukup senang, abisitu palingangue ngafe,”ujar Aci yang hobi menonton ini.
Hal senada juga dirasakan pemeran Si Manis Jembatan Ancol, Diah Permatasari, 37. Ia mengaku, hanya jalan-jalan di pusat perbelanjaan saja, sudah merasa senang.“Enggak harus belanja sih, cuma sekadar windows shopping juga sudah bikin hati senang,”ungkapnya.
Efek Terapi Belanja
Orang lain mungkin memandang belanja ke mal adalah kegiatan biasa yang tidak berdampak apa pun, kecuali hanya mendapatkan kebutuhan yang diinginkan.Namun, tidak bagi sebagian orang terutama wanita, datang ke mal saja bisa dijadikan ajang untuk meningkatkan mood.
Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh harian Chicago Tribune pada tahun 1986. Disebutkan, masyarakat Amerika lebih memilih mengusir stres dan kejenuhan mereka dengan berbelanja.
Kegiatan yang dikenal dengan sebutan retail therapy ini memang berdampak luar biasa bagi para shopaholic, termasuk presenter Meisya Siregar,29. Istri vokalis grup musik Romeo,Bebi ini percaya terapi semacam ini bisa memengaruhi mood-nya. “Disadari atau tidak, saya rasa belanja bisa menjadi obat di saat kita sedang bad mood,”ungkap Meisya.
Perempuan cantik yang mengaku senang belanja ini memang merasakan kebahagiaan yang tiada tara tatkala barang impiannya dapat terbeli.
“ Setelah mendapat barang yang saya inginkan, saya merasa puas dan bangga,”ucap presenter kelahiran 13 April ini. Tak jarang Meisya selalu menghadiahi dirinya sendiri dengan berbelanja atau sekadar window shopping ke mal. Kelelahan bekerja, diakui Meisya, sebagai alasan mengapa dirinya sering menghabiskan waktu untuk belanja.(sri noviarni/MG-18)
Normal jika Hanya Pembangkit Mood
ADA banyak cara untuk membangkitkan mood. Ada yang berusaha relaksasi hingga melakukan hobi yang disenangi. Khusus bagi orang-orang yang berkantong tebal, cara yang dipercaya ampuh untuk mengatrol mood adalah dengan berbelanja di mal.
Cara unik untuk menghidupkan mood kembali ini dikenal dengan sebutan retail therapy. Menurut psikolog dan coach keluarga Dra Clara Kriswanto, shopping bagi sebagian orang memang bisa menjadi obat mujarab untuk keluar dari rutinitas dan tekanan psikologis yang dirasakan.
Terlebih lagi bagi kaum metropolitan. ”Sebagai variasi pembangkitmood masih normal, tapi kalau sudah menjadi dependensi seperti obat yang rasanya kalau enggak minum belum sembuh, ini yang harus diawasi dan menjadi kelainan namanya,” kata psikolog dari Jagadnita Consulting ini.
Pendapat Clara bukan sekadar isapan jempol. Pada tahun 2001 Uni Eropa mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa 33% orang yang gemar berbelanja mempunyai ketergantungan yang tinggi untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan.
Dampaknya apalagi kalau bukan masalah tagihan yang menunggak.
Peneliti di Universitas Melbourne mengklasifikasikan kelainan psikologis tersebut sebagai oniomaniaatau compulsive shopping disorder. Clara menilai, daripada menghabiskan uang untuk membeli barang yang sebetulnya tidak diperlukan, ada baiknya orang tersebut berbicara dengan diri sendiri. ”Eksplorasi diri sendiri sebenarnya apa potensi saya, lalu pergunakan minat itu untuk mengalihkan kesenangan berbelanja,” sebutnya. (sri noviarni)
Senin, 28 April 2008
Tulisan_27 @ Sindo
Pesta Bujang Melepas Lajang
Selasa, 29/04/2008
ISTILAH bachelo rette party,hen party, maupun girl’s night outkian populer untuk menggambarkan pesta menutup masa lajang yang mulai jamak ditemui.
Sebulan sebelum pesta pernikahannya dengan Aditya Tumbuan, presenter Aline Tumbuan, 27, dikejutkan dengan pesta bujang atau bachelorette party yang dirancang oleh temanteman dekatnya. Saat itu, teman-teman dekat pemilik nama lengkap Caroline Ingrid Adita ini menyewa sebuah kamar hotel mewah di Jakarta untuk kemudian menghabiskan waktu di sana.
Mereka merayakan pelepasan masa lajang Aline dengan makan dan minum di hotel tersebut. Bahkan,wanita kelahiran Jakarta, 17 Juli 1980, ini tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika 12 sahabat dekatnya ”bersekongkol” mengundang seorang male stripper.”Wah, saya kaget sekali. Kejutannya puntidak berhenti sampai di situ.
Pilih Jasa EO agar Pesta Terencana
AGAR tidak dipusingkan dengan beragam format acara bachelorette party, banyak yang beralih ke jasa event organizer (EO) yang menawarkan jasa merancang pesta lajang sekaligus mengelolanya.
Servis yang diberikan termasuk mendesain undangan, dekorasi, konsep acara, makanan dan minuman, serta snacks. Di Indonesia pun sudah cukup banyak EO yang menawarkan pengelolaan pesta lajang dengan konsep acara yang unik dan tentunya disesuaikan dengan bujet si klien. Salah satunya adalah Ravioli yang berada di kawasan Srigunting, Bandung.
”Kebanyakan pesta lajang kami berikan sebagai bagian dari servis karena sudah menggunakan jasa EO kami. Namun, kalau ada permintaan khusus, maka akan dikenakan biaya tambahan,” kata Rita, 25, pemilik Ravioli. Menurut Rita, ada beragam konsep pesta yang pernah digarapnya.
Salah satu yang menarik adalah klien yang menginginkan pesta lajang bertemakan eksklusif dan elegan yang digelar di sebuah rumah mewah Jadilah pesta yang dihadiri kurang lebih 50 tamu undangan itu terlihat megah dan terkesan mahal. Bagaimana tidak, setiap tamu memiliki pelayan (waiter) sendiri yang setia menunggu di belakang kursi.
Mejanya pun berupa round table, makanan yang disajikan juga tak kalah mahal, yakni masakan Italia. Selagi menyantap makanan, tamu dihibur oleh lantunan musik jazz dari band lokal. Pesta yang digelar oleh pihak calon pengantin wanita ini cukup unik. Undangannya hand made. Sebagai cenderamata setiap tamu undangan diberikan CD berisi lagu romantis.
Lain lagi jika calon pengantin merupakan tipe orang yang cukup modern. Lazimnya mereka menginginkan pesta di tempat hiburan seperti kafe atau diskotek. Pesta lajang wanita di klub yang pernah ditangani Rita, waktu itu bertempat di Studio East, Bandung, yang dihadiri sekitar 100 orang. Untuk pesta di klub dan gala dinner kurang lebih membutuhkan dana sekitar Rp20 juta.
Yang lebih murah adalah cocktail party yang konsepnya lebih ringan. Pesta ini bisa dihelat di rumah dan tidak perlu menghidangkan makanan berat, cukup kue kecil. Sementara sebagai penghibur musik dari pemutar CD dapat menjadi pilihan. Untuk pesta ini hanya dikenakan biaya Rp5 juta-Rp10 juta.
Pemilik Tony Event Organizer (TEO), Tony, mengungkap bahwa pihaknya acap mendapat order menggelar bachelorette party di luar kota. ”Tujuannya untuk melepas penat dan supaya si calon pengantin lebih rileks,” aku Tony. Saat pesta berlangsung, Tony mengatakan, sang bachelor atau bachelorette akan ditatar sebelum memasuki pernikahan.
”Jadi kami memberikan semacam masukan bagi mereka mengenai suka duka hidup berumah tangga, kami juga mengajarkan tabble manner dan dansa. Jadi, kalau si wanita diajak suaminya menghadiri jamuan formal enggak kaku lagi,” kata Tony. (sri noviarni/mg-18)
Mereka mengajak saya ke klub. Di sana kami having fun bareng,” kenang model, penyiar, sekaligus presenter ini. Istilah bachelorette party,hen party, maupun girl’s night out kian populer untuk meng gambarkan pesta menutup masa lajang yang mulai jamak ditemui.Partyprivat diikuti kalangan terbatas menjelang pernikahan itu bentuknya tak lagi saling curhat atau ngobrol di rumah,juga menyewa hotel atau klub.
Di Inggris, Irlandia, dan Australia, pesta seperti ini lazim disebut hen party. Adapun istilah stagette lebih umum di Kanada. ”Saya sendiri enam kali terlibat dalam bachelorette party dengan konsep, tema, dan tempat yang berbedabeda. Kalau memang waktunya kurang dan tidak ada persiapan, biasanya digelar pesta kecil di rumah calon pengantin,”papar Aline.
Banyak kejadian seru yang terjadi di pesta lajang itu,sebut Aline.Ketika sahabat dekatnya semasa SMP menikah, dia dan teman-temannya giliran mengatur sebuah party kecil lengkap dengan spirits plus aksi male stripper. Namun,Aline menuturkan, acara belum selesai, si calon pengantin itu sudah tumbang.
”Dia sudah enggak kuat minum dan akhirnya ketiduran, tapi pestanya tetap kita dilanjutkan,” ujar Aline terkekeh. Meski terkesan hura-hura, Aline menilai party semacam ini juga bermanfaat positif. Salah satunya menjadi ajang sharingmaupun curhat kepada teman atau sahabat dekat dalam menyongsong kehidupan berkeluarga. Vee (bukan nama sebenarnya),24, bahkan lebih berani.
Sebelum melepas masa lajang, dia menggelar hen party di sebuah apartemen elite di kawasan Jakarta Pusat. Acara yang berlangsung dua malam berturut-turut itu membuat geleng kepala. Bayangkan,Vee dan temantemannya menghadirkan enam orang penghibur yang didaulat untuk bercinta di hadapan mereka. ”Konsepnya memang sedikit gila,” ungkap wanita yang masih berstatus mahasiswi di salah satu universitas swasta Jakarta ini.
Pesta yang bertajuk Sex Our Soul itu dihadiri oleh teman-teman Vee yang berjumlah 15 orang. Mereka juga disuguhkan berbagai snacks maupun spirits. ”Tujuan acara ini lebih kepada have fun. Enggak ada maksud lain.Kami hanya minum sembari ngobrol,” ucap wanita yang berdomisili di wilayah Jakarta Timur ini. Beda negara, beda pula tradisi perayaan pesta bujang wanita ini.
Di Amerika Serikat, misalnya, sudah menjadi hal umum merayakan pesta lajang tersebut di bar atau diskotek. Meski tradisi semacam ini belum begitu berkembang di Indonesia,perlahan tapi pasti kalangan muda mulai mengadopsi kebudayaan Barat ini. Hal ini diakui sosiolog Ricardi Adnan.Dia menilai hen partymaupun bachelorette partymulai membudaya di Nusantara meski hanya di kalangan terbatas.
”Mereka yang mapan dan berkantong tebal biasa menyelenggarakan pesta semacam ini,”ungkap pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia ini. ”Umumnya mereka adalah generasi muda yang lebih berorientasi ke budaya Barat,” ia menambahkan. Namun,Ricki justru berpendapat bahwa konsep pesta yang mengatasnamakan kesenangan semata ini hanya a k a n memberikan efek negatif kepada si calon pengantin.
”Pesta seperti ini akan memengaruhi perilaku orang yang melakoni,seperti halnya hubungan dia ke keluarga atau calon suaminya. Sebab, acap kali hadir nuansa seksualitas sebagai bumbunya, ”papar Ricki. Hal itu tidak berlebihan kiranya. Atmosfer pesta bujang yang identik dengan nuansa erotis dialami pula oleh presenter Melissa Karim, 30. Ia dan teman-temannya mengaku pernah menyewa beberapa male stripper untuk merayakan pesta lajang sahabat wanitanya di sebuah hotel.
Melissa sendiri mengaku sudah tidak bisa menghitung berapa pesta bujang yang pernah ia hadiri. Menurut dia, tak harus dilakukan dengan cara yang negatif. Dapat pula dikemas unik, lucu, atau biasa-biasa saja tapi berkesan. Paling sering, ia akan mengajak calon pengantin ke tempat karaoke atau sekadar makan malam di restoran.
”Saya juga pernah mendandani calon pengantin persis seperti orang gila, dan disuruh ke l i l i n g mal,” kata Melisa sambil tertawa. Bachelorette party yang sopan dan jauh dari nuansa hurahura dialami oleh Afifa, 24. Wanita keturunan Arab ini menggelar pesta lajang di rumahnya yang hanya khusus dihadiri teman wanita. Pesta ini merupakan satu tradisi budaya Arab yang lebih khas dengan nama malam pacar.
Disebut demikian karena pada malam itu sang calon pengantin akan dipasangkan pacar pada tangannya. ”Biasanya undangan datang dengan membawa suvenir,”katanya.Pesta ala padang pasir ini juga dimeriahkan oleh musik gambus. Pengalaman serupa dialami Puti Bungsu, 23. Demi melepas status lajang salah seorang teman dekatnya, Puti bersama keenam temannya mem-booking klub Blowfish Lounge di Wisma Mulia, Gatot Subroto, Jakarta. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk mengenang masa lalu. (sri noviarni /mg-18)
Selasa, 29/04/2008
ISTILAH bachelo rette party,hen party, maupun girl’s night outkian populer untuk menggambarkan pesta menutup masa lajang yang mulai jamak ditemui.
Sebulan sebelum pesta pernikahannya dengan Aditya Tumbuan, presenter Aline Tumbuan, 27, dikejutkan dengan pesta bujang atau bachelorette party yang dirancang oleh temanteman dekatnya. Saat itu, teman-teman dekat pemilik nama lengkap Caroline Ingrid Adita ini menyewa sebuah kamar hotel mewah di Jakarta untuk kemudian menghabiskan waktu di sana.
Mereka merayakan pelepasan masa lajang Aline dengan makan dan minum di hotel tersebut. Bahkan,wanita kelahiran Jakarta, 17 Juli 1980, ini tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika 12 sahabat dekatnya ”bersekongkol” mengundang seorang male stripper.”Wah, saya kaget sekali. Kejutannya puntidak berhenti sampai di situ.
Pilih Jasa EO agar Pesta Terencana
AGAR tidak dipusingkan dengan beragam format acara bachelorette party, banyak yang beralih ke jasa event organizer (EO) yang menawarkan jasa merancang pesta lajang sekaligus mengelolanya.
Servis yang diberikan termasuk mendesain undangan, dekorasi, konsep acara, makanan dan minuman, serta snacks. Di Indonesia pun sudah cukup banyak EO yang menawarkan pengelolaan pesta lajang dengan konsep acara yang unik dan tentunya disesuaikan dengan bujet si klien. Salah satunya adalah Ravioli yang berada di kawasan Srigunting, Bandung.
”Kebanyakan pesta lajang kami berikan sebagai bagian dari servis karena sudah menggunakan jasa EO kami. Namun, kalau ada permintaan khusus, maka akan dikenakan biaya tambahan,” kata Rita, 25, pemilik Ravioli. Menurut Rita, ada beragam konsep pesta yang pernah digarapnya.
Salah satu yang menarik adalah klien yang menginginkan pesta lajang bertemakan eksklusif dan elegan yang digelar di sebuah rumah mewah Jadilah pesta yang dihadiri kurang lebih 50 tamu undangan itu terlihat megah dan terkesan mahal. Bagaimana tidak, setiap tamu memiliki pelayan (waiter) sendiri yang setia menunggu di belakang kursi.
Mejanya pun berupa round table, makanan yang disajikan juga tak kalah mahal, yakni masakan Italia. Selagi menyantap makanan, tamu dihibur oleh lantunan musik jazz dari band lokal. Pesta yang digelar oleh pihak calon pengantin wanita ini cukup unik. Undangannya hand made. Sebagai cenderamata setiap tamu undangan diberikan CD berisi lagu romantis.
Lain lagi jika calon pengantin merupakan tipe orang yang cukup modern. Lazimnya mereka menginginkan pesta di tempat hiburan seperti kafe atau diskotek. Pesta lajang wanita di klub yang pernah ditangani Rita, waktu itu bertempat di Studio East, Bandung, yang dihadiri sekitar 100 orang. Untuk pesta di klub dan gala dinner kurang lebih membutuhkan dana sekitar Rp20 juta.
Yang lebih murah adalah cocktail party yang konsepnya lebih ringan. Pesta ini bisa dihelat di rumah dan tidak perlu menghidangkan makanan berat, cukup kue kecil. Sementara sebagai penghibur musik dari pemutar CD dapat menjadi pilihan. Untuk pesta ini hanya dikenakan biaya Rp5 juta-Rp10 juta.
Pemilik Tony Event Organizer (TEO), Tony, mengungkap bahwa pihaknya acap mendapat order menggelar bachelorette party di luar kota. ”Tujuannya untuk melepas penat dan supaya si calon pengantin lebih rileks,” aku Tony. Saat pesta berlangsung, Tony mengatakan, sang bachelor atau bachelorette akan ditatar sebelum memasuki pernikahan.
”Jadi kami memberikan semacam masukan bagi mereka mengenai suka duka hidup berumah tangga, kami juga mengajarkan tabble manner dan dansa. Jadi, kalau si wanita diajak suaminya menghadiri jamuan formal enggak kaku lagi,” kata Tony. (sri noviarni/mg-18)
Mereka mengajak saya ke klub. Di sana kami having fun bareng,” kenang model, penyiar, sekaligus presenter ini. Istilah bachelorette party,hen party, maupun girl’s night out kian populer untuk meng gambarkan pesta menutup masa lajang yang mulai jamak ditemui.Partyprivat diikuti kalangan terbatas menjelang pernikahan itu bentuknya tak lagi saling curhat atau ngobrol di rumah,juga menyewa hotel atau klub.
Di Inggris, Irlandia, dan Australia, pesta seperti ini lazim disebut hen party. Adapun istilah stagette lebih umum di Kanada. ”Saya sendiri enam kali terlibat dalam bachelorette party dengan konsep, tema, dan tempat yang berbedabeda. Kalau memang waktunya kurang dan tidak ada persiapan, biasanya digelar pesta kecil di rumah calon pengantin,”papar Aline.
Banyak kejadian seru yang terjadi di pesta lajang itu,sebut Aline.Ketika sahabat dekatnya semasa SMP menikah, dia dan teman-temannya giliran mengatur sebuah party kecil lengkap dengan spirits plus aksi male stripper. Namun,Aline menuturkan, acara belum selesai, si calon pengantin itu sudah tumbang.
”Dia sudah enggak kuat minum dan akhirnya ketiduran, tapi pestanya tetap kita dilanjutkan,” ujar Aline terkekeh. Meski terkesan hura-hura, Aline menilai party semacam ini juga bermanfaat positif. Salah satunya menjadi ajang sharingmaupun curhat kepada teman atau sahabat dekat dalam menyongsong kehidupan berkeluarga. Vee (bukan nama sebenarnya),24, bahkan lebih berani.
Sebelum melepas masa lajang, dia menggelar hen party di sebuah apartemen elite di kawasan Jakarta Pusat. Acara yang berlangsung dua malam berturut-turut itu membuat geleng kepala. Bayangkan,Vee dan temantemannya menghadirkan enam orang penghibur yang didaulat untuk bercinta di hadapan mereka. ”Konsepnya memang sedikit gila,” ungkap wanita yang masih berstatus mahasiswi di salah satu universitas swasta Jakarta ini.
Pesta yang bertajuk Sex Our Soul itu dihadiri oleh teman-teman Vee yang berjumlah 15 orang. Mereka juga disuguhkan berbagai snacks maupun spirits. ”Tujuan acara ini lebih kepada have fun. Enggak ada maksud lain.Kami hanya minum sembari ngobrol,” ucap wanita yang berdomisili di wilayah Jakarta Timur ini. Beda negara, beda pula tradisi perayaan pesta bujang wanita ini.
Di Amerika Serikat, misalnya, sudah menjadi hal umum merayakan pesta lajang tersebut di bar atau diskotek. Meski tradisi semacam ini belum begitu berkembang di Indonesia,perlahan tapi pasti kalangan muda mulai mengadopsi kebudayaan Barat ini. Hal ini diakui sosiolog Ricardi Adnan.Dia menilai hen partymaupun bachelorette partymulai membudaya di Nusantara meski hanya di kalangan terbatas.
”Mereka yang mapan dan berkantong tebal biasa menyelenggarakan pesta semacam ini,”ungkap pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia ini. ”Umumnya mereka adalah generasi muda yang lebih berorientasi ke budaya Barat,” ia menambahkan. Namun,Ricki justru berpendapat bahwa konsep pesta yang mengatasnamakan kesenangan semata ini hanya a k a n memberikan efek negatif kepada si calon pengantin.
”Pesta seperti ini akan memengaruhi perilaku orang yang melakoni,seperti halnya hubungan dia ke keluarga atau calon suaminya. Sebab, acap kali hadir nuansa seksualitas sebagai bumbunya, ”papar Ricki. Hal itu tidak berlebihan kiranya. Atmosfer pesta bujang yang identik dengan nuansa erotis dialami pula oleh presenter Melissa Karim, 30. Ia dan teman-temannya mengaku pernah menyewa beberapa male stripper untuk merayakan pesta lajang sahabat wanitanya di sebuah hotel.
Melissa sendiri mengaku sudah tidak bisa menghitung berapa pesta bujang yang pernah ia hadiri. Menurut dia, tak harus dilakukan dengan cara yang negatif. Dapat pula dikemas unik, lucu, atau biasa-biasa saja tapi berkesan. Paling sering, ia akan mengajak calon pengantin ke tempat karaoke atau sekadar makan malam di restoran.
”Saya juga pernah mendandani calon pengantin persis seperti orang gila, dan disuruh ke l i l i n g mal,” kata Melisa sambil tertawa. Bachelorette party yang sopan dan jauh dari nuansa hurahura dialami oleh Afifa, 24. Wanita keturunan Arab ini menggelar pesta lajang di rumahnya yang hanya khusus dihadiri teman wanita. Pesta ini merupakan satu tradisi budaya Arab yang lebih khas dengan nama malam pacar.
Disebut demikian karena pada malam itu sang calon pengantin akan dipasangkan pacar pada tangannya. ”Biasanya undangan datang dengan membawa suvenir,”katanya.Pesta ala padang pasir ini juga dimeriahkan oleh musik gambus. Pengalaman serupa dialami Puti Bungsu, 23. Demi melepas status lajang salah seorang teman dekatnya, Puti bersama keenam temannya mem-booking klub Blowfish Lounge di Wisma Mulia, Gatot Subroto, Jakarta. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk mengenang masa lalu. (sri noviarni /mg-18)
Minggu, 27 April 2008
Tulisan_26 @ Sindo
Citra Mewah & Elegan Jas
Senin, 28/04/2008
SETELAN yang bagus tak hanya krusial sebagai aksesori bisnis,tapi juga mencerminkan kepribadian,selera,dan citra mewah pemakainya.
Presenter Charles Bonar Sirait paham betul pentingnya jas dalam menunjang penampilannya. Peraih Panasonic Award kategori pembawa acara musik pria terfavorit ini mengakui jas dapat memuluskan pekerjaan yang digelutinya. ”Tak sekadar melindungi tubuh dari dinginnya AC,jas bisa menambah kepercayaan diri dan mengangkat prestise,” papar Direktur PT Saji Indonesia ini.
Dia juga mengungkap betapa penampilan dapat menunjang kelancaran bisnis. ”Ketika diri merasa nyaman, bisnis pun lancar,”beber pria yang pernah bekerja di bidang perbankan, properti, dan periklanan ini. Dengan prinsip demikian, tidak heran Charles memiliki lebih dari 50 setel jas.
Penulis buku The Power of Public Speaking: Kiat Sukses Berbicara di Depan Publik ini juga menyimpan jas yang tak lagi dikenakan dalam sebuah lemari khusus. Jumlahnya puluhan. Biasanya karena modelnya sudah out of dateataupun kondisi jas yang sudah tidak bagus.
Model yang dia suka adalah rancangan Hugo Boss,Gianni Versace, dan Valentino. Uniknya, Charles selalu membeli jas di luar negeri. Tidak pernah sekalipun pria kelahiran 19 Maret 1971 ini, hunting jas keluaran terbaru di butik-butik yang ada di Jakarta. Apa sebabnya? ”Soalnya banyak model jas yang bagus tidak masuk ke Indonesia,” ucap pria yang selalu mempercayakan urusan perawatan jasnya pada jasa laundry ini.
Jadilah saban ada pekerjaan di luar negeri atau sekadar liburan,Charles berusaha menyempatkan diri untuk hunting koleksi jas terbaru di ketiga butik brand favoritnya tersebut. Singapura, Australia, maupun Amerika adalah lokasi favoritnya untuk urusan membeli jas. Koleksi jas dari label ternama, menurut Charles,cutting-nya lebih pas di tubuh. Dikenakannya nyaman, bahannya pun halus.Semua aspek tersebut akan berbanding lurus dengan harga yang ditawarkan. Charles mengaku semua koleksi setelan jasnya rata-rata berharga Rp10 juta. Namun, tidak semua jas yang tergantung rapi di lemarinya merupakan jahitan teliti penjahit luar negeri.Ada pula beberapa koleksi jasnya yang dijahit oleh butik lokal.
Kendati demikian,materialnya tetap ia beli di Singapura. ”Materialnya saya beli sekitar Rp2 juta. Sementara ongkos menjahitnya Rp5 juta,” kata bapak dua anak yang dalam setahun bisa membeli 4-5 setelan jas ini. Berbeda dengan Marketing Director Senayan City Veri Y Setiady. Pria modis ini lebih sering menambah koleksinya dengan berbelanja di gerai elite Jakarta.
Menurut Veri yang memiliki 25 setelan jas ini, berbelanja di dalam negeri memiliki keuntungan tersendiri. Dia merasa lebih bebas dalam melakukan fittingjas beserta celana di tubuhnya.Maklum,proses fitting untuk mendapat jas yang jatuhnya pas di tubuh memakan waktu cukup lama. ”Kan sayang kalau sudah beli mahal-mahal ternyata enggak pas di badan.
Karenanya,saya teliti benar sebelum membeli,” ungkap pria yang gemar olahraga, membaca, dan mendengar musik ini. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian Veri sebelum akhirnya memutus kan membeli satu setelan jas.Mulai panjang celana,panjang tangan, dan tentu potongan yang pas di badan. Setiap akan mengepas sebuah jas beserta bawahannya, Veri selalu mengena kan kemeja,dasi, barulah memadukannya dengan sepatu.
”Celana yang jatuh di sepatu juga harus bagus,” paparnya. Label yang menjadi langganan Veri adalah Hugo Boss,Armani,Ermenegildo Zegna, dan Ted Baker. Merek Hugo Boss mungkin yang paling termurah di antara koleksi jas Veri,harganya sekitar Rp8 juta. Adapun Zegna berkisar Rp12 juta hingga Rp15 juta.Nah yang paling menyedot tagihan kartu kredit adalah untuk mendapat satu setelan jas Armani yang harganya lebih dari Rp20 juta. Meski harga selangit, tampaknya Veri maupun Charles merasa uang sebesar itu setara dengan citra mewah dan elegan yang mereka dapatkan ketika mengenakan jas tersebut.
Tak terkecuali bagi figur publik seperti Helmi Yahya dan Surya Saputra. Sebagai seorang master of ceremony, Helmi berkewajiban untuk tampil rapi dan terlihat formal dalam jas. ”Saya memakai jas karena tuntutan pekerjaan,” kata ayah tiga anak ini.
Jas di mata pria Palembang ini bukan hanya sebagai pelengkap busana formalnya.Lebih jauh Helmi menilai jika mengenakan jas adalah bagian dari penghormatan si pemakai terhadap acara orang lain.”Memakai jas juga bagian dari prestise dan menambah percaya diri,”ucap Helmi. Dia juga mengaku selalu mengikuti tren jas, termasuk memperhatikan hal-hal mendetail seperti motif atau kancing.
Tak heran koleksinya mencapai lebih dari 20-an.Label favoritnya adalah Ermenegildo Zegna, Prada, Gucci, dan Hugo Boss yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pria kelahiran 6 Maret 1963 ini lebih memilih warna-warna yang gelap. ”Koleksi saya kebanyakan berwarna hitam,” tuturnya. Jika bepergian ke luar negeri, Helmi tak pernah melewatkan untuk membeli jas sebagai buah tangannya.
Sementara itu, aktor tampan Surya Saputra lebih memilih menjahit sendiri jasnya di rumah mode terkenal. ”Dari beberapa koleksi jas yang saya punya,hanya dua yang beli, lainnya saya jahit sendiri,” kata kekasih Cyntia Lamusu ini. Postur tubuh yang dimiliki Surya pun kadang menyulitkan dirinya untuk membeli jas.Untuk itu, dia lebih memilih untuk menjahit. ”Selain lebih murah, kalau jahit sendiri ukurannya akan pas,” kata pemeran film Arisan! ini.
Surya mengaku semua koleksi jasnya berwarna hitam bermodel klasik. Rumah mode Brutus dan Wong-Hang adalah favoritnya. ”Saya menyukai model jas dengan dua kancing,”papar pria kelahiran 5 Juli, 32 tahun silam ini. Baik Helmi Yahya maupun Surya Saputra menganggap memakai jas akan memunculkan citra positif bagi yang melihatnya. (sri noviarni/MG-18)
Beda Acara, Beda Perlakuan
BEDA acara,berbeda pula pakaian yang dikenakan. Termasuk urusan pemilihan jas.Salah mengenakan jas untuk menghadiri suatu acara bukannya mengatrol prestis, bisa-bisa malah sindiran yang didapat.
Rumah mode seperti Gucci, Prada,Yves Saint-Laurent, misalnya, sudah sejak lama memisahkan desain setelan yang digunakan untuk pergi ke nightclubdan ke ruang rapat. Hal ini juga diakui perancang busana Samuel Wattimena.Jas untuk keperluan seharihari seperti ke kantor dan untuk menghadiri jamuan formal,menuntut perlakuan berbeda.
Samuel mencontohkan untuk pemilihan jas kerja yang mengacu pada standar internasional, maka cutting-nya sesuai dengan bentuk tubuh. ”Yang sedang hip saat ini adalah warna navy blue untuk jas kerja,” ucap pria yang akrab disapa Samy ini.Adapun jas untuk pesta modelnya lebih fashionabledan lebih pas di tubuh.
Tidak longgar seperti umumnya jas kerja. Untuk jas pesta,warna yang dominan menurut Sammy adalah khaki dengan bahan wrinkle sehingga berefek seperti tidak disetrika. Bagi Charles yang sudah sekian lama terjun di panggung hiburan, pemilihan jas yang tepat untuk berbagai acara sudah berada di luar kepalanya. Untuk jas kerja hanya satu warna yang dipilihnya yakni hitam dan bermotif polos.
Sementara untuk jas pesta atau keperluan MC barulah Charles bisa lebih bereksperimen dengan model yang stylish. ”Kalau untuk pertunjukkan yang heboh dan ada efek lightingnya, saya pakai jas yang lebih nyentrik dan mengkilat,” katanya. Yang paling tepat untuk keperluan panggung, menurut Charles adalah jas dari rumah mode Gianni Versace.
Charles menilai,koleksi Versace memiliki warna lebih menyolok.”Cocok sebagai pusat perhatian saat kita berada di atas panggung,” paparnya. Sementara untuk show yang tidak terlalu berat atau spektakuler,biasanya Charles akan mengenakan rancangan Hugo Boss atau Valentino yang dapat menimbulkan kesan elegan dan kharismatik.
Veri Y.Setiady sendiri lebih berani memilih warna untuk busana kerja. Jas kerja yang dimilikinya tidak terbatas warna hitam,namun juga biru. Coraknya pun ada yang polos atau bergaris. Sedangkan untuk jamuan formal, justru warna hitam dianggapnya yang paling aman.Terlebih lagi jika dress code-nya black tie.
Lain lagi untuk coktail party atau acara lain yang bertemakan kasual.Veri memilih setelan tanpa dasi dengan model yang lebih stylish. Warnanya pun lebih bebas untuk dipadupadankan. ”Untuk acara kasual saya biasanya pakai jas abu-abu dengan celana hitam. Beda dengan acara formal dimana atas bawah harus sama,”katanya.
Menurut Samy,musim di Indonesia yang hanya ada dua, cenderung membatasi pemilihan jas yang dapat dikenakan.Apalagi Indonesia beriklim tropis. Sehingga kebanyakan orang lebih nyaman memakai batik ketimbang jas. Namun bukan berarti jas adalah dominasi budaya barat.
”Kalau diperhatikan dari zaman kerajaan jaman dulu,raja-rajanya sudah pakai jas.Di Jawa misalnya petinggi kerajaan memakai beskap,”tutur Samy. Ia menilai,jas memang belum begitu membudaya di Indonesia.Tetapi bagi para eksekutif yang bekerja di perusahaan internasional, mematuhi aturan berpakaian internasional adalah suatu kewajiban.(sri noviarni)
Dasi dan Sepatu Penunjang Aksesori
PEMILIHAN sepatu yang tepat sebagai padu padan jas yang dikenakan dapat mewakilkan citra mewah yang ingin ditampilkan.
Ketika ingin menghadiri acara formal, misalnya, sepatu hitam mengkilatlah yang paling sesuai. Marketing Director Senayan City Veri Y Setiady bahkan memiliki lebih dari 10 pasang koleksi sepatu formal untuk melengkapi cara berpenampilan elegannya. Merek Prada menjadi favoritnya untuk berkantor karena modelnya yang sederhana.
Adapun untuk jamuan formal, Veri akan berjalan di bawah topangan sepatu bermerek Christian Dior atau Gucci. Sepatu label Gucci dan Prada dibelinya seharga Rp4 juta hingga Rp5 jutaan. Yang relatif mahal adalah Dior yang bisa mencapai Rp6 juta dan dibelinya di luar negeri. Itu baru sepatu, Belum aksesori yang amat penting sebagai teman jas yaitu dasi.
Veri cenderung menyukai model yang agak konservatif dan tidak terlalu ramai. Bukan tanpa alasan, dia memilih dasi jenis ini, dipakai berapa kali pun orang lain tidak akan menyadari karena warnanya yang polos tanpa motif. Jumlah dasi mencapai 40-an. Harganya pun cukup mahal.
Sebuah dasi bisa berharga Rp2 juta. Lain lagi dengan Charles Bonar Sirait. Dia juga memiliki koleksi dasi yang jumlahnya sama dengan Veri. Dasi yang dimiliknya rata-rata seharga di atas Rp300.000. Namun, bagi Charles, dasi saja belum cukup. Bagian tangan akan terasa belum komplet kalau tidak memakai cufflink atau lebih dikenal dengan manset.
Cufflink tersedia dalam berbagai bentuk, ada yang berbentuk alat musik, mobil, dan sebagainya. Charles sendiri bukan tipe pria yang menyenangi ragam bentuk cufflink yang unik. Kebanyakan koleksi mansetnya yang berkisar 10 buah ini, modelnya konservatif dan formal. (sri noviarni)
Senin, 28/04/2008
SETELAN yang bagus tak hanya krusial sebagai aksesori bisnis,tapi juga mencerminkan kepribadian,selera,dan citra mewah pemakainya.
Presenter Charles Bonar Sirait paham betul pentingnya jas dalam menunjang penampilannya. Peraih Panasonic Award kategori pembawa acara musik pria terfavorit ini mengakui jas dapat memuluskan pekerjaan yang digelutinya. ”Tak sekadar melindungi tubuh dari dinginnya AC,jas bisa menambah kepercayaan diri dan mengangkat prestise,” papar Direktur PT Saji Indonesia ini.
Dia juga mengungkap betapa penampilan dapat menunjang kelancaran bisnis. ”Ketika diri merasa nyaman, bisnis pun lancar,”beber pria yang pernah bekerja di bidang perbankan, properti, dan periklanan ini. Dengan prinsip demikian, tidak heran Charles memiliki lebih dari 50 setel jas.
Penulis buku The Power of Public Speaking: Kiat Sukses Berbicara di Depan Publik ini juga menyimpan jas yang tak lagi dikenakan dalam sebuah lemari khusus. Jumlahnya puluhan. Biasanya karena modelnya sudah out of dateataupun kondisi jas yang sudah tidak bagus.
Model yang dia suka adalah rancangan Hugo Boss,Gianni Versace, dan Valentino. Uniknya, Charles selalu membeli jas di luar negeri. Tidak pernah sekalipun pria kelahiran 19 Maret 1971 ini, hunting jas keluaran terbaru di butik-butik yang ada di Jakarta. Apa sebabnya? ”Soalnya banyak model jas yang bagus tidak masuk ke Indonesia,” ucap pria yang selalu mempercayakan urusan perawatan jasnya pada jasa laundry ini.
Jadilah saban ada pekerjaan di luar negeri atau sekadar liburan,Charles berusaha menyempatkan diri untuk hunting koleksi jas terbaru di ketiga butik brand favoritnya tersebut. Singapura, Australia, maupun Amerika adalah lokasi favoritnya untuk urusan membeli jas. Koleksi jas dari label ternama, menurut Charles,cutting-nya lebih pas di tubuh. Dikenakannya nyaman, bahannya pun halus.Semua aspek tersebut akan berbanding lurus dengan harga yang ditawarkan. Charles mengaku semua koleksi setelan jasnya rata-rata berharga Rp10 juta. Namun, tidak semua jas yang tergantung rapi di lemarinya merupakan jahitan teliti penjahit luar negeri.Ada pula beberapa koleksi jasnya yang dijahit oleh butik lokal.
Kendati demikian,materialnya tetap ia beli di Singapura. ”Materialnya saya beli sekitar Rp2 juta. Sementara ongkos menjahitnya Rp5 juta,” kata bapak dua anak yang dalam setahun bisa membeli 4-5 setelan jas ini. Berbeda dengan Marketing Director Senayan City Veri Y Setiady. Pria modis ini lebih sering menambah koleksinya dengan berbelanja di gerai elite Jakarta.
Menurut Veri yang memiliki 25 setelan jas ini, berbelanja di dalam negeri memiliki keuntungan tersendiri. Dia merasa lebih bebas dalam melakukan fittingjas beserta celana di tubuhnya.Maklum,proses fitting untuk mendapat jas yang jatuhnya pas di tubuh memakan waktu cukup lama. ”Kan sayang kalau sudah beli mahal-mahal ternyata enggak pas di badan.
Karenanya,saya teliti benar sebelum membeli,” ungkap pria yang gemar olahraga, membaca, dan mendengar musik ini. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian Veri sebelum akhirnya memutus kan membeli satu setelan jas.Mulai panjang celana,panjang tangan, dan tentu potongan yang pas di badan. Setiap akan mengepas sebuah jas beserta bawahannya, Veri selalu mengena kan kemeja,dasi, barulah memadukannya dengan sepatu.
”Celana yang jatuh di sepatu juga harus bagus,” paparnya. Label yang menjadi langganan Veri adalah Hugo Boss,Armani,Ermenegildo Zegna, dan Ted Baker. Merek Hugo Boss mungkin yang paling termurah di antara koleksi jas Veri,harganya sekitar Rp8 juta. Adapun Zegna berkisar Rp12 juta hingga Rp15 juta.Nah yang paling menyedot tagihan kartu kredit adalah untuk mendapat satu setelan jas Armani yang harganya lebih dari Rp20 juta. Meski harga selangit, tampaknya Veri maupun Charles merasa uang sebesar itu setara dengan citra mewah dan elegan yang mereka dapatkan ketika mengenakan jas tersebut.
Tak terkecuali bagi figur publik seperti Helmi Yahya dan Surya Saputra. Sebagai seorang master of ceremony, Helmi berkewajiban untuk tampil rapi dan terlihat formal dalam jas. ”Saya memakai jas karena tuntutan pekerjaan,” kata ayah tiga anak ini.
Jas di mata pria Palembang ini bukan hanya sebagai pelengkap busana formalnya.Lebih jauh Helmi menilai jika mengenakan jas adalah bagian dari penghormatan si pemakai terhadap acara orang lain.”Memakai jas juga bagian dari prestise dan menambah percaya diri,”ucap Helmi. Dia juga mengaku selalu mengikuti tren jas, termasuk memperhatikan hal-hal mendetail seperti motif atau kancing.
Tak heran koleksinya mencapai lebih dari 20-an.Label favoritnya adalah Ermenegildo Zegna, Prada, Gucci, dan Hugo Boss yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pria kelahiran 6 Maret 1963 ini lebih memilih warna-warna yang gelap. ”Koleksi saya kebanyakan berwarna hitam,” tuturnya. Jika bepergian ke luar negeri, Helmi tak pernah melewatkan untuk membeli jas sebagai buah tangannya.
Sementara itu, aktor tampan Surya Saputra lebih memilih menjahit sendiri jasnya di rumah mode terkenal. ”Dari beberapa koleksi jas yang saya punya,hanya dua yang beli, lainnya saya jahit sendiri,” kata kekasih Cyntia Lamusu ini. Postur tubuh yang dimiliki Surya pun kadang menyulitkan dirinya untuk membeli jas.Untuk itu, dia lebih memilih untuk menjahit. ”Selain lebih murah, kalau jahit sendiri ukurannya akan pas,” kata pemeran film Arisan! ini.
Surya mengaku semua koleksi jasnya berwarna hitam bermodel klasik. Rumah mode Brutus dan Wong-Hang adalah favoritnya. ”Saya menyukai model jas dengan dua kancing,”papar pria kelahiran 5 Juli, 32 tahun silam ini. Baik Helmi Yahya maupun Surya Saputra menganggap memakai jas akan memunculkan citra positif bagi yang melihatnya. (sri noviarni/MG-18)
Beda Acara, Beda Perlakuan
BEDA acara,berbeda pula pakaian yang dikenakan. Termasuk urusan pemilihan jas.Salah mengenakan jas untuk menghadiri suatu acara bukannya mengatrol prestis, bisa-bisa malah sindiran yang didapat.
Rumah mode seperti Gucci, Prada,Yves Saint-Laurent, misalnya, sudah sejak lama memisahkan desain setelan yang digunakan untuk pergi ke nightclubdan ke ruang rapat. Hal ini juga diakui perancang busana Samuel Wattimena.Jas untuk keperluan seharihari seperti ke kantor dan untuk menghadiri jamuan formal,menuntut perlakuan berbeda.
Samuel mencontohkan untuk pemilihan jas kerja yang mengacu pada standar internasional, maka cutting-nya sesuai dengan bentuk tubuh. ”Yang sedang hip saat ini adalah warna navy blue untuk jas kerja,” ucap pria yang akrab disapa Samy ini.Adapun jas untuk pesta modelnya lebih fashionabledan lebih pas di tubuh.
Tidak longgar seperti umumnya jas kerja. Untuk jas pesta,warna yang dominan menurut Sammy adalah khaki dengan bahan wrinkle sehingga berefek seperti tidak disetrika. Bagi Charles yang sudah sekian lama terjun di panggung hiburan, pemilihan jas yang tepat untuk berbagai acara sudah berada di luar kepalanya. Untuk jas kerja hanya satu warna yang dipilihnya yakni hitam dan bermotif polos.
Sementara untuk jas pesta atau keperluan MC barulah Charles bisa lebih bereksperimen dengan model yang stylish. ”Kalau untuk pertunjukkan yang heboh dan ada efek lightingnya, saya pakai jas yang lebih nyentrik dan mengkilat,” katanya. Yang paling tepat untuk keperluan panggung, menurut Charles adalah jas dari rumah mode Gianni Versace.
Charles menilai,koleksi Versace memiliki warna lebih menyolok.”Cocok sebagai pusat perhatian saat kita berada di atas panggung,” paparnya. Sementara untuk show yang tidak terlalu berat atau spektakuler,biasanya Charles akan mengenakan rancangan Hugo Boss atau Valentino yang dapat menimbulkan kesan elegan dan kharismatik.
Veri Y.Setiady sendiri lebih berani memilih warna untuk busana kerja. Jas kerja yang dimilikinya tidak terbatas warna hitam,namun juga biru. Coraknya pun ada yang polos atau bergaris. Sedangkan untuk jamuan formal, justru warna hitam dianggapnya yang paling aman.Terlebih lagi jika dress code-nya black tie.
Lain lagi untuk coktail party atau acara lain yang bertemakan kasual.Veri memilih setelan tanpa dasi dengan model yang lebih stylish. Warnanya pun lebih bebas untuk dipadupadankan. ”Untuk acara kasual saya biasanya pakai jas abu-abu dengan celana hitam. Beda dengan acara formal dimana atas bawah harus sama,”katanya.
Menurut Samy,musim di Indonesia yang hanya ada dua, cenderung membatasi pemilihan jas yang dapat dikenakan.Apalagi Indonesia beriklim tropis. Sehingga kebanyakan orang lebih nyaman memakai batik ketimbang jas. Namun bukan berarti jas adalah dominasi budaya barat.
”Kalau diperhatikan dari zaman kerajaan jaman dulu,raja-rajanya sudah pakai jas.Di Jawa misalnya petinggi kerajaan memakai beskap,”tutur Samy. Ia menilai,jas memang belum begitu membudaya di Indonesia.Tetapi bagi para eksekutif yang bekerja di perusahaan internasional, mematuhi aturan berpakaian internasional adalah suatu kewajiban.(sri noviarni)
Dasi dan Sepatu Penunjang Aksesori
PEMILIHAN sepatu yang tepat sebagai padu padan jas yang dikenakan dapat mewakilkan citra mewah yang ingin ditampilkan.
Ketika ingin menghadiri acara formal, misalnya, sepatu hitam mengkilatlah yang paling sesuai. Marketing Director Senayan City Veri Y Setiady bahkan memiliki lebih dari 10 pasang koleksi sepatu formal untuk melengkapi cara berpenampilan elegannya. Merek Prada menjadi favoritnya untuk berkantor karena modelnya yang sederhana.
Adapun untuk jamuan formal, Veri akan berjalan di bawah topangan sepatu bermerek Christian Dior atau Gucci. Sepatu label Gucci dan Prada dibelinya seharga Rp4 juta hingga Rp5 jutaan. Yang relatif mahal adalah Dior yang bisa mencapai Rp6 juta dan dibelinya di luar negeri. Itu baru sepatu, Belum aksesori yang amat penting sebagai teman jas yaitu dasi.
Veri cenderung menyukai model yang agak konservatif dan tidak terlalu ramai. Bukan tanpa alasan, dia memilih dasi jenis ini, dipakai berapa kali pun orang lain tidak akan menyadari karena warnanya yang polos tanpa motif. Jumlah dasi mencapai 40-an. Harganya pun cukup mahal.
Sebuah dasi bisa berharga Rp2 juta. Lain lagi dengan Charles Bonar Sirait. Dia juga memiliki koleksi dasi yang jumlahnya sama dengan Veri. Dasi yang dimiliknya rata-rata seharga di atas Rp300.000. Namun, bagi Charles, dasi saja belum cukup. Bagian tangan akan terasa belum komplet kalau tidak memakai cufflink atau lebih dikenal dengan manset.
Cufflink tersedia dalam berbagai bentuk, ada yang berbentuk alat musik, mobil, dan sebagainya. Charles sendiri bukan tipe pria yang menyenangi ragam bentuk cufflink yang unik. Kebanyakan koleksi mansetnya yang berkisar 10 buah ini, modelnya konservatif dan formal. (sri noviarni)
Sabtu, 26 April 2008
Sabtu yang Menakjubkan
Dulu, pas kuliah, Sabtu adalah hari yang paling benci coz hari kejepit dimana gue harus mengikuti kuliah percetakan (smtr 5) atau periklanan (smtr 4). Tapi, selama gue magang Sabtu jadi hari yang mewah banget bagi seorang Fadlya El’Arsya.
Meliburkan segala kepenatan
Membebaskan segala pikiran
Merilekskan anggota badan
Setelah cukup lelah berputar memainkan kata, nulis ini, liputan kesini, duduk berjam2, cari ide, dan aktivitas lainnya yang (bagi gue) It’s so fun, tapi kadang jemu dan melelahkan…
Lelah karena suasana hati seringkali tidak seirama
Jemu karena kepasifan gue yang membuat gue tak mendapat apa2
Ah…inilah Sabtu yang untuk kesekian kalinya sangat menakjubkan!!!!
Sebenernya kemaren (25/04) cukup bikin gue agak stres coz assred gue nagih terus soal Hen Party. Hari ini nih, gue mau nunjukin ke dia kalo gue telah berupaya semaksimal mungkin untuk mendapat narsum yang pernah ngadain pesta kayak gituan. Akhirnya, di Indonesia ada juga ya yang bikin party ampe segitu (menurut gue) PARAH buanget!!!
Santai dunk gue, cukup bahkan terlalu bikin gue jingkrak2an stengah mampus (saking kesenangannya). Tapi, gue tulisnya gimana ya…
Alhamdulillah dapat 2000 karakter, santai lagi ah sambil sekali2 baca Laskar Pelangi….
Sore tiba, Hujan pun turun, tanpa pikir panjang jiwa kespontanitasan gue menaikkan adrenalin gue. Seperti biasa n selalu gue lakuin, “Ma, La boleh hujan2an ya…” (persis anak berumur 5 tahun, kalo mau apa2 harus dapet izin dr mamanya, hehehe..). Nyokap gue cuma ngangguk2. (mungkin dalam hatinya, “Ela..Ela…lupa ya kalo kamu udah 20 tahun, hikZ…)
Hujan2an lah gue, maen air di atap rumah, tepatnya di atas kamar gue. Eh, dateng ade gue yang kurus kerempeng. Dia ngerengek2 pengen ikutan ujan2an juga. Tanpa minta izin ke nyokap, dia pun terjun ke butiran air yang jatuh dan membasahi seluruh tubuh kerempengnya itu.
Walaupun hujannya kebanyakan angin (bikin gue kedinginan), tapi gue menikmati dan bersyukur bisa maen ujan…Kalo udah kaya gitu gue lupa kalo umur gue tahun ini ganjil 21 tahun. Mungkin inilah yang menyebabkan gue nggak pernah mau jadi dewasa.
Gue pengen jadi anak kecil, semau gue, sesuka gue, ini-itu boleh, mau apa2 dibiarin…
Gue pengen jadi anak kecil aza ya…
Gimana?
Meliburkan segala kepenatan
Membebaskan segala pikiran
Merilekskan anggota badan
Setelah cukup lelah berputar memainkan kata, nulis ini, liputan kesini, duduk berjam2, cari ide, dan aktivitas lainnya yang (bagi gue) It’s so fun, tapi kadang jemu dan melelahkan…
Lelah karena suasana hati seringkali tidak seirama
Jemu karena kepasifan gue yang membuat gue tak mendapat apa2
Ah…inilah Sabtu yang untuk kesekian kalinya sangat menakjubkan!!!!
Sebenernya kemaren (25/04) cukup bikin gue agak stres coz assred gue nagih terus soal Hen Party. Hari ini nih, gue mau nunjukin ke dia kalo gue telah berupaya semaksimal mungkin untuk mendapat narsum yang pernah ngadain pesta kayak gituan. Akhirnya, di Indonesia ada juga ya yang bikin party ampe segitu (menurut gue) PARAH buanget!!!
Santai dunk gue, cukup bahkan terlalu bikin gue jingkrak2an stengah mampus (saking kesenangannya). Tapi, gue tulisnya gimana ya…
Alhamdulillah dapat 2000 karakter, santai lagi ah sambil sekali2 baca Laskar Pelangi….
Sore tiba, Hujan pun turun, tanpa pikir panjang jiwa kespontanitasan gue menaikkan adrenalin gue. Seperti biasa n selalu gue lakuin, “Ma, La boleh hujan2an ya…” (persis anak berumur 5 tahun, kalo mau apa2 harus dapet izin dr mamanya, hehehe..). Nyokap gue cuma ngangguk2. (mungkin dalam hatinya, “Ela..Ela…lupa ya kalo kamu udah 20 tahun, hikZ…)
Hujan2an lah gue, maen air di atap rumah, tepatnya di atas kamar gue. Eh, dateng ade gue yang kurus kerempeng. Dia ngerengek2 pengen ikutan ujan2an juga. Tanpa minta izin ke nyokap, dia pun terjun ke butiran air yang jatuh dan membasahi seluruh tubuh kerempengnya itu.
Walaupun hujannya kebanyakan angin (bikin gue kedinginan), tapi gue menikmati dan bersyukur bisa maen ujan…Kalo udah kaya gitu gue lupa kalo umur gue tahun ini ganjil 21 tahun. Mungkin inilah yang menyebabkan gue nggak pernah mau jadi dewasa.
Gue pengen jadi anak kecil, semau gue, sesuka gue, ini-itu boleh, mau apa2 dibiarin…
Gue pengen jadi anak kecil aza ya…
Gimana?
Tulisan_25 @ Sindo
TV Edukasi Bukan Tinggal Sejarah
Sabtu, 26/04/2008
SIAPA bilang tayangan televisi tidak bermutu dan hanya banyak memuat unsur hiburan.Tidak demikian dengan Televisi Edukasi(TV E).
Program televisi ini merupakan produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Pernah dengar belajar lewat televisi? Belajar melalui media televisi mempunyai atmosfer lain dibandingkan belajar di ruang kelas. Materi pelajaran yang ditayangkan beragam dan terbagi dalam tiga jenis, yakni pelajaran formal berbasis kurikulum, nonformal, dan pelajaran di luar sekolah atau kursus.
Dulu, TPI identik dengan program ini. Setiap hari, program yang ditayangkan TPIwaktu itu tidak jauh-jauh dari mata pelajaran. Namun, ketika era milenium datang, semuanya pun berubah.TPIperlahan-lahan mengurangi jatah siaran pendidikan. Namun jangan kaget, ternyata sampai saat ini,Anda masih bisa belajar lewat televisi.
Salah satu stasiun TV yang siaran pendidikan adalah Televisi Edukasi (TV E), program televisi produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Di Jakarta,rangkaian program TV E hanya bisa disaksikan lewat TVRIdan stasiun televisi swasta (Space Toon) dengan waktu tertentu. Di TVRI misalnya, tayangan ini hanya bisa disaksikan setiap hari Senin-Kamis pukul 07.15–09.30 dan 14.15–16.30 WIB.
Yang berisi materimateri siaran untuk siswa/i SMP,yang bermateri bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Waktu mengudara untuk menikmati siaran TV E di Space Toon malah lebih singkat lagi, yakni pukul 12.00- 13.00 setiap hari. ”Soalnya TV E memang dikhususkan bagi para siswa yang berada di luar kota terlebih lagi di pelosok daerah,”kata kepala Subbidang Teknologi dan Komunikasi TV E Kusdianto Hilman.
DI TV E, pelajaran yang ditayangkan adalah pendidikan formal berbasis kurikulum sesuai mata pelajaran, sedangkan program tayangan luar sekolah, yakni materi tata boga, tata rias, serta Paket A, B, dan C. TV E juga cukup pintar dalam meramu acara. Program yang ditayangkan tidak melulu berisi pendidikan.
Sebagai selingan, disiarkan tayangan sinetron seperti Laskar Anak Bawangdan Geng Lima. Kenapa hanya dikhususkan untuk daerah? Menurut Kusdianto, tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan, terutama siswa di daerah terpencil seperti di Indonesia bagian timur.
”Karenanya, TV E hadir untuk menjawab permasalahan tersebut, ini hanya salah satu solusi, kami mengudara selama 24 jam penuh yang dapat ditangkap dengan parabola,” kata Kusdianto. Bagi mereka yang berada di daerah untuk mendapatkan siaran TV E ini terbilang mudah. Karena biasanya di daerah untuk menangkap siaran televisi memang harus menggunakan parabola.
Masih adanya televisi edukasi disambut positif oleh Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi. ”Televisi edukasi mungkin bisa menjadi angin segar di tengah maraknya isu pendidikan.Terlebih lagi semenjak pemerintah memberlakukanstandarkelulusan ujian nasional merata di seluruh Indonesia.
Padahal, mutu pendidikan tidaklah sama di berbagai penjuru Nusantara, terutama di Indonesia bagian timur. Pria yang akrab disapa Kak Seto ini memaparkan selain cocok bagi pelajar yang berada di pelosok daerah, model pembelajaran melalui pesawat televisi ini dapat juga menjadi acuan bagi peserta home school maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di berbagai wilayah. (sri noviarni)
Efektif dan Tepat Sasaran
MENJADI presenter dengan konsep pendidikan merupakan pengalaman menarik bagi Indra Herlambang, 32.
Setelah melewati proses casting, pria kelahiran 16 Maret ini berhasil menjadi pemandu acara pelajaran bahasa Inggris di Televisi Edukasimilik Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) yang ada dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
Awalnya Indra mengaku kesulitan, tapi setelah dijalankan, dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar saat membawakan acara yang mengulas pelajaran untuk siswa SMP tersebut. ”Bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu, saya perlu persiapan yang baik sebelum syuting,” kata presenter Insert ini.
Namun, pria yang mengawali karier sebagai penyiar radio di Bandung ini, juga tidak menampik jika peran di acara tersebut banyak membantunya. ”Acara ini bukan sekadar tontonan, juga memberikan pelajaran yang akan diingat banyak orang.
Jadi kalau salah, repot juga,” tutur Indra yang sering berperan dalam acara komedi ini. Meski mengaku mendapat naskah dari Pustekom, Indra tak jarang memberikan tambahan soal materi yang akan disampaikannya.
Dalam acara tersebut, Indra mengupas berbagai teori bahasa Inggris berupa grammar, vocabulary, tenses yangdiselingi dengan games. Agar ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik, Indra tidak saja memperhatikan intonasi ketika berbicara.
Gaya santai pun dia tunjukkan dengan body language, ekspresi, dan wardrobeyang ia kenakan. ”Acara ini konsepnya belajar, tapi menyenangkan agar tidak terlihat seperti mengajar. Saya punya trik seperti itu,” tutur pria lulusan Desain Komunikasi Visual ITB ini.
Kemasan acara, menurut Indra, menjadi faktor penentu keefektifan acara tersebut. ”Saat ini banyak program pendidikan disiarkan di televisi, tapi saya melihat kemasannya kurang maksimal, jadi acara tersebut kurang mendapatkan perhatian,” kata Indra.(sri noviarni/MG-18)
Sabtu, 26/04/2008
SIAPA bilang tayangan televisi tidak bermutu dan hanya banyak memuat unsur hiburan.Tidak demikian dengan Televisi Edukasi(TV E).
Program televisi ini merupakan produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Pernah dengar belajar lewat televisi? Belajar melalui media televisi mempunyai atmosfer lain dibandingkan belajar di ruang kelas. Materi pelajaran yang ditayangkan beragam dan terbagi dalam tiga jenis, yakni pelajaran formal berbasis kurikulum, nonformal, dan pelajaran di luar sekolah atau kursus.
Dulu, TPI identik dengan program ini. Setiap hari, program yang ditayangkan TPIwaktu itu tidak jauh-jauh dari mata pelajaran. Namun, ketika era milenium datang, semuanya pun berubah.TPIperlahan-lahan mengurangi jatah siaran pendidikan. Namun jangan kaget, ternyata sampai saat ini,Anda masih bisa belajar lewat televisi.
Salah satu stasiun TV yang siaran pendidikan adalah Televisi Edukasi (TV E), program televisi produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Di Jakarta,rangkaian program TV E hanya bisa disaksikan lewat TVRIdan stasiun televisi swasta (Space Toon) dengan waktu tertentu. Di TVRI misalnya, tayangan ini hanya bisa disaksikan setiap hari Senin-Kamis pukul 07.15–09.30 dan 14.15–16.30 WIB.
Yang berisi materimateri siaran untuk siswa/i SMP,yang bermateri bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Waktu mengudara untuk menikmati siaran TV E di Space Toon malah lebih singkat lagi, yakni pukul 12.00- 13.00 setiap hari. ”Soalnya TV E memang dikhususkan bagi para siswa yang berada di luar kota terlebih lagi di pelosok daerah,”kata kepala Subbidang Teknologi dan Komunikasi TV E Kusdianto Hilman.
DI TV E, pelajaran yang ditayangkan adalah pendidikan formal berbasis kurikulum sesuai mata pelajaran, sedangkan program tayangan luar sekolah, yakni materi tata boga, tata rias, serta Paket A, B, dan C. TV E juga cukup pintar dalam meramu acara. Program yang ditayangkan tidak melulu berisi pendidikan.
Sebagai selingan, disiarkan tayangan sinetron seperti Laskar Anak Bawangdan Geng Lima. Kenapa hanya dikhususkan untuk daerah? Menurut Kusdianto, tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan, terutama siswa di daerah terpencil seperti di Indonesia bagian timur.
”Karenanya, TV E hadir untuk menjawab permasalahan tersebut, ini hanya salah satu solusi, kami mengudara selama 24 jam penuh yang dapat ditangkap dengan parabola,” kata Kusdianto. Bagi mereka yang berada di daerah untuk mendapatkan siaran TV E ini terbilang mudah. Karena biasanya di daerah untuk menangkap siaran televisi memang harus menggunakan parabola.
Masih adanya televisi edukasi disambut positif oleh Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi. ”Televisi edukasi mungkin bisa menjadi angin segar di tengah maraknya isu pendidikan.Terlebih lagi semenjak pemerintah memberlakukanstandarkelulusan ujian nasional merata di seluruh Indonesia.
Padahal, mutu pendidikan tidaklah sama di berbagai penjuru Nusantara, terutama di Indonesia bagian timur. Pria yang akrab disapa Kak Seto ini memaparkan selain cocok bagi pelajar yang berada di pelosok daerah, model pembelajaran melalui pesawat televisi ini dapat juga menjadi acuan bagi peserta home school maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di berbagai wilayah. (sri noviarni)
Efektif dan Tepat Sasaran
MENJADI presenter dengan konsep pendidikan merupakan pengalaman menarik bagi Indra Herlambang, 32.
Setelah melewati proses casting, pria kelahiran 16 Maret ini berhasil menjadi pemandu acara pelajaran bahasa Inggris di Televisi Edukasimilik Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) yang ada dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
Awalnya Indra mengaku kesulitan, tapi setelah dijalankan, dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar saat membawakan acara yang mengulas pelajaran untuk siswa SMP tersebut. ”Bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu, saya perlu persiapan yang baik sebelum syuting,” kata presenter Insert ini.
Namun, pria yang mengawali karier sebagai penyiar radio di Bandung ini, juga tidak menampik jika peran di acara tersebut banyak membantunya. ”Acara ini bukan sekadar tontonan, juga memberikan pelajaran yang akan diingat banyak orang.
Jadi kalau salah, repot juga,” tutur Indra yang sering berperan dalam acara komedi ini. Meski mengaku mendapat naskah dari Pustekom, Indra tak jarang memberikan tambahan soal materi yang akan disampaikannya.
Dalam acara tersebut, Indra mengupas berbagai teori bahasa Inggris berupa grammar, vocabulary, tenses yangdiselingi dengan games. Agar ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik, Indra tidak saja memperhatikan intonasi ketika berbicara.
Gaya santai pun dia tunjukkan dengan body language, ekspresi, dan wardrobeyang ia kenakan. ”Acara ini konsepnya belajar, tapi menyenangkan agar tidak terlihat seperti mengajar. Saya punya trik seperti itu,” tutur pria lulusan Desain Komunikasi Visual ITB ini.
Kemasan acara, menurut Indra, menjadi faktor penentu keefektifan acara tersebut. ”Saat ini banyak program pendidikan disiarkan di televisi, tapi saya melihat kemasannya kurang maksimal, jadi acara tersebut kurang mendapatkan perhatian,” kata Indra.(sri noviarni/MG-18)
Tulisan_24 @ Sindo
Keajaiban Sekolah Alam
Sabtu, 26/04/2008
Alam adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah.Beberapa penemu terkenal di dunia mampu menghasilkan karya-karya fenomenal lantaran memanfaatkan alam. Lihat saja Isaac Newton yang berhasil menemukan ide tentang teori gravitasi hanya karena duduk di bawah pohon apel yang buahnya terjatuh di dekatnya.
Berkaca dari hal tersebut, kini banyak sekolah mempunyai konsep kembali dan pemanfaatan alam sebagai bagian dari metode pembelajaran. Salah satu sekolah yang mengadopsi konsep belajar seperti ini adalah Sekolah Alam Jakarta (SAJ) yang ada di Jalan Anda 7 X Ciganjur,Jakarta Selatan.
Begitu memasuki sekolah ini, jangan heran karena Anda tidak akan menemukan bangunan permanen layaknya gedung sekolah pada umumnya. Sebagai gantinya, berbagai ruangan yang ada seperti ruang guru dan kepala sekolah hanya menempati rumah kayu yang dibangun berlantai dua.Tidak ada bangku atau meja di ruangan-ruangan tersebut.
Ruang kelasnya juga tak kalah natural, alih-alih belajar di ruang berdinding dan berkaca, para murid malah semakin menyatu dengan alam dalamsaungkelas. Samadenganruangan lain,di kelas juga tidak ada bangku dan meja. Semua serbalesehan, untuk keperluan menulis setiap anak m e m i l i k i meja lipat sendiri.
Perpustakaan juga sama, di sini berbagai buku disusun dengan rapi di rak atau lemari kaca.Para siswa yang ingin membaca buku di perpustakaan harus melepas alas kaki dan duduk dengan manis di sehelai tikar rotan. Sekolah yang memiliki jargon learning is fun for us ini bukan hanya mencoba mengajak murid lebih dekat dengan alam.
Lebih dari itu, sekolah yang turut menyukseskan program wajib belajar sembilan tahun ini berusaha memanfaatkan alam sebagai media murah untuk mentransfer ilmu kepada para murid secara optimal. ”Alam memberi banyak inspirasi dan mengajak berpikir realistis.Kami percaya semakin dekat anak dengan alam, ia akan tumbuh menjadi seorang yang bijaksana.
Di sekolah ini kami menggunakan alam sebagai fasilitas belajar,” kata kepala Sekolah Alam Jakarta Novi Hardian. Menurut Novi, selama ini orang sering salah kaprah dalam memaknai kualitas pendidikan. Banyak orang menganggap kualitas pendidikan berjalan linier dengan fasilitas yang memadai.Padahal, hal tersebut tidak selamanya benar.
”Ada tiga hal yang menentukan kualitas sekolah, yakni sumber belajar, guru, dan metodologi yang berkualitas,” tutur Novi. SAJ berusaha menghadirkan ketiga aspek tersebut demi menjaga mutu sekolah serta menjamin lulusan sekolah yang potensial. Sebagian besar buku-buku yang digunakan sebagai panduan belajar merupakan buku dari luar negeri.
Adapun guru sebagai tenaga pengajar di SAJ, dipilih lewat seleksi yang ketat dan harus berani mengedepankan kreativitas dalam memberikan pelajaran. Karena konsepnya sekolah alam, rata-rata guru berlatar belakang pendidikan pertanian. Namun, tidak sedikit lulusan dari universitas ternama seperti UI atau Unpad.
Yang menjadi pembeda antara sekolah alam dan sekolah konvensional lainnya adalah metodologi pembelajaran.Metode ini berprinsip, guru bukanlah pusat belajar justru murid yang memegang peran itu.Jadi, lewat pendekatan experiental learning, guru hanya sebagai media yang bertugas memfasilitasi.
Hal ini dibenarkan Ani Rahmawati, guru kelas satu SAJ.Menurutnya, metode experiental learning, mengasah murid didikannya lebih peka kepada persoalan dan mampu berpikir kritis. Berbekal metode itu, Ani justru mengaku kerap kesulitan melayani pertanyaan muridnya yang terkadang membuatnya berdecak kagum.
”Lewat metode ini, anak tidak dijejalkan berbagai rumus, tetapi anak dibawa agar mereka sendirilah yang akan menemukan rumus itu,” beber Ani. l itu memang terbukti ketika SINDO datang ke SAJ. Waktu itu murid kelas tiga sedang sibuk melakukan presentasi di saung kelas mengenai negara-negara di dunia.
”Setiap murid, saya beri tugas mengulas soal suatu negara, boleh sejarah, iklim, penduduknya dan sebagainya. Nanti mereka akan menjelaskan temuan tersebut di depan kelas,” ungkap Aditia Mulyadi, guru kelas tiga. Cara ini cukup efektif mengajak murid aktif dalam mencari informasi melalui berbagai sumber pengetahuan, baik buku maupun internet.
Alhasil anak-anaklah yang mencari, mengolah, dan mendapatkan ilmu tersebut. Bukan tidak mungkin dengan metode ini anak akhirnya mampu berpikir sistematis dan mengembangkan kemampuan kritisnya untuk bertanya maupun melihat persoalan.
Karena kurikulumnya khusus SAJ, tidak heran sebanyak 75% kegiatan belajar-mengajar dilakukan di luar ruang alias outdoor, sedangkan sisanya dilakukan di dalam kelas. ”Sejatinya hakikat belajar bisa dilakukan di mana saja, makanya tidak masalah belajar di lingkungan outdoor,”ujar Novi.
Sekolah Tanpa Rasa Lelah
HAKIKATsekolah alam berbeda dengan sekolah konvensional pada umumnya. Termasuk dalam soal materi yang diterapkan.
Muatan lokal yang biasanya berupa kesenian atau bahasa daerah seperti di sekolah lain, tidak akan ditemukan di Sekolah Alam Jakarta (SAJ). Pilihan yang tersedia cukup menarik dan bagi anak-anak dijamin jauh dari kata bosan.
Bagaimana tidak, bahasa Arab, berkebun, dan beternak serta kegiatan outbondlainnya selalu menemani mereka selama perjalanan semester. Setidaknya, dua minggu sekali murid SAJ melakukan outbond di dalam atau luar sekolah.
Kegiatan ini pun sangat menyenangkan dan cukup menantang, seperti rafting, yang biasanya mengambil tempat di Danau Setu Babakan yang berada di daerah Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Untuk menghindari kejenuhan, pihak sekolah cukup pintar dalam mengemas kegiatan.
Sekali waktu acara rafting diganti dengan wall climbing, khusus untuk murid SMP. Adapun satu bulan sekali murid diajak pergi berenang. Outbondmemang bertujuan menyenangkan para murid, tapi di balik itu ada makna yang lebih mendalam yakni pendidikan leadershipdengan dynamic group sebagai metode utama.
Tidak heran bersekolah di SAJ bagaikan bermain bersama teman dan tidak terasa belajar. Seperti pengakuan Zalna, Alif Mahardika, dan Ajra Ibrahim. Ketiganya mengaku senang bersekolah di SAJ karena tidak membosankan.
”Di sini seru, enak, udaranya segar, kelasnya terbuka, gurunya baik, dan yang penting ada outbond-nya,” kata mereka. Alif yang tinggal di Tanah Baru, Depok, ini tak pernah sekalipun merasa bosan dengan kegiatan belajar di sekolah alam. ”Alif sih senang-senang aja, setiap hari rasanya kayak bermain, waktu belajar juga enggak bosan, apalagi di sini teman-temannya baik,” ucap Alif polos.
Buku Pelajaran Tidak dibawa ke Rumah
DEMI memperoleh nilai memuaskan, di sekolah konvensional, murid lebih banyak dituntut memahami setiap mata pelajaran.
Keadaannya berbeda dengan SAJ yang lebih menekankan paradigma murid mendapatkan ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai hasil belajar, guru tidak memberi nilai berupa angka. Namun, gambaranprestasi murid tecermin dalam kurva dengan indikator di antaranya attitude, worked independent, ketelitian, kerapihan dan lain-lain.
Semuanya dinilai dengan ukuran enough,good, dan excellent. Yang menarik, sejak kelas satu murid SAJ sudah dibiasakan menulis. Setiap hari Senin ada daily writing. Setiap murid akan diberi worksheet untuk mengarang indah tentang kegiatan yang mereka lakukan di akhir pekan, lengkap dengan kotak yang disediakan sebagai tempat menggambar kegiatan mereka itu.
”Karena sudah terbiasa menulis, mereka tidak akan mengalami kesulitan menulis dan menuangkan ide di kemudian hari,”kata Ani. Kemampuan menulis menjadi suatu keharusan di SAJ, untuk kegiatan presentasi atau yang lain. Terlebih lagi di kelas enam dan SMP nanti ada semacam tugas akhir yang diberikan sebagai salah satu syarat kelulusan.
Layaknya penulisan tugas akhir kecil-kecilan setara tingkat diplomat, murid SAJ diajak untuk melakukan suatu penelitian dan menyusunnya secara sistematis dalam kerangka penulisan ilmiah lalu mempresentasikannya di hadapan guru dan murid yang lain.
Berbagai keunggulan inilah yang membuat Widayati tertarik menyekolahkan keempat anaknya di SAJ. Ibu rumah tangga ini mengaku sejak Aldi, putranya yang kelas tiga SD, disekolahkan di SAJ, dirinya melihat kemajuan yang pesat pada sang anak.
”Dia punya karakter memimpin dibanding sepupunya yang lain, bakatnya kelihatan dan sangat kritis melihat suatu masalah,”kata Widayati. Menurutnya, ini adalah sekolah yang tidak membendung kreativitas anak. Yang menarik, di sekolah ini banyak kegiatan yang akhirnya menuntut orangtua untuk ikut belajar pula.
Seperti ketika Aldi diminta untuk melakukan presentasi tentang negara China, Wida juga turut membantu menyiapkan materi presentasi dengan membuatkan program power point. Lain lagi dengan pengakuan Afianti yang mempunyai putri bernama Annisa yang juga duduk di kelas tiga.
”Belajar di sekolah sudah cukup menguras tenaga dan pikiran, makanya di sekolah ini buku-buku tidak dibawa pulang dan jarang sekali ada PR,”beber wanita yang tinggal di Cinere ini. (sri noviarni/MG-18)
Sabtu, 26/04/2008
Alam adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah.Beberapa penemu terkenal di dunia mampu menghasilkan karya-karya fenomenal lantaran memanfaatkan alam. Lihat saja Isaac Newton yang berhasil menemukan ide tentang teori gravitasi hanya karena duduk di bawah pohon apel yang buahnya terjatuh di dekatnya.
Berkaca dari hal tersebut, kini banyak sekolah mempunyai konsep kembali dan pemanfaatan alam sebagai bagian dari metode pembelajaran. Salah satu sekolah yang mengadopsi konsep belajar seperti ini adalah Sekolah Alam Jakarta (SAJ) yang ada di Jalan Anda 7 X Ciganjur,Jakarta Selatan.
Begitu memasuki sekolah ini, jangan heran karena Anda tidak akan menemukan bangunan permanen layaknya gedung sekolah pada umumnya. Sebagai gantinya, berbagai ruangan yang ada seperti ruang guru dan kepala sekolah hanya menempati rumah kayu yang dibangun berlantai dua.Tidak ada bangku atau meja di ruangan-ruangan tersebut.
Ruang kelasnya juga tak kalah natural, alih-alih belajar di ruang berdinding dan berkaca, para murid malah semakin menyatu dengan alam dalamsaungkelas. Samadenganruangan lain,di kelas juga tidak ada bangku dan meja. Semua serbalesehan, untuk keperluan menulis setiap anak m e m i l i k i meja lipat sendiri.
Perpustakaan juga sama, di sini berbagai buku disusun dengan rapi di rak atau lemari kaca.Para siswa yang ingin membaca buku di perpustakaan harus melepas alas kaki dan duduk dengan manis di sehelai tikar rotan. Sekolah yang memiliki jargon learning is fun for us ini bukan hanya mencoba mengajak murid lebih dekat dengan alam.
Lebih dari itu, sekolah yang turut menyukseskan program wajib belajar sembilan tahun ini berusaha memanfaatkan alam sebagai media murah untuk mentransfer ilmu kepada para murid secara optimal. ”Alam memberi banyak inspirasi dan mengajak berpikir realistis.Kami percaya semakin dekat anak dengan alam, ia akan tumbuh menjadi seorang yang bijaksana.
Di sekolah ini kami menggunakan alam sebagai fasilitas belajar,” kata kepala Sekolah Alam Jakarta Novi Hardian. Menurut Novi, selama ini orang sering salah kaprah dalam memaknai kualitas pendidikan. Banyak orang menganggap kualitas pendidikan berjalan linier dengan fasilitas yang memadai.Padahal, hal tersebut tidak selamanya benar.
”Ada tiga hal yang menentukan kualitas sekolah, yakni sumber belajar, guru, dan metodologi yang berkualitas,” tutur Novi. SAJ berusaha menghadirkan ketiga aspek tersebut demi menjaga mutu sekolah serta menjamin lulusan sekolah yang potensial. Sebagian besar buku-buku yang digunakan sebagai panduan belajar merupakan buku dari luar negeri.
Adapun guru sebagai tenaga pengajar di SAJ, dipilih lewat seleksi yang ketat dan harus berani mengedepankan kreativitas dalam memberikan pelajaran. Karena konsepnya sekolah alam, rata-rata guru berlatar belakang pendidikan pertanian. Namun, tidak sedikit lulusan dari universitas ternama seperti UI atau Unpad.
Yang menjadi pembeda antara sekolah alam dan sekolah konvensional lainnya adalah metodologi pembelajaran.Metode ini berprinsip, guru bukanlah pusat belajar justru murid yang memegang peran itu.Jadi, lewat pendekatan experiental learning, guru hanya sebagai media yang bertugas memfasilitasi.
Hal ini dibenarkan Ani Rahmawati, guru kelas satu SAJ.Menurutnya, metode experiental learning, mengasah murid didikannya lebih peka kepada persoalan dan mampu berpikir kritis. Berbekal metode itu, Ani justru mengaku kerap kesulitan melayani pertanyaan muridnya yang terkadang membuatnya berdecak kagum.
”Lewat metode ini, anak tidak dijejalkan berbagai rumus, tetapi anak dibawa agar mereka sendirilah yang akan menemukan rumus itu,” beber Ani. l itu memang terbukti ketika SINDO datang ke SAJ. Waktu itu murid kelas tiga sedang sibuk melakukan presentasi di saung kelas mengenai negara-negara di dunia.
”Setiap murid, saya beri tugas mengulas soal suatu negara, boleh sejarah, iklim, penduduknya dan sebagainya. Nanti mereka akan menjelaskan temuan tersebut di depan kelas,” ungkap Aditia Mulyadi, guru kelas tiga. Cara ini cukup efektif mengajak murid aktif dalam mencari informasi melalui berbagai sumber pengetahuan, baik buku maupun internet.
Alhasil anak-anaklah yang mencari, mengolah, dan mendapatkan ilmu tersebut. Bukan tidak mungkin dengan metode ini anak akhirnya mampu berpikir sistematis dan mengembangkan kemampuan kritisnya untuk bertanya maupun melihat persoalan.
Karena kurikulumnya khusus SAJ, tidak heran sebanyak 75% kegiatan belajar-mengajar dilakukan di luar ruang alias outdoor, sedangkan sisanya dilakukan di dalam kelas. ”Sejatinya hakikat belajar bisa dilakukan di mana saja, makanya tidak masalah belajar di lingkungan outdoor,”ujar Novi.
Sekolah Tanpa Rasa Lelah
HAKIKATsekolah alam berbeda dengan sekolah konvensional pada umumnya. Termasuk dalam soal materi yang diterapkan.
Muatan lokal yang biasanya berupa kesenian atau bahasa daerah seperti di sekolah lain, tidak akan ditemukan di Sekolah Alam Jakarta (SAJ). Pilihan yang tersedia cukup menarik dan bagi anak-anak dijamin jauh dari kata bosan.
Bagaimana tidak, bahasa Arab, berkebun, dan beternak serta kegiatan outbondlainnya selalu menemani mereka selama perjalanan semester. Setidaknya, dua minggu sekali murid SAJ melakukan outbond di dalam atau luar sekolah.
Kegiatan ini pun sangat menyenangkan dan cukup menantang, seperti rafting, yang biasanya mengambil tempat di Danau Setu Babakan yang berada di daerah Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Untuk menghindari kejenuhan, pihak sekolah cukup pintar dalam mengemas kegiatan.
Sekali waktu acara rafting diganti dengan wall climbing, khusus untuk murid SMP. Adapun satu bulan sekali murid diajak pergi berenang. Outbondmemang bertujuan menyenangkan para murid, tapi di balik itu ada makna yang lebih mendalam yakni pendidikan leadershipdengan dynamic group sebagai metode utama.
Tidak heran bersekolah di SAJ bagaikan bermain bersama teman dan tidak terasa belajar. Seperti pengakuan Zalna, Alif Mahardika, dan Ajra Ibrahim. Ketiganya mengaku senang bersekolah di SAJ karena tidak membosankan.
”Di sini seru, enak, udaranya segar, kelasnya terbuka, gurunya baik, dan yang penting ada outbond-nya,” kata mereka. Alif yang tinggal di Tanah Baru, Depok, ini tak pernah sekalipun merasa bosan dengan kegiatan belajar di sekolah alam. ”Alif sih senang-senang aja, setiap hari rasanya kayak bermain, waktu belajar juga enggak bosan, apalagi di sini teman-temannya baik,” ucap Alif polos.
Buku Pelajaran Tidak dibawa ke Rumah
DEMI memperoleh nilai memuaskan, di sekolah konvensional, murid lebih banyak dituntut memahami setiap mata pelajaran.
Keadaannya berbeda dengan SAJ yang lebih menekankan paradigma murid mendapatkan ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai hasil belajar, guru tidak memberi nilai berupa angka. Namun, gambaranprestasi murid tecermin dalam kurva dengan indikator di antaranya attitude, worked independent, ketelitian, kerapihan dan lain-lain.
Semuanya dinilai dengan ukuran enough,good, dan excellent. Yang menarik, sejak kelas satu murid SAJ sudah dibiasakan menulis. Setiap hari Senin ada daily writing. Setiap murid akan diberi worksheet untuk mengarang indah tentang kegiatan yang mereka lakukan di akhir pekan, lengkap dengan kotak yang disediakan sebagai tempat menggambar kegiatan mereka itu.
”Karena sudah terbiasa menulis, mereka tidak akan mengalami kesulitan menulis dan menuangkan ide di kemudian hari,”kata Ani. Kemampuan menulis menjadi suatu keharusan di SAJ, untuk kegiatan presentasi atau yang lain. Terlebih lagi di kelas enam dan SMP nanti ada semacam tugas akhir yang diberikan sebagai salah satu syarat kelulusan.
Layaknya penulisan tugas akhir kecil-kecilan setara tingkat diplomat, murid SAJ diajak untuk melakukan suatu penelitian dan menyusunnya secara sistematis dalam kerangka penulisan ilmiah lalu mempresentasikannya di hadapan guru dan murid yang lain.
Berbagai keunggulan inilah yang membuat Widayati tertarik menyekolahkan keempat anaknya di SAJ. Ibu rumah tangga ini mengaku sejak Aldi, putranya yang kelas tiga SD, disekolahkan di SAJ, dirinya melihat kemajuan yang pesat pada sang anak.
”Dia punya karakter memimpin dibanding sepupunya yang lain, bakatnya kelihatan dan sangat kritis melihat suatu masalah,”kata Widayati. Menurutnya, ini adalah sekolah yang tidak membendung kreativitas anak. Yang menarik, di sekolah ini banyak kegiatan yang akhirnya menuntut orangtua untuk ikut belajar pula.
Seperti ketika Aldi diminta untuk melakukan presentasi tentang negara China, Wida juga turut membantu menyiapkan materi presentasi dengan membuatkan program power point. Lain lagi dengan pengakuan Afianti yang mempunyai putri bernama Annisa yang juga duduk di kelas tiga.
”Belajar di sekolah sudah cukup menguras tenaga dan pikiran, makanya di sekolah ini buku-buku tidak dibawa pulang dan jarang sekali ada PR,”beber wanita yang tinggal di Cinere ini. (sri noviarni/MG-18)
Kamis, 24 April 2008
ah, rasanya begini toh!!!
Masih di hari pertama gue magang.
Nggak lama ya sekitar jam 11an, wartawan yang dikabarkan akan menjadi "senior" gue dan membantu gue, datang juga... She is Mba Novi (dalam hati: Alhamdulillah pake jilbab, mudah2an cpt akrab n nyambung, hal yg terpenting sih bisa menerima gue apa adanya, hihihi..kayak orang pacaran aza!!!)
Hari pertama langsung kerja, nggak pake di training atau dikasih nasehat n wejangan khusus, ampe pada akhirnya di hari pertama itu gue dapat masalah. Gini ceritanya, gue disuruh wawancara seorang psikolog untuk mengomentari masalah stres lewat telepon. Setelah cukup lama mencoba menekan nomor hape ini, nomer hape itu, akhirnya dapet juga. Ngakunya namanya X (demi melindungi data diri tersangka, hihihi..) psikolog dari universitas yg terkenal dengan bis kuningnya.
Awalnya dia sah2 aja berkomentar, tapi di ujung pembicaraan dia minta gue untuk mengirim naskah tulisan via email (katanya sih untuk di edit, takut2 gue nulisnya salah, hikz!!). Fine. Gue mencoba menerima. Wawancara selesai. Gue pun menulis. Abis nulis, gue ngirim dong email ke dia, sebelumya gue sms dia dulu (niatnya biar dia cepet ngedit tuh naskah), tapi nggak tau kenapa dia malah nelpon (ke hapenya Mba Novi dan berbicara dengan Mba Novi), dia bilang: "Mbak, jangan publikasikan komentar saya,"
Bruuukkkk
Lemes gue, apa yang salah??
so, apa yang harus gue lakukan??
Gue cuma bisa diam n bersiap2 mempertanggungjawabkan apa yang telah gue perbuat.
Saat itu waktu menunjukkan jam 5 sore. Kayaknya naskah sih dah diurus sama Mba Novi.
Dan, bener kan gue di "sidang" ma Mas Danang n Mas Wahyu, ditanya begini ditanya begitu, tapi untungnya mereka punya jiwa malaikat, baik bener... "laen kali hati2 ya milih narasumber,"kata Mas Danang.
Yaudah, pulang deh gue dengan hati berbunga dan berhujan ria. Seneng coz ternyata impian gue terwujud n sedih coz menyayangkan knp dihari pertama udah ada masalah yg sempat bikin gue mundur selangkah... That's a experience... bukankah pengalaman itu guru terbaik, betul toh??!!
tar lanjut lagi ye...
Nggak lama ya sekitar jam 11an, wartawan yang dikabarkan akan menjadi "senior" gue dan membantu gue, datang juga... She is Mba Novi (dalam hati: Alhamdulillah pake jilbab, mudah2an cpt akrab n nyambung, hal yg terpenting sih bisa menerima gue apa adanya, hihihi..kayak orang pacaran aza!!!)
Hari pertama langsung kerja, nggak pake di training atau dikasih nasehat n wejangan khusus, ampe pada akhirnya di hari pertama itu gue dapat masalah. Gini ceritanya, gue disuruh wawancara seorang psikolog untuk mengomentari masalah stres lewat telepon. Setelah cukup lama mencoba menekan nomor hape ini, nomer hape itu, akhirnya dapet juga. Ngakunya namanya X (demi melindungi data diri tersangka, hihihi..) psikolog dari universitas yg terkenal dengan bis kuningnya.
Awalnya dia sah2 aja berkomentar, tapi di ujung pembicaraan dia minta gue untuk mengirim naskah tulisan via email (katanya sih untuk di edit, takut2 gue nulisnya salah, hikz!!). Fine. Gue mencoba menerima. Wawancara selesai. Gue pun menulis. Abis nulis, gue ngirim dong email ke dia, sebelumya gue sms dia dulu (niatnya biar dia cepet ngedit tuh naskah), tapi nggak tau kenapa dia malah nelpon (ke hapenya Mba Novi dan berbicara dengan Mba Novi), dia bilang: "Mbak, jangan publikasikan komentar saya,"
Bruuukkkk
Lemes gue, apa yang salah??
so, apa yang harus gue lakukan??
Gue cuma bisa diam n bersiap2 mempertanggungjawabkan apa yang telah gue perbuat.
Saat itu waktu menunjukkan jam 5 sore. Kayaknya naskah sih dah diurus sama Mba Novi.
Dan, bener kan gue di "sidang" ma Mas Danang n Mas Wahyu, ditanya begini ditanya begitu, tapi untungnya mereka punya jiwa malaikat, baik bener... "laen kali hati2 ya milih narasumber,"kata Mas Danang.
Yaudah, pulang deh gue dengan hati berbunga dan berhujan ria. Seneng coz ternyata impian gue terwujud n sedih coz menyayangkan knp dihari pertama udah ada masalah yg sempat bikin gue mundur selangkah... That's a experience... bukankah pengalaman itu guru terbaik, betul toh??!!
tar lanjut lagi ye...
Tulisan_23 @ Sindo
Siap-Siap ke Istana
Kamis, 24/04/2008
BANYAK orang yang bermimpi ingin melihat Istana Merdeka lebih dekat,bahkan menjejakkan kaki ke dalam Istana tersebut.Tidak hanya melihat dari televisi sewaktu upacara 17 Agustus berlangsung.
Mulai bulan Mei mendatang,impian tersebut bisa menjadi kenyataan. Kini bukan hanya Gedung Putih (WhiteHouse) dan Istana Buckingham yang membuka diri bagi masyarakat luas. Istana Kepresidenan Republik Indonesia juga tengah merancang kegiatan tur keliling Istana yang bertajuk ”Membuka Istana untuk Rakyat”.
Program ini sepenuhnya akan dilakukan di bawah pengawasan tim dan rumah tangga kepresidenan selaku event organizer. Menurut perancang tur,Andi Mallarangeng, pihaknya selalu mendapat permohonanberkunjungke Istanadari masyarakat luas.Kebanyakan permohonan datang dari berbagai sekolah mulai SD–SMA di seluruh Indonesia.
Namun, tentunya tidak semudah itu meluluskan permohonan tersebut. Tingginya animo masyarakat luas untuk lebih akrab dengan Istana mendorong Andi untuk merancang tur yang baru pertama kali di Indonesia ini. “Pastinya, Istana akan jadi objek wisata yang menyenangkan.
Di samping itu,masyarakat dapat mengenal lebih dalam tentang lembaga kepresidenan dan sejarah bangsa, sejak zaman pemerintahan Belanda sampai Presiden SBY sekarang,” ucap pemimpin redaksi situs web Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini sewaktu dihubungi SINDO lewat ponselnya.
Andi mengaku sudah menyiapkan beberapa tempat yang menjadi titik sasaran tujuan dan kegiatan tur yang unik ini. Salah satu kegiatan tur adalah melihat film dokumenter sejarah. Namun, dia menolak membeberkan lokasi yang menjadi tujuan wisata lebih detail.
Yang jelas, nantinya para wisatawan yang menjadi tamu istimewa presiden ini akan masuk secara gratis dan dipandu guide profesional yang terlatih dan menguasai sejarah Istana Kepresidenan. “Guide-nya bukan sembarang orang,tapi dari wanita TNI/Polri yang sudah di-training.
Pemilihan ini juga lantaran aspek pengamanan,” ucap mantan dosen Institut Ilmu Pemerintahan ini. Selama perjalanan, rombongan tur akan mendapatkan cerita sejarah berdirinya Istana Merdeka, Istana Negara,Kantor Kepresidenan sampai keluarga Presiden Bung Karno yang pernah tinggal di Istana.
Lokasi Wisata
Kompleks Istana terdiri atas Istana dan Kompleks Sekretariat Negara.Di selatan ada Jalan Medan Merdeka Utara,berhadapan dengan Lapangan Monas. Di situ ada pintu yang sewaktu- waktu dibuka untuk presiden, wakil presiden,dan pemimpin negara yang berkunjung.
Pintu masuk kendaraan dinas dan staf di bagian timur Istana, di Jalan Veteran III.Pintu masuk itu langsung mengarah ke Setneg. Di sini pintu check pointpengunjung untuk tur. Tempat tujuan pertama adalah kompleks Sekretariat Negara. Di sini sudah disiapkan bus khusus untuk berputar di sekeliling kompleks, sebelum akhirnya memasuki kompleks Istana Kepresidenan.
Begitu tiba di kompleks Istana, para wisatawan akan diminta turun dari bus, berjalan kaki, dan masuk melalui pintu khusus yang telah disiapkan untuk mereka.Ketika memasuki pintu masuk ini, wisatawan pertama kali akan dikenalkan dengan Masjid Baiturrahim, yang masuk dalam lingkup kompleks Istana dan menjadi tempat Presiden untuk beribadah, seperti salat Jumat yang rutin dilakukan presiden di masjid ini. Sayangnya, tempat kediaman presiden, Istana Negara, tidak termasuk dalam daftar lokasi tujuan wisata. (sri noviarni/raras/MG-18)
Kamis, 24/04/2008
BANYAK orang yang bermimpi ingin melihat Istana Merdeka lebih dekat,bahkan menjejakkan kaki ke dalam Istana tersebut.Tidak hanya melihat dari televisi sewaktu upacara 17 Agustus berlangsung.
Mulai bulan Mei mendatang,impian tersebut bisa menjadi kenyataan. Kini bukan hanya Gedung Putih (WhiteHouse) dan Istana Buckingham yang membuka diri bagi masyarakat luas. Istana Kepresidenan Republik Indonesia juga tengah merancang kegiatan tur keliling Istana yang bertajuk ”Membuka Istana untuk Rakyat”.
Program ini sepenuhnya akan dilakukan di bawah pengawasan tim dan rumah tangga kepresidenan selaku event organizer. Menurut perancang tur,Andi Mallarangeng, pihaknya selalu mendapat permohonanberkunjungke Istanadari masyarakat luas.Kebanyakan permohonan datang dari berbagai sekolah mulai SD–SMA di seluruh Indonesia.
Namun, tentunya tidak semudah itu meluluskan permohonan tersebut. Tingginya animo masyarakat luas untuk lebih akrab dengan Istana mendorong Andi untuk merancang tur yang baru pertama kali di Indonesia ini. “Pastinya, Istana akan jadi objek wisata yang menyenangkan.
Di samping itu,masyarakat dapat mengenal lebih dalam tentang lembaga kepresidenan dan sejarah bangsa, sejak zaman pemerintahan Belanda sampai Presiden SBY sekarang,” ucap pemimpin redaksi situs web Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini sewaktu dihubungi SINDO lewat ponselnya.
Andi mengaku sudah menyiapkan beberapa tempat yang menjadi titik sasaran tujuan dan kegiatan tur yang unik ini. Salah satu kegiatan tur adalah melihat film dokumenter sejarah. Namun, dia menolak membeberkan lokasi yang menjadi tujuan wisata lebih detail.
Yang jelas, nantinya para wisatawan yang menjadi tamu istimewa presiden ini akan masuk secara gratis dan dipandu guide profesional yang terlatih dan menguasai sejarah Istana Kepresidenan. “Guide-nya bukan sembarang orang,tapi dari wanita TNI/Polri yang sudah di-training.
Pemilihan ini juga lantaran aspek pengamanan,” ucap mantan dosen Institut Ilmu Pemerintahan ini. Selama perjalanan, rombongan tur akan mendapatkan cerita sejarah berdirinya Istana Merdeka, Istana Negara,Kantor Kepresidenan sampai keluarga Presiden Bung Karno yang pernah tinggal di Istana.
Lokasi Wisata
Kompleks Istana terdiri atas Istana dan Kompleks Sekretariat Negara.Di selatan ada Jalan Medan Merdeka Utara,berhadapan dengan Lapangan Monas. Di situ ada pintu yang sewaktu- waktu dibuka untuk presiden, wakil presiden,dan pemimpin negara yang berkunjung.
Pintu masuk kendaraan dinas dan staf di bagian timur Istana, di Jalan Veteran III.Pintu masuk itu langsung mengarah ke Setneg. Di sini pintu check pointpengunjung untuk tur. Tempat tujuan pertama adalah kompleks Sekretariat Negara. Di sini sudah disiapkan bus khusus untuk berputar di sekeliling kompleks, sebelum akhirnya memasuki kompleks Istana Kepresidenan.
Begitu tiba di kompleks Istana, para wisatawan akan diminta turun dari bus, berjalan kaki, dan masuk melalui pintu khusus yang telah disiapkan untuk mereka.Ketika memasuki pintu masuk ini, wisatawan pertama kali akan dikenalkan dengan Masjid Baiturrahim, yang masuk dalam lingkup kompleks Istana dan menjadi tempat Presiden untuk beribadah, seperti salat Jumat yang rutin dilakukan presiden di masjid ini. Sayangnya, tempat kediaman presiden, Istana Negara, tidak termasuk dalam daftar lokasi tujuan wisata. (sri noviarni/raras/MG-18)
Tulisan_22 @ Sindo
Ironi BACK to the CITY
Rabu, 23/04/2008
TINGGI Jumlah apartemen di Jakarta meningkat. Harga apartemen di Jakarta menurut ICE International masuk dalam peringkat ke-16 termahal di Asia.
JARGONBack to the City atau kembali ke pusat kota tengah ramai dibicarakan.Masalahnya,tidak semua orang justru bisa kembali ke Jakarta. Ironisnya,banyak warga Jakarta justru terpaksa memilih ke pinggir kota. Developer perumahan dan apartemen, saat ini tengah berusaha menggalakan jargon back to the city.
Slogan ini berusaha menggoda masyarakat yang ada di daerah pinggiran untuk kembali ke pusat kota.Banyak alasan yang dibuat.Mulai dari lokasi apartemen dan rumah yang strategis, kemudahan akses transportasi dan fasilitas yang lengkap. Selain itu, rata-rata orang yang bekerja di Jakarta adalah komuter. Jadi, daripada tua di jalan, justru sangat menguntungkan tinggal di pusat kota.
”Tinggal di apartemen lebih efisien, dan lokasinya strategis dan keamanannya terjamin. Berangkat kerja juga enggak butuh perjuangan,” kata Prieta Perthantri,23,warga apartemen Taman Rasuna, Kuningan,Jakarta Selatan ini Masalahnya tidak semudah itu untuk tinggal di Jakarta.
Memang banyak properti yang bisa jadi pilihan seperti dari mulai apartemen hingga tempat kos yang tersebar di wilayah DKI. Sayangnya, di Jakarta semuanya serba mahal, apalagi urusan perumahan. Harga yang membubung tinggi memang membuat masyarakat kesulitan mencoba jargon Back to the City.
Bayangkan saja,untuk sebuah rumah sederhana saja, harganya bisa mencapai Rp200 juta. Harga sewa kontrakan pun sudah mulai menanjak naik.Untuk apartemen, banyak warga kota di pinggiran hanya menjadikan apartemen sebagai mimpi. Tidak jarang malah, akhirnya banyak warga Jakarta yang memilih pindah ke pinggir kota.
Contohnya, Herry Setiawan, warga Kampung Sumur, Jakarta Selatan, baru-baru ini telah menjual rumahnya. Pria yang sehariharinya bekerja di perusahaan finansial ini sudah pindah rumah ke kawasan Bekasi,Jawa Barat. Herry menjual rumah dengan luas 100 meter per segi itu dijual dengan harga Rp200 juta.
Dengan harga yang sama, ia justru bisa membeli rumah yang lebih luas. “Pengennya sih beli lagi di pusat Kota.Tapi, kayaknya justru lebih mahal dibandingkan di pinggiran,” katanya. Sebenarnya, Herry punya keinginan untuk membeli rumah yang ada di kawasan Kelapa Gading.
Sebab, kantor ia tempat bekerja memang berada di kawasan tersebut. Sayangnya, rumah yang ada di kawasan itu justru mempunyai harga yang sangat sulit ia jangkau. “Kalau tinggal di situ (Kelapa Gading) kan lebih enak. Enggak capek di jalan.Tapi apa daya, enggak mampu back to the city,” katanya serius.
Dini Martyaningsih,juga punya keinginan yang sama untuk tinggal di pusat kota. Jika mempunyai cukup uang, ia ingin menetap di daerah Kuningan, Jakarta Pusat. Alasannya agar dekat dengan kantornya yang berada di Gatot Subroto. Dini yang sudah 20 tahun tinggal di Bintaro ini, rupanya tidak puas dengan tempat tinggalnya sekarang. Maklum daerah Bintaro memang terkenal dengan kemacetannya.
Untungnya Dini membawa motor sendiri, bukannya naik kendaraan umum.Yang repot, justru sewaktu pulang kerja. Dini, harus bermacet-macet ria. Tak jarang untuk menghindari macet, Dini lebih memilih untuk menunggu waktu di kantor hingga pukul 19.00-19.30.
”Padahal badan rasanya sudah capek,mana harus bawa motor lagi. Tapi mau gimana lagi daripada kejebak macet,”kata wanita yang bekerja sebagai staf di PT. Direct Vision ini. Back to the City memang diyakini jadi solusi untuk menghindari kelelahan. Guna memaksimalkan kerja, tinggal di pusat kota memang jadi jawaban pasti.
Salah satu alasan ini bahkan sering dijadikan alasan utama para developer perumahan dan apartemen. Mudahnya tinggal di Jakarta memang mebuat iri semua orang. Amara,24, merupakan salah seorang yang iri dengan teman-temannya yang penduduk Jakarta. Bagaimana tidak,wanita yang menetap di bilangan perumahan Galaksi di Bekasi Timur, harus rela bangun pagi setiap hari agar tidak terjebak macet.
Ia teringat ketika dirinya masih duduk di bangku perkuliahan. Lulusan universitas Prof.DR.Moestopo(Beragama) ini harus membuka mata pukul empat dan menyiapkan diri untuk berangkat kuliah di kampusnya yang berada di daerah Hang Lekir Senayan. ”Pokoknya jam5.15harus keluar dari rumah, kayanya kalau sudah lewat semenit aja udah macet banget,”ungkap Amara.
Bukan hanya itu, tinggal di Bekasi membuatnya jauh untuk menjangkau lokasi lain. Aktivitas sehari-hari ini cukup menguras isi kantongnya. Menurut wanita berkacamata ini, untuk naik kendaraan umum menuju Jakarta, ia biasa mengeluarkan yang diatas Rp5ribu.
Untuk pulang pergi praktis Amara harus merogoh kocek hingga Rp25ribu. ”Makanya pengen tinggal di Jakarta, selain lebih irit, juga mendongkrak prestise. Kalau boleh milih pengennya sih tinggal di daerah Jakarta Selatan,”tuturnya.
Tinggal di Kota Memperluas Pergaulan
BACK to the Citymemang memberikan banyak keuntungan. Wajar saja, jika saat ini banyak orang yang berkantong tebal memilih untuk mengikuti program ini. Harga mahal tidak akan jadi masalah.
Contohnya, Prietha Perthantri harus mengeluarkan uang sebesar Rp275 juta untuk mendapatkan satu buah unit apartemen Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta Pusat, dengan tiga kamar dan satu kamar kecil. Saat ini, Prietha sudah tujuh tahun menetap di apartemen tersebut.
Sementara itu, setiap bulannya Prieta harus menyisihkan pendapatannya sebesar Rp1,2juta, untuk biaya listrik, air, keamanan dan lain-lain. Kendati demikian dirinya tidak ambil pusing dengan masalah tagihan setiap bulan untuk apartemen seluas 92 meter miliknya tersebut.
“Tinggal di apartemen lebih efisien, dan lokasinya strategis”kata wanita yang bekerja sebagai event organizer ini. Selain ketersediaan berbagai fasilitas, tinggal di apartemen bagi Prieta akan memperluas jaringan pergaulannya. “Orang-orang yang tinggal disini memiliki profesi yang beragam dan bukan orang dari Indonesia saja.
Jadi, bisa nambah networking,”tutur wanita kelahiran 20 Juli ini Tidak cocok dengan apartemen, program Back to the City mempunyai banyak alternatif lain. Hanya saja masalahnya tetap sama. Semuanya hanya bisa dimilii oleh orang berkantong tebal. Contohnya, membeli rumah di Jakarta Timur rumah berlantai dua, dengan dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi membutuhkan uang sekitar Rp450juta. (sri noviarni/MG-18)
Rabu, 23/04/2008
TINGGI Jumlah apartemen di Jakarta meningkat. Harga apartemen di Jakarta menurut ICE International masuk dalam peringkat ke-16 termahal di Asia.
JARGONBack to the City atau kembali ke pusat kota tengah ramai dibicarakan.Masalahnya,tidak semua orang justru bisa kembali ke Jakarta. Ironisnya,banyak warga Jakarta justru terpaksa memilih ke pinggir kota. Developer perumahan dan apartemen, saat ini tengah berusaha menggalakan jargon back to the city.
Slogan ini berusaha menggoda masyarakat yang ada di daerah pinggiran untuk kembali ke pusat kota.Banyak alasan yang dibuat.Mulai dari lokasi apartemen dan rumah yang strategis, kemudahan akses transportasi dan fasilitas yang lengkap. Selain itu, rata-rata orang yang bekerja di Jakarta adalah komuter. Jadi, daripada tua di jalan, justru sangat menguntungkan tinggal di pusat kota.
”Tinggal di apartemen lebih efisien, dan lokasinya strategis dan keamanannya terjamin. Berangkat kerja juga enggak butuh perjuangan,” kata Prieta Perthantri,23,warga apartemen Taman Rasuna, Kuningan,Jakarta Selatan ini Masalahnya tidak semudah itu untuk tinggal di Jakarta.
Memang banyak properti yang bisa jadi pilihan seperti dari mulai apartemen hingga tempat kos yang tersebar di wilayah DKI. Sayangnya, di Jakarta semuanya serba mahal, apalagi urusan perumahan. Harga yang membubung tinggi memang membuat masyarakat kesulitan mencoba jargon Back to the City.
Bayangkan saja,untuk sebuah rumah sederhana saja, harganya bisa mencapai Rp200 juta. Harga sewa kontrakan pun sudah mulai menanjak naik.Untuk apartemen, banyak warga kota di pinggiran hanya menjadikan apartemen sebagai mimpi. Tidak jarang malah, akhirnya banyak warga Jakarta yang memilih pindah ke pinggir kota.
Contohnya, Herry Setiawan, warga Kampung Sumur, Jakarta Selatan, baru-baru ini telah menjual rumahnya. Pria yang sehariharinya bekerja di perusahaan finansial ini sudah pindah rumah ke kawasan Bekasi,Jawa Barat. Herry menjual rumah dengan luas 100 meter per segi itu dijual dengan harga Rp200 juta.
Dengan harga yang sama, ia justru bisa membeli rumah yang lebih luas. “Pengennya sih beli lagi di pusat Kota.Tapi, kayaknya justru lebih mahal dibandingkan di pinggiran,” katanya. Sebenarnya, Herry punya keinginan untuk membeli rumah yang ada di kawasan Kelapa Gading.
Sebab, kantor ia tempat bekerja memang berada di kawasan tersebut. Sayangnya, rumah yang ada di kawasan itu justru mempunyai harga yang sangat sulit ia jangkau. “Kalau tinggal di situ (Kelapa Gading) kan lebih enak. Enggak capek di jalan.Tapi apa daya, enggak mampu back to the city,” katanya serius.
Dini Martyaningsih,juga punya keinginan yang sama untuk tinggal di pusat kota. Jika mempunyai cukup uang, ia ingin menetap di daerah Kuningan, Jakarta Pusat. Alasannya agar dekat dengan kantornya yang berada di Gatot Subroto. Dini yang sudah 20 tahun tinggal di Bintaro ini, rupanya tidak puas dengan tempat tinggalnya sekarang. Maklum daerah Bintaro memang terkenal dengan kemacetannya.
Untungnya Dini membawa motor sendiri, bukannya naik kendaraan umum.Yang repot, justru sewaktu pulang kerja. Dini, harus bermacet-macet ria. Tak jarang untuk menghindari macet, Dini lebih memilih untuk menunggu waktu di kantor hingga pukul 19.00-19.30.
”Padahal badan rasanya sudah capek,mana harus bawa motor lagi. Tapi mau gimana lagi daripada kejebak macet,”kata wanita yang bekerja sebagai staf di PT. Direct Vision ini. Back to the City memang diyakini jadi solusi untuk menghindari kelelahan. Guna memaksimalkan kerja, tinggal di pusat kota memang jadi jawaban pasti.
Salah satu alasan ini bahkan sering dijadikan alasan utama para developer perumahan dan apartemen. Mudahnya tinggal di Jakarta memang mebuat iri semua orang. Amara,24, merupakan salah seorang yang iri dengan teman-temannya yang penduduk Jakarta. Bagaimana tidak,wanita yang menetap di bilangan perumahan Galaksi di Bekasi Timur, harus rela bangun pagi setiap hari agar tidak terjebak macet.
Ia teringat ketika dirinya masih duduk di bangku perkuliahan. Lulusan universitas Prof.DR.Moestopo(Beragama) ini harus membuka mata pukul empat dan menyiapkan diri untuk berangkat kuliah di kampusnya yang berada di daerah Hang Lekir Senayan. ”Pokoknya jam5.15harus keluar dari rumah, kayanya kalau sudah lewat semenit aja udah macet banget,”ungkap Amara.
Bukan hanya itu, tinggal di Bekasi membuatnya jauh untuk menjangkau lokasi lain. Aktivitas sehari-hari ini cukup menguras isi kantongnya. Menurut wanita berkacamata ini, untuk naik kendaraan umum menuju Jakarta, ia biasa mengeluarkan yang diatas Rp5ribu.
Untuk pulang pergi praktis Amara harus merogoh kocek hingga Rp25ribu. ”Makanya pengen tinggal di Jakarta, selain lebih irit, juga mendongkrak prestise. Kalau boleh milih pengennya sih tinggal di daerah Jakarta Selatan,”tuturnya.
Tinggal di Kota Memperluas Pergaulan
BACK to the Citymemang memberikan banyak keuntungan. Wajar saja, jika saat ini banyak orang yang berkantong tebal memilih untuk mengikuti program ini. Harga mahal tidak akan jadi masalah.
Contohnya, Prietha Perthantri harus mengeluarkan uang sebesar Rp275 juta untuk mendapatkan satu buah unit apartemen Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta Pusat, dengan tiga kamar dan satu kamar kecil. Saat ini, Prietha sudah tujuh tahun menetap di apartemen tersebut.
Sementara itu, setiap bulannya Prieta harus menyisihkan pendapatannya sebesar Rp1,2juta, untuk biaya listrik, air, keamanan dan lain-lain. Kendati demikian dirinya tidak ambil pusing dengan masalah tagihan setiap bulan untuk apartemen seluas 92 meter miliknya tersebut.
“Tinggal di apartemen lebih efisien, dan lokasinya strategis”kata wanita yang bekerja sebagai event organizer ini. Selain ketersediaan berbagai fasilitas, tinggal di apartemen bagi Prieta akan memperluas jaringan pergaulannya. “Orang-orang yang tinggal disini memiliki profesi yang beragam dan bukan orang dari Indonesia saja.
Jadi, bisa nambah networking,”tutur wanita kelahiran 20 Juli ini Tidak cocok dengan apartemen, program Back to the City mempunyai banyak alternatif lain. Hanya saja masalahnya tetap sama. Semuanya hanya bisa dimilii oleh orang berkantong tebal. Contohnya, membeli rumah di Jakarta Timur rumah berlantai dua, dengan dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi membutuhkan uang sekitar Rp450juta. (sri noviarni/MG-18)
Tulisan_21 @ Sindo
Ramah Lingkungan di Kantor
Selasa, 22/04/2008
JIKA bumi sudah tak layak huni, apakah jabatan,gaji,dan promosi mampu membuat hidup Anda jadi lebih berarti.Guna menyelamatkan bumi,saatnya melakukan perubahan di segala lini,termasuk di kantor. Tanggal 22 April selalu diperingati sebagai Hari Bumi.
Masalahnya, setiap tahun justru bumi semakin tidak nyaman dihuni,termasuk di kantor sekali pun. Saat ini, merangkul gaya hidup hijau atau go green, tengah jadi topik panas. Mulai di rumah, kendaraan, riasan wajah, hingga pakaian tidak lepas dari panduan ramah lingkungan. Baru-baru ini guna menyambut Hari Bumi, digelar Green Festival di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat.
Di festival ini dikupas habis masalah yang dialami bumi saat ini. Mulai global warming dan perusakan lingkungan. Di tempat yang sama, juga diberikan berbagai contoh praktis bagaimana cara pencegahan global warming di rumah. Masalahnya, kenapa hanya di rumah? Selain rumah,kantor adalah tempat yang paling berpeluang merugikan lingkungan. Lihat saja lingkungan kantor Anda. Sudah sangat normal jika kertas-kertas bertebaran.
Gelas plastik dan bekas makan siang berantakan di mana-mana. Dibandingkan rumah, kantor memang semakin rawan merusak lingkungan. Sebab, lebih banyak orang ramah dengan lingkungan ketika di rumah dibandingkan di kantor. Jangan kaget,menurut laporan Treehugger.com, gara-gara stapler yang digunakan di kantor, Inggris mendapatkan limbah baja sebesar 120 ton per tahun. Hal ini terjadi karena banyak karyawan merasa tidak punya kendali terhadap banyaknya barang dan daya yang digunakan kantor.
Selain itu, ratarata karyawan lebih banyak menyerahkan urusan lingkungan kepada office boy ketimbang diri mereka sendiri. Karena itu,wajar saja jika pemborosan energi dan kerusakan lingkungan yang terjadi di kantor justru lebih berbahaya ketimbang di rumah. Meski demikian, bukan berarti Anda tidak boleh terus-terusan berpangku tangan. Sebab, perubahan sekecil apa pun sangat berpengaruh.
Contoh kecil,matikan komputer Anda saat makan siang.Jika kegiatan ini selalu dilakukan,otomatis kantor bisa menghemat daya listrik sebesar 3.700 watt hanya dalam waktu satu jam. Di mana pun Anda bekerja dan apa pun profesi Anda, sebenarnya aksi bersahabat dengan lingkungan tidak hanya sampai di rumah.Apa pun jabatan dan profesi Anda, sebenarnya aksi bersahabat dengan lingkungan justru harus dilakukan di tempat Anda bekerja. (wahyu sibarani)
Naik KRL hingga Kertas Bolak-balik
BUMI semakin panas.Otomatis memerlukan perhatian lebih dari para penduduk bumi.Namun,perhatian saja tidaklah cukup,butuh kesadaran dan tindakan nyata untuk mengurangi pemanasan global yang menggerogoti bumi tercinta. Berikut beberapa gaya ramah lingkungan yang dilakukan tokoh-tokoh di Indonesia.
Adrie Subono Promotor Musik Java Musikindo
Pria kelahiran 11 Januari 1954 ini mengaku cukup sulit menerapkan pengurangan beban listrik di kantor. Namun, sedapat mungkin Adrie berupaya meminimalisasi penggunaan listrik bagi kebutuhan dirinya. Maklum selayaknya gedung kantor lain, kantor Adrie yang berada di Plaza Mutiara juga memiliki sistem central air conditioner.
Selain itu, untuk kebutuhan kantor, sehari-hari komputer selalu dinyalakan meski para pegawai sedang keluar ruangan. ”Karena sebagai promotor komputer ini merupakan alat komunikasi bagi kami,apalagi kami berhubungan dengan orang-orang yang berada di luar negeri terus,”paparnya. Namun,Adrie mengaku selalu mematikan lampu jika tidak dipakai. Walau mengaku sulit menerapkan prinsip hemat energi di kantor, tidak demikian di rumahnya. ”Kalau di rumah AC dan listrik yang lain selalu saya kontrol penggunaannya,”tutur Adrie.
Jopy Rusli Direktur Kemang Village
Jopy mengaku prihatin dengan kondisi suhu panas bumi yang semakin meningkat. Bukan sekadar omongan belaka, Jopy juga sadar harus berbuat sesuatu untuk mencegah semakin rapuhnya lapisan ozon. ”Kebetulan di kantor pakai AC split,jadi kalau keluar ruangan selalu saya matikan,lampu juga.Untuk ngeprint saya selalu pakai kertas bolakbalik,” aku Jopy.
Djoko Susilo Anggota Komisi I DPR RI
Upaya pengurangan pemanasan global juga tampak terjadi di Gedung DPR.Seperti yang dilakukan anggota Komisi I DPR Djoko Susilo. Djoko mengaku tidak hanya berpangku tangan menyaksikan bumi tercinta merana. Ia terus gencar mematuhi Perjanjian Kyoto yang telah dirumuskan melalui KTT di Bali, Desember tahun lalu.
”Saya berusaha menghemat penggunaan listrik dan BBM,”katanya. Djoko juga menggunakan kertas bolak-balik untuk menghemat penggunaan kertas di kantornya. Di samping itu, dirinya lebih sering menggunakan kipas angin dibandingkan AC.Soal penghematan BBM,juga memilih naik kereta daripada berkendaraan pribadi jika pergi ke Bogor. ”Jangan kira anggota DPR ogah naik KRL,”candanya.(sri noviarni/MG-18)
Selasa, 22/04/2008
JIKA bumi sudah tak layak huni, apakah jabatan,gaji,dan promosi mampu membuat hidup Anda jadi lebih berarti.Guna menyelamatkan bumi,saatnya melakukan perubahan di segala lini,termasuk di kantor. Tanggal 22 April selalu diperingati sebagai Hari Bumi.
Masalahnya, setiap tahun justru bumi semakin tidak nyaman dihuni,termasuk di kantor sekali pun. Saat ini, merangkul gaya hidup hijau atau go green, tengah jadi topik panas. Mulai di rumah, kendaraan, riasan wajah, hingga pakaian tidak lepas dari panduan ramah lingkungan. Baru-baru ini guna menyambut Hari Bumi, digelar Green Festival di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat.
Di festival ini dikupas habis masalah yang dialami bumi saat ini. Mulai global warming dan perusakan lingkungan. Di tempat yang sama, juga diberikan berbagai contoh praktis bagaimana cara pencegahan global warming di rumah. Masalahnya, kenapa hanya di rumah? Selain rumah,kantor adalah tempat yang paling berpeluang merugikan lingkungan. Lihat saja lingkungan kantor Anda. Sudah sangat normal jika kertas-kertas bertebaran.
Gelas plastik dan bekas makan siang berantakan di mana-mana. Dibandingkan rumah, kantor memang semakin rawan merusak lingkungan. Sebab, lebih banyak orang ramah dengan lingkungan ketika di rumah dibandingkan di kantor. Jangan kaget,menurut laporan Treehugger.com, gara-gara stapler yang digunakan di kantor, Inggris mendapatkan limbah baja sebesar 120 ton per tahun. Hal ini terjadi karena banyak karyawan merasa tidak punya kendali terhadap banyaknya barang dan daya yang digunakan kantor.
Selain itu, ratarata karyawan lebih banyak menyerahkan urusan lingkungan kepada office boy ketimbang diri mereka sendiri. Karena itu,wajar saja jika pemborosan energi dan kerusakan lingkungan yang terjadi di kantor justru lebih berbahaya ketimbang di rumah. Meski demikian, bukan berarti Anda tidak boleh terus-terusan berpangku tangan. Sebab, perubahan sekecil apa pun sangat berpengaruh.
Contoh kecil,matikan komputer Anda saat makan siang.Jika kegiatan ini selalu dilakukan,otomatis kantor bisa menghemat daya listrik sebesar 3.700 watt hanya dalam waktu satu jam. Di mana pun Anda bekerja dan apa pun profesi Anda, sebenarnya aksi bersahabat dengan lingkungan tidak hanya sampai di rumah.Apa pun jabatan dan profesi Anda, sebenarnya aksi bersahabat dengan lingkungan justru harus dilakukan di tempat Anda bekerja. (wahyu sibarani)
Naik KRL hingga Kertas Bolak-balik
BUMI semakin panas.Otomatis memerlukan perhatian lebih dari para penduduk bumi.Namun,perhatian saja tidaklah cukup,butuh kesadaran dan tindakan nyata untuk mengurangi pemanasan global yang menggerogoti bumi tercinta. Berikut beberapa gaya ramah lingkungan yang dilakukan tokoh-tokoh di Indonesia.
Adrie Subono Promotor Musik Java Musikindo
Pria kelahiran 11 Januari 1954 ini mengaku cukup sulit menerapkan pengurangan beban listrik di kantor. Namun, sedapat mungkin Adrie berupaya meminimalisasi penggunaan listrik bagi kebutuhan dirinya. Maklum selayaknya gedung kantor lain, kantor Adrie yang berada di Plaza Mutiara juga memiliki sistem central air conditioner.
Selain itu, untuk kebutuhan kantor, sehari-hari komputer selalu dinyalakan meski para pegawai sedang keluar ruangan. ”Karena sebagai promotor komputer ini merupakan alat komunikasi bagi kami,apalagi kami berhubungan dengan orang-orang yang berada di luar negeri terus,”paparnya. Namun,Adrie mengaku selalu mematikan lampu jika tidak dipakai. Walau mengaku sulit menerapkan prinsip hemat energi di kantor, tidak demikian di rumahnya. ”Kalau di rumah AC dan listrik yang lain selalu saya kontrol penggunaannya,”tutur Adrie.
Jopy Rusli Direktur Kemang Village
Jopy mengaku prihatin dengan kondisi suhu panas bumi yang semakin meningkat. Bukan sekadar omongan belaka, Jopy juga sadar harus berbuat sesuatu untuk mencegah semakin rapuhnya lapisan ozon. ”Kebetulan di kantor pakai AC split,jadi kalau keluar ruangan selalu saya matikan,lampu juga.Untuk ngeprint saya selalu pakai kertas bolakbalik,” aku Jopy.
Djoko Susilo Anggota Komisi I DPR RI
Upaya pengurangan pemanasan global juga tampak terjadi di Gedung DPR.Seperti yang dilakukan anggota Komisi I DPR Djoko Susilo. Djoko mengaku tidak hanya berpangku tangan menyaksikan bumi tercinta merana. Ia terus gencar mematuhi Perjanjian Kyoto yang telah dirumuskan melalui KTT di Bali, Desember tahun lalu.
”Saya berusaha menghemat penggunaan listrik dan BBM,”katanya. Djoko juga menggunakan kertas bolak-balik untuk menghemat penggunaan kertas di kantornya. Di samping itu, dirinya lebih sering menggunakan kipas angin dibandingkan AC.Soal penghematan BBM,juga memilih naik kereta daripada berkendaraan pribadi jika pergi ke Bogor. ”Jangan kira anggota DPR ogah naik KRL,”candanya.(sri noviarni/MG-18)
Rabu, 23 April 2008
ah, rasanya begini toh!!!
Menjadi seorang jurnalis, emang gue banget. Apalagi kerjanya di Sindo, wuihhh..itu sih mimpi gue yang gue tulis pertama di Buku Mimpi gue, heheee...
Walaupun tidak sesuai dengan harapan coz ternyata gue menjalani kesempatan "be a jounalist" di section Lifestyle yang (menurut gue) kurang menantang n jarang liputan, hihihii, TAPI paling nggak banyak belajar disini, gue punya keluarga baru....
Ini cerita gue saat memasuki gerbang Sindo,03 Maret yang lalu, mulai yupz...
1. Ketemu Mbak Sri n Mbak Erna/Mbak Dian (gue lupa) selaku resepsionis yg ramah bgt..
2. Nunggu lumayan lama buat ketemu redpel (katanya namanya Pak Nevy)
ting..tong..ting..tong
3. Eh, seorang cewek dr bangku redaksi bernama Mbak Irma (gue dah tau coz sebelumnya gue ditelepon, hihi..) datang menghampiri gue...
4. Truz, gue di ajak mbak Irma untuk menemui Mas Danang (dalam hati: Mas Danang?siapa tuh?Katanya Pak Nevy, dia redpel juga atau siapa ya?bingung ah!!liat aza deh...)
5. Akhirnya, berjumpalah gue denga Mas Danang, di interview nonformal sedikit..n pas tau gue dari IPB, langsung deh ngebahas susu yang mengandung bakteri itu, sebel sih, tapi mau gimana lagi, gue cm bs mesem2 aja, hihihi...)
6. Gue dikenalin ma Mas Wahyu, katanya sih Asisten Redaksi n kenalan mas Tedy...
to be kontinyu yup...
Walaupun tidak sesuai dengan harapan coz ternyata gue menjalani kesempatan "be a jounalist" di section Lifestyle yang (menurut gue) kurang menantang n jarang liputan, hihihii, TAPI paling nggak banyak belajar disini, gue punya keluarga baru....
Ini cerita gue saat memasuki gerbang Sindo,03 Maret yang lalu, mulai yupz...
1. Ketemu Mbak Sri n Mbak Erna/Mbak Dian (gue lupa) selaku resepsionis yg ramah bgt..
2. Nunggu lumayan lama buat ketemu redpel (katanya namanya Pak Nevy)
ting..tong..ting..tong
3. Eh, seorang cewek dr bangku redaksi bernama Mbak Irma (gue dah tau coz sebelumnya gue ditelepon, hihi..) datang menghampiri gue...
4. Truz, gue di ajak mbak Irma untuk menemui Mas Danang (dalam hati: Mas Danang?siapa tuh?Katanya Pak Nevy, dia redpel juga atau siapa ya?bingung ah!!liat aza deh...)
5. Akhirnya, berjumpalah gue denga Mas Danang, di interview nonformal sedikit..n pas tau gue dari IPB, langsung deh ngebahas susu yang mengandung bakteri itu, sebel sih, tapi mau gimana lagi, gue cm bs mesem2 aja, hihihi...)
6. Gue dikenalin ma Mas Wahyu, katanya sih Asisten Redaksi n kenalan mas Tedy...
to be kontinyu yup...
Minggu, 20 April 2008
Tulisan_20 @ Sindo
Training Guru di Sekolah Pinggiran
Sabtu, 19/04/2008
SAMPOERNA Foundation Scholars Club (SFSC) Jakarta, baru-baru ini melakukan program sosial bertajuk ”Terima kasih Guru”, di Madrasah Al Muttaqin, Kapuk Muara, Jakarta Utara, pekan lalu.
Bekerja sama dengan Teacher Institute, program ini merumuskan dua kegiatan inti di bidang pendidikan antara lain bantuan operasional dan training guru di sekolah pinggiran Jakarta tersebut. ”Kegiatan ini diharapkan bisa menambah mutu pendidikan di Indonesia dengan meningkatkan kualitas dan keterampilan guru,” papar Presiden SFSC Jakarta, Hendriadi.
Kegiatan ini, lanjut Hendriadi, menghadirkan Desiree sebagai fasilitator untuk memberikan pelatihan khusus kepada 31 guru yang mengajar di SD dan SMP Madrasah Al Muttaqin. Dalam presentasi di hari pertama, Desiree menjelaskan dua pendekatan dalam pembuatan rencana pengembangan pembelajaran (RPP) yang menjadi acuan para guru.Pendekatan yang dipresentasikan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini adalah bloom taxonomy dan multiple intelengences.
Desiree menerangkan teori Bloom Taxonomy merupakan pendekatan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas.Sedangkan multiple intelegences lebih mengarah kepada kecerdasan majemuk yang ada dalam diri seorang siswa. Pada hari berikutnya,Desiree menjelaskan pentingnya classroom management bagi para pengajar.
Dalam konsep ini, penulis buku Melejitkan ESQ Anak itu mengenalkan beberapa teknik pengaturan dan pengelolaan kelas dengan memahami perilaku anak didik. Sementara itu, sebagai project officer, Larissa Trisetyowati memaparkan beberapa pertimbangan mengapa sekolah tersebut menjadi social project perdana bagi SFSC Jakarta. ”Setelah dilakukan survei, kami melihat keadaan sekolah tersebut memiliki infrastruktur yang kurang baik.
Selain itu, kondisi lingkungan sosial dan ekonomi di sana juga sangat memprihatinkan. Untuk itu, kami ingin memberikan bantuan pendidikan dalam bentuk pelatihan kepada para pendidiknya” ujar wanita yang juga menjabat sebagai Chief of Education Program SCSF Jakarta. Menurut Larissa, pelatihan yang berlangsung dua hari itu membahas program pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang wajib diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar.
”Pelatihan ini kami gelar karena kami melihat guruguru di sana merasa kesulitan dalam pembuatan RPP atau materi silabus yang disarankan Depdiknas,” tutur Larissa. Kedua tema yang dipresentasikan, harap Larissa, dapat dijadikan bekal bagi guru Madrasah Al Muttaqin dalam proses pengajaran. ”Kegiatan pembelajaran tidak hanya akan optimal, tapi juga disampaikan dengan cara yang menyenangkan,” tegas mahasiswi pascasarjana UI ini. Antusiasme para guru yang mengikuti pelatihan ini sangat besar.
Larissa juga mengakui bahwa mereka sangat senang dengan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi yang berkantor di Margonda,Depok,ini. ”Mereka bilang pelatihan ini berbeda dengan pelatihan yang pernah mereka ikuti. Kami berharap rencana meluluskan mereka dalam program sarjana (S1) dapat terwujud dalam waktu dekat,” ujarnya.(wahyu/MG-18)
Sabtu, 19/04/2008
SAMPOERNA Foundation Scholars Club (SFSC) Jakarta, baru-baru ini melakukan program sosial bertajuk ”Terima kasih Guru”, di Madrasah Al Muttaqin, Kapuk Muara, Jakarta Utara, pekan lalu.
Bekerja sama dengan Teacher Institute, program ini merumuskan dua kegiatan inti di bidang pendidikan antara lain bantuan operasional dan training guru di sekolah pinggiran Jakarta tersebut. ”Kegiatan ini diharapkan bisa menambah mutu pendidikan di Indonesia dengan meningkatkan kualitas dan keterampilan guru,” papar Presiden SFSC Jakarta, Hendriadi.
Kegiatan ini, lanjut Hendriadi, menghadirkan Desiree sebagai fasilitator untuk memberikan pelatihan khusus kepada 31 guru yang mengajar di SD dan SMP Madrasah Al Muttaqin. Dalam presentasi di hari pertama, Desiree menjelaskan dua pendekatan dalam pembuatan rencana pengembangan pembelajaran (RPP) yang menjadi acuan para guru.Pendekatan yang dipresentasikan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini adalah bloom taxonomy dan multiple intelengences.
Desiree menerangkan teori Bloom Taxonomy merupakan pendekatan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas.Sedangkan multiple intelegences lebih mengarah kepada kecerdasan majemuk yang ada dalam diri seorang siswa. Pada hari berikutnya,Desiree menjelaskan pentingnya classroom management bagi para pengajar.
Dalam konsep ini, penulis buku Melejitkan ESQ Anak itu mengenalkan beberapa teknik pengaturan dan pengelolaan kelas dengan memahami perilaku anak didik. Sementara itu, sebagai project officer, Larissa Trisetyowati memaparkan beberapa pertimbangan mengapa sekolah tersebut menjadi social project perdana bagi SFSC Jakarta. ”Setelah dilakukan survei, kami melihat keadaan sekolah tersebut memiliki infrastruktur yang kurang baik.
Selain itu, kondisi lingkungan sosial dan ekonomi di sana juga sangat memprihatinkan. Untuk itu, kami ingin memberikan bantuan pendidikan dalam bentuk pelatihan kepada para pendidiknya” ujar wanita yang juga menjabat sebagai Chief of Education Program SCSF Jakarta. Menurut Larissa, pelatihan yang berlangsung dua hari itu membahas program pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang wajib diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar.
”Pelatihan ini kami gelar karena kami melihat guruguru di sana merasa kesulitan dalam pembuatan RPP atau materi silabus yang disarankan Depdiknas,” tutur Larissa. Kedua tema yang dipresentasikan, harap Larissa, dapat dijadikan bekal bagi guru Madrasah Al Muttaqin dalam proses pengajaran. ”Kegiatan pembelajaran tidak hanya akan optimal, tapi juga disampaikan dengan cara yang menyenangkan,” tegas mahasiswi pascasarjana UI ini. Antusiasme para guru yang mengikuti pelatihan ini sangat besar.
Larissa juga mengakui bahwa mereka sangat senang dengan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi yang berkantor di Margonda,Depok,ini. ”Mereka bilang pelatihan ini berbeda dengan pelatihan yang pernah mereka ikuti. Kami berharap rencana meluluskan mereka dalam program sarjana (S1) dapat terwujud dalam waktu dekat,” ujarnya.(wahyu/MG-18)
Minggu, 13 April 2008
Tulisan_19 @ Sindo
Internet Masuk Pesantren
Sabtu, 12/04/2008
INTERNATIONALCenter for Islam and Pluralism (ICIP) meluncurkan program pendidikan baru, ”Open, Distance,dan ELearning (ODEL) untuk Transformasi Masyarakat Islam melalui Pesantren”di Hotel Nikko Jakarta,awal pekan lalu.
Program yang didukung oleh Ford Foundation ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat pesantren dalam perolehan ilmu pengetahuan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
Peluncuran program ini tidak hanya dihadiri oleh sejumlah akademisi dan pengelola pesantren. Menteri Pendidikan Nasional Prof Bambang Sudibyo dan Menteri Komunikasi dan Informasi Prof Dr Mohammad Nuh juga ikut serta untuk mendukung terlaksananya program ODEL ini.
Prinsip education for all tercermin dari program yang telah direalisasikan ICIP sejak November tahun lalu.Menurut Project Officer Program ODEL Radjimo,kegiatan utama program ini adalah sosialisasi penggunaan teknologi informasi di delapan pesantren yang menjadi proyek percontohan.
”Saat ini teknologi adalah kunci dunia.Sejak dua tahun yang lalu, ICIP merancang program ini untuk dijadikan terobosan dalam dunia pendidikan di Indonesia,” sebut Radjimo. Peluncuran program ini dikemas dengan acara diskusi dan menghadirkan Duta Pendidikan Nasional Kamidia Radisti sebagai moderator dalam diskusi bertajuk ”Pendidikan Jarak Jauh Paket Keterampilan (Kewirausahaan) di Pesantren: Chanelling dengan Dunia Usaha”.
Miss Indonesia 2007 ini mengakui program ODEL merupakan cara baru yang diusung ICIP untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. ”Program ini hebat karena memberikan motivasi dan inspirasi tersendiri untuk saya,”sebutnya. Kehebatan program ini diakui juga oleh pengurus PP Nurul Jadid Ahmadi Andianto, 27.
Dia melihat antusias santri dan masyarakat di sekitar pondok pesantren sangat besar. ”Awalnya kami mengira internethanya untukhiburan, tapi setelah berjalan 3 bulan ini, kami melihat meningkatnya motivasi para santri untuk belajar,”tutur Ahmadi.
Beberapa pesantren yang telah menerapkan program ini adalah PP Hasyim Asy’ari (Jepara), PP Raudhatul Jannah (Rembang), PP Al Kenaniyah (Jakarta), PP Annizamiyyah (Pandeglang), PP Miftahul Huda Al Musri’ (Cianjur), PP Al Mizan (Majalengka), PP Nurul Jadid (Probolinggo), dan PP Nurul Islam (Jember).
Radjimo menjelaskan, dipilihnya pesantren sebagai pusat pengembangan program ini karena pesantren adalah lembaga potensial yang unik dalam proses transformasi ilmu pengetahuan. ”Selain itu, data UNICEF tahun 2006 menyebutkan,pesantren merupakan pendidikan berbasis masyarakat yang jumlahnya lebih dari 5.000 dan tersebar di seluruh Indonesia,”ucapnya.
Untuk melancarkan program ini,ICIP menjalin kerja sama dengan Microsoft Indonesia dan Indosat sebagai penyedia infrastuktur dan jaringan internet. Program ODEL juga memberi kesempatan bagi anak yang putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan melalui kesetaraan paket B dan paket C. Hal ini tidak hanya menunjukkan peran pesantren sebagai pusat belajar.Namun, pesantren juga memiliki fungsi sosial dan edukatif untuk meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat di sekitarnya.
Materi pengajaran yang digunakan dalam program ini berdasarkan kurikulumdiknas yangdapatdiaksesmelaluiwebsite http://www.pesantrenglobal.org/. ”Dalam situs tersebut terdapat papan tulis maya yang memungkinkan siswa untuk berkomunikasi dengan guru melalui chatting,” sebut Radjimo. (wahyu sibarani/MG-18)
Sabtu, 12/04/2008
INTERNATIONALCenter for Islam and Pluralism (ICIP) meluncurkan program pendidikan baru, ”Open, Distance,dan ELearning (ODEL) untuk Transformasi Masyarakat Islam melalui Pesantren”di Hotel Nikko Jakarta,awal pekan lalu.
Program yang didukung oleh Ford Foundation ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat pesantren dalam perolehan ilmu pengetahuan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
Peluncuran program ini tidak hanya dihadiri oleh sejumlah akademisi dan pengelola pesantren. Menteri Pendidikan Nasional Prof Bambang Sudibyo dan Menteri Komunikasi dan Informasi Prof Dr Mohammad Nuh juga ikut serta untuk mendukung terlaksananya program ODEL ini.
Prinsip education for all tercermin dari program yang telah direalisasikan ICIP sejak November tahun lalu.Menurut Project Officer Program ODEL Radjimo,kegiatan utama program ini adalah sosialisasi penggunaan teknologi informasi di delapan pesantren yang menjadi proyek percontohan.
”Saat ini teknologi adalah kunci dunia.Sejak dua tahun yang lalu, ICIP merancang program ini untuk dijadikan terobosan dalam dunia pendidikan di Indonesia,” sebut Radjimo. Peluncuran program ini dikemas dengan acara diskusi dan menghadirkan Duta Pendidikan Nasional Kamidia Radisti sebagai moderator dalam diskusi bertajuk ”Pendidikan Jarak Jauh Paket Keterampilan (Kewirausahaan) di Pesantren: Chanelling dengan Dunia Usaha”.
Miss Indonesia 2007 ini mengakui program ODEL merupakan cara baru yang diusung ICIP untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. ”Program ini hebat karena memberikan motivasi dan inspirasi tersendiri untuk saya,”sebutnya. Kehebatan program ini diakui juga oleh pengurus PP Nurul Jadid Ahmadi Andianto, 27.
Dia melihat antusias santri dan masyarakat di sekitar pondok pesantren sangat besar. ”Awalnya kami mengira internethanya untukhiburan, tapi setelah berjalan 3 bulan ini, kami melihat meningkatnya motivasi para santri untuk belajar,”tutur Ahmadi.
Beberapa pesantren yang telah menerapkan program ini adalah PP Hasyim Asy’ari (Jepara), PP Raudhatul Jannah (Rembang), PP Al Kenaniyah (Jakarta), PP Annizamiyyah (Pandeglang), PP Miftahul Huda Al Musri’ (Cianjur), PP Al Mizan (Majalengka), PP Nurul Jadid (Probolinggo), dan PP Nurul Islam (Jember).
Radjimo menjelaskan, dipilihnya pesantren sebagai pusat pengembangan program ini karena pesantren adalah lembaga potensial yang unik dalam proses transformasi ilmu pengetahuan. ”Selain itu, data UNICEF tahun 2006 menyebutkan,pesantren merupakan pendidikan berbasis masyarakat yang jumlahnya lebih dari 5.000 dan tersebar di seluruh Indonesia,”ucapnya.
Untuk melancarkan program ini,ICIP menjalin kerja sama dengan Microsoft Indonesia dan Indosat sebagai penyedia infrastuktur dan jaringan internet. Program ODEL juga memberi kesempatan bagi anak yang putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan melalui kesetaraan paket B dan paket C. Hal ini tidak hanya menunjukkan peran pesantren sebagai pusat belajar.Namun, pesantren juga memiliki fungsi sosial dan edukatif untuk meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat di sekitarnya.
Materi pengajaran yang digunakan dalam program ini berdasarkan kurikulumdiknas yangdapatdiaksesmelaluiwebsite http://www.pesantrenglobal.org/. ”Dalam situs tersebut terdapat papan tulis maya yang memungkinkan siswa untuk berkomunikasi dengan guru melalui chatting,” sebut Radjimo. (wahyu sibarani/MG-18)
Selasa, 01 April 2008
Tulisan_13 @ Sindo
Kado Lebih Baik Dari Uang
Rabu, 02/04/2008
MEMBERIKAN kado di saat pesta pernikahan memang sudah lumrah.Tapi, memberikan kado sesuai permintaan pengantin merupakan hal baru.
Sebelum pesta pernikahannya dengan I Gusti Ngurah Agus Wijaya digelar, Melanie Subono justru sibuk membagikan lembaran kertas kepada kerabat dekat dan sahabat-sahabatnya. Ternyata, di lembaran kertas tersebut, Melanie mendaftarkan semua barang yang dibutuhkan ketika sudah resmi berumah tangga. Ketika pesta pernikahannya digelar, semua kado yang diminta Melanie pun dipenuhi teman-temannya.
”Blender dari mama saya.Saya meminta itu karena blender yang saya miliki sudah rusak,”ujar artis sekaligus penulis buku Ouch ini. Melanie mengatakan, daftar permintaan yang dia buat untuk meringankan pikiran orang yang kebingungan mencari hadiah menjelang pesta pernikahan.
”Biasanya saya minta sesuatu yang menjadi kebutuhan saya, walaupun harganya tidak mahal yang penting barang tersebut saya gunakan,”sebutnya. Melanie mengaku permintaan khusus atau wedding registry ini memang sudah dia kenal sejak lama. ”Saya menyadari kebutuhan orang berbedabeda, tapipemberian voucher untukspa atau belanja ternyata bisa menjadi kado yang memberikan kesan tersendiri bagi saya,”kata wanita kelahiran 32 tahun silam. Memberikan kado di saat pesta pernikahan memang sudah lumrah.
Namun, memberikan kado pernikahan sesuai permintaan atau yang dikenal dengan konsep wedding registry, di Indonesia memang belum terlalu umum. Program wedding registry di Amerika sudah dikenal sejak tahun 1924. Pencetus ide sistem pemilihan sendiri hadiah pernikahan ini adalah pusat perbelanjaan Marshall Field’s. Sedianya wedding registry merupakan pelayanan yang diberikan oleh suatu toko ritel untuk membantu mengomunikasikan hadiah pernikahan yang diinginkan calon pasangan pengantin bagi tamu undangan.
Di Indonesia,kata wedding registry masih terdengar awam, dan masih sedikit sekali orang yang familier dengan dua kata itu. Hal ini disetujui oleh konsultan pernikahan dr Arya Hasanuddin. Penyebabnya adalah perbedaan prinsip awal pernikahan antara budaya Barat dan Timur. Arya menilai,pasangan pengantin di Barat biasanya menikah murni dari biaya yang dikeluarkan dari kocek mereka sendiri.
Berbeda keadaannya dengan di Indonesia, di mana biaya pesta pernikahan calon pengantin seluruhnya dikeluarkan oleh orangtua kedua belah pihak. Lebih lanjut Arya menuturkan,pesta pernikahan ini seakan bertujuan sebagai ajang prestise orangtua yang memperlihatkan kemampuan mereka untuk menyelenggarakan pesta secara besar-besaran. ”Bahkan,mereka sampai rela berutang demi terselenggaranya pesta mewah itu, makanya tanda kasih berupa uang lebih disukai,” ujarnya.
Terlebih lagi bagi pasangan pengantin yang baru akan menapaki biduk rumah tangga, tentu tengah membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk memulai rumah tangganya tersebut. Padahal, cara wedding registry justru memudahkan tamu untuk mengetahui barang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh calon pasangan pengantin.Sebab, sering kali kerabat atau teman-teman memberikan barang-barang yang sebetulnya tidak diperlukan pasangan.
”Sebaliknya,barang yang benar-benar mereka butuhkan justru tidak ada di antara sekian banyak hadiah yang membanjiri.Nah,di sinilah letak andil wedding registry,sistem ini juga ampuh untuk menghindari pemberian hadiah yang sama di antara tamu undangan lain,”katanya.(sri noviarni/MG-18)
Rabu, 02/04/2008
MEMBERIKAN kado di saat pesta pernikahan memang sudah lumrah.Tapi, memberikan kado sesuai permintaan pengantin merupakan hal baru.
Sebelum pesta pernikahannya dengan I Gusti Ngurah Agus Wijaya digelar, Melanie Subono justru sibuk membagikan lembaran kertas kepada kerabat dekat dan sahabat-sahabatnya. Ternyata, di lembaran kertas tersebut, Melanie mendaftarkan semua barang yang dibutuhkan ketika sudah resmi berumah tangga. Ketika pesta pernikahannya digelar, semua kado yang diminta Melanie pun dipenuhi teman-temannya.
”Blender dari mama saya.Saya meminta itu karena blender yang saya miliki sudah rusak,”ujar artis sekaligus penulis buku Ouch ini. Melanie mengatakan, daftar permintaan yang dia buat untuk meringankan pikiran orang yang kebingungan mencari hadiah menjelang pesta pernikahan.
”Biasanya saya minta sesuatu yang menjadi kebutuhan saya, walaupun harganya tidak mahal yang penting barang tersebut saya gunakan,”sebutnya. Melanie mengaku permintaan khusus atau wedding registry ini memang sudah dia kenal sejak lama. ”Saya menyadari kebutuhan orang berbedabeda, tapipemberian voucher untukspa atau belanja ternyata bisa menjadi kado yang memberikan kesan tersendiri bagi saya,”kata wanita kelahiran 32 tahun silam. Memberikan kado di saat pesta pernikahan memang sudah lumrah.
Namun, memberikan kado pernikahan sesuai permintaan atau yang dikenal dengan konsep wedding registry, di Indonesia memang belum terlalu umum. Program wedding registry di Amerika sudah dikenal sejak tahun 1924. Pencetus ide sistem pemilihan sendiri hadiah pernikahan ini adalah pusat perbelanjaan Marshall Field’s. Sedianya wedding registry merupakan pelayanan yang diberikan oleh suatu toko ritel untuk membantu mengomunikasikan hadiah pernikahan yang diinginkan calon pasangan pengantin bagi tamu undangan.
Di Indonesia,kata wedding registry masih terdengar awam, dan masih sedikit sekali orang yang familier dengan dua kata itu. Hal ini disetujui oleh konsultan pernikahan dr Arya Hasanuddin. Penyebabnya adalah perbedaan prinsip awal pernikahan antara budaya Barat dan Timur. Arya menilai,pasangan pengantin di Barat biasanya menikah murni dari biaya yang dikeluarkan dari kocek mereka sendiri.
Berbeda keadaannya dengan di Indonesia, di mana biaya pesta pernikahan calon pengantin seluruhnya dikeluarkan oleh orangtua kedua belah pihak. Lebih lanjut Arya menuturkan,pesta pernikahan ini seakan bertujuan sebagai ajang prestise orangtua yang memperlihatkan kemampuan mereka untuk menyelenggarakan pesta secara besar-besaran. ”Bahkan,mereka sampai rela berutang demi terselenggaranya pesta mewah itu, makanya tanda kasih berupa uang lebih disukai,” ujarnya.
Terlebih lagi bagi pasangan pengantin yang baru akan menapaki biduk rumah tangga, tentu tengah membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk memulai rumah tangganya tersebut. Padahal, cara wedding registry justru memudahkan tamu untuk mengetahui barang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh calon pasangan pengantin.Sebab, sering kali kerabat atau teman-teman memberikan barang-barang yang sebetulnya tidak diperlukan pasangan.
”Sebaliknya,barang yang benar-benar mereka butuhkan justru tidak ada di antara sekian banyak hadiah yang membanjiri.Nah,di sinilah letak andil wedding registry,sistem ini juga ampuh untuk menghindari pemberian hadiah yang sama di antara tamu undangan lain,”katanya.(sri noviarni/MG-18)
Senin, 31 Maret 2008
Tulisan_18 @ Sindo
Mengintip Wisata Laut Indonesia
Selasa, 01/04/2008
SUKA menyelam? Anda beruntung berada di Indonesia.Negara ini kaya akan keindahan alam termasuk wisata bawah laut. Pameran internasional Selam,Wisata PetualanganBaharidanOlahraga Air,di Hall A Jakarta Convention Center,baru saja berakhir tanggal 30 Maret lalu.
Hebatnya, dari pameran tersebut terungkap fakta bahwa masyarakat Indonesia makin menggemari olahraga selam. Selain itu,yang paling penting,pameran ini semakin menunjukkan Indonesia adalah negara yang kaya akan wisata bawah laut.Indonesia mempunyai ”Bunaken-Bunaken”lain yang bisa dibanggakan.
Contohnya, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,ada wisata air Iboih, yangadadiPulau Weh.Lalu,SangHyang di Anyer hingga kawasan Pulau Seribu. Di bagian Timur, ada Raja Ampat dan Kabupaten Biak di Papua Barat. Bagi pencinta olahraga air dan traveling,pameran ini memang bagaikan oase di tengah padang pasir yang tandus.
Sebab, mereka berkesempatan ”mengintip” informasi lebih lengkap mengenai tempat-tempat wisata yang unik dan eksotis di seluruh penjuru Tanah Air, sebagai alternatif tempat menyelam. Yildes, 41,wanita yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta ini mengaku hampir telah mengunjungi seluruh objek wisata laut yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.
Namun, ada beberapa lokasi wisata yang menarik tapi belum sempat ia kunjungi lantaran tidak memiliki informasi memadai. ”Seperti Pulau Komodo, tempatnya bagus untuk diving, masalahnya saya enggak tahu sarana transportasinya. Di pameran ini, saya jaditahuharusnaikapadanservis apa yang diberikan pada turis lengkap dengan penginapannya,” ujar wanita yang tinggal di daerah Cirendeu ini.
Syariif Pontoh,23,bahkan sengajadatang dari Bandung untuk mengunjungi pameran tersebut. Dia datang bersama saudara-saudaranya yang memiliki hobi menyelam. ”Saya mengetahui acara ini dari UKM kampus karena saya hobi diving, saya rela ke Jakarta untuk melihat pameran ini.Untuk lihat lokasi mana saja yang bisa kami datangi,”sebut mahasiswa ITB jurusan matematika ini.
Sementara itu, menurut President Director Creative Networking selaku event organizer Deep Indonesia Dharmawan Sutanto, pameran ini bermaksud mempromosikan industri wisata bahari khususnya wisata selam. ”Di samping itu, kami mengajak masyarakat agar lebih mencintai laut dan meningkatkan kesadaran atas pemeliharaan lingkungan hidup, terutama kelautan,”paparnya.
Lebih lanjut Dharmawan mengatakan, jumlah peminat menyelam memang sangat tinggi.Salah satu indikatornya adalah tingginya angka penjualan peralatan menyelam di pameran. Yildes contohnya, selain mencari informasi lokasi-lokasi wisata, ibu rumah tangga ini juga memanfaatkan pameran untuk hunting berbagai macam peralatan selam.
Dia membeli dive computer, sarung tangan, wetsuit dan aksesori lain, sampai menghabiskan uang hampir Rp5 juta. Kendati demikian,Yildes mengaku cukup senang mendapat barang berkualitas dengan harga sedikit miring di pameran tersebut.
Bahaya Serius bagi Terumbu Karang
Meski dilingkupi berita positif, wisata bawah air Indonesia justru tengah menghadapi bahaya serius. Saat ini, sedikitnya 85% terumbu karang tengah di ambang kerusakan.
Padahal, terumbu karang Indonesia memberikan keuntungan.Terumbu karang ini bermanfaat sebagai sumber obat-obatan dan kosmetik. Terlebih lagi banyak obat-obatan khusus kanker yang menggunakan bahan baku terumbu karang. Rupanya hal ini menggelitik duta WWF Nadine Chandrawinata untuk tidak tinggal diam.
Nadine mempunyai cara unik agar orang melirik pariwisata satu ini sekaligus menjaga ekosistem bawah laut. Penggemar olahraga laut ini melakukan pemotretan dengan berbagai busana dari dress hingga kebaya di bawah laut. ”Aku pikir kalau hanya memajang posterbergambarbiotalautrasanya kurang menarik,tapi kalau ada modelnya mungkin orang akan lebih tertarik melihat poster itu dan ikut menjaga kelestarian kelautan,”ungkap Nadine yang menyukai laut sejak kecil ini.
Pemotretan yang bertempat di Bunaken, Manado, serta Tulamben, Bali ini memakan waktu hingga empat bulan. Hasil foto-foto tersebut dipublikasikan dalam buku berjudul Labour of Love, yang memajang 100 foto Nadine dalam berbagai pose.Ada pose yang sangat menarik di mana dirinya berdiri menempel dengan batu karang.
Menantang tapi Mahal
UNTUK sekadar menjadi hobi, menyelam memang terbilang kegiatan yang menguras keuangan. Selain perlengkapan selam yang mahal, olahraga di dasar laut ini memakan biaya hingga jutaan untuk sekadar memuaskan diri bercanda ria dengan makhluk-makhluk laut. Namun, peminat selam di Indonesia tidak sedikit. Hal ini terbukti dari antusias masyarakat yang mengunjungi pameran bertajuk ”Deep Indonesia 2008” di Jakarta Convention Center, beberapa waktu lalu.
Memiliki hobi diving memang sudah dipikirkan oleh Syariif. Mengingat peralatan selam membutuhkan dana yang tidak sedikit, ia rela menyisihkan uangnya untuk ditabung. ”Dari tiga tahun yang lalu, saya sudah nabung untuk membeli peralatan ini,” ujar Syariif sambil menunjukkan tas belanjaannya.
Tak berbeda dengan Syariif, Lenny Kurnia, setahun terakhir ini melirik dunia selam sebagai hobinya. Ia pun mengaku sejak kecil sudah akrab dengan laut. ”Saya lahir di Ambon, jadi saya sudah cinta sama laut sejak dulu. Itu juga yang mendorong saya untuk belajar menyelam,” papar mahasiswi tingkat akhir Fakultas Kedokteran UKI ini.
Tak hanya ingin menikmati keindahan bawah laut, diving bagi Lenny adalah olahraga menantang yang wajib dicobanya. Meskipun peralatan seperti tabung udara, snorkel, regulator, dan fins cukup menguras koceknya. Namun, tak mematahkan semangatnya untuk tetap belajar selam di Scuba School. ”Saya akan menabung untuk memiliki semua peralatan yang dibutuhkan untuk menyelam,” kata Lenny.
Diajuga menampik anggapan orang yang melihat diving sebagai olahraga yang mahal. Padahal, olahraga ini cukup terjangkau bila bergabung dengan penyelam lain. ”Saya bergabung dengan komunitas penyelam yang berjumlah 15 orang, kita bisa saling sharingbayar perahu, pemandu, penginapan dan lain-lain jadi lebih murah,” paparnya. (sri noviarni/MG-18)
Selasa, 01/04/2008
SUKA menyelam? Anda beruntung berada di Indonesia.Negara ini kaya akan keindahan alam termasuk wisata bawah laut. Pameran internasional Selam,Wisata PetualanganBaharidanOlahraga Air,di Hall A Jakarta Convention Center,baru saja berakhir tanggal 30 Maret lalu.
Hebatnya, dari pameran tersebut terungkap fakta bahwa masyarakat Indonesia makin menggemari olahraga selam. Selain itu,yang paling penting,pameran ini semakin menunjukkan Indonesia adalah negara yang kaya akan wisata bawah laut.Indonesia mempunyai ”Bunaken-Bunaken”lain yang bisa dibanggakan.
Contohnya, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,ada wisata air Iboih, yangadadiPulau Weh.Lalu,SangHyang di Anyer hingga kawasan Pulau Seribu. Di bagian Timur, ada Raja Ampat dan Kabupaten Biak di Papua Barat. Bagi pencinta olahraga air dan traveling,pameran ini memang bagaikan oase di tengah padang pasir yang tandus.
Sebab, mereka berkesempatan ”mengintip” informasi lebih lengkap mengenai tempat-tempat wisata yang unik dan eksotis di seluruh penjuru Tanah Air, sebagai alternatif tempat menyelam. Yildes, 41,wanita yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta ini mengaku hampir telah mengunjungi seluruh objek wisata laut yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.
Namun, ada beberapa lokasi wisata yang menarik tapi belum sempat ia kunjungi lantaran tidak memiliki informasi memadai. ”Seperti Pulau Komodo, tempatnya bagus untuk diving, masalahnya saya enggak tahu sarana transportasinya. Di pameran ini, saya jaditahuharusnaikapadanservis apa yang diberikan pada turis lengkap dengan penginapannya,” ujar wanita yang tinggal di daerah Cirendeu ini.
Syariif Pontoh,23,bahkan sengajadatang dari Bandung untuk mengunjungi pameran tersebut. Dia datang bersama saudara-saudaranya yang memiliki hobi menyelam. ”Saya mengetahui acara ini dari UKM kampus karena saya hobi diving, saya rela ke Jakarta untuk melihat pameran ini.Untuk lihat lokasi mana saja yang bisa kami datangi,”sebut mahasiswa ITB jurusan matematika ini.
Sementara itu, menurut President Director Creative Networking selaku event organizer Deep Indonesia Dharmawan Sutanto, pameran ini bermaksud mempromosikan industri wisata bahari khususnya wisata selam. ”Di samping itu, kami mengajak masyarakat agar lebih mencintai laut dan meningkatkan kesadaran atas pemeliharaan lingkungan hidup, terutama kelautan,”paparnya.
Lebih lanjut Dharmawan mengatakan, jumlah peminat menyelam memang sangat tinggi.Salah satu indikatornya adalah tingginya angka penjualan peralatan menyelam di pameran. Yildes contohnya, selain mencari informasi lokasi-lokasi wisata, ibu rumah tangga ini juga memanfaatkan pameran untuk hunting berbagai macam peralatan selam.
Dia membeli dive computer, sarung tangan, wetsuit dan aksesori lain, sampai menghabiskan uang hampir Rp5 juta. Kendati demikian,Yildes mengaku cukup senang mendapat barang berkualitas dengan harga sedikit miring di pameran tersebut.
Bahaya Serius bagi Terumbu Karang
Meski dilingkupi berita positif, wisata bawah air Indonesia justru tengah menghadapi bahaya serius. Saat ini, sedikitnya 85% terumbu karang tengah di ambang kerusakan.
Padahal, terumbu karang Indonesia memberikan keuntungan.Terumbu karang ini bermanfaat sebagai sumber obat-obatan dan kosmetik. Terlebih lagi banyak obat-obatan khusus kanker yang menggunakan bahan baku terumbu karang. Rupanya hal ini menggelitik duta WWF Nadine Chandrawinata untuk tidak tinggal diam.
Nadine mempunyai cara unik agar orang melirik pariwisata satu ini sekaligus menjaga ekosistem bawah laut. Penggemar olahraga laut ini melakukan pemotretan dengan berbagai busana dari dress hingga kebaya di bawah laut. ”Aku pikir kalau hanya memajang posterbergambarbiotalautrasanya kurang menarik,tapi kalau ada modelnya mungkin orang akan lebih tertarik melihat poster itu dan ikut menjaga kelestarian kelautan,”ungkap Nadine yang menyukai laut sejak kecil ini.
Pemotretan yang bertempat di Bunaken, Manado, serta Tulamben, Bali ini memakan waktu hingga empat bulan. Hasil foto-foto tersebut dipublikasikan dalam buku berjudul Labour of Love, yang memajang 100 foto Nadine dalam berbagai pose.Ada pose yang sangat menarik di mana dirinya berdiri menempel dengan batu karang.
Menantang tapi Mahal
UNTUK sekadar menjadi hobi, menyelam memang terbilang kegiatan yang menguras keuangan. Selain perlengkapan selam yang mahal, olahraga di dasar laut ini memakan biaya hingga jutaan untuk sekadar memuaskan diri bercanda ria dengan makhluk-makhluk laut. Namun, peminat selam di Indonesia tidak sedikit. Hal ini terbukti dari antusias masyarakat yang mengunjungi pameran bertajuk ”Deep Indonesia 2008” di Jakarta Convention Center, beberapa waktu lalu.
Memiliki hobi diving memang sudah dipikirkan oleh Syariif. Mengingat peralatan selam membutuhkan dana yang tidak sedikit, ia rela menyisihkan uangnya untuk ditabung. ”Dari tiga tahun yang lalu, saya sudah nabung untuk membeli peralatan ini,” ujar Syariif sambil menunjukkan tas belanjaannya.
Tak berbeda dengan Syariif, Lenny Kurnia, setahun terakhir ini melirik dunia selam sebagai hobinya. Ia pun mengaku sejak kecil sudah akrab dengan laut. ”Saya lahir di Ambon, jadi saya sudah cinta sama laut sejak dulu. Itu juga yang mendorong saya untuk belajar menyelam,” papar mahasiswi tingkat akhir Fakultas Kedokteran UKI ini.
Tak hanya ingin menikmati keindahan bawah laut, diving bagi Lenny adalah olahraga menantang yang wajib dicobanya. Meskipun peralatan seperti tabung udara, snorkel, regulator, dan fins cukup menguras koceknya. Namun, tak mematahkan semangatnya untuk tetap belajar selam di Scuba School. ”Saya akan menabung untuk memiliki semua peralatan yang dibutuhkan untuk menyelam,” kata Lenny.
Diajuga menampik anggapan orang yang melihat diving sebagai olahraga yang mahal. Padahal, olahraga ini cukup terjangkau bila bergabung dengan penyelam lain. ”Saya bergabung dengan komunitas penyelam yang berjumlah 15 orang, kita bisa saling sharingbayar perahu, pemandu, penginapan dan lain-lain jadi lebih murah,” paparnya. (sri noviarni/MG-18)
Minggu, 30 Maret 2008
Tulisan_17 @ Sindo
Hilang Akal Karena Sepatu
Senin, 31/03/2008
BERAPA uang yang dihabiskan wanita untuk membeli sepatu? Jawabannya,mungkin semaunya.Sebab,wanita memang terlahir untuk membeli dan mengenakan sepatu. Dalam satu episode Sex and The City, Carrie Bradshaw, yang diperankan Sarah Jessica Parker menyadari dirinya telah menghabiskan uang USD40 ribu untuk membeli sepatu.
Uniknya, dengan pengeluaran sebesar itu, ia sama sekali tidak mampu membeli apartemen. Bagi wanita, tidak bisa membeli sepatu memang tidak menyenangkan. Sebab, dari dulu hingga sekarang, wanita memang sangat mencintai sepatu. Sosok pencinta sepatu seperti Carrie Bradshaw memang hanya bukanlah sosok khayal. Di dunia nyata, ada jutaan wanita seperti Carrie salah satunya Imelda Marcos.
Mantan first lady Filipina ini disebut-sebut mempunyai 1.200 pasang sepatu. Pada tahun 2005,menurut laporan The NPD Group, perusahaan ritel di New York, wanita-wanita Amerika telah menghabiskan uang hampir USD17 miliar hanya untuk membeli sepatu. Jumlah itu meningkat 10 persen dibandingkan tahun 2003. Namun, inti pertanyaannya, kenapa wanita rela mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk sepasang sepatu?
Menurut presenter terkenal Novita Angie,pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sulit. Sebab, ia mengaku tidak pernah punya alasan logis kenapa gemar membeli sepatu. Ia hanya merasa kebiasaan itu makin menjadi-jadi setelah punya uang sendiri. ”Aku menargetkan pokoknya dalam sebulan harus beli sepasang, tapi sering juga lebih dari itu,” ungkap pemilik ukuran kaki 36 ini. Saking seringnya Angie membeli sepatu, sang suami,Sapto Haryo Rajasa, mengaku sudah pasrah dengan kebiasaan istrinya tersebut.
Padahal, Angie sering mengeluh kepada Sapto, sepatu yang ia beli hanya sekali dikenakan atau bahkan tidak pernah dipakai. ”Sebenarnya aku lapar mata, jadi enggak bisa lihat sepatu lucu.Bawaannya mau langsung dibeli.Biasanya teman- temanku yang ingetinkebiasaanku ini,” ujar Angie yang menggemari brandZara dan Linea ini. Dalam pandangannya, Angie berpendapat sepatu adalah benda eye catching yang sanggup menarik perhatian orang yang melihat.
Jadi,wajar saja jika wanita merasa lebih percaya diri jika mempunyai banyak sepatu yang bisa menunjang penampilan. Hal yang sama dikatakan bintang sinetron Meisya Siregar. Ia mengaku tidak punya jawaban kenapa senang membeli sepatu. Sebab, baginya perasaan ingin membeli itu tiba-tiba muncul sendiri. ”Saya membeli sepatu itu spontanitas, kalau saya cocok dengan warna dan modelnya pasti saya beli,walau kadang-kadang saya suka kalap,” katanya.
Satu suara dengan Angie dan Meisya, brand manager retail kenamaan, Annie Massewa,mengatakan membeli sepatu memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan membeli aksesori lainnya seperti tas ataupun perhiasan. Saking gemarnya membeli sepatu, Annie mengaku telah mengeluarkan uang ratusan juta. Uniknya, ia masih mengaku pengeluaran itu masih dalam batas kewajaran. ”Lagian tidak sampai menyerap banyak pendapatan saya,”kata Annie.
Hal yang sama dikemukakan Angie. Menurut ibu dari Jeremy Cornelius dan Jemima Jasmine,dirinya tidak pernah merasa sayang dengan besar uang yang dikeluarkannya demi membeli koleksi sepatunya. ”Aku enggak suka dugem atau ngikutin kehidupan malam, tapi sebagai gantinya aku hobi belanja sepatu, tapi kan ini nanti bisa dipakai anakku atau dikasih ke kerabat,”aku aktris yang sempat bermain di sinetron Lupusini.
Angie mengaku sering memperhatikan sepatu-sepatu yang dikenakan orang. Jika ia menganggap sepatu yang dikenakan seseorang memikat hatinya, ia pun tidak ragu untuk mendekati orang tersebut dan menanyakan di mana membeli sepatu itu. ”Kalau masih beli di sini saya datangin tempatnya, tapi kadang ada yang beli di luar.Kalau ada waktu dan keperluan, biasanya saya cari ke negara itu,” kata wanita kelahiran 30 November 1975 ini.
Saking tergila-gilanya dengan sepatu, setiap pergi ke luar negeri,Angie pasti akan membelikan teman-temannya buah tangan berupa sepasang sepatu. Ia sudah hafal di luar kepala ukuran sepatu teman-temannya itu. Angie juga sudah paham tokotoko sepatu di luar negeri yang menjual sepatu berkualitas dengan harga miring. Dapat dipastikan kopernya akan dipenuhi oleh berpasang- pasang sepatu setibanya di Tanah Air.
Bagi orang-orang yang mempunyai penghasilan besar memang sangat wajar jika membeli sepatu berharga mahal.Namun,apa jadinya jika orang yang membeli sepatu itu masih berumur 17 tahun. Seperti halnya Christina memiliki koleksi beragam sepatu. Namun,koleksi sepatu dara berdarah Indo Inggris ini boleh diadu dengan koleksi Annie dan Angie.Warga Pondok Kelapa ini memiliki lebih dari 100 pasang sepatu yang disimpan rapi dalam sebuah lemari khusus. (sri noviarni/MG-18)
Senin, 31/03/2008
BERAPA uang yang dihabiskan wanita untuk membeli sepatu? Jawabannya,mungkin semaunya.Sebab,wanita memang terlahir untuk membeli dan mengenakan sepatu. Dalam satu episode Sex and The City, Carrie Bradshaw, yang diperankan Sarah Jessica Parker menyadari dirinya telah menghabiskan uang USD40 ribu untuk membeli sepatu.
Uniknya, dengan pengeluaran sebesar itu, ia sama sekali tidak mampu membeli apartemen. Bagi wanita, tidak bisa membeli sepatu memang tidak menyenangkan. Sebab, dari dulu hingga sekarang, wanita memang sangat mencintai sepatu. Sosok pencinta sepatu seperti Carrie Bradshaw memang hanya bukanlah sosok khayal. Di dunia nyata, ada jutaan wanita seperti Carrie salah satunya Imelda Marcos.
Mantan first lady Filipina ini disebut-sebut mempunyai 1.200 pasang sepatu. Pada tahun 2005,menurut laporan The NPD Group, perusahaan ritel di New York, wanita-wanita Amerika telah menghabiskan uang hampir USD17 miliar hanya untuk membeli sepatu. Jumlah itu meningkat 10 persen dibandingkan tahun 2003. Namun, inti pertanyaannya, kenapa wanita rela mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk sepasang sepatu?
Menurut presenter terkenal Novita Angie,pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sulit. Sebab, ia mengaku tidak pernah punya alasan logis kenapa gemar membeli sepatu. Ia hanya merasa kebiasaan itu makin menjadi-jadi setelah punya uang sendiri. ”Aku menargetkan pokoknya dalam sebulan harus beli sepasang, tapi sering juga lebih dari itu,” ungkap pemilik ukuran kaki 36 ini. Saking seringnya Angie membeli sepatu, sang suami,Sapto Haryo Rajasa, mengaku sudah pasrah dengan kebiasaan istrinya tersebut.
Padahal, Angie sering mengeluh kepada Sapto, sepatu yang ia beli hanya sekali dikenakan atau bahkan tidak pernah dipakai. ”Sebenarnya aku lapar mata, jadi enggak bisa lihat sepatu lucu.Bawaannya mau langsung dibeli.Biasanya teman- temanku yang ingetinkebiasaanku ini,” ujar Angie yang menggemari brandZara dan Linea ini. Dalam pandangannya, Angie berpendapat sepatu adalah benda eye catching yang sanggup menarik perhatian orang yang melihat.
Jadi,wajar saja jika wanita merasa lebih percaya diri jika mempunyai banyak sepatu yang bisa menunjang penampilan. Hal yang sama dikatakan bintang sinetron Meisya Siregar. Ia mengaku tidak punya jawaban kenapa senang membeli sepatu. Sebab, baginya perasaan ingin membeli itu tiba-tiba muncul sendiri. ”Saya membeli sepatu itu spontanitas, kalau saya cocok dengan warna dan modelnya pasti saya beli,walau kadang-kadang saya suka kalap,” katanya.
Satu suara dengan Angie dan Meisya, brand manager retail kenamaan, Annie Massewa,mengatakan membeli sepatu memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan membeli aksesori lainnya seperti tas ataupun perhiasan. Saking gemarnya membeli sepatu, Annie mengaku telah mengeluarkan uang ratusan juta. Uniknya, ia masih mengaku pengeluaran itu masih dalam batas kewajaran. ”Lagian tidak sampai menyerap banyak pendapatan saya,”kata Annie.
Hal yang sama dikemukakan Angie. Menurut ibu dari Jeremy Cornelius dan Jemima Jasmine,dirinya tidak pernah merasa sayang dengan besar uang yang dikeluarkannya demi membeli koleksi sepatunya. ”Aku enggak suka dugem atau ngikutin kehidupan malam, tapi sebagai gantinya aku hobi belanja sepatu, tapi kan ini nanti bisa dipakai anakku atau dikasih ke kerabat,”aku aktris yang sempat bermain di sinetron Lupusini.
Angie mengaku sering memperhatikan sepatu-sepatu yang dikenakan orang. Jika ia menganggap sepatu yang dikenakan seseorang memikat hatinya, ia pun tidak ragu untuk mendekati orang tersebut dan menanyakan di mana membeli sepatu itu. ”Kalau masih beli di sini saya datangin tempatnya, tapi kadang ada yang beli di luar.Kalau ada waktu dan keperluan, biasanya saya cari ke negara itu,” kata wanita kelahiran 30 November 1975 ini.
Saking tergila-gilanya dengan sepatu, setiap pergi ke luar negeri,Angie pasti akan membelikan teman-temannya buah tangan berupa sepasang sepatu. Ia sudah hafal di luar kepala ukuran sepatu teman-temannya itu. Angie juga sudah paham tokotoko sepatu di luar negeri yang menjual sepatu berkualitas dengan harga miring. Dapat dipastikan kopernya akan dipenuhi oleh berpasang- pasang sepatu setibanya di Tanah Air.
Bagi orang-orang yang mempunyai penghasilan besar memang sangat wajar jika membeli sepatu berharga mahal.Namun,apa jadinya jika orang yang membeli sepatu itu masih berumur 17 tahun. Seperti halnya Christina memiliki koleksi beragam sepatu. Namun,koleksi sepatu dara berdarah Indo Inggris ini boleh diadu dengan koleksi Annie dan Angie.Warga Pondok Kelapa ini memiliki lebih dari 100 pasang sepatu yang disimpan rapi dalam sebuah lemari khusus. (sri noviarni/MG-18)
Langganan:
Postingan (Atom)
